Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 195 Kakek Dewa


__ADS_3

Ratusan patung yang ada di sekeliling kuil itu dalam waktu singkat telah mengepung Batari Mahadewi dan Nala. Kedua pendekar dunia satu rembulan itu hanya bisa berdiri diam saling membelakangi sekaligus mengawasi pergerakan patung-patung yang tiba-tiba hidup itu dan bersiaga apabila mereka mulai menyerang.


Namun ketika Batari Mahadewi dan Nala hanya terdiam, patung-patung itu juga diam dalam posisi siaga. Begitu kedua pendekar itu melakukan sedikit saja pergerakan, seketika patung-patung itu juga bergerak.


“Apa yang akan kita lakukan, Nala?” Batari Mahadewi berkata lirih setengah berbisik.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi kalau kita diam saja, mau sampai kapan kita seperti ini.” Jawab Nala.


“Jika mereka menyerang kita, mampukah kita melawan mereka semua?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku tidak tahu seberapa kuat mereka semua. Pancaran energi masing-masing dari mereka susah diperkirakan. Energi yang terpancar dari pulau ini mengaburkan pancaran energi mereka.” Kata Nala.


“Sudah pasti begitu. Aku rasa mereka ini adalah satu bagian dari pulau ini. Semua hal yang ada di pulau ini adalah satu bagian. Jadi, tak mungkin kita bisa mengalahkan mereka semua. Kemana manusia-manusia pulau Emas seperti yang diceritakan guru Rapapu dan kakek Zotha?” ujar Batari Mahadewi.


“Entahlah. Kita hanya punya dua pilihan saja, Tari. Kita lawan saja mereka agar kita tahu apa yang akan kita alami, atau kita diam saja dan kita tak tahu apa-apa.” Kata Nala.


“Kita sudah sejauh ini, Nala. Jika kita tak bergerak, kita tak mendapatkan apa-apa dan sia-sia saja semua yang sudah kita lakukan sejauh ini. Jika kita melawan mereka, kita tak tahu kita akan menang atau sebaliknya. Tapi, bukankah kita selalu menghadapi kematian setiap saat kita bertarung dengan lawan-lawan kita. Mari kita bergerak. Jika mereka menyerang kita, akan kita lawan.” Kata Batari Mahadewi dengan nada sangat yakin.


“Aku suka pendirianmu, Tari. Ayo kita terus melangkah menuju kuil itu.” kata Nala.


Batari Mahadewi dan Nala melangkahkan kaki seolah tak peduli dengan ratusan patung yang mengepung keduanya. Benar seperti dugaan mereka berdua, patung-patung itu juga ikut bergerak dan semakin mendekat ketika Batari Mahadewi dan Nala semakin melangkahkan kaki mereka ke arah kuil itu.

__ADS_1


Satu persatu patung-patung itu mulai bergerak menyerang Batari Mahadewi dan Nala. Ketika kedua pendekar dunia satu rembulan itu membalas serangan, patung-patung lainnya membuat barisan rapat yang menghalangi jalan keduanya menuju ke kuil.


Batari Mahadewi dan Nala hanya bisa menggunakan kemampuan yang mereka miliki dari dunia satu rembulan. Meski demikian, kedua pendekar itu masih bisa merobohkan tiap-tiap patung emas yang menyerang mereka. Masalahnya, jumlah mereka terlalu banyak. Tiap-tiap patung yang terkena pukulan-pukulan sakti dari Batari Mahadewi dan Nala langsung hancur menjadi butiran-butiran emas.


Yang aneh dari patung-patung itu adalah mereka tak menyerang Batari Mahadewi dan Nala secara bersama-sama, melainkan satu lawan satu. Hal itu cukup menguntungkan bagi Batari Mahadewi dan Nala sebab keduanya masih memiliki kemampuan sakti meski mereka tak bisa menggunakan kekuatan dari pulau Api, Es, dan Halilintar.


Setidaknya, patung-patung emas itu tak lebih kuat dari manusia perak yang diciptakan oleh Varak sehingga untuk melumpuhkan satu patung hidup itu tak butuh waktu lama.


Setelah bertarung cukup lama yang membuat Batari Mahadewi dan Nala benar-benar kehabisan tenaga, akhirnya ratusan patung itu telah berubah menjadi pasir emas. Meski keduanya tak menggunakan jurus-jurus pamungkas, melainkan hanya menggunakan pukulan dan tendangan bertenaga besar, namun pertarungan semacam itu membuat tubuh Batari Mahadewi dan Nala bergetar karena terlalu banyak menggunakan tenaga.


Keduany duduk bersila untuk memulihkan energi setelah menghancurkan semua patung yang menyerang mereka. Bersamaan dengan itu, pasir-pasir emas yang berserakan itu perlahan bergerak dan berubah wujud lagi menjadi patung-patung emas yang berbaris diam seperti posisi awal mereka sebelum mereka menjadi patung hidup.


