Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 123 Mata Uang Negri Madapala


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala berjalan melewati gerbang kota Piriparara. Tepat seperti kata kedua tetua desa yang mereka temui, para prajurit penjaga gerbang tak membiarkan Batari Mahadewi dan Nala masuk ke kota dengan bebas. Keduanya harus diinterogasi dulu.


“Kami mendapatkan ini dari tetua desa yang kami temui.” Kata Batari Mahadewi menyodorkan sebuah lempengan logam kecil seukuran ibu jari yang memiliki ukiran indah di permukaannya.


“Oh, kalau begitu, tuan dan nona kami terima. Mohon maaf, tapi kami hanya menjalankan perintah. Tiap orang asing yang datang di negri ini akan diperlakukan dengan cara yang sama” kata prajurit penjaga dengan ramah. Bentuk kepalanya yang seperti telur puyuh itu membuat senyumannya terkesan seperti seringai hantu di dunia satu rembulan, dunia tempat asal Nala dan Batari Mahadewi.


“Terimakasih banyak paman. Bisakah kami bertanya sesuatu?” tanya Batari Mahadewi.


“Silahkan nona.” Jawab prajurit penjaga.


“Kemana kami harus pergi untuk bertemu dengan seseorang yang dianggap sebagai guru besar di kota ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Lihat ke arah sana, nona. Di sana ada gedung yang tinggi. Gedung itu adalah sekolah bagi semua orang di wilayah Piriparara. Nona bisa menemui guru Rapapu. Beliau adalah pendiri sekolah itu dan tinggal di sana.” Kata prajurit penjaga.


“Terimakasih banyak, paman. Kalau begitu kami akan ke sana.” Kata Batari Mahadewi. Ia dan Nala melanjutkan perjalanan sambil menikmati suasana kota yang sangat jauh berbeda dengan bentuk kota di dunia mereka berasal.


Sepanjang jalan, Batari Mahadewi dan Nala hanya bisa menahan air liurnya untuk mampir ke kedai dan membeli makanan di kota yang asing itu.


“Sayang sekali kita tak punya uang.” Kata Batari Mahadewi.


“Makanan terus yang kau pikirkan. Aku dan kakakku bahkan tak pernah menginjakkan kaki di kedai makan seumur hidup kami.” Kata Nala.


“Hahaha, meski tanpa makanan kita masih bisa hidup dan tak akan kehabisan energi. Tapi sesungguhnya, makan makanan yang enak adalah sesuatu yang menyenangkan. Aku dan kakak seperguruanku selalu mampir ke kedai makan di setiap kota yang kami kunjungi.” Kata Batari Mahadewi.


“Bukakah kita masih memiliki beberapa buah para? Cobalah kau jual saja satu. Siapa tahu uangnya cukup untuk kita makan di kedai.” Kata Nala.

__ADS_1


“Kau cerdas, Nala. baiklah. Di sana ada penjual buah, mari kita jual ke sana.” Kata Batari Mahadewi.


Kedua pendekar muda itu berjalan mendekati kios buah yang cukup besar. Terdapat puluhan jenis buah berbentuk dan berwarna unik yang dijual di sana. Nala menghafalkan satu per satu jenis buah tersebut. Setidaknya, ia akan tahu buah mana yang layak dimakan jika mereka menemukan pohon buah di hutan.


“Permisi, paman. Kami mau menjual satu buah ini. Apakah paman berminat membelinya?” tanya Batari Mahadewi.


“Ah, tentu saja. buah yang langka. Berapa harga yang kalian inginkan?” tanya penjual buah itu.


“Silahkan paman kira-kira saja berapa harga yang pantas untuk buah langka ini.” Kata batari Mahadewi.


“Aku beri kau satu kantong kristal. Kurasa ini harga yang pantas dan biasanya aku mendapatkannya dengan harga segitu dari para petani di desa Catara.” Kata penjual buah itu sembari menyebutkan nama satu-satunya desa penghasil buah para.


Batari Mahadewi tertegun ketika melihat kristal di dalam kantong itu. Beberapa keping kristal yang telah dipotong sedemikian rupa menjadi potongan yang seragam.


