Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 145 Pesan Rahasia Pasukan Mata-Mata


__ADS_3

Pada masa-masa genting di Swargadwipa, prajurit yang paling sibuk bekerja siang dan malam adalah para prajurit mata-mata yang ditugaskan untuk memantau pergerakan lawan. Mahapatih Siung Macan Kumbang sudah sejak lama mengirimkan pasukan mata-mata untuk menyusup sebagai prajurit kerajaan Swargabhumi, beberapa tahun sebelum akhirnya kerajaan itu memutuskan untuk berperang melawan Swargadwipa.


Sebaliknya, Kerajaan Swargabhumi pun melakukan hal yang serupa, yakni mengirimkan pasukan khususnya untuk menyusup diantara para prajurit Swargadwipa. Kadang-kadang, prajurit mata-mata itu dilatih secara khusus agar bisa menyusup sebagai pasukan mata-mata musuh, sehingga prajurit itu bisa mendapatkan informasi yang bersifat rahasia.


Hal itu bukan lagi rahasia, sehingga ketika raja Segara Biru merencanakan siasatnya dengan mengorbankan puteranya yang ke enam, pasukan mata-mata Swargadwipa yang menyusup sebagai pejabat kerajaan Swargabhumi bahkan tak mengetahuinya. Jangankan pasukan mata-mata, pendekar Harimau Merahpun tak tahu jika ia akan dikorbankan juga.


Selain telah membentuk pasukan khusus yang bertugas sebagai mata-mata kerajaan Swargadwipa, Mahapatih Siung Macan Kumbang juga diam-diam membentuk tim khusus yang ia latih sebagai mata-mata pribadinya. Hanya sepuluh orang saja yang ia latih sedemikian rupa sehingga ke sepuluh pasukan rahasia sang patih Siung Macan Kumbang tak hanya mahir dalam beladiri, namun juga memiliki kecerdasan.


Kesepuluh orang pilihan Mahapatih Siung Macan Kumbang itu telah menyamar bertahun-tahun sebagai abdi kerajaan Swargabhumi. Dua di antaranya menjabat sebagai senopati perang, tiga orang yang menyusup sebagai pasukan mata-mata Swargabhumi, dan sisanya menjadi prajurit biasa kerajaan Swargabhumi yang tugasnya adalah mengirimkan pesan kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Menjadi pasukan mata-mata seperti itu sungguh berat. Taruhannya adalah nyawa, sebab pasukan Swargadwipa pun tak akan tahu bahwa orang-orang itu ada di pihaknya. Maka, ketika para kurir penyampai pesan itu harus berkirim pesan secara pribadi kepada Mahapatih Siung Macan Kumbang, ia harus menyamar sedemikian rupa, dan menyampaikan pesan dengan kode-kode khusus yang telah mereka sepakati bersama.


Pada suatu malam yang sunyi di kota Mutiara Biru, Mahapatih Siung Macan Kumbang sedang berpatroli sendirian menyusuri benteng pertahanan yang sedang dalam tahap pembangunan ulang untuk memperkokoh dan mempertinggi dinding-dindingnya dalam rangka menyongsong serangan Swargabhumi sewaktu-waktu. Para prajurit bekerja siang dan malam untuk mengerjakan pekerjaan besar itu secepat mungkin.

__ADS_1


Di luar benteng, ribuan prajurit juga masih sibuk menggali parit meski hanya menggunakan penerangan lampu minyak yang tak banyak jumlahnya. Terkadang, di kegelapan malam itu, beberapa prajurit harus menderita sakit karena disengat oleh serangga beracun, atau bahkan meninggal dunia karena digigit ular yang luput dari pandangan mata mereka.


Mahapatih Siung Macan Kumbang keluar benteng untuk memantau sekaligus memberikan semangat kepada para prajurit yang ia pimpin dalam mengerjakan pekerjaan yang sulit itu. Dengan menunggang kuda hitamnya yang telah menemaninya selama bertahun-tahun, ia menyusuri parit yang sedang di bangun itu dari ujung ke ujung. Sebelum ia memutuskan untuk kembali ke dalam bentang, ia mendengarkan siulan lirih yang hanya ia dan ke sepuluh pasukan mata-matanya saja yang paham.


Sang patih diam dan mendengarkan siulan itu lebih seksama. Lalu ia mendengar suara ketukan-ketukan lirih dengan tempo beraturan, dan dari sanalah Mahapatih tahu bahwa Swargabhumi akan menyerang kota Mutiara Biru tiga hari lagi. Mahapatih Siung Macan Kumbang tak pernah tahu siapa diantara pasukan khususnya itu yang mengirimkan pesan, namun ia tahu bahwa suara yang ia dengar adalah kode rahasia.


