
Para pendekar aliran hitam yang tersisa dalam penyerangan pada malam hari itu akhirnya memilih untuk mundur mengingat kekuatan mereka semakin mengecil. Vidhyana menghilang dari pandangan. Hatinya kacau ketika adik kesayangannya itu telah lenyap di angkasa. Ia memutuskan untuk mencari, meski ia sungguh tak tahu kemana harus mencarinya.
Ke lima murid Ki Gading Putih gemetar karena telah kehilangan adik seperguruan mereka, terlebih Jalu dan Niken yang terlanjur sangat dekat dengan gadis ajaib itu. Niken tak henti mengucurkan air mata, dan Jalu tak memiliki pikiran jernih untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan.
“Sebaiknya kita urus yang di sini dahulu.” Kata Buyung, “Setelah itu, kita harus bertemu dengan guru. Barangkali beliau memiliki petunjuk.”
Setidaknya dalam pertempuran malam hari itu, lebih dari sepuluh ribu prajurit telah gugur. Kerajaan Swargadwipa telah kehilangan banyak kekuatan dan hal itu sangat rawan apabila terjadi lagi serangan susulan yang entah dari mana datangnya.
Mahapatih Siung Macan Kumbang terluka cukup parah. Namun luka itu bisa dengan cepat diobati dengan berbagai jenis obat dan mustika alam yang dimiliki kerajaan. Sehari setelah serangan itu, Sri Maharaja Srengenge Ireng mengadakan rapat darurat dengan para petinggi kerajaan, membahas rencana khusus terkait dengan pertahanan dan berbagai hal mendesak lainnya yang disebabkan oleh serangan pada malam hari itu.
Berita penyerangan itu dengan cepat menyebar di wilayah kerajaan lain. Hal itu sedikit banyak menciptakan menimbulkan pergeseran kepentingan, dan memancing hasrat raja lain yang bukan sekutu kerajaan Swargadwipa untuk menguasai kerajaan itu, mengingat wilayah Swargadwipa merupakan wilayah yang subur dan kaya.
Sri Maharaja Segara Biru, raja dari kerajaan Swargabhumi sangat kesal mendengar kekalahan Harimau Merah. Ia menilai, pimpinan komplotan pendekar aliran hitam yang ia percayai itu terlalu tergesa-gesa dalam menjalankan rencananya. Dari semua raja di Mahabhumi, Raja Segara Biru lah yang paling berhasrat untuk menguasai wilayah Swargadwipa. Meski saat ini kerajaan Swargadwipa melemah, namun menyerang kerajaan itu tanpa alasan kuat justru akan menimbulkan kecaman dari berbagai pihak.
Buyung dan Cendana memutuskan untuk kembali ke perguruan Cemara Seribu, sementara Jalu, Niken dan Anjani masih tinggal di Swargadwipa, membantu Mahapatih Siung Macan Kumbang untuk memulihkan keadaan. Beberapa pendekar aliran putih yang diundang oleh sang Mahapatih telah pamit pulang, dan beberapa diantaranya, termasuk Pradipa, masih bersedia membantu di kerajaan.
“Kami akan menemui guru dan setelah itu pasti kami akan kembali lagi ke sini.” Kata Buyung.
“Baiklah kakak, kita memang harus berbagi tugas dalam situasi seperti ini.” Kata Jalu. Buyung dan Cendana berangkat. Keduanya melaju dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di Cemara Seribu.
Para pendekar aliran hitam dari pulau Neraka yang masih tersisa masih belum berniat kembali ke pulau Neraka. Sebaliknya, mereka mengisi kekosongan dari kekalahan para pendekar gabungan aliran hitam di Swargadwipa. Mereka kalah untuk kedua kalinya setelah puluhan tahun yang lalu mereka mengalami hal yang sama.
Harimau Merah memutuskan untuk bersembunyi di suatu tempat entah untuk berapa lama. Yang pasti, ia enggan untuk bertemu dengan para pendekar aliran hitam yang tersisa. Keputusannya untuk mengikuti usulan para pendekar pulau Neraka telah membawa petaka baginya. Rencananya hancur berantakan.
#####
__ADS_1
Batari Mahadewi dan Nala terlempar ke dimensi dunia lain. Tubuh keduanya jatuh dari langit dan mendarat di sebuah tempat yang tak mereka kenali. Nala tak sadarkan diri, tenaganya habis ketika terseret dalam lubang hitam bersama dengan Batari Mahadewi. Sementara itu, Batari Mahadewi bangkit perlahan. Tubuhnya merasakan rasa yang teramat sakit. Ia memandang ke sekelilingnya, dan menemukan Nala yang tak jauh dari tempatnya terjatuh.
‘Siapa dia? Kenapa tubuhku seolah memberontak saat telapak tanganku beradu dengan telapak tangannya? Di mana ini? Apa yang harus aku lakukan?...’ benak Batari Mahadewi dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Ia berjalan tertatih, mendekati tubuh Nala yang masih tergeletak tak sadarkan diri. Batari Mahadewi menduga, anak lelaki itu masih seumuran dengan dirinya, hanya saja tubuh anak misterius itu tak lebih besar darinya.
