
Niken dan Jalu telah tiba di balai Kota. Adipati Jalak Kuning menyambutnya dengan gembira. “Selamat datang Raden Jalu, selamat datang nona Niken. Mohon maafkan pamanmu ini yang tak tahu kalau Raden akan mampir di kota ini. Jika paman tahu, pasti paman tak akan membiarkan raden tinggal di penginapan. Raden Jalu masih ingat pamanmu ini bukan?” tanya Adipati sambil tersenyum.
“Tak mungkin saya melupakan paman. Pamanlah orang pertama yang mangajarkan beladiri kepada saya.” Kata Jalu tersenyum.
“Baiklah, mari kita beristirahat di Pendopo Besar. Nona Batari Mahadewi sudah menunggu di sana.” Kata Adipati.
Mereka lalu berjalan memasuki Pendopo Besar. Batari Mahadewi yang menanti kedatangan kakak seperguruannya menyambut mereka dengan senyum.
“Mohon Raden Jalu mau tinggal di sini selama masih di kota ini. Nanti urusan penginapan, biar kami yang membereskannya” Kata Adipati. “Dan sebetulnya, kalau Raden dan nona sekalian tak keberatan, paman memang berniat memohon bantuan.” Kata Adipati.
“Apa yang bisa kami lakukan untuk paman?” tanya Jalu.
“Ini berkaitan dengan Kelompok Kelelawar Hitam. Seperti yang telah diceritakan oleh nona Batari Mahadewi, ternyata memang benar, prajurit mata-mata khusus yang saya tugaskan di kota memberikan laporan bahwa Kelompok Kelelawar Hitam memang telah datang di kota ini. Namun kami belum mengetahui maksud kedatangan mereka. Apabila mereka melakukan keributan, pasti kami akan kerepotan dan sudah tentu akan kehilangan banyak prajurit. Tapi bila Raden Jalu dan nona sekalian ada di sini, tentu jumlah korban bisa berkurang.” Adipati menjelaskan.
“Kami memang tidak sedang terburu-buru menjalankan tugas dari guru kami, paman. Jadi kami akan dengan senang hati apabila dilibatkan untuk membantu paman di sini. Kebetulan di sini ada pendekar yang sangat hebat dan pasti akan membuat paman terkagum-kagum.” Kata Jalu sambil melirik Batari Mahadewi.
Adipati melihat ke arah Batari Mahadewi. Dalam hati ia tak begitu yakin dengan perkataan Jalu mengingat penampilan Batari Mahadewi masih seperti seorang gadis berumur 11 tahun. “Terimakasih Raden. Kalau begitu, Raden silahkan beristirahat di wisma tamu. Raden bisa bebas melihat-lihat lingkungan Balai Kota dan bisa juga keluar Balai Kota untuk menikmati suasana di luar sana. Jangan sungkan-sungkan. Semua penjaga sudah mengetahui keberadaan Raden sebagai tamu penting paman.” Kata Adipati.
“Nah, sekarang paman akan menemui utusan paman di balai keprajuritan. Paman akan memberikan kabar secepatnya tentang perkembangan berita Kelompok Kelelawar Hitam.” Kata Adipati. Ia kemudian bergegas ke bangsal prajurit kusus di balai keprajuritan.
Jalu, niken, dan Batari Mahadewi begegas menuju wisma tamu. Wisma itu sangat luas dan memang dibangun untuk menyambut tamu-tamu penting, dan bahkan harus bisa menampung seluruh rombongan tamu dari kerajaan apabila Gusti Maharaja Srengenge Abang, sang Raja kerajaan Swargadwipa datang berkunjung.
Wisma tamu itu tak hanya dilengkapi dengan taman yang indah dengan beberapa binatang seperti rusa dan beberapa burung langka, namun juga memiliki perpustakaan yang lumayan bagus dengan koleksi naskah-naskah yang menarik. Setidaknya, Batari Mahadewi akan sangat menyukai tempat itu daripada lingkungan Balai Kota yang lain.
“Apakah kita akan mengandalkan mata-mata paman Adipati untuk mengetahui keberadaan Kelelawar Hitam?” Tanya Jalu.
