Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 32 Pendekar Matahari


__ADS_3

Batari Mahadewi mengeluarkan jurus Pukulan Matahari dengan energi penuh untuk menangkis serangan Kelabang Iblis. Kedua telapak tangan itu bertemu dan menghasilkan dentuman energi yang sangat besar. Jurus Pukulan Matahari yang di keluarkan oleh Batari Mahadewi menghasilkan cahaya menyilaukan sesaat dan membuat malam itu terlihat seperti siang.


Kelabang Iblis sekali lagi terpental jauh. Kali ini ia tak menyangka tangan kanannya telah hancur menjadi abu. Ia menjerit kesakitan dan mengumpat sejadi-jadinya. Tubuhnya bergetar. Energinya telah terkuras habis. Dalam benaknya hanya ada dua pilihan; mati atau lari.


“Kau masih punya kesempatan untuk lari dan mengubah hidupmu jika mau!” Kata Batari Mahadewi.


“Kau….Aku tak akan melupakanmu. Suatu hari nanti aku akan membalasmu!” Kata Kelabang Iblis dengan penuh kemarahan dan dendam karena telah kehilangan satu lengannya yang sudah pasti akan mengubah hidupnya.


“Aku tak yakin kau akan membalas dendam dengan kondisimu yang seperti itu. Tapi apabila kau tak segera pergi bersama anak buahmu, aku akan mengakhiri nasibmu di sini.” Kata Batari Mahadewi dingin.


Kelabang Iblis akhirnya memilih untuk pergi bersama dengan anak buahnya yang telah kehilangan minat bertarung setelah melihat kondisi ketua mereka.


“ Kak Jalu, apakah kau sudah bisa berdiri?” Tanya Batari Mahadewi.


“Ya adik…tak kusangka aku berhutang nyawa lagi padamu. Baru kali ini aku menyaksikan sendiri kekuatan dari Ilmu Matahari.” Kata Jalu.


“Aku akan mengajarkan ilmu ini kepada kakak. Ilmu ini serasi dengan kekuatan elemen api milik kakak. Tapi sekarang kita harus segera ke sisi barat. Kak Niken mungkin membutuhkan bantuan kita.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya kemudian melesat cepat ke sisi barat Balai Kota untuk melihat kondisi Niken.


Sementara itu, Ki Suro telah bertukar sekian puluh jurus dengan Bayangan Siluman. Meski telah menghilang cukup lam dari dunia persilatan, namun kemampuan Ki Suro tak berkurang. Sebaliknya, Bayangan Siluman yang telah bertahun-tahun meningkatkan ilmunya, kini ia terdesak secara perlahan. Ki Suro seperti sengaja menyiksa lawannya sebelum membunuhnya.


“Ayo, mana jurus pamungkasmu?” Tantang Ki Suro


Bayangan Siluman merasa percuma menggunakan jurus pamungkasnya sebab Ki Suro dengan mudah mematahkannya sewaktu ia bertarung dengan Batari Mahadewi sebelumnya.


“Aku akui aku masih kalah jauh darimu. Tapi aku bukan pengecut kali ini. Akan kuhadapi kematianku malam ini, pendekar Matahari. Suatu kehormatan buatku apabila aku harus mati melawanmu.” Kata Bayangan Siluman putus asa.


Ki Suro paham, sudah waktunya ia mengakhiri petarungan itu. Ia memusatkan energinya, lalu menciptakan sebuah pedang cahaya dengan tenaga dalamnya.


“Inilah jurus yang belum kau ketahui sebelumnya, jurus Pedang Cahaya Matahari.” Ki Suro melesat dengan kecepatan cahaya dan membelah tubuh Bayangan Siluman dengan pedang cahaya matahari. Bayangan Siluman mati tanpa suara. Tubuhnya perlahan mengabur menjelma debu-debu hitam.

__ADS_1


Usai mengakhiri petarungannya, Ki Suro melesat pergi meninggalkan Balai Kota. Sementara itu, Jalu dan Batari Mahadewi telah sampai di tembok barat.


“Niken, kau baik-baik saja?” tanya Jalu cemas.


“Aku tak apa-apa kak Jalu. Bagaimana dengan kalian?” Balas Niken.


“Semuanya sesuai rencana.” Jawab Jalu.


Adipati Jalak Kuning bergegas menemui mereka bertiga setelah ia berhasil menumpas pasukan Bayangan Siluman yang berhasil menerobos masuk ke dalam. Ada rasa lega sekaligus tidak percaya mengetahui keberhasilan ketiga pendekar muda itu mengalahkan tokoh-tokoh pendekar hitam yang telah memiliki reputasi di kalangan persilatan.


“Syukurlah kalian baik-baik saja.” Kata Adipati.


Meski telah berhasil lolos dari serangan tiga kelompok hitam, namun bagaimanapun juga Adipati kehilangan banyak prajurit. Berita penyerangan itu menyebar di seluruh kota dan keesokan paginya merupakan hari berkabung bagi semua warga kota Kaki Langit.


