
Pangeran kegelapan telah pulih. Selubung perisai itu pecah berhamburan. Para siluman putih tahu, gadis berkekuatan dewa itu sedang memulihkan diri. Maka tanpa harus diperintahkan, mereka menyediakan diri untuk menghalau sang pemimpin iblis itu, menahan selama mungkin agar Batari Mahadewi bisa menyerap lebih banyak lagi kekuatan ke dalam tubuhnya.
“Kalian benar-benar mau cari mati ya! Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku?” ancam pangeran kegelapan.
“Jika kami mati hari ini, setidaknya kematian kami tidak sia-sia. Tak ada lagi pasukan iblis yang akan memberikan kekuatan padamu. Gadis itu masih akan lebih kuat darimu, Andhakara!” kata siluman kera.
“Kalian bangsa siluman, kenapa tak mau berpihak padaku?! Aku bisa mengabulkan keinginan kalian!” kata Andhakara.
“Menjadi budakmu! Cih! Kami tak sudi. Kami siluman terhormat yang akan menjadi musuh abadi bangsa iblis!” Siluman kera itu melesat dan mengayunkan senjata pusakanya kea rah sang pangeran kegelapan.
Ayunan senjata itu ditepis dengan tebasan pedang pusaka ciptaan Nala dan seketika senjata pusaka siluman kera itu patah. Berikutnya, tendangan hebat mendarat di pungung siluman kera dan membuatnya jatuh terhempas ke laut. Siluman lainnya segera menyerang pangeran kegelapan bersama-sama.
Sang pangeran melesat, lalu ia menciptakan monster-monster sihir untuk menahan siluman itu. Dengan begitu, ia bisa melesat ke arah Batari Mahadewi dan menghabisi gadis yang belum sepenuhnya pulih itu.
Ratusan monster tiba-tiba muncul membentengi sang pangeran dari serangan para siluman putih itu. Maka siluman gajah maju ke barisan paling depan. Dengan segenap kekuatan yang ia miliki, ia meniup ratusan monster itu hingga terbang berhamburan, lalu lenyap begitu saja.
“Sihirmu tak mempan bagi kami, Andhakara!” kata siluman gajah.
“Tetapi pedangku mungkin akan menghabisi kalian dengan mudah!” Pangeran Kegelapan melesat dengan cepat, menyerang siluman-siluman itu dengan pedang pusaka itu.
Sangat sulit untuk menahan kekuatan dari pedang pusaka sakti yang telah terisi berbagai jenis mustika iblis itu. Kekuatan serangan pangeran kegelapan yang mengalir dalam pedang itu menjadi berlipat ganda dampaknya. Perisai energi masih bisa ditembus dengan mudah. Bagaimanapun juga, mereka adalah siluman. Sekuat apapun, bukanlah tandingan pangeran kegelapan.
Satu per satu para siluman putih itu gugur dan tersisa hanya siluman gajah, siluman naga, dan siluman kera yang belum juga muncul setelah jatuh ke laut.
“Aku beri kalian satu kesempatan lagi, mau bergabung denganku atau mati!” bentak pangeran kegelapan dengan suara parau.
“Kami tak akan bergabung denganmu. Tapi coba kau lihat dulu seperti apa bentuk kami jika kami berdua bergabung menjadi satu!” kata siluman naga putih.
__ADS_1
“Apa maksudmu?” tanya pangeran kegelapan.
“Lihat baik-baik,” siluman gajah putih memutuskan untuk menyatukan dirinya dengan siluman naga. Kekuatan gabungan itu menjadi meningkat beberapa kali lipat, hanya saja bentuknya aneh; seekor naga yang panjang dengan perut gendut dan kaki gajah, serta dua telinga raksasa di kepala naga itu. Seandainya ada belalainya, bentuk gabungan itu sama sekali tak terlihat menyeramkan.
“Lalu, jika kalian bergabung, apakah kalian bisa mengalahkanku?” ejek pangeran kegelapan.
“Tentu saja tidak, tapi kami telah mengulur waktumu, bukan?!” siluman gajah-naga itu balas mengejek. Sang pangeran kegelapan jelas kesal sekali.
Pangeran kegelapan melesat ke arah siluman gajah-naga itu untuk menebasan pedangnya. Naga gendut itu hanya diam saja, menanti sang pangeran benar-benar datang mendekat. Begitu ujung pedang sang pangeran tinggal sejengkal saja jaraknya, siluman gajah-naga itu membuka mulutnya, lalu menyemburkan api dengan kekuatan besar. Pepaduan nafas naga dan nafas gajah itu membuat pangeran kegelapan terlempar sangat jauh.
Dampaknya tak seberapa, namun pangeran kegelapan benar-benar dibuat kesal, seolah ia dipermainkan. Siluman gajah-naga itu seolah tampak tak takut dengan kematian.
Sang pangeran sekali lagi melesat dengan kecepatan tinggi. Ia mengayunkan pedangnya ke arah lawannya yang terlihat lamban itu. Namun ternyata siluman yang gendut itu tidak lamban. Siluman itu bisa menghindar dan dengan cepat melakukan serangan balik, melilit tubuh sang pangeran dengan cengkeraman yang sangat kuat.
