Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 347 Kalamerah Yang Keras Kepala!


__ADS_3

Apa kabarnya bangsa iblis? Apakah mereka diam saja? Tidak! Mereka menunggu. Dari jutaan manusia dan raksasa iblis yang diporak porandakan Kalapati di laut itu, tidak semua dari mereka mati. Sebagian besar dari mereka masih selamat. Bahkan, para manusia iblis yang ada di beberapa pulau lainnya semakin bertambah banyak, menularkan jiwa iblis dari satu orang ke orang lain.


Para dewa sudah tak tahan ingin segera menyembuhkan mereka semua, namun raja dewa belum memberikan izin. Butuh protokol yang aman dan bernar-benar teruji, serta waktu yang tepat.


“Ratu, apakah kita hanya akan diam saja? Meski ayah telah menghilang entah kemana, tetapi sesungguhnya kekuatan iblis tetap berkembang semakin pesat!” kata anak Andhakara.


“Kita tahu sendiri kan, kekuatan maharaja dari segala raksasa itu? Sang pangeran tak menghiraukan hal ini meski aku telah memperingatkan berkali-kali. Ia terlalu terburu-buru. Kita hanya perlu menunggu saja! Aku tak menyangka gadis berkekuatan dewa itu masih hidup. Bahkan ketika ia muncul, kekuatannya jauh bertambah besar!” kata ratu Ogha.


“Kita tak mungkin menunggu Andhakara. Sebelum gadis itu memiliki kemampuan sebesar sekarang yang bisa memukul mundur Kalapati dengan satu pukulan saja, apakah kita berharap sang pangeran masih selamat? Aku yakin jiwa pangeran saat ini telah dibekukan kembali. Kita bisa memulihkannya kembali setelah pemuda itu mati, lalu kita ambil mustika yang ada di dalam tubuhnya!” kata Rodya.


“Mungkin gadis itu akan kembali bertarung dengan Kalapati. Itulah saat yang tepat bagi kita untuk memulai pergerakan baru. Kekuatan mereka mungkin berimbang, dan jika salah satu dari mereka kalah, tentu tak akan sulit mengalahkan yang satunya lagi. Tepat saat pertarungan itu berakhir sehingga ia belum pulih,” kata Samara.


“Benar, jadi seperti yang ku katakan, kita hanya perlu menunggu dan memperbesar kekuatan kita dengan cara seperti ini. Jikapun ada hal yang mesti kita lakukan, itu adalah mencari tahu perkembangan dari pergerakan Kalapati dan gadis berkekuatan dewa itu. Kalian bisa melakukannya!” Ratu Ogha menunjuk sepuluh anak Andhakara.


“Baik, ibu ratu. Kami akan berpencar ke seluruh penjuru untuk mengawasi perkembangan yang terjadi!” ucap salah satu dari anak Andhakara.


Mereka melesat meninggalkan tempat persembunyian itu, lalu menyebar ke wilayah Kalamerah dan Kalahijau, sebab disanalah kemungkinan besar akan menjadi tempat pertarungan antara Kalapati dengan dewa.


****


Sementara itu, di istana bangsa raksasa wilayah Mahatmabhumi, sang raja Kalamerah tak percara dengan berita yang disampaikan oleh anak buahnya. Ia bersikeras untuk tetap tinggal di sana, dan bahkan merencanakan serangan besar-besaran dengan mengerahkan seluruh pasukan raksasa. Selama beberapa waktu itu, ia telah mempersiapkan segalanya, termasuk mengangkat kembali jendral utama yang baru.


Ribuan prajurit raksasa yang tersisa telah berbaris rapi. Kamudian Kalamerah dan sang jendral baru mulai bergerak ke arah barat, memimpin seluruh barisan pasukan untuk melakukan serangan penghabisan itu.


Gemuruh pergerakan pasukan itu menggema di mana-mana. Seluruh makhluk mulai dari semut hingga siluman langsung lari tunggang-langgang ketika ribuan pasukan raksasa itu melintasi tempat tinggal mereka.


Pergerakan pasukan Kalamerah itu secara kebetulan mendapatkan perhatian dari Kalapati yang pada saat itu sedang nonton bola kristal di khayangan.

__ADS_1


“Kalamerah mengerahkan seluruh pasukannya? Apa yang terjadi di sana? Tak satupun kulihat iblis di sana!” kata Kalapati.


“Entahlah, namun pasti ada sebabnya,” ujar raja dewa santai sembari duduk bersila seperti biasanya. Dewa sibuk yang kurang kerjaan!


