
Batari Mahadewi melihat Jalu masih diam dalam meditasinya. Energi Jalu terus menerus memancar secara intens meski tak besar. ‘Apa yang dialami kakak dalam meditasinya…’ batin Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi berkeliling halaman sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam altar suci. Ia memandangi beberapa pertapa yang ada di sana. Semua tampak kokoh, berwarna kelabu, seolah seperti patung batu yang dipahatkan di sana. Pancaran energi mereka sudah seperti menjadi satu dengan energi bumi, berbeda jauh dengan Jalu.
Di dalam meditasinya, Jalu bertemu dengan Agrapana dalam wujud yang lain, yakni seperti sosok perempuan muda mengenakan topeng dan jubah panjang. Sekilas perawakan sosok itu mengingatkan Jalu kepada Niken.
Jalu tak mengenali bahwa sosok itu adalah Agrapana, sang penjaga altar suci kota Dhyana. Dalam wujudnya yang tak dikenali Jalu itu, Agrapana memancarkan hawa dingin. Mirip seperti energi es milik Niken.
Jalu siaga. Namun ia ragu untuk memutuskan apa yang ia lakukan. “Siapa kamu?” Tanya Jalu.
“Bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin bertarung denganmu.” Jawab Agrapana dengan suara yang sama persis dengan suara Niken. Jalu semakin ragu. Dadanya bergetar. Rindunya tersulut kembali setelah beberapa waktu ia bisa sejenak lepas dari gelisahnya.
Agrapana menciptakan butiran es di sekeliling tubuhnya, lalu mengerahkan butiran es tajam itu ke arah Jalu. Butiran-butiran e situ melesat dengan kecepatan tinggi. Jalu masih ragu. Ia hanya menghindar dan terus menghindari serangan-serangan itu. Jalu bahkan tak mengerahkan energi apinya untuk menangkis serangan itu.
“Apa yang kau lakukan? Kau bisa mati jika hanya bertingkah seperti itu.” Kata Agrapana.
Jalu tak menjawab. Pikirannya sangat kacau. Agrapana menyerang Jalu lagi dengan butiran es yang jauh lebih banyak. Jalu terus menerus menghindar hingga tanpa sadar Agrapana telah berada di belakangnya, memukul punggung Jalu dengan tapak es.
Jalu terpental dan muntah darah. Dengan cepat ia memulihkan dirinya melalui tenaga dalamnya. “Kenapa kau menyerangku?” tanya Jalu.
“Karena kau pendekar yang lemah. Sungguh memalukan. Kau tak pantas menjadi pendekar.” Kembali Agrapana menyerang Jalu dengan kecepatan tinggi, ia menghujamkan pukulan dan tendangan beruntun ke arah Jalu. Gerakannya yang cepat itu nyaris tak terlihat. Jalu cukup kesulitan untuk menangkisnya. Ia lalu melenting ke belakang dan memancarkan energi apinya.
“Bagus! Kerahkan semua kemampuanmu.” Kata Agrapana dengan suara milik Niken.
Jalu masih terdiam dengan pancaran api yang menyala-nyala. Ia bahkan tak ingin menyerang sosok itu dengan energi apinya, namun ia juga tak ingin mati konyol. Bayangan Niken sangat membuat pikirannya kacau dan keruh, terlebih sosok yang menyerangnya itu adalah sosok yang sepenuhnya menyerupai Niken, meski sosok itu mengenakan topeng dan jubah.
Agrapana memancarkan energinya lebih besar lagi. Kini tak hanya butiran es yang menyelubungi tubuhnya, melainkan bongkahan es sebesar buah kelapa dalam jumlah besar yang terus menerus berputar mengelilinginya, membuat tubuhnya tak lagi tampak jelas.
Bongkahan-bongkahan es itu menjelma menjadi patung-patung es yang bisa bergerak seperti manusia. Jalu tahu, ia harus menghadapi patung-patung es yang jumlahnya lebih dari 50 itu.
__ADS_1
Dengan cepat, patung-patung es itu menyerang Jalu secara bersamaan. Berhadapan dengan patung-patung itu, Jalu tak segan melancarkan beberap jurus apinya untuk menghancurkan patung-patung itu satu persatu.
Setiap patung yang hancur akan kembali ke wujudnya semula, lalu mulai menyerang Jalu lagi. Pertarungan itu serasa tak ada habisnya. Ia tahu bahwa untuk menghentikan patung-patung itu, maka ia harus menyerang sosok yang mengendalikannya.
‘Ia bukan Niken…ia bukan Niken…aku harus menyerangnya.’ Batin Jalu. Ia memperoleh kembali kepercayaan dirinya untuk menyerang sosok itu tanpa ragu. Dengan cepat Jalu bergerak ke arah sosok itu, dan mengarahkan telapak tangannya yang penuh energi api ke arah kepala sosok yang mirip Niken itu.
Ketika Jalu semakin mendekat, sosok itu melepaskan topengnya. Terlihat wajah cantik Niken yang tersenyum manis padanya. Sebuah senyuman yang selalu ia rindukan. Hati Jalu bergetar hebat. Ia tak jadi melontarkan serangannya. Sebaliknya, dengan cepat Agrapana mengarahkan pukulan es ke dada Jalu.
Jalu terpental jauh. Tubuhnya serasa remuk, pikirannya sangat kacau. Energinya meredup. Ia benar-benar lelah dalam pertarungan itu. Agrapani dalam wujudnya yang menyerupai Niken berjalan pelan ke arah Jalu.