“Kami tak akan pernah menang melawanmu, Andhakara, tetapi kami bisa menyakitimu. Selamat tinggal!” siluman gajah-naga itu meledakkan diri. Sebuah ledakan yang besar dan membuat pangeran kegelapan engerang kesakitan meski tubuhnya masih utuh.
Tabrakan yang sangat keras. Keduanya sama-sama terpental.
Pangeran kegelapan kembali melesat menuju ke penghalang terakhir yang ternyata masih hidup itu. Dengan ganas pedangnya menyapu tubuh siluman kera dengan kekuatan api. Tubuh itu terpotong sekaligus terbakar hingga menjadi abu. Kemarahannya terlampiaskan.
Tenaga sang pangeran kegelapan lumayan terkuras ketika menghadapi para siluman putih itu. Selagi Batari Mahadewi masih dalam sikap diam bersila, ia melesat dan mengayunkan senjatanya. Hanya saja, tubuh Batari mahadewi tiba-tiba menghilang, dan tanpa di sadari, ia sudah ada di belakang pangeran kegelapan, menghujamkan kukunya, lalu menghentakkan kekutan besar yang meledak di tubuh Andhakara.
Tubuh itu berlubang, namun juga lekas menutup.
“Kau memang lawan tertangguh yang pernah kuhadapi, gadis sialan!” kata pangeran kegelapan.
“Maka menyerahlah, serahkan kembali Nala padaku. Aku masih memberikan tawaran yang sama!”
__ADS_1
“Jika aku meledakkan tubuhku sendiri, bukankah kekasihmu itu akan mati!” sang pangeran kegelapan mencoba memberikan ancaman.
Batari Mahadewi tak mempan dengan ancaman itu. Ia tahu, Andhakara tak akan melakukannya, sebab sang pangeran kegelapan itu benar-benar ingin bangkit dan berkuasa kembali.
“Aku tak peduli. Lakukan saja! Makhluk licik sepertimu pasti tak akan berani bunuh diri!” ejek Batari Mahadewi.
Andhakara terlihat murka. Ia membagi dirinya menjadi sepuluh, lalu menyerang Batari Mahadewi secara bersama-sama. Dengan demikian, semakin tahulah Batari Mahadewi bahwa lawannya itu mulai frustasi dan tak mampu lagi berfikir jernih. Sepuluh bagian itu justru hanya merugikan diri pangeran itu sendiri. Batari Mahadewi melenyapkannya dengan sangat mudah dan tinggalah satu bagian utama yang terlihat semakin lelah itu.
Batari mahadewi melesat ke arah pangeran kegelapan. Sang pangeran bersiap menyambutnya. Seolah-olah gadis itu hendak menyerang namun ketika nyaris dekat, tiba-tiba ia menghilang lagi dan berada di belakang Andhakara, menghujamkan kembali kukunya ke punggung itu, dan mendorongnya melesat dengan kecepatan tinggi.
Sang pangeran tak berdaya dengan kuku yang masih tertancap di punggungnya itu. Kuku yang tertancap itu bagaimanapun juga mampu menyerap kekuatannya. Keduanya masih meluncur cepat. Melewati pulau demi pulau dan entah akan ke mana. Batari Mahadewi melihat sebuah gunung yang menjulang tinggi. Ia menabrakkan pangeran kegelapan ke gunung itu. Ledakan besar kembali terjadi. Gunung itu tak hanya berlubang, namun juga runtuh.
Tak selesai sampai di sana, Batari Mahadewi menghentakkan semua kekuatan yang ia serap dalam bentuk jurus petir. Ledakan besar menghempaskan bebatuan gunung itu. Tubuh pangeran kegelapan terbelah menjadi beberapa bagian, lalu menyatu kembali, namun tak kunjung bangkit.
Perlahan-lahan tubuh itu bergerak, berdiri, dan mencengkeram pedang besarnya dengan susah payah. “Aduh, sakit sekali, Tari! Kau memukulku terlalu keras!” itu adalah suara yang sangat dikenal oleh Batari Mahadewi. Bukan suara yang tak serak dan menyeramkan, tapi suara yang selalu membuatnya rindu.
“Nala, kaukah itu?” mata Batari Mahadewi berkaca-kaca.
“Ya, ini aku. Apakah kau baik-baik saja?”
“Ya, sangat baik Nala.” Gadis itu terlalu senang. Ia melompat dan memeluk tubuh kekasihnya itu. Ia memeluk sangat erat dan tangisnya pecah kembali. Namun tiba-tiba pedang besar itu menghunus pinggang kanannya hingga menembus di pinggang kirinya.
Batari Mahadewi sadar ia telah ditipu oleh Andhakara. Maka, dengan usaha terakhirnya, ia menggigit leher pangeran kegelapan itu dengan taringnya, menghunuskan kuku tangannya di kedua bahu sang pangeran kegelapan itu.
Taring senjata pamungkas yang tak pernah digunakan itu tak hanya menyerap kekuatan, namun juga jiwa sang pangeran kegelapan. Andhakara berteriak kesakitan.
Hanya saja, belum sempat jiwa itu habis sepenuhnya, dengan sisa kekuatan yang dimiliki, Andhakara mengayunkan pedangnya sekuat tenaga dan membuat gadis jelmaan pusaka dewa itu terlempar sangat jauh, lalu jatuh tenggelam ke dalam laut.
__ADS_1