
Tiga saudara seperguruan itu melepas rindu dengan bercerita tentang banyak hal, mulai dari petualangan Batari Mahadewi dan Nala di dunia tiga rembulan, hingga serangan Swargabhumi sampai serangan pasukan kerajaan hitam Tirayamani. Namun Batari Mahadewi tak menceritakan secara gambling tentang semua kekuatan yang ia peroleh selama ia dan Nala berada di dunia tiga rembulan.
“Jadi saat ini, wilayah barat sedang berjuang menghadapi pasukan kerajaan hitam itu?” tanya Batari Mahadewi usai ia mendengarkan cerita dari Jalu dan Niken.
“Ya. Dan mungkin saat ini mereka sedang dalam posisi bertahan. Belum ada berita baru yang sampai di sini.” Kata Niken.
“Jadi inilah alasan banyak pendekar berkumpul di sini. Tapi kenapa kita tak membantu wilayah barat?” tanya Batari Mahadewi.
“Kita tak bisa melakukannya, adik. Situasinya tak sesederhana itu. Tapi kini setelah ada kamu di sini aku jadi berfikir tentang hal lain.” Kata Jalu. Batari Mahadewi tak terlalu mengerti dengan alasan yang telah disampaikan Jalu. Tentu saja ia yang memiliki kekuatan berbeda dengan orang lain di dunia satu rembulan juga memiliki pandangan yang berbeda dengan peristiwa yang sedang terjadi di Mahabhumi. Jika menurutnya, membantu wilayah barat bukanlah suatu masalah, namun orang-orang di wilayah timur tak banyak yang berfikir sama dengan apa yang ia pikirkan. Setidaknya, ia senang ketika mendengar bahwa Jalu memikirkan hal lain.
“Kakak berfikir bahwa kita mungkin saja pergi ke wilayah barat tanpa melibatkan banyak orang?” tanya Niken.
“Ya, kita bertiga saja. Sejujurnya, aku sangat penasaran dengan situasi di sana. Kita tak harus bersinggungan langsung dengan para pasukan kerajaan hitam itu jika situasinya tidak memungkinkan.” Kata Jalu.
“Menurutku, tak masalah jika kita membantu di wilayah barat. Kita tak boleh membiarkan mereka semua mati. Jika wilayah timur keberatan membantu karena merasa khawatir atau masih enggan karena persoalan perang yang belum tuntas, namun menurutku jika kita membantu mereka di saat-saat genting seperti ini, maka mereka tak akan pernah lagi berfikir untuk memerangi wilayah timur.” Kata Batari Mahadewi.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu berniat untuk pergi ke barat dan menolong semua orang yang ada di sana. Ia berfikir jika saat itu ada Nala, maka untuk menyelesaikan masalah di wilayah barat bisa semudah membalik telapak tangan. Namun ia tak ingin menyita waktu Nala yang sedang mencari kakaknya. Ia yakin, bahkan jika ia sendirian saja, ia bisa menyelesaikan masalah itu.
“Tapi kita harus meminta izin kepada guru. Siapa tahu beliau mencari kita.” Kata Niken.
__ADS_1
“Ya, aku mau bertemu guru. Sepertinya, para sesepuh sedang berkumpul di perguruan Lentera Langit, bukan?” kata Batari Mahadewi.
“Ya, adik benar. Para pendekar sepuh di wilayah timur sedang berkumpul semua di sana. Ayo kita ke sana.” Kata Jalu.
“Ayo!” balas Niken. Kedua pendekar itu melenting dengan kecepatan sedang dan diikuti Batari Mahadewi dibelakang mereka. Awalnya, Batari mahadewi ingin menunjukkan kemampuan uniknya, yakni berpindah dalam satu kedipan mata. Namun ia urungkan niat itu. Lagipula, dengan perjalanan normal ala pendekar seperti itu, Batari Mahadewi bisa melihat-lihat keadaan langsung; mengenali berbagai pendekar yang menghuni kota Mutiara Biru.
Tentu saja penampilan Batari Mahadewi yang aneh itu menarik perhatian para pendekar yang melihat mereka bertiga melintas cepat. Terlebih, dengan paras Batari Mahadewi yang terlihat seperti siluman cantik itu menjadi daya tarik yang tak bisa abaikan oleh siapapun. Banyak yang bertanya-tanya, siapakah gerangan perempuan itu?
