
Ki Gading Putih sedang pergi ke suatu tempat. Di padepokan Cemara Seribu hanya ada Buyung dan Vidyana. Mereka berdua sedang menanti Batari Mahadewi dan Nala yang telah beberapa minggu pergi mengantarkan senjata ke wilayah timur.
Ketika hanya sedang berdua saja, terkadang Buyung mengajarkan Vidyana berbagai hal yang berbau filsafat. Sebaliknya, kadang Vidyana menemani Buyung untuk berlatih meningkatkan kekuatan. Bidadari pencabut nyawa itu telah dua kali menanamkan mustika alam warna kuning ke tubuh Buyung seperti yang ia lakukan kepada Nala di masa lalu.
“Hari ini aku akan menanamkan satu lagi mustika alam ke tubuh kakak. Sayang sekali aku tak memiliki persediaan mustika yang bagus. Mustika di dalam goa sudah habis digunakan Nala untuk membuat senjata pusaka.”
“Tak apa-apa, Vidya. Dari dulu aku tak terlalu bernafsu untuk menjadi kuat seperti kalian. Tetapi memang baru kali ini aku tahu cara lain menggunakan mustika alam,” kata Buyung.
“Jika kita hanya menyerapnya saja, kekuatan yang kita dapatkan hanyalah seperempatnya saja dari kekuatan utuh mustika ini. Lain halnya jika kita menyatukan mustika alam ke tubuh kita, maka kita akan mendapatkan kekuatan yang utuh dari mustika ini. Hanya saja, untuk melakukannya butuh banyak waktu,” kata Vidyana.
“Sejak kapan kau mempelajari hal ini?” tanya Buyung.
“Dulu sewaktu aku masih kecil, sebelum Nala lahir, ibuku yang mengajarkannya. Dia adalah pendekar hitam yang cukup disegani di pulau Neraka. Setelahnya, aku sering menanamkan mustika alam ke tubuh Nala. Alasan utama kami datang ke Mahabhumi adalah untuk mencari mustika alam, sebab di tempat asal kami, mustika alam sudah semakin langka,” jawab Vidyana.
“Sejujurnya, setelah mendengar banyak cerita darimu, aku bisa mengenal sisi lain dari para pendekar hitam. Tetapi menurutku, kamu dan adikmu itu berbeda. Pendekar hitam seperti kalian berdua sangat jarang ada.”
“Itu karena kami sejak dahulu, bahkan sejak aku masih bayi, para pendekar pulau neraka mengucilkan ibuku. Akupun jadi tak bisa dekat dengan orang lain. Semua pendekar di mata kami sama saja. Ngomong-ngomong, sejak kapan kakak bisa memiliki kemampuan mengendalikan pikiran orang? Bagaimana kakak mendapatkannya?” tanya Vidyana.
“Aku adalah murid pertama di sini. Dulu, guru menemukanku hampir mati. Mungkin waktu itu aku masih berumur 12 tahun. Beliau membawaku, mengobati luka-lukaku. Aku tidak ingat apa yang terjadi dan aku juga tidak ingat masa laluku. Gurulah yang pertama mengetahui kemampuanku ini, lalu ia melatihku. Sayang sekali, tubuhku lemah, entah kenapa. Aku sudah sering menggunakan mustika alam untuk memperkuat tubuhku, tetapi hanya bisa sampai di tahap ini saja. Seperti ada sesuatu yang membuatku tak bisa memiliki pencapaian lebih.”
Buyung tak pernah merasa sedih atau kecil hati dengan kemampuannya itu. Jika dibandingkan dengan Niken atau Jalu, ia memang terlihat lemah. Namun ia bisa bertarung melawan sepuluh pendekar muda yang tak bergelar sekaligus.
Butuh waktu hampir setengah hari bagi Vidyana untuk menanamkan sebuah mustika alam di tubuh buyung. Kelak, semakin ia bertambah kuat, maka waktu yang dibutuhkan untuk menanam satu buah mustika alam berkekuatan sedang tidaklah selama itu.
Buyung dapat merasakan dampak yang berbeda setelah tertanam tiga buah mustika alam di tubuhnya. Meski belum banyak, tetapi ada peningkatan kekuatan.
“Kakak jangan berkecil hati. Aku bisa sekuat ini, sebab dalam tubuhku telah tertanam banyak sekali mustika alam. Kelak jika kakak memiliki cukup kekuatan untuk menggunakan kemampuan kakak, pasti kakak akan sangat dibutuhkan di medan pertempuran,” Vidyana menyemangati Buyung. Meski masih bisa dibilang agak pendiam, tetapi bersama lelaki yang hampir berusia empat puluh tahun itu, Vidyana bisa banyak bercerita.
__ADS_1
Nala dan Batari Mahadewi telah tiba di padepokan ketika hari telah sore. Saat itu, kebetulan sekali Buyung baru saja berburu seekor rusa. Biasanya, Buyunglah yang memasak, sebab Vidyana sama sekali buta soal urusan dapur. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah memasak air panas untuk menyeduh jahe dan akar-akar tanaman hutan.
“Akhirnya kalian datang juga. Mandilah dulu, aku akan membuat daging rusa ini menjadi makanan enak. Kalian lapar bukan?!” kata Buyung.
“Yaa…aku mauuu!” Batari Mahadewi bertingkah seperti anak kecil. Ia tak mau mandi, sebab setelah makan, ia berencana untuk pulang dan tidur di rumah, “Aku bantu saja kakak memasak, biar cepat selesai.”
