Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 22 Kota Kaki Langit


__ADS_3

Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya pamit meninggalkan kuil Matahari. Mereka juga menyempatkan singgah sebentar untuk pamit kepada Ki Buyung, tetua desa Air Kehidupan, lalu mereka kemudian melanjutkan perjalanannya.


Selama dua minggu perjalanan, mereka telah melewati empat desa tanpa menemukan kejadian yang menarik. Kadang mereka bermalam di hutan atau bermalam di padang rumput jika tak menemukan desa untuk menginap.


Desa-desa lain yang mereka lewati juga tak kalah besar dengan desa Air Kehidupan. Namun rasa-rasanya sulit untuk melupakan pengalaman menarik yang mereka dapat di Desa Air kehidupan. Desa terakhir sebelum mereka memasuki perbatasan kota bernama desa Kelana. Desa itu bernama demikian karena konon dulunya, banyak pengelana yang singgah dan menetap di desa itu.


Berbeda dengan desa-desa yang mereka jumpai, suasana kota tampak lebih megah. Hal ini merupakan pemandangan menarik bagi Batari Mahadewi dan Niken karena semasa kecilnya mereka berdua tak pernah singgah ke kota. Namun bagi Jalu yang merupakan keluarga bangsawan kerajaan, pemandangan ini hanyalah pemandangan biasa yang membangkitkan rasa kangen untuk bertemu ayah dan ibunya. Terakhir ia berkunjung ke rumah sekitar tiga tahun yang lalu.


Kota itu bernama kota Kaki Langit. Salah satu kota penting di wilayah kerajaan Swargadwipa karena kota ini merupakan kota perekonomian yang menyumbangkan pajak yang besar bagi kerajaan.


Kota ini dipimpin oleh seorang bangsawan bergelar Adipati Jalak Kuning. Dulunya, adipati ini adalah salah satu senopati pasukan kerajaan. Dibawah komandonya, ia dan prajuritnya selalu berhasil memenangkan peperangan. Adipati ini adalah seorang yang sakti dan cukup disegani dikalangan keprajuritan kerajaan Swargadwipa. Bahkan sang Mahapatih kerajaan yang bernama Siung Macan Kumbang, pendekar sakti yang memiliki pengaruh besar di kerajaan pun segan padanya. Keduanya memiliki kesaktian yang hampir setara.


Jalak Kuning, berkat pengabdian, kesetiaannya dan prestasinya, maka ia dinikahkan dengan salah satu anak raja dari selirnya, lalu ditugaskan untuk menjadi adipati di kota Kaki Langit menggantikan adipati yang lama, Tebu Ireng yang sempat menjalankan aksi makar. Aksi ini digagalkan oleh Jalak Kuning dan sebagai hadiahnya, Jalak Ireng mendapatkan putri raja dan mendapat gelar adipati.


Sepanjang jalan utama, Batari Mahadewi dan kedua kakaknya hanya menemukan kedai, toko, penginapan, dan tempat-tempat hiburan. Bahkan di tiap-tiap ujung gang masuk rumah-rumah perkotaan, mereka tidak kesulitan menemukan penjual barang tertentu.


Sebagian besar warga kota ini menggantungkan nasibnya dengan berdagang, bekerja sebagai pegawai pemerintahan, guru sekolah, seniman, dan pekerja-pekerja pabrik. Kota ini sangat sibuk dengan aktivitas ekonomi. Sementara, kehidupan di desa jauh lebih tenang karena sebagian besar warganya bekerja sebagai petani.


Yang mengesankan bagi mereka bertiga adalah bahwa kota itu tertata rapi dan terjaga kebersihannya. Mungkin karena itulah, kota tersebut banyak disinggahi oleh tamu yang hanya sekedar ingin menikmati keindahan kota, mencari hiburan dan tamu yang ingin melanjutkan perjalanannya.


“Kurasa kita harus tinggal sehari dua hari di kota ini. Aku ingin menjelajahi isinya.” Kata Niken.


“Aku setuju.” Kata Jalu.


“Aku juga.” Susul Batari Mahadewi.


Ketiganya lalu mencari-cari penginapan di dekat pusat kota yang selain merupakan pusat pemerintahan juga merupakan pusat hiburan.


“Sungguh menyenangkan. Disini kita bisa menemukan taman kota, gedung kesenian, pemandian air hangat, dan bahkan ada kebun binatang di sini.” Kata Niken.


“Aku lebih tertarik melihat-lihat koleksi perpustakaan besar yang ada di ujung jalan yang itu tadi.” Kata Batari Mahadewi.


“Aku ingin menikmati makanan enak di sini. Kota ini terkenal dengan makanan yang sangat enak.” Kata Jalu. Dulu sebelum ia belajar di Padepokan Cemara Seribu, ia pernah diajak singgah di kota ini oleh ayahnya. Makan makanan enak di salah satu restoran paling terkenal. Waktu itu Adipati Jalak Kuning sudah memerintah selama 1 Tahun.


“Baiklah, setelah kita menemukan penginapan, ada baiknya kita berpencar mencari apa yang kita sukai masing-masing.” Usul Niken.


