
Dengan kekuatan barunya setelah segel ke 5 terbuka, bukan berarti Batari Mahadewi bisa dengan mudah mengalahkan kakek Agrapana, sang penjaga altar suci kota Dhyana. Tak ada yang tahu, selama Agrapana tak meninggalkan altar suci, maka ia tak akan mudah dikalahkan. Sejauh itu, tak ada yang dapat mengalahkannya. Agrapana telah menjadi satu dengan altar suci itu dalam usianya yang hampir 1000 tahun. Ia selalu setia mengajarkan pengetahuan kepada siapapun yang melakukan tapa atau meditasi di altar suci itu.
Batari Mahadewi telah dua kali kalah dalam pertarungan melawan kakek Agrapana. Dalam pertarungan yang kedua, Batari Mahadewi kembali terbanting sangat keras hingga menimbulkan ledakan yang lebih besar dari sebelumnya. Hanya saja, kali ini ia tidak pingsan. Energinya yang telah habis juga bisa dengan cepat pulih sepenuhnya. Sehingga, tak butuh waktu lama baginya untuk bersiap dalam pertarungan yang ke tiga.
“Sudah kukatakan padamu, nona kecil, kau harus belajar mengalahkan pikiran. Kau tak mungkin mengalahkanku di altar suci ini jika kau masih terjebak dalam pikiranmu. Berlatihlah, ayo serang aku!” kata kakek Agrapana yang tak lagi menjelma menyerupai Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi masih bingung dengan maksud berlatih mengalahkan pikiran. Selama ini ia cenderung menggunakan pikirannya untuk mengatur strategi serangan dan mencerna serangan lawan-lawannya. ‘bagaimana caranya mengalahkan pikiran,’ batin Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi memejamkan matanya, ia hanya terfokus untuk merasakan pergerakan energi dari kakek Agrapana. Ia mencoba tak memikirkan apapun. Ia tak peduli lagi jika tubuhnya akan menerima serangan bertubi-tubi dari kakek Agrapana, toh sebelumnya ia sudah merasakannya. Ia hanya diam, menunggu, merasakan segala sesuatu yang tertangkap oleh inderanya tanpa berusaha untuk menafsirkannya.
Agrapana tak juga menyerang. Sebelumnya, ia selalu menunggu lawan-lawannya menyerang terlebih dahulu. Dengan demikian, ia bisa membaca pikiran lawan-lawannya sehingga ia bisa tahu bagaimana cara mengatasinya, dan menjatuhkan lawan-lawannya.
Batari Mahadewi juga terdiam. Tubuhnya seolah menyatu dengan hal-hal di luar dirinya, ruangan, udara, bunyi, dan pancaran energi dari kakek Agrapana. Tiba-tiba Agrapana mulai bergerak. Ia melakukan serangan yang cepat dengan energi tinggi ke arah Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi diam tak bergerak. Ia mencoba untuk tak memikirkan apa yang harus ia lakukan, namun ia tetap mengaktifkan pancaran energinya dan seluruh panca inderanya untuk terus siaga. Begitu Agrapana telah mendekat dan berjarak sekian jengkal dari wajahnya, Batari Mahadewi membuka matanya, tubuhnya dengan sendirinya menangkis tiap-tiap serangan dengan kecepatan cahaya yang dikerahkan oleh Agrapana.
__ADS_1
Batari Mahadewi mulai memiliki kembali kepercayaan dirinya. Ia percayakan sepenuhnya semua hal yang terjadi melalui tubuhnya yang bergerak mengalir seirama dengan tiap-tiap serangan yang dilancarkan oleh Agrapana. Tak satupun pukulan Agrapana mengenai Batari Mahadewi. Ia membiarkan tubuhnya lebih dahulu bertindak sebelum pikirannya menguasai tubuhnya. Tanpa sengaja, Batari Mahadewi telah menciptaka jurusnya sendiri, jurus Tubuh Menagkal Pikiran.
“Bagus nona muda. Biasakan cara itu untuk menangkal serangan-seranganku.” Kata Agrapana yang kemudiam menyerang Batari Mahadewi dengan serangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
Batari Mahadewi membiarkan tubuhnya bergerak mengalir seiring dengan tiap-tiap serangan Agrapana. Kedua lengannya yang telah berubah bentuk itu cukup merepotkan Agrapana karena lengan itu seolah mampu menangkis sekaligus menghancurkan pusaka yang paling kuat di dunia manusia.
