Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 316 Situasi Paska Pertempuran


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertempuran Batari Mahadewi dan pangeran kegelapan, situasi di berbagai wilayah yang terkena bencana alam dadakan itu mulai membaik. Di kota Dhyana, Jalu dan Niken bersama-sama dengan warga kota sedang bergotong royong membersihkan sisa-sisa banjir dan membereskan puing-puing bangunan yang rusak akibat gempa. Setelah itu, rencananya akan ada pemugaran total, membangun kembali kota yang lumpuh selama beberapa hari. Namun entah kapan itu akan terjadi.


Demikian pula dengan kota-kota lainnya, dan di semua desa yang terkena dampak banjir dan gempa bumi. Yang pasti, acara bersih-bersih itu diiringi suasana pilu. Jenazah-jenazah baru mulai ditemukan, lalu dikuburkan secara layak.


Setelah tak ada lagi banjir dan gempa, bukan berarti masalah selesai. Justru itulah awal mula masalah baru. Tiap-tiap wilayah harus bisa memulihkan diri. Tak akan ada bantuan dari wilayah lain. Semua membutuhkan bantuan. Banjir telah menghancurkan area persawahan, hutan, dan berbagai tempat yang menjadi sumber pangan, kecuali sungai dan laut.


Arus ekonomi berhenti total. Tak ada barang yang bisa diputarkan. Semua habis untuk keperluan masing-masing. Dan benar-benar habis. Apa lagi yang bisa dimakan? Bagi seorang pendekar berilmu tinggi, tak ada makanan bukanlah masalah. Namun bagi warga biasa, hal itu akan menjadi malapetaka.


Benar saja, tiga hari setelah banjir surut, kerusuhan terjadi dimana-mana. Semua orang lapar dan mulai saling menjarah. Tak ada yang bisa melarang. Hal itu terjadi selama beberapa hari, sampai mereka sadar bahwa sudah tak ada lagi yang bisa diperebutkan. Mereka harus memulai kembali. Menghidupkan sawah dan perkebunan. Bertahan hidup sementara dengan mengandalkan ikan di sungai dan di laut, burung dan hewan yang masih selamat di hutan, serta dedaunan apapun yang bisa dimakan.


Yang masih dalam kondisi lumayan aman adalah daerah perbukitan dan pegunungan. Hasil alam masih tersedia meski dalam jumlah terbatas. Sementara di pesisir, sayang sekali, tak ada lagi peradaban di sana. Semua hanyut dan mati. Beberapa kelompok masyarakat di wilayah tengah berbondong-bondong untuk pergi ke wilayah pesisir, atau daerah dekat dengan sungai, karena di sana masih tersedia bahan makanan.


Di altar suci kota Dhyana, Agrapana sedang berbincang dengan Jalu dan Niken. Wajah kakek tua yang berumur seribu tahun lebih itu tampak berbeda dari biasanya. Ada rasa cemas yang tampak di sana. Tak biasanya demikian. Ada beban pikiran yang terlalu berat yang ia pikul.

__ADS_1


“Ini adalah permulaan dari kekacauan yang diramalkan dalam kolam suci yang waktu itu dilihat oleh Batari Mahadewi. Tak ada yang perlu disesali, jika memang harus musnah untuk memulai hal baru yang lebih baik, maka memang demikianlah adanya. Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Kita adalah bagian dari semua ini. Kelak, yang kuatlah yang akan bertahan.” Agrapana mulai menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.


“Kami belum memahami ini, kakek,” kata Jalu.


“Bisa dibilang, Mahabhumi adalah tempat yang paling aman. Selama seribu tahun belakangan ini, bencana yang baru saja terjadi merupakan bencana terhebat. Seharusnya ini terjadi secara tak wajar. Kurasa, Tari dan Nala telah bertarung dengan bangsa iblis. Kita tak tahu hasilnya. Sementara, dalam situasi ini, kita tak akan bisa pulih seperti sedia kala. Kita harus merelakan kematian demi kematian. Yang kuatlah yang akan memulai kembali peradaban baru, yang mungkin jauh berbeda dari sebelumnya.” Agrapana melanjutkan.


“Maksud kakek, semua akan selesai setelah ini?” tanya Niken.


