
Cacing raksasa itu meluncur cepat dan menancapkan gigi-giginya ke tubuh Batari Mahadewi. Namun cacing itu tak menyangka bahwa calon mangsanya yang bercahaya keemasan itu justru malah menjadi malapetaka baginya.
Tubuh cacing raksasa itu terhisap menjadi serpihan-serpihan energi ketika mendarat beberapa jengkal dari selubung cahaya keemasan yang terpancar dari tubuh Batari Mahadewi. Nala sekali lagi terheran-heran dengan apa yang ia saksikan. Ia bergidik dan merasa beruntung sebab ia mengurungkan niatnya untuk menyentuh tubuh teman barunya itu.
‘Apa itu? jika saja aku menyentuhnya tadi, maka habislah aku. Tapi bagaimana mungkin? Kenapa di saat ia tak sadarkan diri, ia malah memiliki kemampuan bertahan sebaik itu? tubuhnya justru terus menerus menyerap energi tanpa henti. Pancaran energinya semakin bertambah besar. Makhluk apakah kau ini, gadis aneh?’ batin Nala.
Nala menunggu Batari Mahadewi sadar selama dua hari lamanya. Selama dua hari itu, ia mengumpulkan Kristal-krital energi dari binatang-binatang aneh yang menyerangnya dan berhasil ia bunuh. Ia belum berniat menggunakannya. Ia menunggu Batari Mahadewi dan ingin berbagi dengan gadis yang buatnya penuh misteri itu.
Di pagi yang dingin, saat sinar matahari mulai menyusupi jemari pepohonan yang berbentuk aneh dan tak pernah ada di dunia satu rembulan, cahaya keemasan yang menyelubungi gadis pusaka dewa itu perlahan sirna. Batari Mahadewi membuka matanya dan bangkit perlahan. Ia merasakan bentuk baru pada tubuhnya.
Batari mahadewi melepas alas kakinya dan mencincingkan celananya, ia melihat kedua kakinya mulai dari lutut hingga ke telapak kakinya telah berubah menjadi logam keemasan, dengan hiasan sisik yang indah.
Batari mahadewi sudah tak sekaget sebelumnya dengan segala perubahan dirinya setiap kali ia berhasil membuka segel energi dalam tubuhnya.
“Lama sekali kau tidur!” kata Nala.
“Kau menungguiku?” tanya batari Mahadewi.
“Ya, apa lagi yang bisa kulakukan!” jawab Nala.
“Terimakasih, teman.” Kata Batari Mahadewi
“Tak perlu mengatakannya. Kenapa dengan kakimu?” tanya Nala.
“Setiap kali aku berhasil melewati batasan tubuhku, aku mengalami perubahan. Mungkin aku ini monster. Mungkin suatu hari kau akan jijik denganku. Bisakah aku meminta satu hal padamu?” tanya Batari Mahadewi.
“Katakanlah!” jawab Nala.
“Satu-satunya orang yang bisa bertahan dengan seranganku hanyalah kamu. Aku tidak tahu sampai mana lagi aku masih memiliki kesadaran seperti ini. Mungkin aku berlebihan…tapi…”
“Bicara apa kau ini, aku tak mengerti.” Nala memotong pembicaraan Batari Mahadewi.
“Dengarkan aku dulu! Kau harus cepat meningkatkan energimu, mengimbangi kekuatanku setiap kali kekuatanku bertambah. Dengan demikian, jika suatu saat ada hal buruk terjadi padaku, jika aku berubah dan tak bisa mengendalikan diriku lagi, kau harus membunuhku.” Kata gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Justru aku berharap hal yang sama padamu. Aku tak tahu aku akan menjadi apa. Sementara, aku memiliki energi siluman yang kuat. Ada sesuatu dalam diriku yang selalu menghantui melalui mimpi-mimpiku, dan ingin menguasaiku sepenuhnya. Seharusnya kau yang membunuhku. Itulah kenapa, di Swargadwipa aku sangat senang menemukanmu. Aku berharap kau bisa membunuhku saat itu.” Kata Nala.
“Kenapa kau berfikir begitu?” tanya Batari Mahadewi.
“Kakakku bersikeras agar aku bisa menjadi kuat. Ia tak tahu bahwa aku sudah jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Hanya saja aku tak menginginkan hal ini. Semua pendekar yang kami temui hanyalah pendekar lemah yang mudah kami taklukkan. Malam itu aku melihatmu yang memancarkan energi dewa. Kupikir kau bisa mengakhiriku saat itu. Tapi kita malah sampai di sini.” Kata Nala.
“Aku percaya, kau memiliki hati yang baik. Itulah kenapa aku tak membunuhmu sewaktu pertama kali kita sampai di sini. Aku yakin, siapapun kita, selama masih dalam tubuh manusia, kita akan memiliki hati manusia. Aku yakin setiap hati manusia itu baik. Kejahatan hanyalah goresan-goresan luka di hati kita yang belum bisa kita maafkan, dan membuat kita ingin membalas rasa sakit itu.” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Bagaimana jika kejahatan itu lebih dari yang kau katakan? Bagaimana jika kejahatan dalam diriku berasal dari dasar jiwaku dan diluar kendali kesadaranku?” tanya Nala.
