
Malam mulai merayap menyelimuti desa itu. Serangga malam mulai bernyanyi, mengisi kesunyian dengan do’a-do’a yang hanya bisa dipahami oleh bangsa binatang, seperti lagu pengantar tidur untuk dedaunan dan rerumputan yang telah lelah seharian memanggul matahari.
Warga desa tidur dalam damai yang tak terusik dengan ingatan tentang peristiwa memalukan yang dialami oleh para berandalan yang telah diusir Pradipa dalam keadaan hampir telanjang. Namun kesunyian tak akan bertahan sampai pagi. Para berandal itu melaporkan kejadian yang menimpa mereka pada pimpinannya, pendekar aliran hitam yang bernama Taring Setan.
Mereka berharap pimpinan mereka akan membalaskan rasa malu yang mereka alami. Namun mereka mendapatkan lebih dari itu, kepala mereka terpental jauh dalam sekali hentakan.
“Dasar begundal tolol!” Pekik pendekar Taring Setan. “Malam ini kita ke desa itu. Aku ingin tahu apakah pendekar yang mereka maksud itu masih ada di sana atau tidak. Jikalau tidak, bakar desa itu. Aku ingin hartaku kembali.” Pendekar Taring Setan menyuruh anak buahnya bersiap untuk meratakan desa itu dengan tanah malam itu juga.
Taring Setan telah lama menjadi pendekar aliran hitam sekaligus perampok yang suka menjarah desa-desa yang mereka lalui. Ia mendapat julukan sebagai pendekar Taring Setan bukan karena tanpa alasan. Ia memiliki sepasang taring panjang yang ia gunakan untuk menghisap darah lawan-lawannya.
Wajahnya mengerikan, ia memiliki kepala gundul dengan mulut yang lebar seperti mulut ular. Tubuhnya tinggi besar dan sepenuhnya berwarna pucat seperti mayat. Setiap kali ia menghisap darah lawan-lawannya, pada saat itu pula ia menghisap kesaktian lawan-lawannya. Setiap kemenangan akan menjadi kekuatan baru baginya. Ia akan sangat bersemangat apabila berhadapan dengan pendekar berilmu tinggi. Jika ia menang, maka ia akan memiliki kesaktian lawannya.
####
Pradipa telah memesan dua kamar untuk dirinya dan Niken. Keduanya masih terjaga dalam kamar masing-masing, menunggu serangan yang mungkin saja akan terjadi tiba-tiba. Mereka telah hafal gelagat para begundal, yang memanfaatkan kesunyian untuk membuat kekacauan.
Gerombolan pendekar Taring Setan dan anak buahnya diam-diam menyusup ke dalam desa. Mereka membakar satu persatu rumah yang mereka lalui. Kesunyian malam damai itu berubah menjadi neraka. Warga desa berteriak histeris. Kentongan dipukul bertalu-talu. Pradipa dan Niken segera bergegas keluar penginapan, melenting mendekati sumber kekacauan.
“Jika kalian mencari kami, maka tak perlu membakar rumah-rumah ini.” Kata Pradipa.
__ADS_1
“Rupanya kalian yang menjadi pahlawan desa hari ini! Bagus, sudah lama aku tak bertarung dengan pendekar. Jurus-jurusku sudah haus darah. Bersiaplah kalian pergi ke neraka.” Kata pendekar Taring Setan. ia melepaskan energi hitamnya yang penuh racun. Udara malam yang dingin berubah menjadi pengap dan bau bangkai.
Pradipa membalas tantangan itu dengan mengeluarkan pancaran energinya. Keduanya kemudian saling bertukar serangan dengan kecepatan tinggi. Niken tak mau tinggal diam, ia melontarkan butiran es sebesar biji kopi ke arah anak buah pendekar Taring Setan. Dalam waktu singkat, pendekar pucat berkepala botak itu telah kehilangan puluhan anak buahnya. Melihat hal itu, ia sangat geram. Namun ia tak bisa berbuat banyak selain harus menghindari pukulan-pukulan Pradipa yang sangat cepat.
Pendekar Taring Setan harus beraksi cepat agar tak kehilangan banyak anak buah. Maka ia gunakan jurus-jurus andalan dari pendekar-pendekar yang telah ia kalahkan. Pradipa sedikit terdesak. Pradipa mengeluarkan pusaka sakti miliknya yang ia sembunyikan di dalam tubuhnya. Sebuah keris panjang dan besar berwarna hitam yang memancarkan cahaya biru. Keris Bintang Timur, senjata sakti yang ia dapat dari pemberian gurunya.
