
Nala sudah mempersiapkan diri untuk malu jika Batari Mahadewi berhasil menghabiskan semua makanan itu. Tapi ia yakin, kekasihnya selalu berhasil menghabiskan banyak makanan. Ia tak habis pikir, kenapa bisa demikian. Apakah ada lemari tersembunyi di dalam perut gadis cantik itu?
Dan benar sekali. Nala sudah merasa cukup setelah menghabiskan satu jenis menu saja, yakni semangkok besar sup kura-kura tempurung lunak. Ia melirik gadisnya yang masih sibuk menghabiskan satu per satu makanan yang tersaji di sana.
Tak hanya ia saja yang selalu heran, beberapa orang di lantai atas itu mau tak mau memperhatikan cara makan gadis cantik itu, termasuk lelaki tua sederhana yang berwibawa itu. Ia hanya bisa menduga-duga, makhluk macam apakah yang sedang ia lihat itu? kenapa gadis cantik itu bersama dengan seorang pendekar aliran hitam?
“Apakah kau ingin menambah makanan, Tari?” tanya Nala. Ia sedikit menyesal telah mengucapkan kalimat barusan itu.
“Hmm…enak sekali masakan ini. Tapi kurasa cukup. Aku tak mau membuatmu malu,” kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, aku sudah cukup malu. Tapi aku selalu menyayangimu, tak peduli berapa banyak makanan yang kau makan, atau jika kau makan meja ini sekalian,” kata Nala sembari tertawa tak terlalu ikhlas.
“Sebaiknya kita bersantai dahulu di sini, Nala. Biarkan perutku bekerja dengan baik menata semua makanan yang telah kumakan. Lagipula, di bawah telah ada beberapa pendekar hitam yang baru saja datang, satu diantaranya memiliki aura pendekar Tirayamani. Kita tunggu dulu, jika mereka membuat ulah, kita turun tangan.” Batari Mahadewi berbicara pelan, setengah berbisik. Ia kemudian menenggak air kelapa muda yang sejak tadi menunggu di meja.
“Ya, terserah kamu saja,” kata Nala. Ia tahu, gadisnya itu diam-diam berencana ingin mencuri dengar pembicaraan sekelompok pendekar hitam yang telah ada di lantai paling bawah itu. “Kau yakin salah satunya dari Tirayamani?” tanya Nala dengan suara pelan.
“Ya, jika tidak salah. Memang masih ada beberapa dari mereka yang tercecer di Mahabhumi. Sudah sewajarnya jika mereka bergabung dengan pendekar hitam yang ada di sini,” Kata Batari Mahadewi.
“Berarti, mereka semestinya juga sedang menyusun rencana tertentu bukan? Jika tidak, seharusnya mereka tak akan menampakkan diri di kota kerajaan yang seramai ini,” kata Nala.
“Sepertinya begitu, dan ini ada hubungannya dengan yang sedang dibicarakan empat orang kerajaan dengan kakek tua itu. Dan, kakek itulah yang sedang kita cari,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Benarkah? Kalau begitu sebaiknya kita tunggu saja,” kata Nala.
“Oh, pendekar hitam itu tertarik dengan kotak pemberian siluman naga itu, Nala. Mungkin sebentar lagi akan ada keributan,” kata Batari Mahadewi. Ia masih mencuri dengar segala pembicaraan di lantai paling bawah.
“Biarkan saja, lagipula mereka tak akan sanggup mengangkatnya dan membawanya pergi,” kata Nala.
“Baiklah, tapi sebentar lagi pasti ada keributan. Di bawah ada beberapa pendekar kerajaan, dan beberapa pendekar yang sepertinya adalah murid Ki Rangga Suluk,” kata Batari Mahadewi. Mereka masih berbicara dengan suara yang sangat pelan.
“Kalau begitu, mungkin sebentar lagi kita akan melihat pertunjukan menarik. Siap-siap saja, kita juga harus bertanggung jawab dengan hal ini. Kotak itu!” kata Nala.
“Kenapa kau menaruhnya di bawah?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau belum sempat mengangkatnya bukan? Kau pasti tidak tahu, jika aku membawanya ke atas, lantai ini akan jebol. Beratnya kira-kira setara dengan dua ekor gajah,” kata Nala. Batari Mahadewi mengerutkan alisnya.
Mengingat satu dari beberapa pendekar hitam itu memancarkan aura yang kelam, maka beberapa pendekar kerajaan dan murid ki Rangga Suluk yang semula sedang makan sembari menunggu atasan dan sang guru yang sedang berbicara di lantai atas pada akhirnya harus ikut campur.
Pergerakan pendekar aliran hitam di Mahatmabhumi sudah dirasa mengkhawatirkan. Mereka memang belum berbuat apa-apa, tetapi kian hari jumlah mereka yang datang ke kota kerajaan semakin bertambah. Mereka berani menampakkan diri karena ada dukungan dari segelintir pendekar Tirayamani yang masih selamat. Para pendekar hitam itu tahu, bahwa pendekar kuat yang membantai mereka tinggal di Swargadwipa. Hanya saja mereka tak tahu bahwa kebetulan, Nala dan Batari Mahadewi sedang tamasya di Mahatmabhumi.