“Jika kau yakin bisa melawannya, dengan hatimu, pasti kejahatan itu akan sirna. Hanya jika kau percaya.” Kata Batari Mahadewi.
“Bisakah kita bicara hal lain?” tanya Nala.
“Apa?” Batari mahadewi berbalas tanya.
“Aku ingin tahu perubahan kakimu itu.” kata Nala
“Ini, lihatlah.” Kata Batari mahadewi
“Boleh kusentuh?” tanya Nala
“Tak ada yang pernah menyentuhku sebelumnya. Aku malu.” Kata batari Mahadewi.
“Kita masih anak-anak. Jangan berfikir yang tidak-tidak.” Kata Nala jengkel.
“Bukan itu maksudku. Baiklah, sentuh saja.” Kata Batari Mahadewi.
Nala menyentukah telunjuk tangannya ke permukaan kulit Batari Mahadewi yang bersisik halus dan berhias dengan guratan pola ukiran yang indah. Kulit itu sekeras logam, seperti emas, dan berbahaya.
“Lihat ini juga” Batari Mahadewi menyingsingkan lengan pakaiannya yang menutupi seluruh tangannya. Nala melihat guratan keemasan mulai dari ujung kuku hingga siku kedua tangan gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Sungguh mengagumkan, keras, tajam dan lentur. Kau seperti logam yang hidup.” Kata Nala.
“Ya begitulah…bagiku ini menyedihkan.” Kata batari mahadewi.
“Kenapa?” tanya Nala.
“Aku ingin menjadi manusia, Nala. Sepenuhnya manusia, dan hidup sebagaimana manusia.” Kata Batari Mahadewi.
“Bagiku, kamu manusia. Jauh lebih manusia dari manusia yang pernah kujumpai. Meski kelak tubuhmu akan berubah menjadi apapun. Selama kamu masih bersikap seperti ini, maka kamu manusia.” Kata Nala mencoba menghibur temannya ini.
“Nala, lihat ini.” Batari Mahadewi mengambil sebuah batu yang berwarna hitam bebatuan di dunia itu memiliki tingkat kekerasan yang berbeda. Jauh lebih keras, padat, dan berat dari bebatuan di dunia asalnya. Batari Mahadewi menggoreskan kuku jari telunjuknya ke permukaan batu itu. Dengan sangat mudah, batu itu terbelah dua.
Nala terdiam melihat hal itu. Ia sudah menduganya.
“Nala…” kata Batari Mahadewi.
“Ya…” jawab Nala
__ADS_1
“Apakah kau yakin kita masih anak-anak?” tanya Batari Mahadewi.
“Tidak juga. Tubuh kita masih kanak-kanak.” Jawab Nala
“Aku yakin, yang kita alami saat ini lebih rumit dari orang dewasa.” Kata Batari Mahadewi.
“Aku pikir juga begitu. Aku tak yakin, anak-anak lain seusia kita bahkan bisa berbicara seperti pembicaran kita.” Kata Nala.
“Sejak kecil, aku selalu merasa kesepian. Tak ada yang bisa bermain denganku di desaku.” Batari Mahadewi mulai terbuka untuk bercerita.
“Akupun demikian. Aku tak bersama siapapun kecuali kakakku.” Kata Nala.
“Jika kau bisa memilih, apakah kau akan memilih keadaanmu saat ini, atau menjadi anak biasa saja?” tanya Batari Mahadewi.
“Kadang aku ingin menjadi orang lain. Menjadi seperti dirimu misalnya, yang masih bisa dekat dengan banyak orang. Aku ini…terus terang kau orang kedua setelah kakakku yang banyak bicara denganku.” Kata Nala.
“Bagaimana jika kita berdua terjebak di sini untuk selamanya?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau ini seperti perempuan saja! selalu berfikir buruk bahkan tentang hal yang belum terjadi.” Kata Nala.
“Memangnya kau pikir aku laki-laki?!” kata Batari Mahadewi sedikit kesal karena Nala mengatainya seperti perempuan.
“Mungkin seharusnya kau ini laki-laki, kau jauh lebih kuat dariku.” Kata Nala.
“Apakah perempuan tak boleh kuat?” tanya Batari Mahadewi.
“Tubuhmu memang tubuh perempuan. Tapi aku tak terlalu yakin dengan pikiranmu. Bisa saja, kau bukan keduanya. Tapi mungkin akan cenderung menjadi perempuan, sebab tubuhmu tubuh perempuan.” Kata Nala.
“Kau tak menjawab pertanyaanku. Apakah perempuan tak boleh menjadi kuat, atau bahkan lebih kuat dari laki-laki?” Batari Mahadewi mengulang pertanyaannya.
“Siapa yang melarang?” Nala balik bertanya.
“Kau tadi bilang, seharusnya aku ini lelaki.” Kata Batari Mahadewi.
“Tubuh laki-laki atau perempuan sama-sama kuat. Tergantung bagaimana kita mengolahnya. Tapi dalam hal mengabaikan perasaan, kurasa laki-laki jauh lebih kuat dari perempuan. Umumnya begitu. Tapi perempuan memiliki perasaan yang jauh lebih tajam. Terserah kau setuju atau tidak.” Kata Nala.
“Hahaha…kau tahu, entah kenapa aku merasa senang berbicara denganmu. Aku belum pernah berbicara seperti ini dengan siapapun.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1