Memang benar, Gadis jelmaan pusaka dewa itu ahli dalam memotong daging dengan kecepatan yang tak tertandingi oleh siapapun. Sayang sekali, dalam hal memasak, ia juga nol besar. Hanya Nikenlah satu-satunya murid perempuan Ki Gading Putih yang bisa memasak seperti Buyung.
Aroma daging menyeruak keluar dari dapur. Tak lama kemudian, masakan itu berpindah tempat ke pendopo yang selalu digunakan untuk makan bersama.
“Apa rencana kalian berdua selanjutnya,” tanya Vidyana kepada Nala dan Batari Mahadewi.
“Besok, kami berdua akan membantu kak Buyung meningkatkan kekuatannya. Mungkin beberapa hari kedepan kami masih akan di sini. Setelah itu, kami akan pergi ke Tirayamani,” jawab Batari Mahadewi.
Buyung tersedak ketika adik bungsunya menyebutkan nama kerajaan hitam itu. “Yang benar saja, apa yang akan kalian berdua lakukan di sana?” tanya Buyung. Vidyana juga penasaran dengan rencana yang terdengar tiba-tiba itu.
“Maksudku, apakah kalian tahu dimana letak kerajaan itu? apakah kekuatan kalian cukup?” Buyung terlihat bingung meski ia tak meragukan kekuatan kedua adiknya itu.
“Kalau kami menunda, mungkin kerajaan itu akan jauh lebih kuat lagi setelah berhasil memiliki pasukan iblis yang jauh lebih banyak. Tenang saja, kami akan memperhitungkan hal ini matang-matang,” kata Batari Mahadewi.
****
Nyi kunyit selalu merasa bahagia jika anak gadisnya itu pulang. Sebelum beranjak tidur, mereka berdua menyempatkan diri berbincang sejenak.
“Ibu, mungkin aku akan pergi lagi dalam waktu yang cukup lama,” Batari Mahadewi merasa sedikit berat mengatakan hal itu, sebab belum lama ia berada di Cemara Seribu. Ia tahu, sang ibu akan sedih. Ia sengaja tak menceritakan kengerian yang sedang terjadi di luar sana.
“Apakah Ki Gading memberimu tugas lagi, anakku?” tanya Nyi Kunyit.
__ADS_1
“Tidak ibu, tetapi ini adalah tugasku sebagai pendekar. Ibu jangan khawatir, anakmu ini pasti selamat. Aku akan pergi dengan Nala.”
“Semoga kau selalu dalam keadaan selamat, anakku. Ibu akan selalu mendukung dan mendoakanmu,” kata Nyi Kunyit.
Kepolosan Nyi Kunyit sebagai manusia biasa, serta seorang ibu yang tinggal sendirian di rumah itulah yang membuat Batari Mahadewi selalu bersedih jika ia meninggalkannya. Untung saja, Cemara Seribu adalah desa yang sangat terpencil dan jusru karena itulah, warga yang tinggal di sana akan selalu jauh dari pertempuran.
Pagi-pagi benar, setelah Batari Mahadewi mencarikan ikan di sungai untuk sang ibu dan menikmati sarapan di rumah, gadis itu kembali ke padepokan. Di sana Buyung, Nala, dan Vidyana sedang menantinya di pendopo sembari berbincang-bincang serta memilah berbagai mustika pemberian siluman naga laut.
“Kurasa sejumlah mustika alam kuno ini lebih dari cukup untuk menguatkan kak Buyung,” kata Batari Mahadewi.
“jadi, apa rencanamu?” tanya Nala.
“Kita berdua akan menanamkan mustika ini sebagaimana kita menyatukan mustika ke pedang pusaka. Kita akan memasangnya di tulang-tulang kak Buyung, terutama bagian tulang kepala dan tulang belakang,” jawab batari Mahadewi.
“Baiklah. Apakah kak Buyung siap?” tanya Nala.
“Apakah ini akan sama seperti yang dilakukan Vidya?” tanya Buyung.
“Memangnya apa yang kak Vidya lakukan?” Nala memasang tampang usil untuk menggoda kakaknya.
“Jangan berfikir yang macam-macam. Aku menanam beberapa mustika alam seperti yang kulakukan padamu!” kata Vidyana galak.
“Kalau begitu, yang akan kami lakukan sedikit berbeda, dan sedikit menyakitkan,” kata Batari Mahadewi.
Gadis itu menyuruh Buyung untuk duduk bersila. Nala bersila di belakangnya, sementara ia sendiri bersila di depan kakak sulungnya itu. Ketiganya saling membuka energi untuk bisa terhubung satu dengan lainnya.
Pada posisi itu, Batari Mahadewi melihat struktur tulang kakak sulungnya dan memeriksa apakah ada bagian yang cacat di sana. Persis seperti yang ia curigai, Buyung pernah cidera tulang belakang serta beberapa syarafnya tak berfungsi normal.
__ADS_1
Selebihnya, Batari Mahadewi dan Nala memintal beberapa mustika alam terbaik ke bagian-bagian tubuh Buyung, terutama pada bagian yang cidera. Mereka berdua memperlakukan Buyung layaknya senjata pusaka. Dua hari lamanya, proses itu baru selesai. Buyung seperti dilahirkan kembali. Kekuatannya meningkat pesat, nyaris mendekati kekuatan Ki Gading Putih. Dengan begitu, ia bisa menggunakan kemampuan terbaiknya untuk mengendalikan pikiran lawan.