“Tidak. Kita juga harus bergerak. Lagipula akan sangat membosankan bisa kita hanya menunggu di sini.” Kata Niken.
“Aku sepakat. Kita juga harus bergerak. Aku curiga ada yang tidak beres yang direncanakan oleh Kelompok Kelelawar Hiatam. Kurasa mereka tidak sendirian kali ini.” Sahut Batari Mahadewi.
“Baiklah kalau begitu. Setelah kita puas melihat-lihat lingkungan di sini, kita akan bergerak.” Kata Jalu.
Jalu jalan-jalan menuju tempat latihan para prajurit perang. Batari Mahadewi memilih mengurung diri di perpustakaan karena dari sana saja ia sudah bisa mendengar apa yang semua orang bicarakan di Balai Kota. Sementara itu, Niken memilih untuk menikmati taman, melihat binatang-binatang yang ada di sana.
Ketika sedang asik melihat tingkah monyet yang lucu di balik jeruji kandang, Niken melihat seorang gadis yang sangat cantik yang sedikit lebih muda dari usianya, berjalan ke arah wisma tamu. ‘Gadis itu pasti putri Adipati’ Batin Niken.
Dari kejauhan Niken memperhatikan gadis itu yang tak menemukan seorangpun di wisma, lalu gadis itu berjalan ke arah wisma keprajuritan melewati jalan yang sama yang dilewati oleh Jalu. Niken kembali menuju ruang tamu di wisma tamu, menikmati beberapa makanan yang disajikan di sana.
Selang beberapa saat kemudian, Jalu terlihat berjalan ke arah wisma ditemani oleh gadis cantik itu. Niken memperhatikannya. Entah kenapa tiba-tiba hatinya berdesir. Ada rasa cemburu yang tak bisa ia tolak kehadirannya.
Namun ia tak ingin menunjukkannya. Ia tak mau menjadi orang yang naïf. Ia sangat sadar bahwa Jalu kelak akan memiliki posisi penting di kerajaan. Maka sangat wajar bila anak-anak gadis para Adipati, atau abdi negara lainnya, akan berusaha merebut hatinya. Terlebih, sosok jalu terlihat tampan jika dibandingkan dengan lelaki pada umumnya.
Hati Niken terasa ciut mengingat ia bukan siapa-siapa, hanya sebatas adik seperguruan Jalu. Ia ingin menangis. Meski dalam arena pertarungan, Niken adalah pendekar perempuan yang tak kenal ampun yang bisa berkelahi sama baiknya dengan lelaki yang setara ilmunya, namun dalam urusan perasaan, ia sangat rapuh.
__ADS_1
Jalu memasuki wisma. Ia menemukan Niken telah ada di sana. Jalu kemudian memperkenalkan putri Adipati yang
kini bersamanya itu kepada Niken. “Nama saya Galuh Sekar Putri. Suatu kehormatan bisa berkenalan dengan nona Niken.” Kata Galuh memperkenalkan dirinya.
“Nama saya Niken Sekar Purnama. Juga satu kehormatan bagi saya bisa berkenalan dengan nona Galuh.” Balas Niken. Keduanya sedikit canggung. Sudah tentu Niken cemburu dengan gadis yang sangat cantik yang kini berada di hadapannya itu, sementara Galuh memandang Niken sebagai saingannya untuk mendapatkan hati Jalu.
Jalu menangkap suasana kaku itu, dan ia tak tahu harus berbuat apa. Batari Mahadewi menyelamakan suasana itu dengan datang memasuki ruang tamu.
“Adik dari mana saja?” tanya Niken kepada Batari Mahadewi.
“Aku menemukan harta karun setebal ini.” Kata Batari Mahadewi sambil menunjukkan sebuah naskah tebal yang ditulis dalam lembaran-lembaran kulit. “Naskah-naskah inilah yang membuatku lupa segalanya.” Kelakar Batari Mahadewi.
“Eh, ada nona Galuh disini rupanya, kata Batari Mahadewi. Pasti nona Galuh ingin mengajakku melihat burung merak emas yang tadi nona ceritakan padaku bukan?” Tanya Batari Mahadewi dengan nada riang, berusaha memecah keheningan di ruangan itu. Usahanya berhasil. Setidaknya untuk saat ini.
