
Batari Mahadewi melesat meninggalkan Mandaraloka dengan kecepatan tinggi. Di hadapannya terbentang langit dan laut biru yang luas. Tujuan utamanya adalah pergi menuju ke pulau Siwarkatantra, lalu setelah sampai di sana, ia harus mencari guru Udhata yang tinggal di wilayah kerajaan Siwandacara.
Namun Batari Mahadewi tak ingin terburu-buru untuk sampai di sana. Selama perjalanan, ia melintasi beberapa pulau. Sebagian besar adalah pulau kecil, namun ada juga pulau besar yang dihuni manusia. Menurut pendekar Mata Langit, ia akan melewati beberapa pulau besar dengan peradaban tinggi. Pulau-pulau itu tak sebesar Mahabhumi, namun memiliki daya tariknya tersendiri.
Salah satu pulau yang membuat Batari Mahadewi berminat untuk singgah adalah pulau Kamandapala. Pulau itu lebih besar dari pulau Mandara, namun sama-sama dikuasai oleh satu kerajaan saja. Batari Mahadewi tertarik untuk datang ke pulau itu bukan karena pulau itu terlihat menarik, namun gadis jelmaan pusaka dewa itu menangkap kehadiran energi jahat yang samar-samar terpancar dari pulau itu.
Batari Mahadewi turun di sebuah hutan yang tak jauh dari desa kecil. Aura jahat yang ia rasakan datang dan pergi. Dalam pikirannya, energi semacam itu bukanlah milik manusia. Ia curiga bahwa energi itu berasal dari makhluk iblis kuno. Bisa jadi, sang ratu Ogha telah terlebih dahulu sampai di pulau itu, dan membebaskan makhluk iblis yang ada di sana. Atau, makhluk itu datang dari suatu tempat yang lain.
Batari Mahadewi ingin mencari tahu. Ia bergegas menuju ke desa menyusuri jalan yang kecil. Beberapa orang yang tadinya berada di luar rumah langsung masuk ke dalam begitu mereka menyadari kedatangan Batari Mahadewi.
Tentu saja, gadis jelmaan pusaka dewa itu merasa heran, ‘Adakah yang terlihat aneh dari penampilanku saat ini? Bukankah aku berpenampilan sebagai pendekar biasa saja?’
Batari Mahadewi menjadi enggan untuk mengetuk pintu. Ia bisa merasakan ketakutan yang sedang dialami oleh orang-orang di desa itu. ‘Baiklah, aku akan mencoba mencari tahu situasi yang sedang terjadi di tempat lain.'
Gadis jelmaan pusaka dewa itu terus berjalan meninggalkan desa. Di depan, terdapat sebuah sungai besar yang memisahkan desa yang baru saja ia lewati dengan desa lainnya. Sungai besar itu dialiri oleh air yang jernih dan tak terlalu deras. Tanpa menggunakan mata saktinya, Batari Mahadewi bisa melihat ratusan ikan yang berenang dan berebut makanan. Tiba-tiba ia merasa ingin makan sesuatu.
‘Apakah di desa seberang, aku bisa beruntung menemukan sebuah kedai makanan?’ batinnya. Di desa sebelumnya, tak ada satupun kedai makan atau penginapan. Desa itu terlalu kecil dan sepi. Orang-orangnya tak butuh belanja. Mereka bisa hidup dengan hanya mengandalkan kekayaan alam.
Dalam sekali lompatan, Batari Mahadewi telah berada di seberang sungai. Ia terus berjalan dan mengamati keadaan di sekelilingnya. Ternyata sama saja, orang-orang langsung masuk ke dalam rumah begitu melihat kedatangan Batari Mahadewi. ‘Aneh sekali, ada apa dengan orang-orang ini?’
Sesaat kemudian setelah gadis jelmaan pusaka dewa itu sampai di tengah desa, beberapa pendekar datang dengan tatapan mata penuh curiga. Mereka adalah pendekar pemula yang bahkan belum bisa membedakan jenis energi yang dimiliki seseorang.
__ADS_1
“Nona adalah orang asing, bukan? Mau apa datang kemari?” orang-orang itu tampak waspada dan mengira Batari Mahadewi adalah pendekar hitam, terlebih ketika mereka melihat kedua taring gadis jelmaan pusaka dewa itu tampak sedikit panjang dari orang normal.
“Saya hanya singgah sebentar di pulau ini. Jikapun saya tidak diterima di sini, tentu saya akan pergi,” jawab Batari Mahadewi.
