Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 190 Kemenangan


__ADS_3

Akhirnya rombongan pasukan Swargabhumi telah tiba di tepi hutan sebelah timur benteng Mutiara Biru. Hari telah malam ketika mereka sampai di sana dan mereka memutuskan untuk beristirahat sebelum menyeberangi hutan. Mereka tak langsung menuju ke kota Mutiara Biru yang jaraknya sangat dekat itu karena senopati Basuraga ragu-ragu. Betapa tidak, beberapa pendekar mata-mata yang ia kirimkan ke Mutiara Biru tak pernah kembali. Itu tandanya ada yang tidak beres.


Senopati Basuraga sudah menyadari adanya hal yang aneh ini sejak jauh-jauh hari ketika mereka belum tiba di tempat itu. Tapi ia tak pernah membahasnya dengan senopati-senopati lainnya. Ia khawatir semua orang yang mengikutinya kehilangan semangat dan keyakinan.


Beberapa bawahannya sempat juga menanyakan alasan kenapa rombongan tak langsung saja menuju ke kota Mutiara Biru, namun Basuraga menjelaskan bahwa ia ingin memastikan keamanan di kota itu. Ia mengirimkan beberapa pendekar untuk mengintai.


Sayang sekali, di dalam hutan yang gelap itu, para pendekar Swargadwipa utusan Jalu sudah siap menghabisi siapapun juga yang lewat. Para pendekar utusan Basuraga tewas tanpa suara dan tak siap dengan serangan yang datang tiba-tiba dan memutuskan batang leher mereka.


Basuraga semakin khawatir. Perasaannya sudah tidak enak sejak rombongan pasukannya sampai di tepi hutan itu. Ketika pagi tiba, ia dan para rombongan pasukannya bergerak perlahan memasuki hutan. Barisan pasukan yang sangat panjang itu mendadak panik ketika hutan mulai di bakar. Sebagian kembali ke belakang dan sebagian lainnya terus berlari menembus hutan. Tak sedikit yang terjebak di tengah hutan dan ikut terbakar. Para pasukan yang berhasil menembus hutan langsung di sambut dengan anak panah dari pasukan yang dipimpin oleh Jalu. Mereka hanya bisa pasrah ketika ribuan anak panah melesat menembus tubuh mereka.


Ketakutan dan kecurigaan Basuraga terbukti. Ia hanya bisa geram dengan situasi yang ia hadapi saat itu. Memadamkan api di hutan itu pastinya adalah hal yang sangat menguras tenaga meski ia memiliki banyak pasukan. Tak ada pilihan lain selain harus menunggu api padam dan membersihkan satu jalur saja untuk dilewati semua pasukan. Itupun mereka harus bahu membahu menimbun bara api dengan tanah agar jalur yang mereka lewati tak panas dan membakar kaki mereka.


Kobaran api baru mereda ketika sore hari. Basuraga masih bimbang antara langsung menggempur kota Mutiara Biru atau menunggu satu malam lagi. Jika mereka bergerak, sudah pasti pasukannya kelelahan. Namun jika mereka menunda, mereka tak tahu kapan pasukan Swargadwipa yang mengejar mereka akan tiba.


Para senopati lainnya mendesak Basuraga agar segera menggempur kota Mutiara Biru, membariskan kereta pelontar batu dan membombardir benteng dengan bebatuan yang sebesar semangka. Satu persatu, seribu kereta pelontar batu Swargabhumi yang tersisa itu di tarik melewati hutan yang telah ludes dimakan api. Hari sudah semakin gelap dan begitu barisan pasukan Swargabhumi itu telah memasuki jangkauan anak panah pasukan Jalu, maka dalam waktu sekejab ribuan anak panah dan lontaran batu kembali menghujani pasukan yang dipimpin oleh Basuraga itu.

__ADS_1


Beberapa kereta pelontar yang dimiliki Basuraga telah rusak sebelum alat itu siap dipergunakan. Serangan panah pasukan Jalu sangat merepotkan dan menyulitkan pasukan Basuraga untuk membalas serangan, terlebih hari sudah mulai gelap.


Pasukan Basuraga membalas serangan itu dengan hujan panah yang jumlahnya tentu saja jauh lebih banyak dari yang dikerahkan pasukan Jalu. Perlahan pasukan Jalu menarik diri ke arah benteng dan pasukan Basuraga yang tak tahu bahwa ada jebakan di depan mata itu dengan penuh semangat ingin segera sampai ke benteng dan meluluh lantakkan para pasukan yang ada di dalamnya.


Seperti yang telah diprediksi oleh Jalu dan bawahannya, pasukan Swargabhumi benar-benar ingin menghancurkan benteng dengan kereta pelontar batu yang mereka miliki. Sebagian pasukan bersama-sama mendorong kereta itu dan sebagian besar lainnya berbondong-bondong menyerbu benteng.


Pentup parit yang telah disamarkan sedemikian rupa hingga menyerupai permukaan tanah itu ambrol ketika para pasukan Swargabhumi melewatinya. Ratusan kereta pelontar batu juga ikut terperosok. Malam yang gelap itu membuat para pasukan Swargabhumi tak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lewati. Lambat laun, parit itu penuh dengan mayat yang tertusuk bambu dan kayu runcing yang ditanamkan dibawahnya.


