
Nala dan Batari Mahadewi menghentikan langkah mereka ketika melihat gerombolan pengacau itu memasuki desa. Yang membuat mereka takjub bukanlah kegarangan wajah yang tampak dari para gerombolan itu, melainkan kuda-kuda berkepala singa yang mereka tunggangi.
“Apakah sebaiknya kita membantu orang-orang di desa ini?” tanya Nala.
“Ya, aku ingin kau menyukai membantu orang. Kau akan tahu betapa menyenangkan rasanya.” Kata Batari Mahadewi.
“Terserah…” Kata Nala.
“Kita lihat dahulu dari sini, apa kemauan mereka dengan warga desa.” Kata Batari Mahadewi.
Gerombolan pengacau itu memaksa warga desa untuk berkumpul. Semua warga ketakutan dan menuruti apa kemauan mereka. Lalu salah satu dari warga itu, yang terlihat seperti tetua desa, memberanikan diri menanyakan maksud kedatangan para pengacau itu.
“Maaf, tuan. Apa yang tuan harapkan dari kami?” tanya orang itu.
“Kamu tetua desa?” tanya salah satu orang bertubuh tinggi besar, dan berperan sebagai pemimpin gerombolan pengacau itu.
“Benar tuan.” Kata tetua desa itu.
“Kami ke sini karena menginginkan buah para yang kalian tanam.” Kata pemimpin pengacau itu.
“Sepertinya tuan keliru. Kami bukan desa penghasil buah para, tuan. Desa itu ada di dekat pantai. Sedikit jauh ke arah sana.” Kata tetua desa.
“Hei, tuan. Apakah kalian mencari buah ini?” Batari Mahadewi berteriak sambil menunjukkan buah yang memancarkan cahaya kemerahan, yang diberikan oleh istri tetua desa tempat mereka menginap.
“Hmm…kalian ini siapa! Kalian bukan dari pulau ini kan?!” tanya pimpinan pengacau itu.
“Kalian mau merampok buah para? Jangan harap kalian bisa ke sana. Kalau mau, ambilah ini.” Tantang Batari Mahadewi.
“Keparat!!! Kalian tak tahu berhadapan dengan siapa?!” kata pimpinan pengacau itu.
__ADS_1
“Siapapun kalian, aku tidak peduli. Aku beri kesempatan untuk meninggalkan wilayah ini secepatnya atau kalian akan menyesal!” kata batari Mahadewi. Belum sempat pemimpin itu menjawab, Nala sudah menyerang kelompok itu dengan beringas.
Batari Mahadewi hanya geleng-geleng kepala menyaksikan ulah teman seperjalanannya itu, yang dalam hal-hal tertentu, tak bisa ia kendalikan, seperti yang saat itu sedang ia lakukan. Nala dengan mudah ******* gerombolan pengacau itu dengan balutan tanah yang tiba-tiba mengeras ketika telah membalut tubuh para pengacau itu.
Bentuk para pengacau itu terlihat seperti kepompong raksasa. Nala masih menyisakan lubang pada bagian wajah mereka, sehingga mereka tak lekas mati, namun sangat menderita. Beberapa warga desa terbengong-bengong menyaksikan peristiwa itu.
“Tari, akan kita apakan mereka?” tanya Nala berteriak kepada gadis cantik jelmaan pusaka dewa yang sedari tadi hanya menonton itu.
“Jangan kau bunuh. Hilangkan saja ingatan mereka, beserta seluruh kemampuan mereka.” Kata Batari Mahadewi.
“Oh, begitu saja? itu mudah. Baiklah.” Nala Menyentuhkan telunjuknya ke masing-masing jidat para pengacau itu, kemudian ia membebaskan mereka semua dari jeratan tanah yang ia ciptakan. Para pengacau itu tampak linglung, dan tak tahu apa yang harus mereka lakukan, sebab Nala benar-benar menghapus semua ingatan mereka hingga mereka merasa baru saja mengenali dunia.
“Ayo Nala, kita lanjutkan perjalanan.” Kata Batari Mahadewi.
“Ayo.” Kata Nala.
Keduanya hendak melangkah, namun tetua desa itu memanggil keduanya. “Tuan, Nona, maaf…bisakah tuan dan nona mampir sejenak?”
“Oh…tidak, kami hanya ingin berterimakasih. Maukah tuan dan nona berkunjung ke rumah saya?” tanya tetua itu. Nala dan Batari Mahadewi saling berpandangan sejenak. Lalu Batari Mahadewi mengiyakan tawaran tersebut. Mereka lantas berjalan mengikuti tetua desa itu hingga sampai di sebuah rumah yang unik dan mengesankan.
“Terimakasih banyak atas bantuannya, dan terimakasih banyak telah sudi memenuhi undangan saya. Kalau boleh tahu, darimanakah tuan dan nona ini? Dan kenapa tuan dan nona bisa mendapatkan buah para itu?”
Batari Mahadewi menceritakan perjalanan mereka berdua hingga akhirnya sampai di desa itu. Tetua desa mendengarkan sambil mengangguk-angguk. Awalnya, tetua desa itu sempat curiga dengan penampilan Batari Mahadewi dan Nala, namun pada akhirnya ia percaya.