“Sepakat.” Kata Jalu

__ADS_1


Batari Mahadewi hanya tersenyum mengiyakan usulan tersebut. Dalam hati ia melihat bahwa kedua kakaknya itu adalah pasangan yang serasi meski ia sering sekali melihat kedua kakaknya bertengkar dan sebentar kemudian akur kembali.


Jika mereka berdua ditakdirkan menjadi pasangan, maka mereka adalah pasangan pendekar yang sulit untuk ditaklukkan. Serangan api dan es yang mereka lontarkan sangat sulit ditepis lawan.


Akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan. Jalu memesan dua kamar seperti sebelum-sebelumnya. Setelah itu, ketiganya berpisah mencari kesenangannya sendiri-sendiri. Penginapan itu juga sekaligus membuka restoran di lantai bawah.


Kamar tamu ada di lantai dua dan seterusnya, sementara lantai satu menjadi area makan bagi tamu yang menginap atau tamu yang hanya ingin makan masakan di situ.


Batari Mahadewi pergi ke perpustakaan, Jalu pergi mencari makanan, sementara Niken pergi ke gedung kesenian untuk melihat sajian tari-tarian yang setiap hari dipentaskan.


Batari Mahadewi sangat takjub melihat ribuan naskah yang ada diperpusataan kota tersebut. Ia melihat beberapa orang yang tampak seperti orang-orang terpelajar sedang sibuk membaca buku. ‘Pantas saja ada perpustakaan sebesar ini, kota ini memiliki beberapa sekolah untuk mencetak kaum terpelajar.’ Batin Batari Mahadewi.


Kaum terpelajar yang belajar di sekolah-sekolah itu tak hanya mempelajari bela diri, namun juga mempelajari seni, politik, sastra dan filsafat. Umumnya, mereka yang bersekolah di sana adalah anak orang kaya, anak pejabat dan anak bangsawan. Mereka-mereka itulah yang nantinya akan berkiprah di dunia pemerintahan.


Apabila para siswa itu lulus sekolah, nantinya mereka diharapkan mendaftar ujian negara dan berbagai tes lainnya untuk dijadikan pegawai pemerintah sesuai bidangnya.


Namun, mengingat para siswa itu rata-rata bukan dari golongan pendekar, sangat jarang lulusan tersebut masuk dalam bidang militer. Kebanyakan para prajurit pemerintah berasal dari perguruan-perguruan silat yang nantinya akan diuji dan dilatih kembali secara militer.


Batari Mahadewi mencari naskah pada deretan naskah kuno yang tampak berdebu karena jarang disentuh. Naskah-naskah kuno yang ditulis kembali dalam lembaran-lembaran kulit itu memang jarang dibaca lantaran bahasanya yang sulit dipahami dan bukan merupakan kebutuhan pokok bagi siswa-siswa sekolah yang mayoritas tidak mengkonsumsi naskah kuno tersebut, kecuali mereka yang minat pada bidang sastra dan sejarah.


‘Naskah apa ini…’Batin Batari Mahadewi. Ia membaca judul dari naskah itu; Candikala. Naskah itu seperti sajak yang panjang dan memang butuh pemahaman sastra yang tinggi dan dilengkapi dengan pemahaman filsafat yang memadai untuk bisa memahami makna didalamnya.


Tentunya, Batari Mahadewi tidak memahami sastra dan filsafat dengan baik sebab ia tak pernah mempelajarinya. Batari Mahadewi menemukan aksara langka yang tersembunyi dibalik deretan sajak-sajak dalam naskah yang kini ia pegang.


Batari Mahadewi duduk menyendiri di pojok ruangan, membaca dengan serius tiap-tiap aksara yang ia tangkap. Sejak terbukanya segel ketiga, kemampuan membaca aksara tersembunyi yang dimiliki oleh Batari Mahadewi semakin meningkat.


Pada naskah itu, ia mempelajari salah satu ilmu yang langka, yakni Ilmu Matahari yang di dalamnya dijelaskan praktik latihan dan sistem pemahaman beladiri untuk menuju jurus puncak dari ilmu itu, yakni Pukulan Matahari.


Batari Mahadewi membaca dengan cepat dan menghafalkan setiap aksara dalam naskah tersebut. Tak terasa ia berada di perpustakaan itu hingga larut malam.


Pengunjung lain telah pergi. Satu-satunya orang yang tinggal di sana adalah penjaga pepustakaan. Seorang bapak-bapak tua baik hati yang dengan sabar menunggu Batari Mahadewi selesai membaca.


Setelah selesai membaca semua aksara tersembunyi dalam naskah tersebut, Batari Mahadewi memejamkan matanya, menghafal semua hal yang telah ia baca, lalu ia menutup naskahnya dan mengembalikannya ke tempat asalnya.


“Apakah nona sudah selesai membaca?” tanya bapak penjaga perpustakaan itu dengan ramah.


