
Selama beberapa hari di kuil suci pulau Es, Batari Mahadewi dan Nala sedang berlatih dasar-dasar ilmu yang dimiliki oleh manusia pulau Es. Ebe menyuruh Batari Mahadewi dan Nala untuk mempelajari kitab rahasia yang menjadi pusaka di pulau itu. Tanpa kemampuan menciptakan energi dingin sebagai dasar, lalu berkembang ke penciptaan dan pengendalian material dingin, maka Batari Mahadewi dan Nala tak akan bisa berhasil menyerap energi dari sumber utama.
Di luar kota, tanpa di sadari oleh siapapun, Vauran yang telah berhasil mengambil energi Nala kini sedang menjalankan rencananya untuk menghancurkan kota es.
Ia pergi ke sebuah gunung es keramat yang di dalamnya tersegel berbagai jenis monster pulau es yang berusia lebih tua darinya. Vauran membutuhkan jenis energi lain selain yang bisa ia dapatkan dari pulau Es, dan yang yang ia dapatkan dari Nala merupakan sebuah kesempatan besar baginya.
Dengan mudah Vauran menemukan keberadaan penjara es yang mengurung Vukku, seekor makhluk buas berukuran raksasa. Vukku hanyalah monster bodoh yang kuat. Tubuhnya yang besar membuatnya bergerak dengan sangat lambat. Makhluk itu berbentuk menyerupai seekor monyet besar berkepala kerbau. Seluruh tubuhnya ditumbuhi dengan bulu-bulu putih yang tebal.
Setelah membebaskah makhluk itu, Vauran segera memulihkan energ Vukku dan menanamkan beberapa bagian dari tubuhnya ke dalam tubuh makhluk itu agar Vauran bisa mengendalikan Vukku sesuai dengan perintahnya. Vauran tahu, ia hanya memiliki sedikit waktu sebelum semuanya terlambat. Kehadiran dua manusia api di pulau es itu jelas akan menjadi ancaman baginya.
Setelah Vukku pulih sepenuhnya, Vauran membawanya pergi ke pusat kota pulau Es dan menuruh Vukku untuk menghancurkan mantra-mantra pelindung kota yang pusatnnya berada di atas pintu masuk kuil suci.
Kedatangan Vukku jelas membuat gempar para manusia es yang ada di kota itu. Hentakan kaki Vukku yang berukuran besar itu membuat bumi berguncang, lalu makhluk itu melesat menuju kuil suci dan menghantamkan kepalan tangannya tepat di aksara yang mengiasi bagian atas puntu masuk kuil suci. Mantra pelindung kota itu telah hancur dan Vauran akhirnya bisa memasuki kota itu.
Semua penjaga kuil suci, Batari Mahadewi, Nala, dan semua petarung yang berada di pulau Es keluar dari dalam gunung. Semua bersiap untuk menghadapi raksasa besar yang datang menyerang itu.
__ADS_1
“Vakka telah dibangkitkan!” kata Ebe, “Seharusnya jika makhluk itu bebas, ia tak akan bisa dikendalikan. Itu artinya, Vauran telah berbuat sesuatu kepada makhluk itu. Ayo kita serang dua makhluk itu bersama-sama.”
Ebe, Batari Mahadewi dan Nala melesat ke arah Vauran, sementara para penjaga kuil suci lainnya, beserta para petarung di pulau Es bersama-sama menyerang Vukku. Pertempuran sengit terjadi begitu cepat di pulau Es.
Vukku memporak porandakan arena pertempuran dengan badai es yang ia ciptakan. Para petarung pulau Es memanicingnya agar menjauh dari gunung yang menjadi pusat kota, sebab kekuatan Vukku bisa saja menghancurkan gunung itu.
Sementara, Ebe, Batari Mahadewi dan Nala tak bisa berbuat banyak. Ketiganya harus memusatkan perhatian kepada Vauran yang tampak angkuh dengan apa yang ia perbuat. Makhluk itu sangat yakin kali ini ia bisa mendapatkan yang ia inginkan, yakni kembali ke pusat energi dan menjadi satu dengan asal usulnya, lalu kemudian ia bisa terlahir kembali menjadi makhluk baru yang jauh lebih kuat dan akan menjadi ancaman bagi dunia tiga rembulan.
Nala menjadi yang pertama menyerang Vauran. Ia mengubah wujudnya menjadi butiran-butiran mineral api yang bergerak dengan kecepatan tinggi, lalu berputar-putar di sekeliling Vauran dan menciptakan hawa panas yang pekat. Nala tak mau mengulang cara sama yang membuatnya gagal. Dengan caranya itu, Vauran terpaksa harus memusatkan perhatiannya kepada Nala yang setiap saat bisa menghantamnya dengan serangan api. Vauran hanya melindungi dirinya dengan perisai es. Diam-diam, dari jarak yang jauh, Ebe berusaha menghalau setiap pergerakan energi Vauran. Ebe menyibakkan seluruh salju di sekitar arena pertarungan sehingga arena itu hanya berupa bebatuan dingin yang keras sebab seluruh salju tebal yang menyelimutinya telah disingkirkan oleh Ebe.