Mahapatih Siung Macan Kumbang sedikit gelisah karena pembangunan parit belum sepenuhnya selesai dan parit itu akan sangat berguna untuk menghambat pergerakan pasukan lawan saat mereka menyerang.


Pada malam hari itu juga, Mahapatih Siung Macan Kumbang mengerahkan lebih banyak prajurit untuk merampungkan pembangunan parit dan meninggikan benteng kota, serta memasang jebakan-jebakan pada jalur-jalur yang nantinya akan dilewati oleh pasukan musuh.


Sementara itu, di gudang persenjataan, ratusan prajurit serta beberapa ahli senjata juga bekerja keras untuk membuat berbagai jenis senjata jarak jauh, dan minyak dari lemak binatang seperti ikan, ****, kambing, dan tanaman-tanaman tertentu yang bisa menghasilkan minyak bagus dan mudah terbakar.


Mengingat jumlah pasukan Swargadwipa lebih sedikit daripada jumlah pasukan Swargabhumi dan aliansinya, maka Mahapatih Siung Macan Kumbang harus berfikir sangat keras, mengerahkan segala daya dan tak-tiknya untuk menghabisi musuh sebanyak-banyaknya sebelum mereka berhasil mendobrak benteng kota Mutiara Biru.

__ADS_1


Semalaman itu Mahapatih Siung Macan Kumbang tak bisa beristrahat. Bukan karena ia tak lelah, namun pikirannya yang tegang selalu membuat matanya tak bisa terpejam. Ketika matahari mulai muncul di ufuk timur, Mahapatih Siung Macan Kumbang telah memanggil semua senopatinya untuk mengumpulkan semua prajurit, lalu mengadakan gladi perang membentuk formasi pertahanan di dalam kota Mutiara Biru.


Mahapatih Siung Macan Kumbang tahu betul bahwa ada banyak mata-mata musuh di dalam pasukannya, namun untuk menemukannya bukanlah hal yang gampang. Oleh karenanya, ia menggunakan siasat bertahan yang boleh di baca oleh pihak lawan karena sudah pasti para mata-mata itu akan memberikan laporan tentang strategi apa yang digunakan oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang untuk mempertahankan diri.


Namun sang patih yang telah banyak makan asam garam dalam literatur perang itu telah memikirkan hal yang akan menjadi kejutan bagi pasukan lawannya, yang akan di pimpin oleh Hamapadayana, sang Mahapatih dari Swargabhumi.


Hari ke dua sebelum penyerangan, Mahapatih Siung Macan Kumbang menyuruh seluruh pasukannya lagi untuk melakukan gladi perang dengan formasi yang berbeda dari sebelumnya. Dengan demikian, pasukan mata-mata musuh akan membuat laporan baru, dan tak akan benar-benar tahu formasi manakah yang akan digunakan oleh Swargadwipa, karena pada hari penyerangan sajalah sang Mahapatih Siung Macan Kumbang baru akan memutuskan formasi apa yang akan digunakan.


Mahapatih Siung Macan Kumbang tak memberitahukan kepada semua prajuritnya bahwa ia telah mengetahui kapan musuh akan menyerang. Mahapatih Siung Macan Kumbang hanya menyiagakan semua pasukannya, seolah-olah esok hari musuh akan menyerang. Dengan demikian, mata-mata musuh tak akan tahu bahwa Mahapatih Siung Macan Kumbang telah mengetahui kapan Swargabhumi akan menyerang.


Selama sisa waktu berikutnya, setelah pasukan rahasia Mahapatih Siung Macan Kumbang mengirimkan berita waktu penyerangan yang akan dilakukan, sang patih juga beberapa kali bertemu kembali dengan pasukan rahasianya untuk mendapatkan informasi terbaru dari pergerakan lawan, termasuk strategi yang mereka gunakan, mengingat musuh juga sudah mengetahui senjata apa saja dan jebakan yang seperti apa yang akan digunakan oleh pasukan Swargadwipa.


Selama serangan belum terjadi, Mahapatih Siung Macan Kumbang harus selalu siap dengan strategi baru, layaknya seseorang yang sedang bermain catur, membaca pikiran lawan, dan mengubah segala tak tiknya sendiri untuk mengacaukan pengetahuan dan keyakinan lawan. Pada akhirnya, kepala Mahapatih Siung Macan Kumbang terasa sakit. Ia merasa kepalanya berdenyut kencang, lalu ia jatuh sakit. Badannya panas tinggi. Berita itu menjadi hal yang menggembirakan bagi pihak musuh yang sehari lagi akan datang menyerang.

__ADS_1


__ADS_2