Keris itu menangkal semua racun yang dilontarkan oleh pendekar Taring Setan. Dalam satu kali tebasan, keris yang telah dialiri tenaga dalam tinggi itu melibas dan menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Pendekar Taring Setan tak berani menangkis serangan dari senjata sakti itu, ia lebih memilih untuk melenting dan menyamarkan dirinya dalam kegelapan. Tubuhnya tak tampak, namun pancaran energinya masih bisa ditangkap oleh Niken dan Pradipa sehingga kemanapun ia bersembunyi, keberadaannya akan terungkap.
“Niken, kau selesaikan anak buah berandalan itu, biar aku yang mengurusi pendekar gundul itu.” Kata Pradipa.
“Baik, kakak.” Niken sekali lagi menghempaskan butiran-butiran es ke arah para berandalan tak berguna yang menjadi kacung pendekar Taring Setan. Tak ada perlawanan berarti karena mereka semua bukanlah pendekar. Hanya tukang pukul yang ditakuti warga biasa.
Pradipa mengejar pendekar Taring Setan dalam kegelapan malam. Pendekar aliran hitam itu tahu segala ilmu yang ia miliki tak bisa mengalahkan Pradipa dengan senjata saktinya itu. Maka ia menggunakan siasat kotornya, menyandera salah satu warga agar Pradipa berhenti menyerangnya.
“Hahaha…jatuhkan senjatamu atau perempuan ini akan kehilangan nyawanya.” Kata pendekar taring Setan yang mencengkeram leher seorang perempuan yang tengah hamil dan ketakutan itu. Tak ada warga yang berani mendekat. Bahkan suami dari perempuan itu lebih memilih bersembunyi di kandang sapi dari pada mengorbankan dirinya demi istrinya yang tengah mengandung anaknya itu.
“Rupanya kau tak cukup jantan menghadapi kematianmu, pendekar gundul!” kata Pradipa.
“Namaku Taring Setan. Jangan pernah memanggilu pendekar gundul!” Kata pendekar Taring Setan.
__ADS_1
“Namun kepalamu benar-benar gundul. Mungkin rambut-rambutmu tak sudi tumbuh di kepala seorang pengecut sepertimu.” Kata Pradipa memancing kemarahan pendekar Taring Setan sambil memutar otaknya mencari cara menyelamatkan perempuan itu.
“Kak Pradipa, serahkan masalah ini padaku.” Kata Niken. Pradipa tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Niken. Tapi ia tak bisa apa-apa dalam situasi tersebut dan membiarkan Niken untuk mencobanya.
Niken berniat menggunakan jurus Nyanyian Pengantar Mimpi untuk melumpuhkan lawannya itu. Ia mulai menyenandungkan lagu lirih dengan gelomban suara yang mengandung tenaga dalam tinggi, mengarahkaan energi itu menuju pendekar Taring Setan seorang.
Pendekar itu tercekat, namun terlambat untuk menyadari bahwa ia sudah dikendalikan oleh nyanyian Niken yang merampas kesadarannya. Pedekar itu memejamkan matanya, tertidur dalam posisi berdiri sambil tersenyum. Rohnya lepas dari tubuhnya yang tiba-tiba ambruk. Pendekar Taring Setan itu tidur untuk selamanya.
Pradipa tak menyangka bahwa Niken memiliki jurus mematikan yang bahkan ia belum tentu bisa mengatasinya. ‘Pantas saja ia bisa melumpuhkan pendekar Sungai Darah yang mengerikan itu. Andai saja ia tak kehilangan banyak tenaga waktu itu, ia bisa saja melumpuhkan pendekar Sungai Hitam dan Sungai Jingga.’ Batin Pradipa.
Setelah pertarungan itu berakhir, semua warga desa berbondong-bondong mendekat, memadamkan beberapa rumah yang terbakar, menolong beberapa rekannya yang terluka, serta mengurus beberapa mayat dari pihak Taring Setan.
“Terimakasih tuan dan nona pendekar, seandainya tuan dan nona ini tidak ada di desa kami, maka mungkin kami tak bernyawa lagi sebagaimana yang telah dialami oleh desa sebelah beberapa hari yang lalu.” Kata salah satu dari warga desa itu.
“Paman tidak perlu cemas lagi sekarang. Gerombolan penjahat itu telah punah beserta pimpinan mereka.” Kata Pradipa.
Hingga menjelang subuh, para warga baru bisa bernafas lega. Mungkin butuh waktu lama untuk menghilangkan trauma dari serangan malam itu. Ketika mereka mencari lagi sosok kedua pendekar yang telah menolong mereka, Niken dan Pradipa telah jauh melesat menyusuri hutan. Mereka tak mau terlalu terlibat dalam ikatan emosional para warga di desa yang baru saja mereka tolong itu.
####
__ADS_1
Ketemu besok lagi ya teman2. Terimakasih banyak 🙏🙏🙏