
Batari Mahadewi melesat kesana-kemari seperti cahaya keemasan yang bersinar di bawah naungan bulan purnama yang membuat malam itu tak sepenuhnya gelap. Kehadirannya serta pancaran energi besar yang ia keluarkan jelas saja membuat semua pendekar di danau Rembulan Merah tidak bisa untuk tidak menoleh ke arahnya.
Para pendekar baik dari golongan hitam ataupun putih tak hanya heran dengan pancaran energi luar biasa besar yang berasal dari tubuh Batari Mahadewi, namun mereka juga kagum dan ngeri melihat kemunculannya yang seperti cahaya emas terbang dan mencabut nyawa tiap-tiap pendekar aliran hitam yang dilaluinya.
Batari Mahadewi terbang menyisir pertarungan di hutan, menyapu para pendekar hitam di danau, melesat ke angkasa dan membabat para pendekar hitam yang bertarung di udara. Pendekar Harimau Merah, Mawar Hitam, dan Raja Sihir yang semula hanya memantau pertarungan kini mulai waspada dengan kehadiran Batari Mahadewi. Ketiganya ragu, namun juga tak bisa tinggal diam melihat para anggota mereka satu per satu tumbang.
“Siapa itu? apakah kalian pernah mengenal sosok yang terbang itu?” tanya pendekar Harimau Merah.
“Entahlah, aku baru saja melihat pendekar aliran putih yang bertarung dengan cara seperti itu.” kata Pendekar Mawar Hitam.
“Kabarnya, belakangan ini telah muncul pendekar legenda baru yang berusia cukup muda. Ia dari aliran putih. Apa mungkin pendekar itu adalah yang belakangan ini disebut sebagai legenda baru? Jika benar, maka kita akan dapat masalah. Kalau mau menghentikannya, maka kita bertiga harus menyerangnya secara bersamaan.” Kata pendekar Raja Sihir.
“Tunggu sebentar, biar pendekar tengkorak yang menguji kemampuannya. Setidaknya, dia tak akan mati meski dibunuh dengan cara seperti itu. Selagi mereka nanti bertarung, maka kita bisa mempelajari kemampuan pendekar misterius itu. Aku tak benar-benar bisa melihat wujudnya.” Kata pendekar Harimau Merah.
Batari Mahadewi tentu saja tak berniat untuk membantai semua pendekar aliran hitam. Ia masih teringat akan ramalan masa depan dari kolam altar suci kota Dhyana. Bagaimanapun juga, ketika bangsa raksasa telah datang, ia sangat sadar bahwa tak mungkin bagi para pendekar aliran putih melawan para raksasa itu.
Satu-satunya cara untuk bertahan dari serangan bangsa raksasa adalah dengan mempersatukan para pendekar dari semua aliran. Batari Mahadewi hanya ingin mengurangi tekanan dari pendekar aliran hitam yang jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah pendekar aliran putih yang berkumpul di danau Rembulan Merah.
Rencananya berhasil, dengan mengerahkan pancaran energi yang sangat besar, dan melumpuhkan hampir seperempat dari jumlah pendekar aliran hitam dalam waktu singkat, hal itu telah mencuri perhatian semua pihak. Tak hanya itu, nyali para pendekar aliran hitam mendadak turun drastis. Kepercayan diri mereka sepenuhnya sirna.
Batari Mahadewi menyadari situasi itu. Ia menghentikan serangan, lalu berdiri mengambang di tengah danau dengan tubuhnya yang masih memancarkan cahaya keemasan. Semua perhatian telah tertuju padanya dan tak seorangpun yang melanjutkan pertarungan karena ingin melihat sosok dengan cahaya emas yang berkelebat mencabut nyawa banyak pendekar aliran hitam.
__ADS_1
Pradipa yang sedari tadi menghentikan pertarungannya dengan pendekar Tengkorak hanya bisa terkesima menatap Batari Mahadewi yang berwujud seorang gadis yang tampak hampir remaja. Sekilas, bentuk tubuhnya menyerupai bentuk tubuh anak gadis berusia 15 tahun meski usianya masih belum menginjak 8 tahun. Pancaran energi bercahaya emas yang menyelimuti tubuhnya membuat siapapun akan berfikir ulang untuk berhadapan dengannya. Pancaran tenaga itu menandakan bahwa pemiliknya telah mencapai tingkat energi dewa.
Itukah adik seperguruan Niken? Pradipa tak henti-hentinya tercengang. Ia melirik ke arah pendekar Tengkorak. Pendekar aneh bertubuh kurus dan tinggi itu juga tak lagi berminat untuk bertarung dengan Pradipa. Pandangannya terarah kepada Batari Mahadewi.
Pendekar Tengkorak menangkap isyarat dari pendekar Harimau Merah untuk menyerang Batari Mahadwi. Ia yakin bahwa ia pasti kalah, namun ia juga yakin bahwa ia tak akan terbunuh karena ajian yang ia miliki. Maka dengan kesadarannya itu, ia merasa bahwa ialah satu-satunya pendekar dari aliran hitam yang akan bertarung dengan Batari Mahadewi layaknya pertarungan dua orang pendekar.