“Merak Emas?” Kata Jalu
“Apakah aku salah…benar begitu bukan, nona Galuh?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, merak emas. Burung itu ada di taman belakang.” Jawab Galuh.
“Boleh kami melihatnya?” tanya Niken. Ia selalu antusias dengan binatang dan tanaman, terutama jika ada binatang yang unik dan langka, ia pasti akan sejenak melupakan persoalan cemburu dalam benaknya.
“Tentu saja boleh sekali. Saya kemari tadi memang berencana mengajak raden dan nona sekalian mengunjungi taman belakang yang isinya adalah binatang dan tanaman langka. Mari aku tunjukkan jalannya.” Galuh mulai beranjak dari duduknya lalu mengajak tamu-tamunya untuk berjalan mengikutinya.
Sesekali, Galuh berusaha mencari cara agar bisa bejalan berdampingan dengan Jalu. Entah kenapa sosok Jalu bagi Galuh merupakan sosok lelaki yang mampu menarik hatinya, sehingga secara naluriah, meski baru kali ini bertemu, ada rasa ingin terus mendekat. Sepanjang jalan, Niken berusaha mencari cara untuk meredakan gejolak hatinya. ‘Aku tak berhak cemburu…’ batin Niken.
Ada energi aneh yang terus menerus menarik perhatiannya dan setiap saat mengarah padanya. Burung itu sangat cantik terlebih ketika melebarkan ekornya yang berkilau seperti kipas emas raksasa. Burung itu tak pernah berhenti menatap Batari Mahadewi, seolah ingin mengatakan sesuatu padanya.
‘Kenapa tubuhku merasakan energi yang sangat aneh, jantungku semakin cepat berdegub ketika berada dekat dengan burung itu.’ Batin Batari Mahadewi merasa bingung atas keanehan yang ia alami.
Sementara itu, Galuh tak henti-henti berusaha menarik perhatian Jalu, seolah-olah apa yang ia lakukan selalu terpusat pada lelaki gagah yang ada di sampingnya. Niken tak bisa berbuat apa-apa selain menahan air matanya sekuat mungkin.
Ia menjaga jarak dan sedikit menjauh, mengalihkan rasa cemburunya dengan melihat binatang-binatang aneh seperti kambing bermata satu, kura-kura berkepala dua, dan binatang unik lainnya yang dipelihara di sana. Entah kenapa ia merasa lemah dalam hal ini meski ia sadar ia bukanlah apa-apa dan Jalu bukanlah miliknya.
Batari Mahadewi menyadari perasaan kakak seperguruannya itu. Ia mendekat, dan mengatakan sesuatu yang membuat perasaan kakaknya menjadi lebih baikan.
“Kakak tak perlu khawatir.” Kata Batari Mahadewi pelan agar tak terdengar oleh Jalu dan Galuh yang sedang berduaan melihat harimau putih di dalam kandang. Niken sedikit terkejut mendengar perkataan adiknya.
“Maksud adik?” Tanya Niken memastikan arah perkataan Batari Mahadewi.
“Kak Jalu bukan lelaki seperti itu.” Kata Batari Mahadewi. Niken bungkam dan tak tau harus berkata apa. Ia membiarkan Batari Mahadewi melihat air matanya menetes perlahan, lalu ia hapus sebelum Jalu dan Galuh melihatnya.
“Kak Jalu bahkan tak tertarik dengan jabatan tinggi yang menunggunya.” Tambah Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Adik tahu soal perasaanku?” Tanya Niken.
“Ya…” Jawab Batari Mahadewi pendek.
Niken kembali membenarkan keyakinannya sendiri bahwa Jalu memang bukan orang semacam itu yang bisa mudah tergoda oleh tahta dan perempuan. Tapi ia juga tak tahu, apakah Jalu menarik hati padanya.
“Menurut adik, apakah kak Jalu menaruh hati padaku?” Kata Niken.