Sayangnya, dengan jurus ciptaannya itu, Batari Mahadewi hanya bisa menunggu tiap-tiap serangan Agrapana. Jika lawannya tak melakukan apapun, maka tak ada alasan bagi tubuh Batari Mahadewi untuk bergerak.
Keduanya terdiam dalam waktu yang cukup lama. Batari Mahadewi menggunakan kesempatan itu untuk membiarkan tubuhnya menyerap energi sebanyak-banyaknya. Semakin ia tak berfikir, maka semakin ia bisa merasakan dekat dengan alam, seolah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Pada momen itu, ia tak hanya bisa merasakan alam sepenuhnya, namun juga bisa menembus alam pikiran Agrapana yang memiliki energi dari sumber yang sama dengan yang diperoleh Batari Mahadewi.
Kini Batari Mahadewi dan Agrapana dalam posisi yang sama, yakni sama-sama bisa membaca pikiran sehingga Batari Mahadewi tak lagi ragu untuk menggunakan pikirannya lalu dengan tiba-tiba meniadakan pikirannya sehingga semua hal yang ia lakukan sangatlah acak dan tak berpola.
Seluruh ruangan putih itu rusak parah dan semakin menyempit tiap kali Batari Mahadewi menyerap energinya selama dua hari berturut-turut terus bertarung dengan Agrapana. Batari Mahadewi menyadari perubahan ruangan yang semakin menyempit itu tiap kali ia menyerap energi alam. Ia lalu menyerap lebih banyak energi secara terus menerus sambil melancarkan serangan hingga ruangan itu menjadi kian sempit dan beberapa langkah saja luasnya.
Batari Mahadewi melontarkan semua energinya dengan tiba-tiba. Ruangan putih itu hancur dan menghilang bersamaan dengan lenyapnya sosok Agrapana. Dengan hancurnya ruangan itu, Batari Mahadewi mendapati dirinya telah kembali di ruang altar, tempat ia melakukan meditasi.
__ADS_1
Sosok Agrapana muncul dan berkata, “kau berhasil nona kecil. Sekarang kemarilah, cobalah peruntunganmu untuk melihat masa depan di dalam kolam suci ini.”
Batari Mahadewi bangkit dari meditasinya. Ia berjalan menuju kolam suci, dan memandang permukaan air dalam kolam itu. Perlahan-lahan permukaan air yang bening itu menampakkan suatu peristiwa. Ia tak melihat dirinya dalam peristiwa itu, namun ia menyaksikan kehancuran dunia.
Batari Mahadewi menyaksikan peperangan antara manusia dengan kaum raksasa. Pendekar aliran putih dan hitam bersatu untuk melawan para raksasa, peperangan itu jauh dari seimbang. Para raksasa membantai manusia dan memporak-porandakan semua peradaban dunia. Setelah itu, Batari Mahadewi kembali melihat permukaan air kolam yang bening, memantulkan wajahnya yang cemas.
“Apa yang kau lihat, gadis kecil?” tanya Agrapana.
“Apakah kakek bisa melihat yang baru saja muncul di permukaan kolam itu?” tanya Batari Mahadewi.
“Sudah lama aku tak bisa melihat apa-apa di kolam itu. Terakhir kali aku melihatnya adalah tujuh tahun yang lalu. Waktu itu aku melihat sosok gadis kecil yang melihat masa depan dari kolam suci ini. Kau lah sosok gadis kecil itu. Dan aku tak mengira yang kulihat tujuh tahun yang lalu adalah hari ini.” Jawab Agrapana.
“Aku melihat bangsa raksasa menghancurkan dunia manusia, kakek.” Kata Batari Mahadewi cemas.
“Jika begitu, maka akan terjadi. Tapi kita tak akan tahu kapan hal itu akan terjadi. Mungkin besok, mungkin tahun depan, atau sekian tahun kedepan.” Jawab Agrapana. Diam-diam ia juga cemas dan tak menyangka kolam suci itu akan menunjukkan akhir dari peradaban manusia.
__ADS_1
####
Sampai segini dulu ya teman-teman buat malam ini...tenagaku sudah tinggal setengah watt saja ini...maafkan aku. Terimakasih banyak ya...terimakasih untuk semua bentuk dukungan dan apresiasinya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan dimanapun kita berada. Amin.