“Bangun kau pendekar lemah! Kodok Dungu! Hanya begini kemampuanmu? Lebih baik kau jadi tukang masak saja daripada jadi pendekar! Apa yang bisa kau andalkan untuk melindungi orang-orang yang kau sayangi.” Kata Agrapana. Kata-kata itu sungguh menyakitkan bagi Jalu. Lebih menyakitkan dari serangan yang baru saja mendarat di dadanya.
“Jika kau ingin bertarung denganku, jangan gunakan cara licik seperti ini.” Kata Jalu.
“Kau saja yang lemah. Kau tidak tahu kelak di depanmu, kau akan berhadapan dengan banyak pendekar yang memiliki kemampuan seperti ini, menyerupai orang-orang yang kau sayangi. Ayo bangun, hadapi aku.” Kata Agrapana.
Jalu tersadar. Ucapan dari sosok yang menyerupai Niken itu sangatlah benar. Banyak pendekar aliran hitam yang bisa mengelabuhi lawannya dengan berubah wujud. Jika ia tak bisa mengatasi perasaannya dalam situasi seperti itu, maka ia bisa terbunuh dengan mudahnya.
Jalu menambahkan energinya untuk menciptakan gelombang api dari kedua pedang apinya yang menyala biru itu. Kini ia mulai menyerang. Hanya saja, ada secuil keraguan pada serangan-serangannya ketika melihat sosok Niken di hadapannya itu menghindar dan menangkis serangannya sambil menebarkan senyumannya yang paling indah, memandang wajah Jalu dengan binar mata yang selalu Jalu rindukan itu.
“Serang aku dengan sungguh-sungguh. Bunuh aku atau aku akan membunuhmu.” Ucap Agrapana. Kakek tua itu lantas menciptakan tembok es yang tinggi mengepung Jalu. Tembok is itu kian merapat dan memunculkan mata tombak es runcing dari permukaannya yang siap menusuk tubuh jalu dari segala penjuru.
Jalu membuat pertahanan dengan mengerahkan seluruh energinya untuk membuat benteng api. Tembok es itu perlahan meleleh. Jalu menangkap energi yang berada di balik tembok es itu, lalu dengan kekuatan penuh, ia mengarahkan pedang apinya ke sosok itu.
Pedangnya menembus tubuh sosok yang menyerupai Niken itu. Hati Jalu berdesir. Jantungnya berdegub keras karena bagaimanapun juga, sosok itu adalah sosok Niken yang ia kenali.
“Sekarang, tebas kepalaku.” Kata Agrapana.
“Aku tak bisa.” Jawab Jalu.
__ADS_1
“Cepat lakukan, dasar laki-laki pengecut.” Bentak Agrapana.
Setegah mati Jalu mengatasi keraguannya. Lalu dengan air mata yang menetes di pipinya, ia ayunkan pedangnya menebas leher sosok yang menyerupai Niken itu. Seketika sosok itu berubah menjadi kepulan asap, lalu menjelma menjadi sosok Agrapana yang terlihat tua itu.
“Kakek Agrapana…” Kata Jalu tak percaya dengan yang baru saja ia alami.
“Hehehe…bagus anak muda. Hampir saja kau tak lolos ujian ini. Sekarang kau boleh menyelesaikan meditasimu. Susul adikmu yang menunggumu di altar suci.” Kata Agrapana yang kemudian perlahan menghilang.
Jalu menyelesaikan meditasinya. Keringat dingin mengucur dari kepalanya. Ia membuka matanya dan melihat sekelilingnya. ‘Sungguh pengalaman yang buruk sekali!’ Batin Jalu. Ia tahu kelemahannya dan ia baru saja berhasil mengatasinya. ‘Jika aku mengalami hal ini di lain waktu dengan pendekar aliran hitam, maka habislah aku.’ Kata Jalu dalam hati.
Batari Mahadewi melambaikan tangan ke arahnya. Jalu berdiri dari posisi silanya, kemudian ia bergegas menuju ke arah Batari Mahadewi.
“Apa yang kakak alami?” Tanya Batari Mahadewi.
“Kakek Agrapana menemuiku dalam wujud Niken. Ia lalu menyerangku.” Kata Jalu.
“Hmm…aku bisa membayangkan apa yang terjadi. Kakek itu memberi pelajaran berharga buat kakak sebagaimana tadi ia juga memberiku pelajaran penting, meski tak begitu kupahami.” Kata Batari Mahadewi.
“Adik tidak memahaminya? Bahkan adik bisa mempelajari ilmu legendaris yang tak banyak orang bisa menguasainya.” Kata Jalu.
“Semua jurus yang kita pelajari masih bisa dipelajari dengan perantara bahasa. Namun kakek Agrapana mengajarkan sesuatu di luar bahasa, dan tentu saja aku tak memahaminya. Aku masih dalam batasan bahasa. Mungkin ini yang harus aku pecahkan.” Jawab Batari Mahadewi.
“Ha? Apa yang adik katakan? Bahasa?” tanya Jalu kebingungan mendengar jawaban Batari Mahadewi.
“Sudahlah kak, lupakan saja, nanti kalau aku paham, akan aku jelaskan padamu.” Jawab Batari Mahadewi.
Keduanya lalu memasuki altar suci kota Dhyana yang tak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Bangunan itu menyimpan sesuatu yang misterius, lebih mengejutkan dari pengalaman meditasi yang baru saja mereka alami.
__ADS_1