Seorang pendekar dengan tergesa-gesa naik ke lantai paling atas untuk memberitahu Ki Rangga Suluk tentang situasi yang terjadi di bawah. Pertarungan belum terjadi, namun setelah salah satu pendekar hitam itu mengaku bahwa dirinya dari Tirayamani, maka gemetarlah para pendekar yang ada di bawah itu.
Begitu mendengar kabar bahwa di bawah ada pendekar Tirayamani, Ki Rangga Suluk dan empat pejabat kerajaan itu akhirnya turun ke lantai bawah dan menyaksikan apa yang sedang terjadi. Kakek tua itu sempat melirik Nala sebab ia tahu bahwa Nala memiliki kekuatan aliran hitam. Situasi menjadi terasa tidak nyaman.
__ADS_1
“Sebaiknya sebentar lagi kita turun, Nala.” Kata Batari Mahadewi.
“Tunggu sebentar lagi. Tidakkah kau ingin melihat cara kerja seruling emas? Lagipula jika situasi tak terkendali, kita bisa langsung ke bawah,” kata Nala.
Pertikaian tak terhindarkan. Begitu Ki Rangga Suluk menampakkan diri, pendekar Tirayamani itu langsung bersemangat untuk bertarung. Sejenak ia lupa dengan kotak yang semula ia inginkan itu.
“Kau sepertinya yang paling hebar diantara cecunguk-cecunguk ini kan?” kata pendekar Tirayamani itu dengan nada sombong. Wajar saja, ia adalah pendekar setengah siluman yang bisa dengan mudah menghabisi semua pendekar di kedai itu.
“Dan kau adalah sampah yang tersisa itu kan? Kenapa kau belum enyah dari Mahabhumi?” kata Ki Rangga Suluk.
“Jika kau bisa menyentuhku dalam sepuluh serangan, aku akan dengan senang hati meningalkan tanah ini. Sebaiknya kita mulai saja. Aku sudah tak sabar ingin bertarung dengan pendekar yang punya nama di sini,” kata pendekar hitam itu.
“Dengan senang hati,” kata Ki Rangga Suluk. Ia kemudian keluar kedai. Pertarungan akan berlangsung di tengah jalan. Tentu saja kejadian itu menarik banyak perhatian orang. Terlebih, yang bertarung adalah salah satu orang yang punya nama besar di Mahatmabhumi melawan pendekar Tirayamani yang kabarnya sangat mengerikan itu.
“Silahkan kau mulai menyerangku, ki sanak!” kata pendekar Tirayamani. Ki Rangga Suluk tahu, jika menggunakan jurus-jurusnya, ia belum tentu bisa menyentuh lawannya. Maka ia mengeluarkan seruling pusakanya. Jika dimainkan, suara seruling itu akan menyerang para pendekar yang memiliki kekuatan hitam. Hal itu berkebalikan dengan suara seruling yang dimiliki oleh pendekar aliran hitam.
Ki Rangga Suluk memainkan sebuah lagu indah dengan serulingnya. Kecuali pendekar hitam Tirayamani, para pendekar hitam lainnya yang ada di sana seketika menggelepar berguling-guling sembari menutup telinganya. Mereka merasa sangat kesakitan. Tak lama kemudian, mereka tak sadarkan diri.
Suara seruling itu juga terasa tak nyaman di telinga Nala. Jika ia tak memiliki kekuatan besar, ia pasti akan menjadi korban dari suara seruling itu.
Pendekar Tirayamani itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkal serangan suara seruling yang sungguh mengganggu teliganya itu. Bagaimanapun juga, ia sulit berkonsentrasi dengan gangguan suara itu. Pada saat itulah, Ki Rangga Suluk dengan sangat cepat melesat dan menghujamkan sebuah pukulan di dada lawannya. Pendekar Tirayamani itu terpental, jatuh, lalu segera bangkit berdiri dan mengumpat keras.
__ADS_1
“Kau telah kalah. Sesuai dengan janjimu sendiri, seharusnya kau segera angkat kaki dari wilayah ini, dan juga meninggalkan pulau ini!” kata Ki Rangga Suluk.
“Kau bermain kotor. Aku tak mengatakan bahwa kau boleh menggunakan serulingmu itu. Kita akan lanjutkan pertarungan sampai salah satu dari kita mati!” pendekar hitam itu merubah wujudnya menjadi makhluk setengah siluman. Tubuhnya membesar dua kali lipat dan bentuknya menyerupai bangkai manusia yang setengah busuk. Aroma racun yang menyengat keluar dari tubuhnya. Semua pendekar dan penonton yang ada di sana segera bergerak menjauh. Tinggal Ki Rangga Suluk yang masih dengan sikap waspada bersiap menghadapi lawannya itu.