“Oh, kenapa tak terpikirkan olehku! Jika aku turun dan membuat kekacauan di sana, semestinya manusia berkekuatan dewa itu akan datang lagi dan menantangku! Hahaha, jadi kenapa aku harus melewatkan hal bagus ini! Raja dewa, aku pergi dulu!” kata Kalapati.


“Kau tidak khawatir jika kedatanganmu juga menyebabkan datangnya dewa-dewa lain? Aku tak mau tahu jika itu terjadi!” kata raja dewa.


“Mana mungkin mereka berani! Aku tak bisa mati! Aku hanya ingin tahu, apakah manusia dewa itu juga bisa membunuhku!” ujar Kalapati dengan bangga dan penuh semangat.


“Terserah padamu kalau begitu!” kata raja dewa.


Kalapati degera meluncur ke dunia tengah, sementara raja dewa segera menuju ke altar Samudra, mengabarkan kepada para dewa untuk segera bersiap-siap.


Para dewa segera berkumpul di sekitar altar suci ketika raja dewa sampai di sana.


“Ada kabar apa, paduka?” tanya dewa laut.


“Baik paduka, kami akan mengerjakan ini sebaik-baiknya!” kata para dewa.


Kura-kura emas yang menjadi persembunyian para dewa itu muncul di permukaan laut, lalu kemudian melayang di angkasa, dan melesat menuju Mahabhumi.


Sementara itu, Batari Mahadewi yang kepekaannya menjadi lebih tajam dari sebelumnya, telah merasakan kedatangan bangsa raksasa itu. Ia juga mampu merakasan sejumlah energi besar yang bergerak secara bersama-sama menuju ke Mahabhumi.


“Kakak-kakakku semua, bangsa raksasa itu ternyata belum enyah dari Mahabhumi. Bahkan mereka sedang bergerak ke arah barat,” kata Batari Mahadewi.


“Lalu apa yang akan kau rencanakan, Tari? Bukankah raja dewa menyuruhmu untuk menunggu?” tanya Buyung.

__ADS_1


“Sepertinya ini memang waktu yang tepat untuk bergerak. Aku juga merasakan kekuatan para dewa yang mendekat kemari, serta kekuatan Kalapati!” kata Batari Mahadewi.


“Kau tak bisa pergi sendiri, Tari! aku akan bersamamu!” kata Nala.


“Jika memang harus bertempur, bisakah kau memancing mereka untuk bertempur di tempat lain? Aku khawatir pulau ini akan rusak parah,” kata Buyung.


“Itu memang yang sedang aku rencanakan, kak Buyung. Namun sebelum Kalapati datang, aku ingin menghabisi para raksasa itu terlebih dahulu. Ayo Nala, kita berangkat sekarang!”


Batari Mahadewi dan Nala lenyap. Dalam sekejap, mereka berdua telah melayang di angkasa, beberapa ratus langkah dari datangnya pasukan raksasa.


“Itu dia mereka datang!” kata Batari Mahadewi.


“Apakah kau sudah menyiapkan pidato?” gurau Nala.


“Hahaha, perlukah?”


“Sekedar basa basi seperti biasanya. Kau terlihat mengagumkan ketika berbicara dulu kepada musuhmu sebelum bertarung!” kata Nala.


“Ya, baiklah…buang-buang waktu saja!” gerutu Batari Mahadewi.


Barisan pasukan raksasa itu akhirnya sampai juga. Kalamerah menghentikan lajunya ketika dihadapannya telah ada dua sosok yang menghadang mereka semua. Seketika Kalamerah tahu, itulah seseorang yang dimaksudkan oleh anak buahnya telah menghabisi sang jendral lama dengan begitu mudahnya.


“Cih, hanya cecunguk kecil ini saja ternyata! Aku tak percaya kau telah membunuh pemimpin pasukanku!” kata Kalamerah.


“Hari ini kau akan merasakan hal serupa! Jangan terlalu bangga dengan kekuatanmu!” sahut Batari Mahadewi.


“Baiklah kalau begi…”Belum sempat raja raksasa itu menyelesaikan ucapannya, Nala justru yang malah tak sabaran, ia melontarkan pukulan api yang dengan cepat melesat dan menghujam mulut raja raksasa itu. Seketika raksasa itu berteriak kesal. Bibirnya terbakar dan beberapa giginya rontok.

__ADS_1


“Ah, Nala! kau merusak pidatoku!” kata Batari Mahadewi.


“Sepertinya kau benar, tak usah buang-buang waktu lagi, ayo habisi mereka semua!”


__ADS_2