Batari Mahadewi tak langsung meng-iya-kan. Ia mempertimbangkan jawabannya, takut apabila tak sesuai dengan kebenarannya. “Aku tak tahu soal itu, tapi setidaknya, ialah yang paling marah dan panik ketika kak Niken terkena pukulan Ketua Kelelawar Hitam. Setidaknya, itulah pertama kalinya aku melihat kak Jalu seperti orang kesurupan
melihat keadaanmu.”
Niken tersenyum lega. Semangatnya kembali pulih. Ada perasaan senang yang sama ketika ia mendengar janji yang diucapkan Jalu beberapa waktu yang lalu ketika mereka berdua di sekitaran gedung kesenian. Meski demikian, ia tetap merasa kecil apabila dibandingkan dengan Galuh, gadis yang memiliki kecantikan seperti dewi
khayangan.
Malam hari telah tiba. Adipati belum datang lagi untuk memberi kabar. Ia masih sibuk dengan urusan tata negara yang seakan tak pernah ada habisnya, belum lagi ia harus menyambut tamu-tamunya yang entah dari mana saja datangnya.
“Malam ini kita akan melakukan pengintaian.” Kata Jalu.
“Apakah kita perlu izin dari Adipati?” Tanya Niken.
“Tidak perlu. Kita bilang saja kepada pengawal kalau kita ingin menonton tari-tarian dan mungkin akan kembali larut malam.” Jawab Jalu.
“Sebaiknya nanti kita berpencar. Aku bisa pergi sendiri, kak Jalu dan kak Niken pergi bersama-sama. Tak usah mengkhawatirkan keselamatanku. Dan kita harus menyamar.” Kata Batari Mahadewi
Mereka sepakat, lalu kemudian keluar balai desa dan berpencar. Tempat pertama yang dituju oleh Batari Mahadewi adalah toko pakaian.
Ia membeli pakaian yang biasa dikenakan oleh gadis-gadis bangsawan untuk menyamarkan keberadaannya. Ia juga mengurai rambutnya yang hitam dan panjang. Kalaupun kedua kakak seperguruannya melihatnya, mereka butuh waktu untuk mengenalinya.
Batari Mahadewi tampak cantik dengan pakaiannya yang baru itu, rambutnya tergerai dan ia menghiaskan beberapa hiasan rambut yang indah. Aura keemasan yang ia miliki sejak bayi menambah kesan bahwa dirinya adalah keturunan bangsawan.
Ia sama sekali tak terlihat seperti pendekar, sangat jauh berbeda jika ia mengenakan pakaian pengembara miliknya yang bisa benar-benar sempurna menyembunyikan kecantikannya.
Kini Batari Mahadewi berjalan sendiri. Ia sangat sadar, dengan penampilannya seperti itu, berjalan sendirian tanpa pengawalan, akan mengundang penjahat untuk menculiknya. Itu adalah salah satu bagian dari rencananya, apabila ia diculik, maka ia tak akan melawan karena mungkin itu adalah petunjuk.
Batari Mahadewi berjalan sendirian menyusuri jalan-jalan kota dan semua mata tertuju padanya, dan setelahnya membicarakannya.
“Apakah gadis itu putri Adipati?”
“Sepertinya bukan. Mungkin tamu Adipati…atau anak saudagar yang mampir ke sini.”
“Tapi dia berjalan tanpa pengawal. Sungguh sembrono sekali…”
__ADS_1
Sembari berjalan, Batari Mahadewi memasang indera pendengarannya baik-baik, berusaha menangkap berbagai pembicaraan yang mampu ia dengarkan. Sementara, ia belum menemukan petunjuk atau percakapan yang berkaitan dengan kedatangan Kelompok Kelelawar Hitam. ‘Dimana mereka bersembunyi…’ Batin Batari Mahadewi.
Sudah satu jam ia berkeliling dan tak membawa hasil. Dari kejauhan ia melihat kedua kakaknya yang menyamar seperti pedagang-pedagang di pinggir jalan. Dari mana kakak membeli sekeranjang kue yang mereka jual kembali seperti ini’ Batari Mahadewi terkekeh dalam hati. Ia bermaksud menggoda kakaknya, berjalan menuju kesana untuk membeli beberapa kue.