“Apakah uang di negri ini berbentuk seperi ini, paman. Maaf kami baru saja melihatnya. Kami tak memiliki uang sama sekali.” Kata Batari Mahadewi.


“Baik paman. Kami tak perlu menghitungnya. Terimakasih banyak.” Kata Batari Mahadewi. Ia dan Nala segera bergegas untuk membicarakan sesuatu.


“Kau lihat ini, Nala? jika kristal seperti ini adalah mata uang, bukankah kita masih punya cadangan yang kita bawa dari pulau Iblis tempo hari itu?”


“Ya, aku masih menyimpannya dalam gulungan bajuku. Kalau tahu ini bisa jadi uang, maka kita tak perlu menjual buah itu.” kata Nala.


“Tak apa, setidaknya kita tahu bahwa kristal ini adalah mata uangnya. Kau juga masih membawa kristal yang memancarkan cahaya emas dan cahaya perak itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya. Hmm…mungkin nilainya lebih tinggi. Kita lihat saja nanti. Kalau ada tempat penukaran uang, kita bisa coba tukarkan satu yang paling kecil yang kita miliki. Sekarang kita coba makan di kedai itu.” Nala menunjuk satu kedai yang tampaknya menjual daging bakar.

__ADS_1


Batari Mahadewi dan Nala memasuki kedai. Para pelayan dan beberapa pengunjung sempat menatap keduanya dengan tatapan aneh, lalu mereka melanjutkan aktivitas mereka.


“Ada yang bisa kami bantu, tuan dan nona. Tampaknya kalian orang asing yang datang ke sini ya?” tanya pelayan itu.


“Benar paman, kami ingin dua porsi makanan yang terbaik dari kedai ini.” Kata Nala.


“Silahkan memilih meja dan tempat duduk yang nyaman, tuan dan nona, kami akan segera menyiapkan makanan terbaik dari kami untuk dua orang.” Kata pelayan itu, lalu kemudian ia pergi menyiapkan pesanan Batari Mahadewi dan Nala.


Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Dua potong daging panggang berkuran besar dengan kuah kental yang melumurinya langsung membangkitkan rasa penasaran untuk mencicipi hidangan tersebut.


“Ini adalah daging caka terbaik yang kami miliki hari ini, tuan dan nona. Selamat menikmati.” Kata pelayan itu.


“Terimakasih paman.” Kata Nala. kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu langsung menyantap hidangan tersebut. Mata mereka melotot karena rasa nikmat dari bumbu dan rasa daging itu. Dalam waktu singkat, makanan itu telah habis tak tersisa. Bahkan hingga kuah-kuahnya.


“Ahhhh….sungguh enak sekaliii..” Kata Batari Mahadewi dengan nada sangat bahagia setelah menikmati makanan itu.


“Hewan caka. Kita harus cari tahu bagaimana bentuk binatang itu.” kata Nala.


“Ayo kita bayar dulu.” Kata batari Mahadewi. Keduanya memanggil pelayan. Si pelayan itu datang sambil tersenyum.


“Berapa kami harus bayar, paman.” Kata Nala.


“Hanya delapan keping kristal kuning, tuan.” Kata pelayan itu.


“Paman, maaf, dimana kami bisa menemukan binatang caka?” tanya batari Mahadewi.

__ADS_1


“Di pasar kalian bisa menjumpainya. Tapi sudah dalam bentuk potongan daging. Tak ada yang menjualnya hidup-hidup. Binatang itu sangat besar dan tak mungkin di bawa dalam keadaan hidup sampai ke kota ini. Para pemburu biasanya menangkap binatang ini di hutan yang jauh di bagian selatan kota ini, membaginya dalam beberapa potongan, lalu membawanya ke kota. Daging ini termasuk mahal.” Pelayan itu menjelaskan.


“Baiklah, terimakasih banyak, paman.” Kata Batari Mahadewi. Kedua pendekar itu kemudian bergegas pergi meninggalkan kedai makan itu.


__ADS_2