
Buyung dan Cendana sedang melakukan perjalanan untuk kembali ke istana. Keduanya berharap akan bertemu dengan Harimau Merah secara kebetulan, dan menangkapnya hidup-hidup. Namun jika hal itu tak terjadi, Buyung berencana untuk membahas persoalan itu lebih lanjut dengan Mahapatih dan adik-adik seperguruannya.
Butuh waktu sekitar lima hari perjalanan dengan kecepatan penuh tanpa halangan untuk bisa sampai ke kota Swargadwipa. Itupun, keduanya harus menggunakan tenaga dalam ekstra. Buyung masih bisa melakukan hal itu tanpa banyak kesulitan, mengingat hanya ia sajalah yang memiliki ilmu kanuragan paling lemah diantara yang lain. Namun jika kemampuan tenaga dalamnya bisa meningkat pesat, ilmu menguasai pikiran yang ia miliki merupakan ilmu langka yang berbahaya.
Sayangnya, Buyung tak memiliki minat sebesar minat adik-adiknya untuk terus meningkatkan energi dan ilmu beladiri. Sebaliknya, Buyung lebih senang menikmati segala sesuatu di sekitarnya, menikmati belajar susastra, belajar seni, dan segala hal yang bersifat mengolah pikiran.
Keduanya terus melaju menembus hutan, melewati pedesaan, menyeberangi sungai, mendaki bebukitan, dan sesekali mereka berhenti untuk sekedar memulihkan tenaga mereka.
Sungai menggerus bebatuan
ikan membelah arus,
suatu hari, akan ada batu tergelincir dan ikan mati.
O…siapakah yang paling kuat diantara ketiganya?
Sesekali Buyung merapalkan syair pendek, ketika ia merenungkan hidup, memandang alam, dan kesunyian pada tiap dedaunan yang setia menjaga kehidupan. Jalan pendekar adalah jalan tanpa ujung untuk menggapai pintu kematian. Bisa saja seorang pendekar diibaratkan sebagai sebuah sungai, atau ikan di dalam sungai, atau justru sebongkah batu di dalam sungai. Atau, bukan ketiga-tiganya.
“Apa yang kak buyung pikirkan?” tanya Cendana.
“Tidak ada. Hanya berkata-kata. Hal ini menyenangkan kalau sedang banyak pikiran. Ayo kita lanjutkan perjalanan jika kau sudah siap.” Kata Buyung.
Cendana tak melanjutkan bertanya. Ia sudah hafal perilaku kakaknya yang memang suka merangkai kata-kata. “Baik, kakak, aku sudah siap dari tadi.” Kata Cendana. Keduanya kembali menyusuri alam, mengarungi siang, menembus malam, menyambut fajar.
####
__ADS_1
Di istana, Jalu merasa gundah karena ayahnya memanggilnya. Ia tak suka jika harus mendengarkan rencana-rencana ayahnya untuk menjodohkan dirinya dengan putri Kumala. Dengan penuh rasa enggan, Jalu berjalan menuju kediaman ayah dan ibunya.
“Ayah memanggilku?” tanya Jalu.
“Kenapa kau tak datang ke sini setelah penyerangan itu?” Tanya Balarajasa dengan nada sedikit dingin. “Sesibuk apa kau di wisma keprajuritan hingga tak sempat pulang?”
“Maafkan saya, ayah.” Jalu tak bisa berkata-kata. Sulit baginya untuk mencari alasan, atau menutup-nutupi bahwa ia sedang menghindari pertemuan dengan ayah dan ibunya yang akan berujung pada pembicaran tentang perjodohannya.
“Sejak kemarin, Sri Maharaja menanyakan keadaanmu. Kau sudah dewasa, anakku, tidak semestinya kau bersikap seperti ini. Aku akan memaklumi jika kau masih dalam pengembaraan. Tapi sekarang kau ada istana, tidak bisakah kau menyempatkan waktumu barang sejenak?” kata Balarajasa.
Jalu diam seribu bahasa. Hatinya berkecamuk dan ia merasa lebih kacau lagi setelah ayahnya mengatakan sesuatu kepadanya.
“Sekarang, kau harus menghadap kepada Sri Maharaja. Jangan kemana-mana sebelum kau pergi menemui beliau.” Kata Balarajasa.
“Tapi ayah, seumur hidup saya belum pernah menghadap Sri Maharaja…” belum sempat Jalu menyelesaikan kalimatnya, ayahnya telah memotong pembicaraan.