Seusai upacara pemakaman para prajurit Balai Kota di makam keprajuritan, Jalu, Niken dan Batari Mahadewi berniat melanjutkan perjalanan. Mereka berpamitan kepada keluarga Adipati di pendopo Balai Kota.


“Terimakasih banyak atas bantuan Raden Jalu, nona Niken dan nona Batari Mahadewi. Tidak terbayang apa jadinya jika kalian tidak ada di sini.” Kata Adipati.


“Apakah kalian tak ingin menginap semalam lagi di sini?” Kata Adipati.


“Kami sudah terlalu lama menunda perjalanan ini paman. Mungkin lain waktu kami akan berkunjung ke sini lagi.” Kata Jalu.


“Kami akan senang jika Raden Jalu berkenan berkunjung kemari lagi.” Kata Galuh. Ia tak bisa menyembunyikan suasana hatinya yang tidak menyenangkan sebab pujaan hatinya akan segera pergi. Ia bahkan tak sempat mengutarakan perasaannya kepada Jalu. Ia merasa, barangkali tak akan berjumpa dengan lelaki gagah itu lagi di masa selanjutnya.


“Tentu jika kami melewati kota ini, kami akan mampir Adik Galuh.” Kata Jalu. Mereka bertiga lalu berpamitan. Ada rasa lega akhirnya mereka telah mendapatkan pengalaman baru yang berharga ketika menghadapi pendekar tingkat tinggi. Setelah meninggalkan Balai Kota, Batari Mahadewi menyampaikan keinginannya.


“Kakak Jalu, aku akan mampir ke perpustakaan sebentar untuk pamit kepada paman Guru Suro.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, aku juga ingin berterimakasih atas bantuan beliau semalam.” Kata Jalu.

__ADS_1


Mereka bertiga bergegas menuju perpustakaan. Kakek tua itu tersenyum hangat menyambut mereka bertiga. Sebagai penjaga perpustakaan, pendekar hebat itu sama sekali tak telihat seperti pendekar. Ia tak tahu entah sampai kapan akan menyembunyika dirinya dan diam-diam menjaga keamanan kota Kaki Langit.


“Paman Guru, kami akan pamit melanjutkan perjalanan.” Kata Batari Mahadewi.


“Terimakasih atas bantuan paman semalam.” Kata Jalu.


“Hahaha…kalian tak perlu sungkan. Nona Batari, pelajari baik-baik jurus-jurus Ilmu Matahari. Kau sangat kuat tapi belum luwes menggunakan semua ilmu yang kau pelajari. Kalian berdua boleh mempelajarinya jika mau” Kata Ki Suro kepada Niken dan Jalu.


“Mungkin kakak Jalu yang cocok dengan Ilmu Matahari, paman.” Balas Niken.


“Hahaha, kamu benar nona, Ilmu Matahari tak bisa cocok dengan pendekar yang memiliki elemen es seperti nona Niken ini. Kata Ki Suro. “Baiklah, selamat melanjutkan perjalanan. Salam untuk guru kalian. Sampai ketemu lain waktu.”


“Akan kami sampaikan salam paman kepada guru. Kalau begitu, kami mohon pamit undur diri, paman.” Kata Jalu. Mereka bertiga berlalu. Debu kemarau di siang hari menerobos keramaian kota.


Lima hari setelah mereka bertiga meninggalkan kota Kaki Langit, akhirnya mereka sampai di sebuah desa kecil yang sepi, yaitu desa Kenanga. Desa itu bahkan lebih sepi dari desa Cemara Seribu. Banyak rumah kosong yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya.


“Sepertinya telah terjadi sesuatu di desa ini sampai-sampai dari tadi aku hanya melihat beberapa orang saja yang tampak.” Kata Niken.


“Ya, dan mereka menatap kita dengan tatapan mata yang aneh.” Kata Jalu.


“Apa tak sebaiknya kita tanya saja ke salah satu orang yang kita jumpai?” Kata Niken.


“Entahlah…sebetulnya bukan urusan kita juga. Tapi tak ada salahnya. Kita akan cari tahu ketika kita nanti menemukan kedai untuk beristirahat.” Kata Jalu.


“Tak ada kedai buka di sini. Dan kita tak perlu bertanya. Beberapa bulan terakhir, desa ini telah dibantai.” Kata Batari Mahadewi yang sedari tadi ia memusatkan pendengarannya untuk menangkap pembicaraan orang-orang yang tersis di desa itu, serta menajamkan penglihatannya untuk membaca masa lalu yang terekam dalam pepohonan. Kini Batari Mahadewi telah semakin baik kemampuannya untuk menafsirkan segala tanda yang hadir di sekitarnya.


“Sebaiknya kita teruskan saja perjalanan kita. Tapi barangkali kita menemukan kejutan di hutan yang menjadi pemisah antara desa ini dan desa setelahnya.” Tambah Batari Mahadewi.


“Kejutan?” tanya Jalu

__ADS_1


“Aku menangkap pancaran energi yang tipis dari pendekar yang sedang berada di hutan sana. Pendekar itu berilmu tinggi dan mungkin telah menunggu kedatangan kita.” Kata Batari Mahadewi.


__ADS_2