Batari Mahadewi dan Nala menyadari hal itu. keduanya akhirnya tahu bahwa patung-patung itu memang sengaja diciptakan untuk menjaga kuil. Artinya, kuil tersebut merupakan kuil yang penting sehingga perlu dilindungi semacam itu.


Seorang kakek tua yang bertubuh sangat kecil keluar dari dalam kuil. Batari Mahadewi dan Nala teringat soerang kakek tua yang mereka jumpai ketika mereka pergi meninggalkan pulau Iblis. Dari guru Rapapu, Batari Mahadewi dan Nala tahu bahwa kakek itu adalah dewa dari dunia tiga rembulan.


“Selamat datang. Sudah lama sekali kita tak berjumpa, bukan? Mungkin tujuh atau delapan tahun yang lalu. Kini kalian telah tumbuh besar. Aku tak menyangka kalian berhasil sampai sini.” Kata kakek dewa itu.


“Kakek!!! Apa yang kakek lakukan di sini?” tanya Batari Mahadewi.


“Di sinilah tempat tempat tinggalku.” Kata kakek dewa itu.

__ADS_1


“Kakek hanya sendirian saja di sini?” tanya Nala.


“Ya, dengan patung-patung itu.” jawab Kakek dewa.


“Lalu bagaimana dengan para penduduk pulau Emas? Di mana mereka?” tanya Batari Mahadewi. Ia dan Nala sangat penasaran dengan misteri yang tak ia ketahui itu.


“Penduduk pulau Emas? Jika yang kalian maksudkan adalah yang telah diceritakan oleh orang-orang yang kalian temui, maka sejujurnya hanya kalian berdua inilah yang benar-benar sampai di pulau Emas yang sesungguhnya. Aku menciptakan dua jenis pulau Emas. Pulau Emas yang satunya bukan di sini. Dan di pulau Emas yang itu ada yang tinggal menetap dan menjadi penghuninya.” Kata Kakek itu.


“Tapi mungkin pulau Emas yang satunya itulah yang kami cari, kakek dewa. Bukankah di sanalah keberadaan sumber energi utama pulau Emas?” tanya Nala.


“Tidak. Di sinilah tempatnya. Sumber energi yang ada di sana hanya bayangan dari sumber energi yang kusembunyikan di pulau ini. Ketahuilah, ini adalah pulau dewa. Pulau suci. Tempat asal dari segala sumber energi yang terpencar di dunia tiga rembulan ini. Kalian tahu kenapa aku mengizinkan kalian datang ke sini, namun tidak bagi makhluk-makhluk lain di dunia ini?” tanya kakek Dewa.


“Karena kami hanya ingin menyerap energi dari sumber utama, lalu kami akan kembali lagi ke dunia kami.” Jawab Batari Mahadewi polos.


“Hahaha, bukan itu jawabannya. Baiklah, sudah waktunya kalian tahu siapa diri kalian ini dan dari mana kalian berasal. Aku adalah satu-satunya dewa di dunia ini dan aku juga bisa berhubungan dengan para dewa di dunia lain, termasuk raja dewa di dunia kalian. Hanya para dewa dan iblis saja yang bisa membuka gerbang langit, tak sadarkah kalian akan hal itu?” tanya kakek dewa itu.


Batari Mahadewi dan Nala tertegun. “Apakah artinya, kami berdua ini adalah dewa?” tanya Nala dengan polosnya.


“Tidak sesederhana itu. Baiklah, akan aku ceritakan. Saat ini, kerajaan dewa di dunia kalian telah dikuasai oleh raja raksasa, Kalapati namanya. Hal itu sebenarnya telah diketahui, namun tak bisa dihindari. Raja dewa di dunia kalian tak akan pernah bisa membunuhnya. Demikian pula dengan kami, para dewa dari dunia lain. Sang pencipta mengabulkan permintaan Kalapati, yakni kekuatan dan kesaktian yang membuat ia tak akan bisa dibunuh oleh para dewa, atau makhluk lainnya.


Tapi raja raksasa itu bisa mati dengan pusaka dewa, asalkan pusaka dewa itulah yang membunuh raja raksasa atas kehendaknya sendiri. Pusaka dewa bukanlah dewa, dan bukanlah iblis, bukan manusia, binatang, siluman atau raksasa. Pusaka dewa hanya benda. Oleh karenanya pusaka dewa telah luput dari permintaan sang raja raksasa dalam tapanya kepada sang pencipta.

__ADS_1


Pusaka dewa tak akan bisa bergerak jika tak digerakkan. Sekalipun aku yang menggunakannya sebagai senjata, aku tetap tak bisa membunuh raja raksasa itu. Tapi pusaka dewa bisa melakukannya jika ia hidup dan memiliki kehendak untuk membunuh raja raksasa itu. Kaulah pusaka dewa itu.” Kakek dewa itu menunjuk Batari Mahadewi.


__ADS_2