“Tuan dan nona muda, kami hanya bisa memberikan bekal ini sebagai tanda terimakasih. Jika di kota nanti tuan dan nona muda bermasalah dengan para prajurit penjaga, tuan dan nona bisa menunjukkan tanda ini. Ini adalah tanda penghargaan yang diberikan kepada siapapun yang berjasa kepada masyarakat pulau ini. Tak banyak yang tahu soal ini, kecuali para tetua desa dan para petugas keamanan pemerintah di seluruh bagian wilayah kerajaan Madapala.” Kata tetua desa itu.
“Terimakasih, tetua. Pengharaan ini sangat berarti bagi kami.” Kata Batari Mahadewi.
Kedua pendekar muda dari dunia satu rembulan itu melanjutkan perjalanan. Setelah mereka melewati hutan, mereka akan sampai di sebuah kota kecil yang masih jauh dari kota pusat di wilayah kerajaan.
__ADS_1
“Baiklah, hutan lagi!” Kata Nala.
“Mungkin tak seburuk dengan hutan di pulau Iblis.” Kata Batari Mahadewi.
“Kau lihat bukan, selalu saja ada binatang aneh di sini. Kuda piaraan saja berkepala singa. Dan sejauh ini, aku belum melihat binatang ayam. Seperti apakah ayam di sini?!” celoteh Nala.
“Maksudmu itu!” Batari Mahadewi menunjuk ke salah satu pohon di hamparan hutan di depan mereka. Seekor burung yang mirip ayam sedang bertengger di ranting pohon. Bentuknya tak jauh beda dengan ayam di dunia satu rembulan, namun ukurannya sebesar kambing.
“Ya, itu mirip ayam. Cukup mengerikan jika binatang itu mematuk kepala orang.” Kata Nala.
“Hahaha, makin ke sini, kau makin menyenangkan, Nala.” puji Batari Mahadewi. Nala tak bisa menyembunyikan rasa senang tiap kali Batari Mahadewi mengatakan hal bagus padanya. Lelaki itu tak sedingin dulu ketika pertama kali mereka bertemu.
Keduanya melaju menembus hutan, melenting dari satu dahan ke dahan lainnya seperti burung. Kadang mereka berhenti di dahan sebuah pohon yang besar, memetik beberapa buah berbentuk aneh yang rasanya sangat enak.
Tak sampai setengah hari mereka menempuh perjalanan, akhirnya mereka berdua tiba di kota. Di pintu gerbang masuk, tertulis sebuah kalimat: Selamat Datang di Kota Piriparara
####
Tiga chapter dulu untuk malam ini ya teman2ku tercinta. Ending di chapter ini sengaja nggak tak buat tegang. Biar kita rileks, soalnya aku mau kenalin teman-temanku yang selama ini banyak mendukung dalam proses kreatifku. Ada banyak teman, dan aku ingin memperkenalkannya pelan-pelan di beberapa chapter ke depan. Semoga teman-teman tidak keberatan.
Jika di beberapa chapter kemaren aku cerita sedikit tentang Hashirama Senju (Author Pendekar Pedang Naga), dan Novita Budi Lestari, Author AMBERLEY yang tak pernah berhenti mendukungku siang dan malam, merawatku jika aku sakit, maka di chapter kali ini aku akan menyebut tiga nama beken terutama di group chat noveltoon.
Yang pertama adalah para author dengan nama pena Auran Deea. Dia mengaku sebagai gadis berusia 15 tahun. Aku sih ga percaya, sebab karyanya sudah sangat matang dari segi bahasa dan ceritanya. Teman-teman bisa temukan imajinasinya yang luar biasa dalam novel fantasi dengan judul Veritas: Dunia Itu (Tidak) Indah. Satu lagi karya Auran adalah Love Between Loss, sebuah romance remaja yang bikin deg-degan.
Yang kedua adalah seseorang yang punya nama pena Oot Nasrudin, yang lebih suka dipanggil sebagai Donju DonJuan (nama avatar). Cowok brewok yang gantengnya bikin geger di banyak group chat noveltoon ini punya karya romance yang cakep teman-teman, judulnya adalah Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot. Percayalah, novel itu adalah sublimasi dari getaran jiwanya yang selalu bangkit kembali setelah jatuh berkali-kali.
Yang ketiga adalah author dengan nama pena Qunicherly Yuna yang sering dipanggil dengan nama Quin, atau bahkan Mom, karena ia seolah menjadi ibu sekaligus dokter dari para pasiennya di group chat Noveltoon. Dia beneran dokter lho sob! Karyanya yang sedang on going berjudul Love, Revenge, dan The Sea. Selain itu, kak Quin ini juga punya novel yang udah tamat dengan judul Meadow, dan satu lagi yang lama belum ia sentuh, judulnya Dibalik Malaikat Berjas Putih.
Nah, tiga nama itu yang ingin kuperkenalkan di chapter ini teman-teman. Nanti akan ada lagi entah di chapter berapa. Mohon teman-teman tidak keberatan saya mendukung author lain dengan cara memperkenalkannya di dalam tubuh chapter PBM ya. Semoga teman-teman berkenan mampir. Percayalah, apresiasi dari teman-teman semua, segala kritik dan saran, adalah nafas hidup kami dan tujuan kami menulis novel.
__ADS_1
Baiklah teman-teman, sampai jumpa besok lagi ya. Doakan saya bisa nulis banyak lagi. Semoga teman-teman semua selalu dikaruniai keselamatan, kesehatan, kedamaian, rezeki, cinta, dan kebahagiaan. Amin.