Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 202 Pulang Ke Dunia Satu Rembulan


__ADS_3

Selama kurang dari dua tahun, Batari Mahadewi dan Nala akhirnya telah selesai menggenapkan seluruh proses yang harus mereka tempuh agar bisa kembali ke dunia satu rembulan. Segel ke sepuluh yang mengunci kekuatan dalam tubuh Batari Mahadewi telah terbuka. Perempuan cantik jelmaan pusaka dewa itu memancarkan aura yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Bersamaan dengan keluarnya Batari Mahadewi dan Nala dari dalam kristal emas yang mengurung tubuh kedua pendekar muda itu, sang kakek dewa membukakan pintu. Meski ia tak ikut di dalam ruang sumber energi utama pulau Emas, ia tahu benar kapan kedua pendekar muda itu tuntas dalam menyerap energi dan menyempurnakan pencapaian yang telah mereka dapatkan selama berpetualang di dunia tiga rembulan.


Batari Mahadewi dan Nala masih beradaptasi dengan perubahan yang mereka alami selama berada dalam kurungan kristal emas layaknya seekor ulat yang bertapa dalam kepompong. Kekuatan besar yang terserap dalam tubuh mereka berdua tidak serta merta membuat keduanya langsung menjadi sosok yang kuat, melainkan sosok yang kebingungan untuk mengendalikan tubuh mereka yang penuh dengan energi.


Seluruh tubuh Batari Mahadewi mulai dari leher hingga ujung kaki telah berubah menjadi logam berwarna emas lengkap dengan hiasan sisik dan guratan garis lengkung berkelok berwarna perak yang timbul di permukaan kulitnya seindah pahatan-pahatan pada kayu pilar istana. Batari Mahadewi akan benar-benar menyadari perubahan di sekujur badannya kelak ketika ia sedang tak mengenakan pakaian. Saat ini, ia hanya bisa melihat dan menyadari perubahan ketika ia memperhatikan kedua tangan dan kakinya, serta ketika ia meraba lehernya.


Perempuan cantik yang telah dewasa itu tak lagi kaget dengan perubahan drastis yang ia alami sebab ia tahu ia adalah makhluk ciptaan dewa yang ditakdirkan untuk membunuh Kalapati. Kuku-kuku tajam di kedua tangan dan kakinya semakin sempurna, layaknya cakar naga berwarna emas. Tonjolan kristal halilintar di punggungnya juga sedikit lebih panjang dan besar dari sebelumnya, dan juga tulang-tulang kecil lainnya yang mencuat di beberapa bagian tubuhnya.


Yang membuatnya tampak lebih cantik, setidaknya menurut Nala, adalah sepasang taring atasnya yang menjadi sedikit lebih panjang. Sepasang pupil matanya berubah warna menjadi warna emas yang dikelilingi dengan iris mata berwarna biru yang mengelilinginya. Tentunya, jangkauan penglihatannya jauh lebih sempurna dari sebelumnya. Rambut gadis itu semakin panjang seiring waktu ketika ia menyerap unsur-unsur energi dari sumber energi utama pulau Emas.


Lain halnya dengan apa yang dialami oleh Nala, sumber energi dari pulau Emas tak berkontribusi apapun untuk perubahan tubuhnya. Namun berdampak besar pada kekuatan dan kemampuannya. Setidaknya, dengan kekuatan dari kristal emas itu, kekuatan sihir yang tersimpan dalam tubuhnya telah muncul kembali meski ia belum menyadarinya.

__ADS_1


“Akhirnya kalian berhasil. Wujudmu hampir sempurna, Tari. Tinggal dua kunci energi lagi yang harus terbuka untuk menyempurnakan semua kemampuanmu. Dan kau Nala, inilah capaian terbesarmu. Kau masih bisa terus berkembang dengan memanfaatkan segala sumber energi yang bisa kau temui di duniamu. Tetapi berhati-hatilah, setiap saat energi jahat dalam tubuhmu bisa bangkit dan menguasaimu.” Kata kakek dewa tersenyum puas dengan capaian yang telah didapatkan oleh Batari Mahadewi dan Nala.


