Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 356 Ucapan Perpisahan Kepada Kekasih Hati


__ADS_3

Tubuh Kalapati kembali menghujam sebuah pulau entah di mana. Ia seperti meteor jatuh dari langit yang menciptakan lubang sebesar danau. Lubang itu bertambah besar ketika Batari Mahadewi menghujamkan ribuan bola-bola api dari angkasa yang menghujani Kalapati.


Batari Mahadewi menghentikan serangannya ketika Kalapati menciptakan sebuah perisai besar berbentuk setengah bola yang mengelilinginya hingga sejauh seratus langkah lebih. Perisai itu memancarkan cahaya biru yang akan melindungi Kalapati selagi raksasa itu sedang memulihkan diri.


Tubuh raksasa itu memang hangus. Tetapi itu bukan hal besar. Luka-luka di sekujur tubuhnya sembuh dengan cepat.


Kalapati duduk bersila. Ia tak mengira, Batari Mahadewi dalam satu kedipan mata tiba-tiba telah ada di depannya.


“Tak ada waktu buat bersantai! Terima ini!” Batari Mahadewi menendang keras tubuh Kalapati hingga makhluk itu terpental jauh, terseret di tanah hingga ratusan langkah kaki jauhnya dengan bekas lubang yang panjang seperti parit.


“Bedebah! Awas kau!” raja raksasa itu segera bangkit dan melesat secepat kilat mengerahkan tinju-tinjunya ke arah Batari Mahadewi.


Pertarungan masih berlangsung lama dan sengit. Nala hanya bisa menonton dari kejauhan. Pemuda itu ingin sekali membantu kekasihnya. Namun apa daya, jika ia juga hadir di sana, hal itu justru akan menjadi beban sang pusaka dewa.


Sementara itu, para dewa sudah tidak bisa diam menonton. Mereka harus mengerjakan hal lain. Bahkan sang raja dewa sampai turun tangan sebab bumi, laut, dan udara mulai bergejolak.


Dua hari berlalu. Batari Mahadewi masih terlihat unggul. Namun Kalapati tak juga mati. Raja raksasa itu terus menerus menyerap kekuatan bumi selagi bertarung. Maka dalam pertarungan itu, para dewa sudah benar-benar kewalahan mengendalikan situasi alam.


Mula-mula cuaca berubah. Selebihnya, bencana alam datang terus menerus mulai dari erupsi, badai, hingga gempa bumi. Yang bisa diusahakan oleh para dewa hanyalah membuat kerusakan itu tidak terlalu parah.


Beberapa pendekar Mahabhumi yang sempat mendengar ramalan atas datangnya hari itu yakin bahwa bencana alam yang terjadi berasal dari pertarungan Batari Mahadewi melawan Kalapati.


Di kota Dhyana, Jalu membawa Niken berlindung di kuil suci. Agrapana yang menyuruhnya. Di sana sedang terjadi hujan lebat disertai angin topan dan petir yang tak henti-hentinya menyambar bumi. Sesekali terasa goncangan yang kuat akibat pergerakan material dari perut bumi yang ikut bergejolak karena pertarungan sang pusaka dewa dengan Kalapati.


Langit yang gelap itu bukan semata-mata berasal dari awan. Namun juga kepulan abu panas dari gunung api yang meletus secara serentak.


Kakek tua itu berpesan agar Niken yang tengah mengandung itu harus benar-benar terlindungi. Sebab, sang kakek tua itu meramalkan, kelak anak itu akan menjadi manusia yang membawa kemakmuran di Mahabhumi setelah masa kegelapan. Artinya, kelak memang akan datang masa itu. Dengan kata lain, Jalu dan Niken akan membesarkan anak mereka dalam situasi yang sulit.


“Kalian jangan khawatir. Setelah gelap selalu terbit terang. Dua hal itu selalu berdampingan meski tak bisa hadir bersamaan. Namun terang adalah sumber dari kehidupan. Kegelapan ada justru karena ada sesuatu yang menutupi terang. Namun, orang tak akan pernah belajar jika terus menerus berada dalam terang. Kelak, anak kalian akan belajar dari kegelapan sebelum mengenal terang. Pada saat itu terjadi, anak kalian akan menjadi cahaya bagi kehidupan,” kata Agrapana.


“Jadi, menurut kakek, setelah pertarungan Tari dengan Kalapati selesai, dunia masih belum akan baik-baik saja?” Tanya Jalu.

__ADS_1


“Aku khawatir setelah ini selesai bukan berarti masalah telah selesai. Sebab demikianlah yang bisa kuramalkan.”


“Sejujurnya, saya belum memahami maksud kakek soal terang dan gelap serta apa hubungannya dengan kehidupan anak kami nantinya,” ujar Niken.


“Lihat cuaca itu. Lihatlah langit dan segala sesuatu yang sedang terjadi saat ini. Manusia bisa hidup karena alam yang menaunginya. Jika alam telah kacau, maka yang hidup dalam naungannya juga akan kacau. Itulah yang kumaksud sebagai kegelapan; sebuah kehidupan yang sulit.


Kehidupan yang sulit itu akan menjadi guru terbaik bagi setiap makhluk untuk tetap bertahan. Pastinya, setelah ini selesai akan ada perubahan besar. Tak hanya bumi yang berubah, namun juga segala hal yang terjadi dalam kehidupan; semua nilai, semua budaya, semua keyakinan, semua kebenaran, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan cara hidup manusia.


Hal yang benar-benar baru akan lahir jika semua hal yang lama telah musnah. Tapi semestinya, pertarungan Tari dengan Kalapati tak akan memusnahkan semuanya. Entahlah, semoga saja masih ada yang tersisa yang bisa kita jadikan pijakan untuk melangkah ke depan,” kata Agrapana.


