
Jalu, Batari Mahadewi, dan Niken meningkatkan kewaspadaan mereka begitu mereka merasakan kehadiran sekelompok pendekar yang tak mereka kenal.
“Bayangan-bayangan itu sudah mengintai kita sejak kita makan di kedai.” Kata Batari Mahadewi.
“Ada yang tidak beres. Baiklah, sepertinya kita harus melemaskan tulang-tulang kita terlebih dahulu dan setelah itu kita akan bahas masalah ini. Jangan lupa sisakan pemimpin mereka hidup-hidup, kita butuh informasi darinya.” Kata Jalu bersiap.
Sekitar 20 orang berpakain serba hitam mengepung Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya. Komplotan itu bukan pendekar kelas rendah. Setidaknya mereka punya ilmu meingankan tubuh yang baik sehingga gerakan mereka sangat cepat dang sukar ditangkap mata.
“Siapa kalian dan apa mau kalian dengan kami?” Kata Jalu.
Komplotan itu tidak menjawab. 5 orang pertama tiba-tiba melakukan serangan. Kelimanya dapat dilumpuhkan dengan mudah oleh Jalu. Sementara Niken dan Batari Mahadewi masih berdiam diri, menunggu serangan lain sambil mengawasi gerak-gerik komplotan itu.
Begitu kelima orang pertama bisa lumpuh dengan mudah, ke 15 orang sisanya menyerang mereka bertiga bersamaan. Mereka tidak mau mengambil resiko menyerang dengan tangan kosong seperti yang dilakukan ke 5 orang sebelumnya, kali ini mereka menggunakan senjata berbentuk pisau kecil yang meluncur dengan kecepatan tinggi.
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken mulai berpencar menghindari serangan pisau-pisau yang mengeluarkan aroma busuk itu.
Setelah beberapa saat menghindar dari serangan-serangan itu, para penyerang mulai tampak kesal karena pisau-pisau mereka tak mengenai sasaran. Selanjutnya mereka mengganti taktik pengepungan. Orang-orang itu mengeluarkan pedang yang juga mengeluarkan aroma busuk tanda bahwa pedang itu telah diolesi racun yang sangat kuat.
Sebelum orang-orang itu menyerang, salah satu orang dari mereka melemparkan tepung ke atas Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya. “Tepung racun” Kata Niken. Dengan segera Niken menciptakan perisai es berwarna biru yang menahan racun-racun di udara itu mengenai dirinya dan saudara seperguruannya.
“Kita harus membereskan ini dengan cepat.” Kata Niken. Lalu ia menciptakan jarum-jarum es dan meluncurkannya ke arah gerombolan penyerang itu. Seketika mereka semua roboh. “Aku menyisakan satu untukmu Kak Jalu,” Kata Niken.
Satu orang yang tersisa dalam penyerangan itu tampak ketakutan melihat rekan-rekannya roboh seketika dalam satu serangan. Tentu saja mereka salah memilih lawan. Orang itu hendak kabur dan Jalu memperingatkannya. “Berhenti atau kau akan mengalami hal terburuk hari ini.”
Orang itu tak peduli, ia tetap kabur karena ia tahu ia telah mengalami hari paling buruk di sepanjang hidupnya. Dalam sekali lompat, Jalu sudah berada di depan orang itu, menjentikkan api kecil tepat di jidatnya dan orang itu berhenti bergerak dengan jidat yang masih berasap. Orang itu tidak mati. Tapi tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali.
“Aku tahu kalian terpaksa menyerang kami, itu kan yang ingin kamu katakan?” kata Jalu. “Dan kau pasti tahu akau akan bertanya, siapa yang menyuruhmu?” Orang itu masih diam.
“Apakah kau pernah membayangkan kalau malam ini kau akan memiliki kuping panggang.” Kata Jalu sambil menyentuh telinga kanan orang itu. Ada rasa hangat yang menjalar dan orang itu sadar bahwa Jalu berniat membakar telinganya. Ia menangis ketakutan. “Ampun pendekar…” rintih orang itu.
__ADS_1
“Kalau begitu cepat katakan, siapa kalian dan kenapa kalian menyerang kami.” Kata Jalu.
“Kami dari kelompok kelelawar hitam. Kami hanya ditugaskan untuk memburu dan membutuh tuan dan nona pendekar. Kami tidak pernah tahu apa alasannya.” Jawab orang itu.
“Hmm….baiklah kalau begitu. Kau akan kubiarkan hidup, tapi maaf, aku harus menghilangkan sebagian ingatanmu.” Kata Jalu sambil menepuk kepala orang itu. Seketika orang itu ambruk dan esok hari, ia tak akan ingat lagi apa yang telah ia alami setidaknya selama beberapa tahun kebelakang. Ia juga kehilangan kemampuan beladirinya.
Setelah serangan itu, Batari Mahadewi, Niken dan Jalu memutuskan untuk tidak jadi menikmati jalan-jalan malam itu. Mereka memilih untuk kembali ke penginapan. Sesampainya di sana, mereka menemukan kamar mereka sedikit berantakan.