Pendekar Tengkorak melesat menyusul Batari Mahadewi ke tengah danau. Pertarungan di atas danau sudah jelas bukan posisi yang menguntungkan bagi pendekar Tengkorak, terlebih tenaganya sudah banyak terkuras ketika ia bertarung dengan Pradipa.
“Aku pendekar Tengkorak. Hari ini aku menantangmu bertarung.” Kata pendekar Tengkorak.
“Aku Batari Mahadewi. Dengan senang hati menyambut tantangan tuan pendekar.” Kata Batari Mahadewi.
Jalu dan Niken yang semula ingin kembali dalam pertarungan, kini menunda niat mereka. Dalam hati, keduanya ingin melepas rindu barang sejenak. Namun situasi tidak memungkinkan untuk itu, bahkan untuk saling berpelukan. Meski sama-sama tersiksa rindu, namun masih ada rasa canggung untuk saling berpelukan. Terlebih, keduanya belum pernah saling menyatakan cinta. Entah kapan mereka akan memulainya, sebagai pasangan kekasih.
Beruntung semua perhatian tertuju kepada Batari Mahadewi, sehingga kedua insan pendekar muda yang dilanda siksaan cinta itu masih berkesempatan untuk berduaan, melihat adik seperguruannya bertarung di atas danau Rembulan Merah.
“Adik kita bertambah kuat sekarang. Jauh lebih kuat dari sebelum kamu diculik oleh pendekar Syair Kematian.” Kata Jalu.
“Ya, aku merasakannya. Apa yang terjadi? Apakah kak Jalu dan adik berusaha mencariku?” tanya Niken penasaran.
“Kami sangat ingin mencarimu. Tapi adik punya pemikiran, jika saat itu kami mengejarmu dan pendekar Syair Kematian, maka nyawamu dalam bahaya.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Apakah kakak…” Niken tak melanjutkan perkataannya.
“Apakah apa?” tanya Jalu penasaran.
Niken terdiam. Wajahnya sudah semerah tomat. Ia sangat malu tapi tak tahan untuk tak mengatakannya. “Apakah kak Jalu mengkhawatirkanku?”
“Tentu saja, bodoh! Aku sudah seperti orang gila! Apa yang harus kukatakan kepada guru!” kata Jalu. Kalimat terakhir itu bukanlah yang ingin ia katakan, namun entah kenapa masih sulit baginya untuk membahasakan perasaannya.
Niken hanya tersenyum. Bukan itu jawaban yang ia harapkan, namun ia sudah cukup bahagia. Setidaknya, Jalu masih mengkhawatirkannya.
Batari Mahadewi tak berniat menghindar atau membalas serangan dari pendekar tengkorak. Ia tahu kekuatan pendekar tengkorak tidak terlalu tinggi. Ia hanya ingin bermain-main sebentar, untuk semakin menekan semangat pendekar aliran hitam. Ia lebih merasa lega apabila nantinya banyak pendekar aliran hitam yang melarikan diri sehingga tak akan banyak jatuh korban. Bagaimanapun juga, di masa depan, keberadaan para pendekar dari semua aliran sangat dibutuhkan untuk melawan bangsa raksasa yang turun ke dunia manusia.
Pendekar Tengkorak terus melepaskan serangan, pukulan, dan jurus-jurus beracun ke tubuh Batari Mahadewi. Namun ia tak mengira bahwa pukulannya sia-sia saja. Batari Mahadewi tak menggunakan perisai tenaga dalam, tapi cahaya keemasan yang menyelubungi tubuhnya sudah cukup untuk menahan serangan tak seberapa dari pendekar Tengkorak.
Hal itu cukup mengejutkan bagi semua orang yang ada di sana, bagaimanapun juga, meski pendekar Tengkorak tak terlalu kuat, jurus-jurusnya tetap berbahaya. Sehingga, ketika Batari Mahadewi tak menghindari serangan itu, maka yang ia lakukan menjadi terror bagi pendekar aliran hitam.
Batari Mahadewi mulai bergerak. Dengan cepat ia menangkap lengan pendekar Tengkorak dan melemparkannya ke angkasa. Dari permukaan danau itu, ia melepaskan beberapa bola energi keemasan ke atas menyusul tubuh pendekar Tengkorak yang melayang-layang. Terdengar ledakan di angkasa disertai dengan cahaya warna-warni dari bola-bola keemasan dari Batari Mahdewi yang menghantam tubuh pendekar Tengkorak.
Tubuh pendekar tengkorak terbakar dan meluncur jatuh ke danau. Selang beberapa saat kemudian, pendekar tengkorak muncul kembali dalam keadaan utuh. Batari Mahadewi sedikit kaget. Ia tak mengetahui ajian yang dimiliki oleh pendekar Tengkorak. Semestinya, jurusnya itu sudah bisa membunuhnya. Namun kenyataannya tidak demikian.
“Hahahaha, kau memang kuat gadis kecil. Namun sekuat apapun kamu, aku tak akan pernah bisa dibunuh.” Kata pendekar Tengkorak dengan sinis. Energinya selalu pulih kembali setiap ia bangkit dari kematian.
__ADS_1