
Kota Giring Angin merupakan sebuah kota di kerajaan Swargadwipa yang memiliki wilayah cukup luas. Hanya saja, tata kota di Giring Angin tak sebagus kota Kaki Langit. Karena wilayahnya yang luas itu, maka banyak hal yang luput dan beberapa kawasan di sana bisa dikatakan kumuh.
Banyak penyamun di kota Giring Angin. Tak ada tindakan serius yang dilakukan oleh Adipati Senowangi selama ia bisa mendapatkan keuntungan dari jabatannya. Kota Giring Angin juga jarang mendapatkan kunjungan Sri Maharaja Srengenge Abang dan hal itu semakin membuat Adipati Senowangi bisa berbuat seenaknya karena merasa tak diawasi.
Di sektor barat, wilayah yang paling kumuh, adalah wilayah para penyamun. Di wilayah itu terdapat markas rahasia milik kelompok Harimau Merah. Markas itu hanya digunakan untuk pertemuan tertentu jika Harimau Merah ingin berhubungan dengan kelompok aliran hitam lainnya.
Beberapa pimpinan kelompok aliran hitam telah datang ke sana, diantaranya adalah pendekar Raja Sihir, pendekar Bunga Kematian, pendekar Bulan Hitam, pendekar Cambuk Api, pendekar Kapak Hitam, dan masih banyak lagi.
Pendekar Harimau Merah, Mawar Hitam, pendekar Tengkorak, pendekar Clurit Kembar, pendekar Wajah Hantu, dan pendekar Golok Neraka akhirnya telah tiba di sana.
Pertemuan para pendekar aliran hitam itu membahas rencana mereka untuk menciptakan kekacauan dengan menyerang perguruan aliran putih terlebih dahulu untuk kemudian melumpuhkan beberapa kota penting sebelum akhirnya mereka akan menyerang kerajaan Swargadwipa.
Tujuan akhir mereka adalah menguasai kerajaan Swargadwipa. Gerakan itu tentu saja didalangi oleh tokoh penting, yakni raja Swargabhumi yang memang sudah sejak lama ingin menaklukkan kerajaan Swargadwipa.
Sri Maharaja Segara Biru secara diam-diam menjalin hubungan dengan beberapa pendekar dari aliran hitam. Ia tak ingin tindakannya terbaca oleh pendekar aliran putih di wilayah kerajaannya karena keinginannya untuk menaklukkan kerajaan Swargadwipa tak mendapatkan persetujuan dari banyak petinggi kerajaan yang sebagian besar merupakan kerabat pendekar aliran putih.
Jika rencananya berhasil, ia akan menjadikan kerajaan Swargadwipa sebagai kerajaan boneka yang tunduk kepada Sri Maharaja Segara Biru. Maka ia rela mengeluarkan banyak biaya untuk mendukung para pendekar aliran hitam menjalankan rencananya.
__ADS_1
Sehingga, apabila kekacauan itu terjadi, yang akan terbaca adalah para pendekar golongan hitam sedang ingin berkuasa. Nama Sri Maharaja Segara Biru akan tetap bersih, seolah ia tak memiliki campur tangan dalam urusan itu.
Jika para pendekar golongan hitam berkhianat, maka ia juga punya alasan untuk mengerahkan pasukannya dan meminta bantuan para pendekar aliran putih dari kerajaannya untuk menghabisi para pendekar hitam, apabila mereka berhasil dan mendapatkan kekuasaan di kerajaan Swargadwipa.
Rencana itu hanya diketahui saja oleh pendekar Harimau Merah dan Raja Sihir saja sehingga keduanya bisa merekrut berbagai kelompok aliran hitam dari berbagai kerajaan untuk bergabung, dengan dalih untuk membalas dendam dan menguasai sebagian besar kerajaan di tanah Mahabhumi, sebuah pulau besar yang dengan berbagai kerajaan di dalamnya.
Pendekar Harimau Merah bukanlah pendekar yang paling kuat diantara kelompok aliran hitam itu. Masih banyak pendekar yang mengungguli kesaktiannya. Namun ia bisa dibilang sebagai pendekar yang paling cerdas, memiliki banyak pengetahuan dan memahami ilmu politik ketatanegaraan.
Gerakan itu bisa terwujud berkat usahanya untuk meyakinkan, mengajak, dan mengumpulkan berbagai kelompok hitam dari berbagai kerajaan di wilayah Mahabhumi.