“Sepertinya gerombolan tadi ke sini terlebih dahulu sebelum menyerang kita di pinggir hutan sana.” Kata Niken.
“Kenapa kita diserang Kelelawar Hitam?” kata Jalu.
“Ada yang membocorkan keberadaan kita, bahwa kita telah mengetahui terlalu banyak informasi tentang pencurian di kuburan. “ Kata Batari Mahadewi.
“Bukankah kita hanya berbicara dengan….ah…tetua….tapi mungkinkan ia?” Kata Niken bingung.
“Aku tahu sejak kita berkunjung tadi, tetua menyembunyikan sesuatu dari kita.” Kata Batari Mahadewi. “Sebaiknya kita selidiki dulu. Malam ini juga. Ada baiknya kita berpencar. Satu pergi ke rumah tetua, dan satu ke bengkel senjata. Hanya itu yang kita tahu sejauh ini. “ Kata Batari Mahadewi.
“Kenapa harus dekat kuburan lagi?!” Niken protes.
“Sepertinya di sana sepi.” Kata Jalu. “Atau kau punya usul lain?”
“Tidak. Sepertinya kau benar.” Kata Niken.
Ketiganya lalu bergegas pergi malam itu. Niken dan Batari Mahadewi menuju ke bengkel senjata, sementara Jalu menuju ke rumah tetua.
Menyelinap dalam kegelapan bagi mereka bertiga bukanlah hal yang sulit. Dan dalam sekejap saja masing-masing telah sampai di tempat yang dituju.
Jalu bersembunyi di pohon besar tak jauh dari rumah Tetua. Dari sana ia bisa mengintai ada siapa saja di dalam rumah itu. Sayangnya, rumah itu terlihat sepi. Hanya tampak sesekali istri tetua keluar rumah, melihat-lihat, lalu masuk kembali ke dalam.
__ADS_1
‘Sepertinya ia menunggu seseorang. Berarti tetua sedang tak ada di rumah.’ Batin Jalu. ‘Baiklah, sepertinya memang tak mungkin rumah ini menjadi tempat pertemuan. Tapi akan aku tunggu sebentar lagi.’ Jalu memutuskan untuk mengintai rumah itu sebentar lagi.
Sementara itu Batari Mahadewi dan Niken kesulitan mendekati area bengkel. Di sana banyak orang yang berjaga di luar. “Bagaimana kalau kita pecah perhatian mereka?” Kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana caranya?” tanya Niken.
“Kakak bergerak dengan cepat di depan toko itu, pasti orang-orang di sana akan terpancing untuk mengejar kakak. Saat itu aku akan bersembunyi di atap.” Kata Batari Mahadewi.
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita lakukan” Niken langsung bergerak. Ia menggunakan kecepatan tinggi untuk melintas di depan toko itu. Sontak, para penjaga yang juga merupaka pendekar langsung terpancing untuk mengejar sosok yang berkelebat cepat di depan mereka itu. Pada waktu yang sama, Batari Mahadewi berhasil melompat ke atap bengkel tanpa ketahuan oleh siapapun.
Di atas atap itu, Batari Mahadewi mendeteksi siapa saja orang-orang yang ada di bengkel itu. Ada banyak anggota Kelelawar Hitam di sana dan Batari Mahadewi cukup terkejut karena menemukan kehadiran tetua di sana.
“Kau yakin mereka itu murid Ki Gading Putih? Tanya Ketua Kelelawar Hitam kepada Ki Buyung.
“Ya. Hmm…kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan bukan? Lalu kapan kau akan membebaskan anakku?” Kata Ki Buyung menahan marah, namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia bukan tandingan Ketua Kelelawar Hitam.
“Sudah kukatakan kepadamu, aku akan membebaskan anakmu kalau kau membantuku menemukan kuburan pendekar Tapak Racun.” Kata Ketua Kelelawar Hitam.
“Sudah kukatakan aku tak tahu soal itu. Kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri kepada pendeta Liong?” Kata Ki Buyung.
“Kalau aku bisa sudah kugali sendiri kuburan itu. Tapi itu sama saja bunuh diri kalau sampai pendeta Liong tahu. Kalau kau melakukan tindakan yang membuaku marah, aku tak akan segan-segan membunuh anakmu sebelum menghabisi keluargamu yang lain.” Kata Ketua Kelelawar Hitam itu mengancam.
“Tuan Huang, kuharap kau segera menyelesaikan pedangku.” Kata Ketua Kelelawar Hitam kepada pemilik toko itu.
“Kami berusaha sebaik mungkin tuan…” Kata Huang Lim sang pemilik toko itu.
Terdengar suara ketukan dari luar, “Masuk.” Sahut Ketua Kelelawar Hitam. “Kenapa wajahmu pucat seperti itu?” bentak Ketua Kelelawar Hitam kepada anak buahnya.
“Maaf ketua, 20 pendekar bayangan Kelelawar Hitam telah terbunuh sewaktu melakukan penyerangan.” Kata anggota Kelelawar Hitam yang melapor itu.
__ADS_1
“Hmm…lawan kita cukup tangguh rupanya.” Kata Ketua Kelelawar Hitam.