“Sudah paman, mohon maaf saya sampai lupa waktu. Saya tidak menyadari kalau hari sudah malam dan pengunjung lain sudah pulang semua.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku lebih senang menunggu orang membaca di sini dari pada melihat orang tidur di sini. Sudah lama tak ada yang menyentuh naskah yang baru saja nona baca. Apakah nona senang membacanya?” Tanya penjaga perpustakaan itu.


“Ya paman, saya senang membaca naskah itu.” Jawab Batari Mahadewi.


“Apakah nona sekolah di kota ini?” tanya penjaga perpustakaan itu.


“Tidak paman, saya hanya pengembara yang kebetulan lewat kota ini.” Jawab Batari Mahadewi.


“Oh, ya…ya. Baiklah kalau begitu, apabila nona sudah selesai, saya akan menutup perpustakaan ini. Besok pagi nona bisa ke sini kembali untuk membaca di sini.” Kata penjaga perpustakan itu.


“Terimakasih banyak paman. Jika ada waktu, besok saya akan kembali.” Jawab Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi berjalan keluar dari perpustakaan, dan kembali menuju ke penginapannya. Membaca selalu membuat lupa waktu dan lupa makan. Hingga selesai membaca, Batari Mahadewi bahkan tidak merasa lapar.


Sambil berjalan, dalam kepalanya terbayang rangkaian jurus-jurus yang ia temukan dalam Ilmu Matahari. Ia melatih jurus-jurus itu dalam pikirannya sehingga tak ada yang tahu bahwa ia sedang berlatih Jurus Pukulan Matarari.


Dalam naskah yang dibaca oleh Batari Mahadewi, ada 21 jurus matahari yang merupakan rangkaian jurus-jurus menuju pencapaian jurus tertinggi. Masing-masing jurus itu bisa dipakai sebagai jurus mandiri yang memiliki fungsinya tersendiri.


Berbeda dengan Ilmu Raga Membelah Bumi yang memiliki daya hancur cukup besar dan membutuhkan energi yang cukup banyak sehingga Batari Mahadewi hanya bisa sampai pada jurus ke 12 saat ini dari 27 jurus secara keseluruhan, Ilmu Matahari cukup berguna bagi Batari Mahadewi untuk menghadapi lawan-lawan yang tak terlalu kuat.


Ilmu matahari ini selain mempelajari pukulan mematikan juga mempelajari kecepatan gerak, diantaranya adalah jurus Serangan Cahaya, yaitu rangkaian pukulan yang sangat cepat sehingga lawan tak memiliki kesempatan untuk menangkis. Ada pula jurus Langkah Cahaya, yakni jurus yang berguna untuk melakukan pengejaran karena jurus ini hanya merupakan lari dengan kecepatan tinggi.


Pendekar yang menguasai jurus Langkah Cahaya apabila menggunakannya dengan baik dan dikombinasikan dengan tenaga dalam yang tinggi, hasilnya adalah orang awam tak mampu melihat ia bergerak karena kecepatannya. Salah satu keunggulan dari Ilmu Matahari adalah pendekar yang  menggunakannya tak akan cepat habis energinya.


Satu hal lagi yang belum diketahui oleh Batari Mahadewi, pendekar yang telah sepenuhnya menguasai Ilmu Matahari, ia akan mungkin menyerap energi matahari. Tentu Batari Mahadewi tak mengetahui hal ini karena memang tak disebutkan dalam naskah.


Pencipta ilmu itu sendiri, yakni pendekar Matahari Emas ke I pun belum sampai pada kemampuan untuk menyerap energi matahari. Hanya tubuh tertentu yang dipadukan dengan penguasaan ilmu matahari yang bisa menyerap energi matahari dan melontarkannya sebagai energi yang mematikan.


Di sepanjang perjalanan, Batari Mahadewi memandang ke segala jurusan untuk menghafalkan berbagai jenis toko yang mungkin akan berguna dan menghafalkan sebanyak mungkin wajah yang ia bisa. Namun ia juga sedikit merasa waspada karena ia merasakan ada pancaran energi tipis yang sempat ia kenal dengan baik. ‘Apakah Kelelawar Hitam ada di sini?’ batin Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi memasuki pintu penginapannya. Di sana ia melihat Jalu dan Niken sedang duduk menikmati makan malam mereka.


“Dari mana saja kau adik? Kami menunggumu sejak tadi sore untuk makan malam. Karena kau tak lekas datang, kami pesan makan duluan. Sekarang kau pesanlah makan sekalian.” Kata Jalu.


“Maaf aku terlambat kembali, tadi aku diperpustakaan dan tak sadar kalau hari sudah gelap.” Kata Batari Mahadewi. “Mungkin aku hanya akan pesan minuman hangat. Entah kenapa aku tidak merasa lapar.”


Sebelum mereka bertiga mengakhiri makan malam, mereka mendengar suara keributan di luar. Tanpa beranjak dari kursinya, Batari Mahadewi menajamkan pendengarannya. Ia tak ingin terlibat dalam perkelahian itu meski sebenarnya ia sangat terusik dan penasaran karena sepertinya, ia tak asing dengan pancaran energi salah satu pihak yang sedang terlibat dalam keributan itu.

__ADS_1


__ADS_2