Di markas kecil dan kumuh pada bagian barat kota Giring Angin itu, pendekar Harimau Merah memegang kendali sebagai pimpinan. Tak ada yang meragukan posisinya.
“Sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa kita semua di sini saat ini karena satu tujuan, yaitu membalaskan dendam kekalahan kita berpuluh-puluh tahun yang silam, sekaligus untuk menguasai kerajaan Swargadwipa yang merupakan pintu awal kita untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya. Jadi, mulai saat ini dan seterusnya, kita semua adalah saudara dan saya tidak ingin ada perselisihan lagi diantara kita semua.” Lanjut pendekar Harimau Merah.
“Saudara-saudara kita yang lain belum bisa hadir di sini pada hari ini, namun percayalah, mereka akan bergabung dan kekuatan kita akan menjadi besar. Cukup besar untuk menghabisi seluruh kelompok putih yang ada di wilayah Swargadwipa.” Harimau Merah melanjutkan sambutannya.
Pendekar Harimau Merah kemudian menyampaikan lagi rencana-rencananya, berbagai rancangan dan siasat untuk menyerang kelompok putih secara berkelompok sehingga mereka tidak akan kehilangan banyak anggota.
__ADS_1
Pendekar Harimau Merah membagi kelompok itu menjadi beberapa kelompok lagi yang akan melakukan penyerangan terhadap perguruan kecil aliran putih terlebih dahulu secara berkala. Selama perguruan aliran putih yang dijadikan sasaran serangan tak mengetahui kapan hal itu akan terjadi, maka mudah saja bagi gabungan tiga atau empat kelompok hitam menghabisi mereka semua.
Satu-satunya hambatan bagi mereka adalah jika beberapa pendekar legendaris dari kelompok putih mengetahui rencana tersebut dan bergerak cepat untuk mengumpulkan para pendekar pada jajarannya. Terlebih, untuk melacak keberadaan pendekar legendaris tersebut bukanlah hal yang mudah. Para pendekar legendaris dari aliran putih lebih suka menyendiri, menjauh dari keramaian dunia di tempat-tempat terpencil seperti misalnya hutan Cemara Seribu atau desa Atas Awan.
Maka, hal yang paling mungkin dilakukan oleh aliansi kelompok hitam ini adalah bukan melumpuhkan para pendekar legendaris terlebih dahulu karena hal ini akan memakan korban dalam jumlah banyak bagi kelompok hitam. Mereka akan memulainya dengan melenyapkan beberapa perguruan kecil yang tersebar di seluruh wilayah Swargadwipa.
Jalu dan Batari Mahadewi telah sampai di kota Giring Angin. Seperti biasanya, Batari Mahadewi telah merasakan hal-hal buruk yang akan terjadi dalam waktu dekat, namun ia tak tahu apa itu. Ia tak mau memikirkan hal itu dan menyampaikannya kepada Jalu karena mereka berdua bagimanapun juga masih mencemaskan keadaan Niken yang entah saat itu berada di mana.
“Apakah menurut kakak, kita melewati saja kota ini, atau tinggal beberapa hari?” Tanya Batari Mahadewi.
“Aku sungguh tak tahu adik, pikiranku sangat kacau.” Kata Jalu.
“Kalau begitu kita lanjutkan saja perjalanan kita seperti ini, tanpa terburu-buru.” Kata Batari Mahadewi.
Mereka terus melangkah sambil mengamati keadaan kota itu. Bagian pinggiran kota meninggalkan kesan jorok dan kumuh. Banyak bangunan sempit, padat, dan berhimpit-himitan. Batari Mahadewi tak memahami kenapa orang-orang itu rela bertahan di kota dengan kondisi yang demikian dibandingkan dengan wilayah desa yang lebih longgar, sepi dan terasa damai.
“Jika kita nanti telah sampai di tengah kota, kita akan cari kedai makan yang bagus. Bagaimana menurut adik?” Kata Jalu.
__ADS_1
“Kakak benar, kita mencari makan di tengah kota saja. Di wilayah pinggiran ini, aku tak memiliki selera makan.” Kata Batari Mahadewi.
Beberapa pendekar berkelebat cepat. Batari Mahadewi dan Jalu menyadari pancaran energi itu. ‘Ada banyak sekali pendekar hitam di kota ini, apa yang sedang mereka rencanakan?’ Batin Batari Mahadewi.