“Dalam waktu dekat, semua kerajaan akan lumpuh. Semua orang akan berusaha untuk menghidupi diri mereka sendiri, membentuk kelompok-kelompok kecil. Ini akan terjadi dalam waktu yang lama. Mungkin enam bulan kedepan, kekacauan ini baru bisa pulih. Tapi kita tak akan tahu apa yang selanjutnya terjadi selama kurun waktu itu. Kita tak tahu, apakah Tari dan Nala berhasil atau sebaliknya. Tanpa keberadaan mereka di sini, kita harus bisa bertahan. Mengandaikan bangsa iblis akan datang kemari, atau bangsa raksasa akan turun, maka apa yang bisa kita lakukan?”


“Benar. Inilah yang ingin kuutarakan. Kita harus membuat kekuatan baru yang berbeda dengan sebelumnya. Semua pendekar aliran putih harus bersatu, di bawah satu pemimpin, melakukan segala hal sesuai dengan perintah dari atas. Kita bisa memulainya dari Swargadwipa. Kerajaan sebentar lagi akan ditinggalkan oleh para prajurit. Semua lapar. Kita tak bisa menyalahkan hal ini. Tetapi para pendekar bisa bertahan. Aku akan mengumpulkan kembali semua tetua pendekar Swargadwipa, lalu membahas hal ini di sini.”


*****

__ADS_1


Di kerajaan hitam yang baru, pangeran kegelapan dan sang ratu telah menghimpun banyak pasukan yang merupakan orang-orang yang tersihir menjadi pendekar hitam. Mula-mula, sang ratu mendapatkan mereka dari pulau itu. Namun selanjutnya, ia merambah ke pulau-pulau lain yang terdekat, menyihir orang-orang yang masih selamat di pulau itu untuk menjadi pasukan kerajaan hitam.


Bail mendapatkan tugas untuk memanggil semua bangsa siluman untuk menghadap sang pangeran. Tujuannya adalah agar mereka menyerahkan upeti berupa sumber daya dalam bentuk apapun. Selanjutnya, sang pangeran dan sang ratu dalam waktu dekat akan kembali berkeliling dunia, membangkitkan semua makhluk iblis yang tersisa.


Selama beberapa hari itu, setelah berkeliling dari pulau ke pulau, akhirnya sang ratu berkesempatan juga untuk menemani pangeran kegelapan di istana setelah sang ratu pulang dengan membawa ribuan pasukan baru.


Pasukan itu masih lemah, tetapi lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.


“Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik, ratuku. Maaf aku hanya berdiam diri saja di istana. Ada hal yang perlu kau ketahui. Jiwa Nala pemilik tubuh ini masih liar dan sering memberontak.” Akhirnya sang pangeran menceritakan hal itu juga kepada sang ratu. “Sebelum aku bisa memperbaharui jiwaku, maka jiwa Nala akan terus menggangguki. Kadang ia bisa merebut kembali tubuhnya dalam beberapa saat. Jadi berhati-hatilah. Kau harus kenal betul mana diriku dan mana Nala.”


Hal yang cukup pelik itu memang harus diketahui oleh sang ratu. Pangeran kegelapan khawatir jika Nala memanfaatkan sedikit kesempatannya untuk membunuh sang ratu.


“Semua gara-gara gadis dewa sialan itu! Tak kusangka, ia bisa menyerap sebagian dari jiwaku. Untung saja, tubuh ini memiliki kekuatan yang sangat besar. Jika tidak, aku hanyalah makhluk lemah saat ini.” Lanjut sang pangeran kegelapan.

__ADS_1


“Tenangkan dirimu, pangeranku. Cepat atau lambat, kita akan menyelesaikan persoalan ini,” sang ratu mendekat dan duduk di sebelah sang pangeran yang saat itu berada di ranjang. “Sudah lama sekali pangeran tak menyentuhku.”


Sang ratu mulai merebahkan tubuhnya di dada sang pangeran. Tanganya menyentuh, membelai, dan meremas tubuh sang pangeran penuh kerinduan. Mereka berbaring di ranjang. Menggeliat seperti dua ekor ular yang saling melilit. Sang ratu dengan liar ingin melepaskan hasratnya yang telah lama menumpuk. Ciuman berbalas ciuman. Nala menjerit dan tak rela tubuhnya dijamah perempuan jahat itu.


__ADS_2