“Baik ayah, saya akan ke sana.” Kata Jalu. Pemuda yang sedang penuh pikiran itu akhirnya pamit pergi untuk menghadap Sri Maharaja. Hatinya berdegub kencang sebab ia belum pernah berbicara langsung dengan Sri Maharaja Srengenge Ireng yang bagi dirinya, dan bagi banyak orang adalah raja yang penuh misteri. Ia tak banyak menampakkan diri dan konon karena kesaktiannyalah, akhirnya ia bisa menjadi raja.
Jalu tiba di area depan kediaman sang raja. Ia menyampaikan maksudnya kepada prajurit penjaga. Tak lama kemudian, ia dipersilahkan masuk.
Jalu merasa sangat kikuk. Dihadapannya telah menunggu sosok Sri Maharaja yang masih terlihat muda dan gagah meski ia seusia atau mungkit lebih tua dari Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Kemarilah, anakku. Kau sudah sebesar ini.” Kata raja Srengenge Ireng.
“Hamba memberi hormat, Sinuhun.” Kata Jalu sambil menghaturkan sembah.
__ADS_1
“Di ruangan ini, kau tak perlu bersikap seperti itu. Kemarilah, dan duduklah di situ.” Kata sang raja.
Jalu menurut. Ia masih belum tahu mau berbicara apa. Jantungnya berdebar-debar. Sosok raja di hadapannya memiliki karisma yang luar biasa yang membuatnya tak berani menatapnya. Jalu mengakui bahwa sosok itu memang pantas menyandang gelar raja, sang penguasa Swargadwipa.
“Aku dengar dari pamanmu, kemampuanmu meningkat pesat. Sudah sepantasnya kau memiliki jabatan di usiamu yang sekarang ini.” Kata sang raja.
“Hamba masih harus banyak belajar, Sinuhun.” Jawab Jalu. Ia ingin berkelit, namun rasanya sulit untuk tidak mengindahkan apa yang akan menjadi titah raja. Ia berharap, sang raja tak akan membahas urusan jodoh.
“Aku tahu, mungkin seusiamu masih ingin mengembara, menakar luasnya dunia. Maka tentu saja aku tak akan menghalangi keinginanmu itu. Aku juga pernah muda sepertimu, memulai segala sesuatu dari kekosongan. Hanya saja aku berpesan, jangan lupakan orang tuamu dan harapan-harapannya kepadamu.”
“Tentu paduka, hamba tak akan lupa.” Kata Jalu.
“Sebenarnya, hari ini bukan aku yang ingin bertemu denganmu. Teman masa kecilmu menunggumu di taman kaputren. Datanglah ke sana barang sejenak.” Kata sang raja. Jalu tak bisa mengelak. Maka dengan berat hati ia harus mematuhi perintah rajanya. Ia tahu yang dimaksudkan sang raja adalah putri Kumala. Hanya gambaran wajah kanak-kanak putri Kumala yang bisa Jalu ingat.
Jalu berjalan ke taman kaputren, tempat putri Kumala sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya. Ketika Jalu sudah menampakkan diri, sang putri yang berparas bidadari itu menyuruh semua pelayan untuk pergi.
“Hamba menghadap sang Putri.” Jalu memberikan hormat dan sikap yang formal.
“Kemarilah, kangmas Jalu. Sudah lama sekali kita tak bertemu. Apa kabarmu? Oh, janganlah bersikap kaku seperti itu. Kangmas bukanlah prajurit atau pesuruh kerajaan.” Kata putri Kumala.
Jalu sungguh tak tahu harus berbuat apa. Hatinya sungguh gelisah, pertemuannya dengan sang bidadari istana menjadi ujian atas keteguhan hatinya sebagai lelaki yang setia dengan kesederhanaan yang dihadirkan oleh sosok Niken. Namun bagaimanapun, ia juga harus menjaga sikap. Situasi seperti ini jauh lebih sulit dibandingkan dengan berkelahi melawan siluman.
“Baik, putri. Hamba hanya kikuk karena sudah lama tak bertemu dengan putri.” Kata Jalu masih dengan sikap hormat dan sopan sebagaimana ia harus bersikap kepada anak sang raja.
“Apa kabar kangmas Jalu?” tanya Putri Kumala.
__ADS_1
“Hamba dalam keadaan baik, putri.” Jawab Jalu.
“Kalau boleh, bisakah kakang memanggilku dengan sebutan nimas?” pinta putri Kumala.