Para pendekar pemula itu menjadi sedikit ragu setelah mendengar jawaban dari Batari Mahadewi. Sebab, jika ia adalah seseorang yang berniat jahat, pasti tak akan memberikan jawaban seperti itu.
“Bolehkah aku tahu apa yang terjadi di sini? Sebelumnya, orang-orang di desa seberang sungai itu juga terlihat menghindariku,” tanya Batari Mahadewi.
“Sebaiknya nona segera pergi dari sini, kami tak mau mendapatkan masalah,” ucap salah satu dari pendekar itu.
“Aku bersedia membantu jika kalian mau. Tapi jika tidak, maka aku akan pergi dari sini,” kata Batari Mahadewi.
“Tidak perlu, nona. Kami tak butuh bantuan. Silahkan segera pergi dari sini!” para pendekar itu mengusir Batari Mahadewi.
Selepas Batari Mahadewi itu pergi, para pendekar dan orang-orang desa itu mengungkit-ungkit kembali kedatangan pasukan Tirayamani yang masih membuat mereka trauma. Mereka khawatir jikalau kedatangan Batari Mahadewi akan membawa sial. Gadis jelmaan pusaka dewa itu akhirnya mengerti. Sesuai dengan dugaannya, para pasukan Tirayamani memang pernah singgah di sana dan membuat kekacauan.
‘Jika benar demikian, seharusnya beberapa dari mereka masih ada di pulau ini, atau mungkin malah berada di istana kerajaan pulau ini. Aku harus menuju ke kota kerajaan untuk mengetahui semuanya secara jelas,’ batin Batari Mahadewi.
Di pulau itu, hanya ada satu kota saja yang merupakan kota kerajaan Kamandapala, nama yang sama dengan nama pulau itu.
Berbeda dengan wilayah desa, daerah perkotaan jauh lebih padat. Namun orang-orang di kota itu menyembunyikan kecemasan di wajah mereka meski mereka tetap beraktivitas seperti biasanya.
__ADS_1
Batari Mahadewi memilih sebuah kedai makan yang tak terlalu ramai. Selain makan, ia ingin mencuri dengat pembicaraan orang-orang yang ada di sana. Sebagian pendekar Tirayamani memang terlihat berkeliaran, namun mereka tak menimbulkan kerusuhan sebagaimana yang terjadi di Catrabhumi dan Catrawana. Barangkali karena mereka telah lama menguasai pulau itu dan mulai berfikir bahwa jika mereka terus menerus menebarkan ketakutan, maka mereka sendiri yang akan rugi.
“Nona ingin memesan apa?” tanya pelayan kedai.
“Daging bakar dan kelapa muda, paman,” jawab Batari Mahadewi.
“Akan kami siapkan, nona.” Pelayan itu pergi menyiapkan pesanan. Tak lama kemudian, lima pendekar hitam Tirayamani memasuki kedai. Wajah pemilik kedai tampak gugup, menandakan hal itu sering terjadi di sana.
“Siapkan jatah kami, jangn lupa, makanan terbaik untuk kami berlima!” perintah salah satu dari pendekar itu.
“Baik tuan,” kata pemilik kedai itu.
Batari Mahadewi menduga bahwa para pendekar hitam itu tak membuat kekacauan, namun mereka tetap memeras orang-orang Kamandapala dengan cara seperti itu. Batari Mahadewi menjadi penasaran, bagaimana dengan nasib keluarga kerajaan Kamandapala.
Yang khas dari para pendekar hitam itu adalah mereka mudah tersinggung dengan hal sepele, seperti misalnya mereka marah saat pelayan mengantarkan pesanan Batari Mahadewi.
“Pelayan *****, kau mau cari mati? Kenapa kau tak antarkan dahulu pesanan kami?” bentak salah satu dari pendekar hitam itu.
Pelayan itu gemetar. Ia bingung. Di satu sisi, pesanan Batari Mahadewi memang sudah jadi dan sudah selayaknya diantarkan selagi masih hangat, namun jika ia melakukannya, ia akan mendapatkan masalah besar.
“Sudahlah paman, simpan saja pesananku. Nanti diantar lagi ke sini jika paman sudah menghidangkan pesanan mereka,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu sadar kata-katanya pasti akan menyinggung kelima pendekar hitam tak tahu diri itu.
__ADS_1
Batari Mahadewi tak peduli. Jika mereka menantang, maka ia akan membuat kelima pendekar itu kehilangan harga diri mereka dengan cara yang sangat memalukan.
Dugaan gadis jelmaan pusaka dewa itu tak meleset. Sekumpulan sampah itu mulai bereaksi dengan kata-katanya yang baru saja mereka dengarkan.