
Hari ini Batari Mahadewi akan pergi untuk belajar di pondok Ki Gading Putih. Pagi-pagi benar Nyi Kunyit telah menyiapkan sarapan dan menyiapkan segala hal yang dibutuhkan oleh Batari Mahadewi selama ia akan menempuh pelajaran di Padepokan Cemara Seribu.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua kemudian bersiap untuk pergi. Ada rasa sedih yang bergelanyut dalam benak Nyi Kunyit karena setelah kepergian Batari Mahadewi, maka ia akan hidup sendiri lagi di gubuknya yang kecil itu.
“Ibu akan mengantarkanmu sampai di sana anakku. Hari masih pagi, jadi kita tak perlu tergesa-gesa untuk berjalan ke sana.” Kata Nyi Kunyit.
“Baik ibu.” Kata Batari Mahadewi. Lalu mereka berjalan menuju Padepokan Cemara Seribu. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua bertemu dan bertegur sapa dengan orang-orang desa Cemara Seribu yang berangkat ke ladang mereka.
Berita tentang kemampuan Batari Mahadewi menyembuhkan Rangga telah menyebar luas dan hal itu membuat semua orang yang bertemu dengan Batari Mahadewi pagi ini menatapnya dengan takjub dan bangga, terlebih karena Batari Mahadewi diangkat murid oleh Ki Gading Putih, bukan karena keinginannya sendiri melainkan oleh keinginan Ki Gading Putih.
Mereka berdua akhirnya sampai di halaman Padepokan Cemara Seribu. Ini merupakan pertama kalinya Batari Mahadewi berkunjung ke padepokan itu setelah sebelumnya hanya tahu dari cerita orang-orang disekitarnya.
Ki Gading Putih keluar dari pondoknya, lalu menyambut dan mempersilahkan Nyi Kunyit dan Batari Mahadewi masuk ke pendopo.
“Selamat datang di padepokan. Saya tidak mengira pagi-pagi sekali Nyi Kunyit dan nak Batari sudah sampai di sini.” Kata Ki Gading Putih membuka percakapan. Jadi, beginilah keadaan Padepokan Cemara Seribu yang serba sederhana ini. Semoga nantinya nak Batari akan betah belajar di sini.” Lanjut Ki Gading Putih langsung ke pokok pembicaraan.
“Saya akan belajar dengan baik guru. Mohon bimbingannya.” Kata Batari Mahadewi.
“Hari ini kau akan melihat-lihat dan berkenalan dengan tempat ini terlebih dahulu. Besok baru kita akan mulai pelajaran pertamamu. Selama kau di sini, kau akan menempati pondok yang di sebelah sana.” Kata Ki Gading Putih sambil menunjuk sebuah pondok kecil yang berada di ujung deretan pondok-pondok murid Padepokan Cemara Seribu.
“Baik Guru.” Kata Batari Mahadewi.
“Mulai hari ini kamu akan tinggal di sini nak. Jaga diri baik-baik, jangan kecewakan ibu dan gurumu.”Kata Nyi Kunyi sambil meneteskan air mata.
“Iya ibu, saya pasti tidak akan mengecewakan ibu. Pasti aku akan menengok ibu.” Kata Batari Mahadewi sambil memeluk ibunya sebelum mereka berpisah.
Jarak Padepokan Cemara Seribu tidaklah jauh dari rumah Nyi Kunyit. Namun ketika Batari Mahadewi akan belajar di sana, tentu ia tak akan bisa sering bertemu Batari Mahadewi, atau mungkin tidak akan pernah lagi karena demikianlah jalan pendekar.
__ADS_1
Belajar di padepokan memang harus siap mental, harus siap meninggalkan semua yang pernah dimiliki sebelumnya, dan memulai kehidupan baru.
Nyi Kunyit berpamitan. Batari Mahadewi dan Ki Gading Putih mengantarkannya sampai di pintu gebang padepokan. Perempaun tua itu terlihat tegar meski ia sangat kesepian.
“Baiklah Batari Mahadewi, taruhlah dulu barang-barangmu di pondokmu, lalu aku akan minta kakak seniormu untuk mengenalkan tempat ini.” Kata Ki Gading Putih.
“Baik guru.” Balas Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi bergegas menuju pondoknya. Kamar itu telah dipersiapkan untuknya, sebuah kamar sederhana dengan sebuah ranjang kayu, meja, kursi, dan sebuah lemari untuk menyimpan pakaian.
Batari Mahadewi menaruh barang-barangnya dalam lemari. Tak ada sesuatu yang berharga yang ia bawa kecuali pakaian-pakaiannya. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup sederhana, sehingga kamar itupun sudah terasa istimewa buatnya.
“Permisi…” terdengar suara perempuan mengetuk pintu kamar Batari Mahadewi.
“Iya…” jawab Batari Mahadewi yang segera bergegas membukakan pintu. Ia melihat seorang perempuan cantik yang berumur sekitar 17 tahun bersama seorang pemuda gagah yang usianya sedikit lebih tua dari perempuan itu tersenyum menatapnya.
“Perkenalkan, saya Niken Sekar Purnama, murid ke 5 dan ini senior saya.” Kata Niken memperkenalkan diri.
“Saya Batari Mahadewi. Ibu memanggil saya dengan nama Tari. Senang sekali bisa berkenalan dengan kakak seperguruan. “ Balas Batari Mahadewi.
“Apabila kamu sudah siap, mari kita berkeliling tempat ini.” Ajak Niken bersahabat.
Semua murid Padepokan Cemara Seribu akan mengangkat sumpah sebagai saudara dan akan saling menjaga sehidup semati.