Hal itu tentu saja menyulitkan Vauran sebab Nala memiliki celah lain yang bisa ia pergunakan untuk menyerang makhluk yang sedang ia kepung dengan pusaran api itu. Nala menambah serangannya dengan mengubah material bebatuan di sekitarnya menjadi bongkahan api yang beterbangan mengepung Vauran. Hal yang dilakukan oleh Nala tentu saja membutuhkan energi besar dan cara yang ia itu lakukan tak akan bertahan lama.
Ketika di sekelilingnya tak ada salju, maka bagi Vauran bukanlah hal mudah untuk memulihkan dirinya atau mengembalikan bagian tubuhnya yang hilang. Nala merubah dirinya menjadi lumpur api dan kali ini ia yakin dengan yang ia lakukan. Nala menyelimuti tubuh Vauran dengan tubuhnya yang berupa lumpur api panas berwarna hitam. Lumpur api itu terus bergerak dan membungkus rapat Vauran tanpa celah. Dengan demikian, berakhirlah nasib putri salju yang kini berubah menjadi abu itu.
Tinggal satu masalah saja yang belum selesai, Vukku terus mengamuk dan dengan musnahnya Vauran, maka makhluk itu bebas tanpa kendali siapapun dan Vukku kini hanyalah makhluk besar dan buas serta memiliki kekuatan yang besar.
__ADS_1
#####
**Seperti yang pernah aku sampaikan sebelumnya, kadang-kadang aku akan menjawab beberapa pertanyaan yang aku anggap menarik di sini. Kali ini, pertanyaan yang ingin aku jawab adalah; bagaimana sih prosesnya menulis cerita ini? Ide-idenya dari mana?
Aku tak bisa menulis jika tak ada hal-hal yang aku ketahui untuk dituliskan. Jika aku menulis artikel tentang kopi, tentu aku harus mencari tahu berbagai informasi tentang kopi dengan cara beli kopi, membuat kopi, minum kopi, lalu bertanya-tanya tentang kopi kepada ahli kopi, dan juga membaca tulisan-tulisan yang telah membahas kopi dari berbagai media.
PBM bukanlah kopi. PBM adalah sebuah cerita silat, cerita fantasi, cerita tentang kekuatan dan pertarungan. Lalu bahan-bahannya dapat dari mana? Sejak SD aku sudah kecanduan film kartun Dragon Ball Z yang ditayangkan setiap hari minggu. Lalu ketika SMP, aku diperbolehkan menyewa komik dan akhirnya uang jajanku kuhabiskan untuk menyewa berbagai komik yang tak hanya Dragon Ball Z, namun juga komik-komik lainnya, entah sudah berapa banyak yang kulahap dan mengendap dalam tabungan bawah sadarku.
Seiring perjalanan waktu, yang aku konsumsi bukan hanya komik saja, ada film, ada novel, ada komik grafis, ada animasi, ada game, dan berbagai media fantasi lainnya. Barangkali karena itulah, PBM terasa komik, dan sudah pasti teman-teman banyak menemukan hal familiar di PBM pada karya-karya lain.
Bisa dibilang, ketika menulis PBM, aku meramu berbagai bahan imajinasi dari fiksi-fiksi yang telah aku konsumsi sebelumnya, lalu merangkai imajinasi-imajinasi itu menjadi sebuah cerita lain dalam PBM ini.
Kadang aku berdiskusi dengan istriku, terutama ketika awal-awal aku nulis cerita ini. Eh, teman-teman tau ga ya, istriku itu penulis novel AMBERLEY. Namanya Novita Budi Lestari. Mampirlah dan baca karyanya selagi teman-teman menunggu update Batari yang baru. Karya itu top recommended dari ku.
Novi banyak berperan untuk membantu melebarkan imajinasiku, sekaligus menjadi satpam yang ngontrol kalau alur ceritanya ada yang aneh. Tokoh Nala itu salah satu pemicunya karena suatu hari Novi pengen ada satu tokoh aliran hitam yang bisa mengimbangi Batari. Hanya karena ide sederhana itu, pada akhirnya Nala malah berpetualang dengan Tari di dunia tiga rembulan, dan syukurlah dengan adanya dunia tiga rembulan, aku ada celah untuk mencarikan jalan buat Batari membuka segel energinya. Nek ming mbulet ning Swargadwipa paling aku wis korslet kentekan ide.
__ADS_1
Sebenarnya, menulis setiap hari kayak gini ini ada dampak negatifnya. Mutu cerita bisa turun mengingat semakin bertambah chapter, maka semakin sulit menuliskannya, dan menjaga konsistensi dari logika cerita yang sudah di bangun sejak awal. Mau bagaimana lagi, aku harus update tiap hari. Jadi, teman-teman boleh kasih saran dan kritik apabila menemukan hal yang aneh mengingat proses menulis cerita yang baik itu seharusnya tak seperti ini; tulis-edit-publish, melainkan seperti ini; tulis-edit-edit-edit-edit….publish.
Baiklah teman-teman, sampai di sini dulu ya. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Jaga kesehatan. Semoga Tuhan selalu melindungi kita semua**.