
Seminggu telah berlalu. Vidyana telah berhasil menanamkan beberapa mustika alam ke tubuh Nala. Kini dalam tubuh bocah kecil itu telah tertanam lebih dari seratus jenis mustika alam. Namun tak ada perubahan yang terjadi.
Vidyana sedikit kecewa sebab ia sangat berharap satu-satunya cara yang ia ketahui untuk membuka segel energi adiknya akan berhasil seperti yang ia harapkan. Kini keduanya melanjutkan pengembaraan mereka, menjelajahi dunia baru dan menantang setiap pendekar yang mereka temui. Kabar mengenai kedua pendekar misterius itu telah menyebar. Setidaknya mereka telah membunuh beberapa pendekar lagi selama sekian hari itu dan membuat nama keduanya semakin membuat penasaran banyak pihak.
####
Di tempat yang lain, Pendekar Sayap Kematian dan kedua rekan seperjalanannya telah bertemu dengan Harimau Merah.
“Saudaraku, terimakasih atas kedatangannya. Bantuan kalian sungguh kami nantikan.” Kata Harimau Merah.
“Tak ada yang gratis, bukan!” Kata Pendekar Sayap Kematian tanpa basa-basi.
“Tentu, seperti yang pernah aku janjikan.” Kata Harimau Merah.
“Bagaimana jika kami mau lebih?” tanya pendekar Sayap Kematian.
“Maksudnya?” Harimau Merah mulai merasa was-was.
“Kau tahu, aku membawa banyak pendekar pulau Neraka datang kemari. Mereka akan datang secara terpisah dan bertahap. Awalnya aku menjanjikan padamu bantuan 100 pendekar pulau Neraka yang akan kubawahi. Namun rencana kami bocor, dan banyak pendekar lain yang akan datang. Cukup sulit untuk mengendalikan mereka, kecuali dengan imbalan. Daripada mereka yang diluar daftarku mendatangkan masalah, lebih baik kita manfaatkan sebagai penambah kekuatan kita.” Kata pendekar Sayap Kematian.
Vidyana dan Nala adalah sebagian dari pendekar pulau Neraka yang datang ke pulau Mahabhumi tanpa perintah dari pendekar Sayap kematian. Beberapa pendekar sakti lainnya menyusul pendekar Sayap Kematian datang ke Mahabhumi untuk mendapatkan mustika alam yang sudah sangat sulit di dapatkan di pulau Neraka.
Pendekar Harimau Merah menjanjikan sebagian wilayah yang kaya akan mustika alam apabila ia berhasil menjalankan rencananya. Hal itu adalah tawaran yang menarik bagi pendekar Sayap Kematian. ia memang berencana akan meninggalkan pulau Neraka untuk selamanya.
“Kau yakin bisa mengendalikan pendekar pulau Neraka lainnya yang tidak termasuk dalam anggotamu?” tanya Harimau Merah.
“Kenapa tidak! Aku masih punya pengaruh di pulau Neraka.” Jawab pendekar Sayap Kematian.
Pendekar Harimau Merah merasa bimbang. Ia tak menyangka jika rencana yang ia susun akan menemui beberapa kendala yang belum sepenuhnya ia pahami.
“Dalam waktu dekat, jika semua anggotamu telah datang, kita akan menyerang istana. Jangan sampai ada yang mengetahui hal ini sebelum saatnya tiba.” Kata Harimau Merah.
__ADS_1
“Bagaimana dengan para pendekar aliran putih?” tanya pendekar Sayap Kematian.
“Sejauh ini, aku sudah mengalihkan perhatian. Para pendekar aliran putih tak akan banyak membantu. Sebagian dari kelompok kita akan menyerang satu per satu perguruan aliran putih. Para pendekar pilihan lainnya akan menyerang istana. Kurasa tak akan sulit.” Jawab Harimau Merah.
“Aku tak yakin dengan pemikiranmu. Tapi aku tak peduli. Selama tak ada pendekar legendaris di istana, aku yakin masih bisa mengusahakan kemenangan buatmu.” Kata pendekar Sayap Kematian.
Harimau Merah langsung teringat gadis kecil yang membunuh siluman naga di danau Rembulan Merah. Ia lupa nama gadis itu, tapi ia masih ingat betapa mengerikan kesaktian gadis itu. “Selama rencana ini tidak bocor, maka tak akan ada pendekar legendaris yang akan ikut campur.”
####
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken menempuh jalur berbeda dengan yang dilalui oleh dua pendekar adik dan kakak dari pulau Neraka sehingga mereka tak pernah bertemu. Ketiga murid muda Ki Gading Putih itu semakin mendekati kota Kerajaan Swargadwipa.