Niken merupakan satu-satunya murid perempuan Ki Gading Putih sebelum Batari Mahadewi diangkat menjadi murid ke 6. Ia merupakan cucu dari Pendekar Rajawali, seorang pendekar sakti dari wilayah selatan.
Pendekar Rajawali dikenal dengan jurus meringankan tubuh yang sangat tinggi sehingga ia bisa melayang di udara
__ADS_1
layaknya seekor burung. Ia juga memiliki jurus cakar rajawali emas, salah satu jurus yang sangat berbahaya dalam dunia persilatan.
Pendekar rajawali merupakan sahabat lama Ki Gading Putih. Beliau meninggal di usianya yang ke 200. Ayah dan ibu Niken juga merupakan pasangan pendekar sakti. Mereka menitpkan Niken saat usianya baru 10 tahu, lalu pasangan pendekar itu melanjutkan misinya untuk bertarung dengan musuh perguruannya, yakni kelompok aliran hitam, Bunga Kematian.
Ayah dan ibu Niken mati dalam pertarungan melawan pimpinan kelompok Bunga Kematian, yaitu Ratu kematian, seorang pendekar terkenal dari golongan hitam yang memiliki jurus Nafas Kematian. Orang tua Niken mati karena jurus ini.
Tentu kabar kematian orang tuanya membuat Niken sangat sedih. Kelak jika sudah tiba waktunya, ia akan pergi menuntut balas atas kematian orang tuanya.
Berbeda dengan Niken, Jalu Pamungkas bukanlah anak pendekar. Ia merupakan anak petinggi kerajaan Swargadwipa yang menaungi desa Cemara Seribu. Jalu adalah anak yang kuat. Minatnya pada bela diri sudah terlihat sejak kecil. Guru bela diri kerajaan, Senopati Jalak Kuning, merasa kalau lebih baik Jalu belajar kepada pendekar yang jauh lebih sakti dari dirinya, yakni Ki Gading Putih.
Maka Jalu di kirim ke padepokan Cemara Seribu pada usianya yang ke 9 tahun. Setiap beberapa tahun sekali ia pulang untuk bertemu ibu dan ayahnya. Dengan latar belakang keluarga bangsawan negara, kelak Jalu diharapkan akan menjadi mahapatih kerajaan Swargadwipa setelah ia selesai menuntaskan belajar di Padepokan cemara Seribu.
Niken, Jalu, dan Batari Mahadewi berjalan menyusuri jalan setapak kecil menuju air terjun Hati Suci, tempat paling keramat di Padepokan Cemara Seribu. Nama air terjun itu diberikan oleh ki Gading Putih lantaran di balik air terjun itu terdapat sebuah goa panjang yang dipergunakan untuk semedi, dan dipergunakan oleh murid-murid padepokan untuk menyempurnakan ilmunya.
Batari Mahadewi bisa merasakan pancaran energi yang sangat kuat dari air terjun itu. Ia juga mampu melihat bentuk yang samar-samar di dalam goa itu, yakni sejumlah aksara yang menyimpan berbagai pengetahuan bela diri. Tentu Niken dan Jalu tak mengetahui keberadaan aksara itu karena manusia biasa tak akan bisa kecuali mereka yang memiliki energi dewa.
Sepanjang waktu ia berkeliling, ia hanya mendengarkan saja cerita dan penjelasan dari Niken dan Jalu tentang tempat-tempat yang mereka kunjungi
Sebetulnya Ki Gading Putih tak pernah mengajarkan ilmu-ilmu tertentu miliknya kepada murid-muridnya. Ia lebih mengajarkan hal-hal dasar seperti mengolah tenaga dalam, menyerap energi bumi, dan ilmu meringankan tubuh.
Selebihnya, Ki Gading Putih lebih mendorong murid-muridnya untuk menemukan jurus-jurusnya sendiri. Dengan demikian, murid-murid ki gading Putih tak memiliki ilmu beladiri yang sama. Masing-masing memiliki karakter dan potensinya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya hanya murid tertentu yang bisa bertahan untuk belajar dengan cara yang digunakan oleh Ki Gading Putih.
Ki Gading Putih tak melarang apabila murid-muridnya saling mengajarkan ilmu yang mereka dapatkan masing-masing, karena dengan cara itulah mereka bisa memperkaya pengetahuannya, serta bisa menciptakan dan memantapkan jurus pamungkasnya sendiri.
Niken dikenal sebagai murid yang menguasai ilmu Tapak Es. Ilmu itu berasal dari tenaga dalamnya yang memiliki karakter es yang dan kental akan elemen air. Niken tak hanya bisa mengubah air menjadi es, ia juga bisa menciptakan hawa dingin yang merubah udara menjadi butiran es yang tajam yang siap untuk menghunus lawan-lawannya.
Sementara itu, Jalu berkebalikan dengan Niken. Ia adalah murid yang kuat dengan elemen api. Ia memiliki jurus Tubuh Api yang bisa dengan mudah mengubah udara menjadi api, lalu melontarkannya ke arah lawan-lawannya sehingga seolah-olah ia benar-benar mengeluarkan api dari tubuhnya.
__ADS_1
Ilmu murid-murid ki Gading Putih ini merupakan ilmu sekelas pendekar sakti. Mereka bisa menguasai ilmu-ilmu itu di usia muda. Tentu karena Ki Gading Putih tak pernah menurunkan karakter ilmunya pada murid-muridnya, melainkan mendorong mereka untuk mengeluarkan potensi dari karakter dasar tubuh murid-muridnya.
Tentu latihan semacam itu merupakan latihan yang sangat keras yan bahkan sulit dijalani oleh pendekar sakti sekalipun. Tiap murid mendapatkan perlakuan yang berbeda, sesuai dengan potensinya masing-masing.