Kakek tua itu kumat lagi. Di saat-saat genting, satu pertanyaan sederhana bisa menjadi bahan khotbah yang berkepanjangan dan semakin sulit dicerna.


Tiba-tiba terdengar bunyi menggelegar disertai dengan goncangan bumi yang sangat keras sesaat setelah seberkas sinar putih sejenak menerangi angkasa. Niken memeluk Jalu erat-erat. Ia merasa sangat khawatir.


Bunyi itu berasal dari pukulan Batari Mahadewi yang menghujam Kalapati ketika mereka bertarung di udara. Tubuh Kalapati meluncur hingga menembus dasar laut.


Sebagai balasannya, Kalapati menghentakkan kekuatannya hingga membuat semua material yang menimbunnya di bawah laut terangkat ke angkasa yang disusul dengan seberkas sinar terang melesat menghantam Batari Mahadewi.


“Kau telah kalah, Kalapati!” ujar Batari Mahadewi. Tubuh sang pusaka dewa itu masih memancarkan kekuatan tinggi, sementara Kalapati mengalami hal yang sebaliknya.


“Tidak, kau salah! Aku masih punya satu hal lagi. Satu hal terakhir yang aku miliki. Tunggu sebentar!” kata Kalapati.


Raksasa itu kembali menciptakan sebuah bola energi yang menyelubungi tubuhnya. Tubuh Kalapati mengecil dan ukuran bola energi itu juga ikut mengecil hingga tampak seperti sebutir semangka yang memancarkan cahaya merah di angkasa.


Kalapati tak lagi terlihat. Yang ada hanyalah bola energi yang memancarkan cahaya merah itu.


Bola merah itu ternyata menyerap semua kekuatan yang ada di sekelilingnya dengan cepat. Perlahan-lahan, bola itu semakin membesar. Batari Mahadewi hanya bisa menunggu. Ia mengira, Kalapati memang sedang mengerahkan kemampuan terakhirnya. Sang pusaka dewa itu dibuat penasaran hingga rela menunggu.


Tetapi Batari Mahadewi salah. Raja dewa yang menyadari hal itu segera melesat dari bawah pintu dunia khayangan menuju ke arah Batari Mahadewi.


“Maharuna! Apa yang kau lakukan! Kalapati akan meledakkan diri. Jika kau tak menghentikannya sekarang, maka dunia tengah, bawah dan atas akan musnah!” raja dewa panik. Baru kali ini ia benar-benar terlihat panik.

__ADS_1


“Lalu bagaimana?”


“Hancurkan bola itu sebelum semakin besar dan kekuatannya bisa menghancurkan seluruh dunia!” ujar raja dewa.


Batari Mahadewi mengerahkan kekuatannya, lalu menghempaskan cahaya keemasan yang melesat dari telapak tangannya. Cahaya berkekuatan tinggi dari telapak tangan sang pusaka dewa itu menghantam bola merah yang merupakan penjelmaan akhir dari Kalapati.


Pukulan Batari Mahadewi hanya menimbulkan ledakan saja. Bola merah itu tetap utuh dan semakin membesar.


Raja dewa membantu Batari Mahadewi. Ia mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghancurkan bola itu. Hasilnya sama saja. Nala yang penasaran juga ikut-ikutan. Ketiga tokoh itu menyerang bola merah secara bersamaan dan tak ada hasilnya.


“Bagaimana ini?” ujar Batari Mahadewi.


“Tak ada cara lain selain mengorbankan dirimu!” kata raja dewa.


Tenggorokan Nala mendadak terasa kering mendengar ucapan raja dewa itu. Batari Mahadewi sudah pasti mau melakukannya. Artinya, Nala akan kehilangan sosok yang ia cintai jika Batari Mahadewi tak bisa selamat.


“Baiklah, tapi bagaimana caranya?” kata Batari Mahadewi.


“Serap kekuatan bola merah itu hingga batas akhir dari tubuhmu, selebihnya, ledakkan dirimu bersama sisa kekuatan dari bola merah itu,” kata raja dewa. Ia sendiri tak kalah kacau. Sebab jika itu terjadi, dunia akan mengalami kerusakan parah dan kekacauan selama bertahun-tahun tanpa bisa dipulihkan oleh para dewa. Sebab, setelah ledakan itupun, para dewa akan mengorbankan diri, kecuali sang raja dewa yang kelak bertugas untuk menciptakan dewa-dewa baru. Dan saat itu terjadi, raja dewa akan benar-benar lemah.


Batari Mahadewi menoleh ke arah Nala. “Kau bisa mengerti hal ini kan?”


Dengan berat hati, Nala mengangguk. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tak jatuh. Setidaknya, hal itu  akan membuat Batari Mahadewi benar-benar yakin.


“Nala, sayangku, kenanglah aku kelak jika kau masih bisa selamat. Ini adalah takdirku dan tujuan dari keberadaanku. Terimakasih banyak atas cintamu yang indah, atas segala kisah yang telah kita rangkai bersama. Selamat tinggal, Nala!” Batari Mahadewi mengucapkan hal itu dengan nada yang tegar dan tegas. Namun hatinya juga hancur.


Sang pusaka dewa itu melesat dengan air mata terurai. Sesampainya di sana, ia menghujamkan kedua lengannya ke permukaan bola merah itu. Tubuhnya berubah warna menjadi merah, tanda kekuatan Kalapati telah terserap dengan baik.


Tak lama kemudian, Batari Mahadewi benar-benar menghentakkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Cahaya menyilaukan menyapu dunia disertai dengan gelegar ledakan maha dahsyat yang memporak-porandakan segalanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2