Batari Mahadewi duduk bersila tak jauh dari anak lelaki itu tergeletak. Ia mencoba memulihkan energinya dengan menyerap energi alam di sekitarnya. Ia tak menyangka, tempat asing itu memiliki energi yang jauh lebih baik dari tempat manapun yang pernah ia kunjungi sebelumnya. Dengan cepat energinya pulih sepenuhnya. Ia memandangi tubuh anak kecil yang belum siuman itu. Lalu ia berjalan mendekat.
Batari Mahadewi memutuskan untuk memulihkan energi Nala. Ia mengalirkan energinya dengan kedua telapak tangannya yang ia sentuhkan di dada Nala. Mata Nala mulai terbuka dan dengan segera ia melompat mundur, namun ia jatuh kembali karena tenaganya masih sangat lemah.
“Apa yang kau lakukan! Kenapa kau tak membunuhku?!” Teriak Nala.
“Buat apa aku melakukannya. Kita bahkan tak tahu sedang berada di mana. Yang jelas, tempat ini bukan dunia kita.” Kata Batari Mahadewi.
Nala terdiam, ia mencoba untuk menyadari tempatnya berpijak saat itu. Ia membenarkan apa yang baru saja dikatakan oleh Batari Mahadewi. Ia melihat di sekelilingnya, dan menemukan bahwa segalanya berbeda. Semua tumbuhan yang ada disekitarnya, warna langit pada malam hari itu, serta bulan yang berjumlah tiga menyala terang di angkasa.
“Pulihkan energimu secepatnya. Kita tak tahu apa yang akan menimpa kita selanjutnya.” Kata Batari Mahadewi. Nala diam tak menjawab, namun ia menuruti perkataan gadis yang ada di depannya itu.
“Saat ini kita hanya berdua di sini. Bukan berarti aku tak akan menantangmu bertarung lagi.” Kata Nala.
“Terserah! Tapi percayalah, jangan saat ini jika kau masih mau berkelahi denganku. Aku masih memikirkan cara agar kita bisa kembali ke dunia kita. Kau ingat, kita berdua terlempar ke dunia ini sewaktu kita beradu energi. Aku tak tahu, jika kita melakukan hal yang sama, apakah kita bisa kembali ke dunia kita, atau justru lebih buruk dari ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Katakan kepadaku, sejujurnya, siapa kamu?” tanya Nala.
“Sudah kukatakan, aku tak tahu siapa aku!” Jawab Batari Mahadewi. “Siapa namamu?”
“Apa pentingnya kau tahu namaku.” Jawab Nala ketus, ia masih belum bisa bersahabat dengan teman barunya itu.
__ADS_1
“Aku Batari. Kau bisa memanggilku Tari. Dengan nama apa aku harus memanggilmu?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku Nala. Aku dan kakakku dari pulau Neraka.” Jawab Nala. Sikapnya lebih melunak.
“Baiklah, Nala. Bersiaplah. Ada sesuatu yang sedang mendekati kita.” Kata Batari Mahadewi.
Seekor Harimau berkepala tiga datang ke arah keduanya. Harimau itu tampak lapar dan ia datang karena mencium aroma tubuh Nala dan Batari Mahadewi. Yang membuat Nala dan Batari Mahadewi tercengang adalah ukuran harimau itu yang sebesar gajah. Harimau itu tak mengaum, namun menyeringai, memperlihatkan tiga mulutnya yang penuh dengan gigi tajam dan keenam bola matanya yang berkilau diterpa cahaya bulan.
Harimau itu melompat ke arah Nala dan batari Mahadewi. Keduanya bisa menghindar dengan cepat, lalu Nala mendaratkan pukulannya ke tubuh harimau itu. Pukulannya tak menghasilkan apapun. Harimau itu justru malah semakin marah.
“Jangan setengah-setengah menggunakan energimu!” Kata Batari Mahadewi. Gadis itu menggunakan jurus tapak petir dan berhasil menumbangkang harimau besar itu. Nala tampak kesal. Seharusnya ia yang melakukan hal itu. Ia hanya tak menyangka jika harus menggunakan energi besar untuk bisa membunuh harimau itu.
“Apakah makhluk ini adalah siluman?” tanya Nala.
“Sepertinya bukan. Justru energimu itu yang masih membawa hawa siluman.” Kata Batari Mahadewi.
“Aku bukan siluman.” Kata Nala lirih. Diam-diam ia tak suka jika dipanggil sebagai siluman. Ia memang memiliki energi siluman, namun ia tak bisa berubah menjadi siluman. Ia juga tak pernah belajar ilmu apapun dari para pendekar siluman. Semua mustika yang ia serap, dan yang ditanamkan oleh kakaknya dalam tubuhnya sebagian besar adalah mustika alam, sisanya adalah mustika siluman yang berukuran kecil sehingga tak akan merubah kesadaran dan wujud Nala.
“Maafkan aku.” Kata Batari Mahadewi. Ia merasa bersalah setelah tahu reaksi Nala atas perkataannya itu.
“Tak apa. Mungkin aku memang siluman. Tak seorangpun mau berteman denganku, kecuali kakakku.” Kata Nala.
“Sementara, kau bisa menganggapku teman. Jika kau mau. Terserah kau.” Kata Batari Mahadewi.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” Tanya Nala.
__ADS_1
“Kita tunggu fajar tiba. Setidaknya kita bisa melihat lebih jelas semua hal di sekeliling kita. Kita akan cari tahu, bagaimana kita bisa kembali ke dunia kita.” Kata Batari Mahadewi.