Mereka memasuki sebuah kota sebelum kota Swargadwipa. Kota itu adalah kota Berkah Langit, sebuah kota kecil yang tertata rapi. Kota itu dipimpin oleh Adipati Wayusa, yang masih kerabat dekat Mahapatih Siung Macan Kumbang. Jalu mengenal baik kota kecil itu sekaligus pemimpinnya yang ia panggil sebagai paman Wayusa.
Kota Berkah Langit memang tak memiliki wilayah yang luas sebab kota kecil itu dikelilingi oleh dua sungai yang lebar. Sebelah timur kota itu merupakan gunung tinggi dengan dua air terjun yang selalu mengalirkan air yang deras. Dua air terjun itu menjadi dua airan sungai yang terpisah dan bertemu lagi menjadi satu di sebelah barat kota Berkah Langit.
Mula-mula, kota itu hanyalah sebuah desa yang subur. Semua warganya hidup dengan cara bertani dan mencari ikan. Karena alamnya yang indah, dengan pemandangan air terjun yang besar dan tinggi layaknya air terjun yang turun dari khayangan, maka banyak orang yang tertarik untuk datang ke sana, dan menetap di sana. Lambat laun desa itu berubah menjadi kota dan diberi nama sebagai kota Berkah Langit. Nama itu diambil dari air terjun yang berada di sisi timurnya.
Kota itu merupakan jalan pintas terdekat untuk menuju kota Swargadwipa. Namun, jalan pintas itu artinya harus melintasi gunung Langit dengan dua air terjun dari puncaknya. Jika tidak, maka harus berputar menyusuri lereng gunung yang butuh waktu 3 hari berjalan kaki.
“Aku memang ingin mengajak kalian singgah disini barang sehari. Ada pemandangan yang tak boleh kalian lewatkan” Kata Jalu.
“Maksud kakak gunung itu?” tanya Niken.
“Iya. Indah bukan. Kita bisa mandi di sana.” Kata Jalu.
“Kita? Aku tidak mau ikut.” Kata Batari Mahadewi.
“Aku juga tidak mau. Kakak saja sendiri.” Kata Niken.
“Ah, kalian hanya belum tahu tempatnya. Ayo kita segera ke sana.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Tapi sungguh, aku tidak becanda. Jangan mandi di bawah air terjun itu. setidaknya untuk saat ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Adik melihat sesuatu?” tanya Jalu.
“Siluman naga air.” Kata Batari Mahadewi singkat. “Siluman itu akan mengenali baju kak Jalu jika kakak mendekat ke sana.”
“Tapi rencanaku, kita akan melintasi gunung itu.” Kata Jalu.
“Hmm…kita coba saja. Semoga saja siluman itu tak peduli dengan pakaian kak Jalu.” Kata Batari Mahadewi.
“Kita tak jadi singgah dulu di kota ini?” tanya Niken.
“Awalnya aku ingin mengajak ke air terjun dulu, lalu bersantai sejenak.” Kata Jalu.
“Jika kita ke sana, percayalah, kita tak akan jadi bersantai. Siluman naga itu sudah berumur tua, cukup merepotkan. Kita bisa melintasi gunung itu tanpa harus berurusan dengan siluman naga itu.” Kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana caranya?” tanya Jalu.
“Nanti saja kalau kita sudah mau berangkat. Sekarang waktu yang tepat untuk beristirahat.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiganya kemudian mencari kedai makan terdekat. Setelah melewati pasar dan pertokoan, mereka menemukan rumah makan terbaik yang diceritakan oleh Jalu.
Ketika mereka bertiga sedang duduk menanti pesanan makanan datang, tiga orang dengan pakaian yang berbeda jauh dengan gaya pakaian orang-orang Swargadwipa memasuki kedai. Ketiganya memiliki pancaran energi alian hitam yang terbaca oleh Batari Mahadewi, Jalu dan Niken.
“Mereka berbahaya.” Kata Batari Mahadewi dengan suara lirih.
“Sebaiknya kita pantau keberadaan mereka di sini. Tapi jangan sampai kita ketahuan.” Kata Jalu.
“Mungkin ketiga orang itu tahu kalau kita pendekar. Selama kita menyembunyikan kekuatan kita, yang mereka tahu mungkin kita hanya pendekar biasa dan tak menarik perhatian mereka.” Kata Batari Mahadewi.
####
__ADS_1
Sampai di sini punggungku rasanya sudah sangat tidak bersahabat. Saatnya aku lanjutkan besok lagi. Coba tebak, siapa ya sosok tiga pendekar aliran hitam itu? dari mana mereka berasal? Dan siapa nanti yang akan membuat masalah dengan siluman naga air terjun Berkah Langit? Pasti teman-teman bisa dengan mudah menebak. Aku sih belum tahu kelanjutannya. Jika tebakan teman-teman benar, maka kita punya imajinasi yang sama.
Sip. Terimakasih banyak ya teman-teman. Semoga berkah dan keselamatan selalu melimpah bagi kita semua.