“Kami bisa mendapatkan energi yang besar di sini. Apakah di dunia kami juga ada sumber energi yang sebanding dengan sumber energi yang ada di sini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tentu saja ada, Tari. Hanya saja, sebelum kalian datang di dunia kami, kalian tentu tak akan mengenal sumber energi seperti ini, bukan?! Dunia kalian pun juga disokong oleh sumber energi yang melimpah. Satu berada di dunia khayangan, dan satu lagi ada di altar samudera. Tentu saja tak ada manusia dari dunia kalian yang mengetahui keberadaan dua sumber energi utama itu. Akupun juga tak tahu di mana letak persisnya. Pasti kalian akan mendapatkan petunjuk setelah kalian sampai di dunia kalian.” Kata kakek dewa itu.


“Aku pernah mendengar tentang altar samudera itu, kakek, dari seorang pertapa di dunia kami. Hanya saja seperti yang kakek katakan, ia tak tahu dimana letak altar samudera itu berada.” Kata batari Mahadewi.


“Kehidupan masa lalu di dunia kalian sangat keras. Maka dewa-dewa di dunia kalian harus benar-benar menjaga dua sumber energi itu baik-baik agar tak jatuh ke tangan para iblis dan bangsa raksasa. Sayangnya, sumber energi yang ada di khayangan telah dikuasai oleh bangsa raksasa. Tanpa pembaharuan, sumber energi itu bisa habis. Hanya raja dewa kalian saja yang bisa menyalakannya kembali. Tapi semestinya, kaupun bisa, Tari. Sebab, kau adalah bagian dari para dewa di duniamu.” Kata sang kakek memberikan pejelasan.


“Itulah masalahnya. Dan kau juga tak bisa mengalahkan raja raksasa itu sebelum semua kunci energi dalam tubuhmu terbuka. Tetapi apakah selama kau hidup di duniamu, tak ada satupun dewa yang berhasil menemuimu?” tanya kakek itu.


“Ya, aku ingat kakek, waktu itu aku pernah bertemu dengan sosok di dalam sungai yang memberikan mustika dewa berwarna biru. Hanya itu saja, dia tak mengatakan apapun padaku sehingga aku tak tahu siapa dia. Namun bukankah hanya dewa saja yang bisa memberikan mustika dewa?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Mungkin yang kau temui waktu itu adalah dewa sungai. Tak semua dewa di dunia kalian mati di tangan kalapati. Masih ada yang diam-diam menjalankan tugas untuk menjaga keseimbangan duniamu. Aku yakin kau bisa menemukannya. Percayalah, seharusnya para dewa sedang mencarimu dan berusaha menghubungimu diam-diam.” Kata kakek dewa.


“Baiklah kakek, mungkin memang belum waktunya. Kami akan mengerjakan apa yang bisa kami kerjakan setelah kami kembali nantinya. Apakah kakek tahu apa yang sedang terjadi saat ini di dunia kami?” tanya Batari Mahadewi.


“Hahaha, aku tidak tahu. Aku tak mengetahui segala sesuatu. Lagipula, jika aku ke dunia kalian dalam situasi seperti ini, justru aku mungkin akan menimbulkan benih permasalahan baru. Nah, sudah waktunya kalian pulang. Bayak hal yang menanti kalian di sana.” Kakek dewa itu berjalan ke arah pintu lintas dunia. Dengan kekuatannya, kakek itu membuka pintu tersebut dan cahaya putih menyilaukan menyeruak menerangi ruangan di kuil suci itu.


“Kemarilah.” Kata sang kakek. Batari Mahadewi dan Nala berjalan mendekat. Jantung mereka berdebar kencang karena sebentar lagi mereka akan kembali; ke dunia yang maknanya tak bisa ditukar dengan apapun, meski dunia tiga rembulan menyajikan banyak hal yang berlebih yang tak ada di dunia satu rembulan. Seburuk-buruknya rumah sendiri, masih lebih nyaman daripada istana milik tetangga.


Tubuh kedua pendekar dunia satu rembulan itu terseret masuk ke dalam cahaya putih dan keduanya berputar-putar tanpa daya hingga akhirnya keduanya kehilangan kesadaran. Begitu mereka siuman, mereka telah ada di suatu tempat di dunia satu rembulan.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2