Ratusan ribu mayat itu pada akhirnya menjadi jembatan untuk dilewati pasukan Swargabhumi lainnya yang masih ada di belakang. Kereta pelontar batu yang mereka bawa tak bisa melewati parit yang penuh mayat itu sehingga seperti yang telah direncanakan, kereta-kereta itu hanya mengonggok. Sekalipun dipergunakan, maka batu yang dilontarkan masih jauh dari jangkauan dan tak akan pernah sampai di benteng Mutiara Biru yang menjulang tinggi dan angkuh.


Namun pekerjaan itu bukanlah hal yang gampang. Dari atas benteng, pasukan Jalu menghujani pasukan Swargabhumi dengan panah biasa dan panah api. Mereka juga menyiramkan minyak ke bawah dan membakar siapa saja yang berusaha memanjat benteng. Sementara, para pasukan pendobrak gerbang juga mati-matian membentuk formasi tameng tempurung kura-kura untuk menahan serbuan anak panah pasukan Jaku sembari terus bergerak untuk mendobrak gerbang.


Usaha itu harus dilakukan beberapa kali karena mereka juga harus tersiram minyak dan pada akhirnya terbakar lalu mati dan digantikan prajurit berikutnya.


Meski korban telah banyak berjatuhan, namun jumlah pasukan Swargabhumi masih besar. Mereka membalas serangan panah dari bawah. Meski serangan itu jarang memakan korban, namun serangan itu bisa menghentikan pasukan Jalu yang pada akhirnya harus sibuk berlindung di bawah tameng besi atau apapun yang bisa dipakai untuk berteduh dari hujan panah pasukan Swargabhumi.

__ADS_1


Ketika serangan panah telah mereda, Jalu dan para pendekar yang bersamanya melompat melewati benteng dan mulai beraksi. Mereka harus melakukannya sebelum para pendekar dari Swargabhumi yang mendahuluinya. Sementara, pasukan Jalu yang dipimpin oleh para senopati telah bersiap-siap untuk membunuh atau dibunuh begitu gerbang benteng telah jebol.


Jalu dan Niken memilih untuk menyerang lawan-lawannya tepat di depan gerbang. Sembari melawan beberapa pendekar yang datang menyerang, sepasang pendekar itu juga bisa menghabisi para prajurit yang berusaha menjebol gebang benteng. Hanya itu yang bisa mereka usahakan sebaik-baiknya untuk memperlambat pasukan Swargabhumi berhasil masuk ke dalam kota Mutiara Biru sebelum pasukan Mahapatih Siung Macan Kumbang datang.


Pertarungan para pendekar sakti dari Swargadwipa dan Swargabhumi menjadi tontonan yang mendebarkan bagi para prajurit di kedua belah pihak. Mereka tak melakukan apa-apa ketika arena petarungan sedang riuh oleh para pendekar yang sedang bertarung. Satu pendekar Swargadwipa harus berhadapan dengan sepuluh pendekar Swargabhumi. Jumlah yang sangat tak seimbang. Adu kesaktian dan tenaga dalam dari para pendekar itu justru lebih terdengar menggelegar dari kegaduhan para prajurit yang sebelumnya beraksi.


Jalu dan Niken mengamuk dan mencabut sebanyak mungkin nyawa pendekar Swargabhumi mengingat jumlah mereka sangatlah banyak. Keduanya menari-nari bagaikan malaikat pencabut nyawa. Sebelum keduanya benar-benar kehabisan tenaga, gemuruh teriakan para pasukan dari arah timur yang dipimpin oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang terdengar menggema dan menggetarkan bumi Mutiara Biru. Para pendekar dan pasukan yang di bawa sang patih itu begitu bersemangat untuk menyapu bersih pasukan Swargabhumi yang gemetar ketakutan. Bersamaan dengan itu, benteng mutiara Biru dibuka, seluruh pasukan Jalu berbondong-bondong keluar dan menyerang pasukan musuh.


Perang telah berkecamuk di malam yang gelap itu. Suara teriakan dan jerit kematian menggema hingga ke hutan-hutan yang jauh. Ketika matahari mulai terbit, Basuraga telah terbunuh. Sisa pasukan Swargabhumi yang masih hidup memilih untuk menyerah dan pasrah akan nasib yang akan mereka terima.


Swargadwipa dan kerajaan-kerajaan timur telah menang untuk sementara waktu. Dalam beberapa bulan ke depan, tentu saja pasukan dari kerajaan-kerajaan barat akan kembali datang dan tentunya dengan perhitungan yang lebih matang dari serangan bodoh kali ini yang meyianyiakan lebih dari sejuta prajurit dan material perang yang sangat mahal.


Nah, sampai di sini dulu pertempurannya ya. Masih ada serangan lagi kelak dari pihak barat. Chapter buat besok dan beberapa chapter setelahnya, kita akan memantau perkembangan Tari dan Nala sampai keduanya kembali ke rumah masing-masing. PR keduanya masih banyak di dunia satu rembulan.


Makasih banyak ya teman-teman atas segala dukungan, doa, semangat, kritik dan saran yang diberikan padaku. Semoga tuhan membalas kebaikan teman-teman semua. Sampai jumpa besok, GBU!

__ADS_1


__ADS_2