Tak butuh waktu lama bagi ketiga pendekar itu untuk sampai di gerbang perguruan Lentera Langit. Murid Ki Cakra Jagad yang sedang berjaga mempersilahkan masuk begitu ia melihat Jalu dan Niken; dua murid Ki Gading Putih itu sudah banyak dikenal di kalangan para pendekar di Swargadwipa sejak mereka banyak berkiprah untuk membantu kerajaan saat Swargabhumi menyerang.
Setelah memasuki pelataran dalam perguruan terbesar di kota Mutiara Biru itu, ketiganya langsung menuju ke kediaman Ki Cakra Jagad yang masih dihuni oleh para tetua pendekar di wilayah timur. Ki Cakra Jagad keluar dari kediamannya setelah Jalu mengucap salam. Pendekar tua itu tertegun dan terdiam lama ketika menatap Batari Mahadewi.
“Lama sekali tak berjumpa, paman guru. Ini aku, Batari Mahadewi.” Kata Batari Mahadewi membantu sosok tua itu mengenali dirinya. Tak lama kemudian, Ki Gading Putih menyusul keluar ruangan setelah ia mendengar percakapan di luar. Ia tak kalah kaget dengan Ki Cakra Jagad ketika menatap Batari Mahadewi setelah sekian lama tak berjumpa.
“Benar sekali. Setahun yang lalu, ia hanya setinggi ini.” Kata Ki Cakra Jagad sambil menaruh tangganya di bawah dadanya.
“Hahaha, panjang sekali ceritanya, guru. Nanti pasti aku ceritakan. Yang pasti aku senang bisa kembali lagi ke dunia ini setelah sebelumnya aku terlempar ke dunia dengan tiga rembulan di langit.” Kata Batari Mahadewi.
Perubahan wujud Batari Mahadewi yang tak hanya telah bertubuh dewasa, namun juga terlihat tak seperti manusia pada umumnya, membuat kedua tetua pendekar itu menakar seberapa kuat kemampuan gadis itu. Ki Gading Putih menjadi sangat yakin bahwa Batari Mahadewi adalah titisan dewa.
__ADS_1
“Kami ingin memohon izin kepada guru untuk melihat keadaan di wilayah barat.” Kata Jalu. Beberapa pendekar sakti dari wilayah timur memang telah ada di wilayah barat untuk memantau keadaan dan memberikan laporan secepatnya jika ada perkembangan. Setidaknya, saat ini Pradipa dan Anjani telah ada di wilayah barat untuk mencari berita. Dua pendekar itu lebih sering bersama sejak keduanya berkenalan di balai keprajuritan Swargadwipa.
“Kakakmu belum kembali, bukan?” tanya Ki Gading Putih kepada Jalu. Tentu kakak yang dimaksud guru itu adalah Anjani.
“Belum, guru.” Kata Jalu.
“Berhati-hatilah kalian. Segera kembali jika keadaannya berbahaya.” Kata Ki Gading Putih.
“Baik, guru.”
Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi melesat keangkasa dan terbang ke arah barat setelah mendapatkan izin dari guru mereka. Setelah ketiganya pergi, Ki Gading Putih dan Ki Cakra Jagad saling berpandangan. Keduanya sepakat bahwa ada secercah harapan.
“Kau lihat kan? Meski ia tak menunjukkannya, kekuatannya luar biasa besar. Kita bisa merasa sedikit lega sekarang.” Kata Ki Gading Putih sambil mengelus jenggotnya.
“Sungguh tak bisa kupercaya. Dulu ketika ia masih anak gadis, kemampuannya sudah jauh melampauiku. Mungkin saat ini, jikalau kita semua yang ada di sini bertarung dengannya, sudah pasti kita semua bukan tandingannya.” Kata Ki Cakra Jagad.
“Jadi, tak ada gunanya kita terus berfikir di sini. Ada baiknya kita bagi tugas. Sebagian berjaga di sini, sebagian pergi ke barat, dan sebagian lainnya mencari tahu segala pengetahuan berharga dari kitab-kitab masa lalu.” Kata Ki Gading Putih.
Para sesepuh itu melanjutkan pembicaraan di dalam. Tentu selain membicarakan fenomena Batari Mahadewi, mereka juga membagi tugas. Tak ada gunanya menunggu hal yang tak pasti di sana terus menerus. Beberapa tetua justru sangat antusias untuk pergi ke wilayah barat. Selain ingin mengetahui berita yang ada di sana, mereka penasaran dengan sosok Batari Mahadewi yang kini telah tumbuh dewasa.
__ADS_1