Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 185 Sandiwara Pradipa #2


__ADS_3

Jalu dan Niken menunggu Pradipa dan kedua rekannya di sebuah hutan yang cukup jauh dari kota Mutiara Biru. Tak lama kemudian, ketiga pendekar yang di tunggu-tunggu itu akhirnya sampai juga.


“Hahaha, apa yang kau lakukan di sana Pradipa?” sambut Jalu sambil tertawa. Lalu kelima pendekar itu tertawa terbahak-bahak.


“Untunglah kalian masuk dan menyerang lebih dulu dari kami, sehingga kami bisa melakukan penyamaran dengan mulus.” Kata Pradipa.


“Bagus sekali, berarti mulai malam ini kau akan langsung bergabung dengan para pasukan Swargabhumi di kota Mutiara Biru?” tanya Jalu.


“Ya, sudah pasti demikian. Aku akan bercerita kalau kalian telah meloloskan diri sehingga kami bertiga jelas dibutuhkan di sana untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada pendekar lain yang menyerang di sana.” Kata Pradipa.


“Apakah kakak Pradipa tahu perkembangan dari pergerakan rombongan musuh?” tanya Niken.


“Ya, sebelum kami bertiga datang ke kota Mutiara Biru, kami telah menjalankan misi di sana. Rombongan itu baru separuh perjalanan. Seharusnya dua pekan lagi mereka akan sampai di Swargadwipa, tapi apa yang kami lakukan di sana seharusnya membuat perjalanan itu mundur sekian hari lagi. Kalian masih bertugas di kota Dhyana?” tanya Pradipa.


“Ya, kami hanya menunggu perintah dari paman Patih.” Jawab Jalu.


“Jika kami mendapatkan berita penting, kami akan mengabarkan kepada kalian secepatnya.” Kata Pradipa.


“Kami tunggu kabar darimu. Baiklah, sebaiknya kita berpisah sekarang. Sampai jumpa. Jaga diri kalian baik-baik.” Kata Jalu.


“Sampai jumpa.” Balas Pradipa. Kelima pendekar itu akhirnya berpisah. Jalu dan Niken kembali ke kota Dhyana, sementara Pradipa kembali ke kota Mutiara Biru sebagai pendekar Pedang Naga utusan dari sang raja Swargabhumi.


Sesampainya di kota Mutiara Biru, Pradipa dan kedua rekannya langsung menuju ke balai kota. Ketiganya langsung melapor kepada senopati Girimaya.

__ADS_1


“Maafkan kami, senopati, kami bertiga kehilangan jejak kedua pendekar tadi. Tapi selama kami di sini, kami akan memastikan keamanan kota ini dari serangan pendekar yang seperti yang baru saja terjadi.” Kata Pradipa.


“Tidak apa-apa, tuan pendekar, ee…sebelumnya saya minta maaf, tapi tugas khusus apakah kiranya yang sedang tuan-tuan emban saat ini?” tanya senopati Girimaya. Ia sebenarnya merasa tak yakin, namun ia tak punya alasan atau bukti kuat untuk menolak kedatangan Pradipa dan kedua rekannya itu yang mengaku sebagai utusan langsung sang raja Segara Biru.


“Kami hanya ditugaskan untuk menemani senopati. Tentu saja, selanjutnya kami akan menjalankan apa yang senopati tugaskan kepada kami bertiga.” Kata Pradipa.


“Oh, baiklah kalau begitu. Terus terang saya merasa canggung untuk memerintah pendekar berkelas seperti tuan-tuan sekalian. Tapi apabila tuan-tuan sekalian bekenan, bagaimanakan baginda raja bisa mengenal tuan?” tanya senopati Girimaya menyelidik.


“Baginda raja adalah kawanku di masa lalu. Jangan tertipu dengan penampilanku, tapi usiaku saat ini adalah 150 tahun. Apakah senopati juga tahu bahwa baginda raja seusia denganku?” tanya Pradipa sambil memulai bualannya. Ia sangat yakin senopati yang belum genap separuh baya itu tak tahu masa lalu sang raja karena hanya orang tertentu saja yang tahu.


“Benarkah? Kupikir baginda hanya berusia sekitar lima puluh tahun.” Kata Girimaya.


“Jangan bercerita kepada siapapun bahwa aku menceritakan hal ini padamu. Aku dan baginda sama-sama mempelajari ilmu yang membuat tubuh kami tetap muda. Hanya saja, mungkin baginda terlalu sibuk dengan urusan kerajaan sehingga ia tak sempat memudakan tubuhnya lagi seperti yang aku jalani hingga saat ini. Tapi masa lalu baginda bukan hal yang patut untuk kita bicarakan.” Kata Pradipa berhasil mempengaruhi pikiran Girimaya.


“Baiklah senopati, jangan sungkan menyuruh kami. Kami bertiga di sini ada di bawah perintahmu.” Kata Pradipa.


“Baik tuan pendekar. Malam ini tuan-tuan sebaiknya istirahat dulu. Aku akan meminta pelayan menyiapkan ruang untuk tuan-tuan pendekar dan selama di sini, tuan-tuan sekalian bisa menempati ruangan itu.” kata Senopati Girimaya.


Pada hari-hari berikutnya, Pradipa dan kedua rekannya itu menjalani perannya sebagai pendekar senior dari Swargabhumi. Ketiganya mendapatkan tempat terhormat di kalangan pendekar yang ada di sana. Dengan posisi yang dimiliki ketiganya itu, maka mereka bisa berkeliling dan memantau segala aktivitas di Mutiara Biru dengan leluasa.


Pradipa yang bisa dibilang memiliki kecerdasan bagus sesekali berdiskusi banyak hal dengan senopati Girimaya, khususnya tentang strategi pertahanan yang harus dimiliki oleh kota Mutiara Biru. Selama di kota kerajaan Swargadwipa, Pradipa telah banyak belajar. Sehingga, di hadapan Girimaya ia bisa memberikan banyak nasehat dan masukan layaknya ia memang telah berumur tua dan telah banyak makan asam garam kehidupan dunia. Kadangkala, Pradipa memberikan masukan yang sifatnya adalah hasutan kepada Girimaya agar senopati itu memiliki keinginan yang lebih.


“Menurutku, senopati memiliki kecakapan yang bagus untuk menjadi pemimpin. Senopati seolah tak memiliki rasa lelah dan bekerja siang dan malam untuk membangun dan memajukan kota ini. Sungguh sangat disayangkan jika kelak setelah kita memenangkan peperangan, maka senopati tak mendapatkan kota ini.” Hasut Pradipa.

__ADS_1


“Aku hanya menjalankan tugas dari baginda raja dan mahapatih Hamapadayana, tuan pendekar. Aku tak berani mengharapkan lebih atas apa yang kukerjakan di sini.” Kata Girimaya.


“Ketahuilah, senopati, bahwa kekuasaan bukan semata-mata karena imbalan saja. Namun benar-benar karena usaha dan dari usaha itulah kita mendapatkan kepercayaan. Maka tak ada salahnya senopati memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Bangun kemegahan kota ini kembali dan yakinlah kelak kau akan dipercaya sebagai satu-satunya orang yang layak memimpin kota ini.” Kata Pradipa.


“Tapi saat ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu, tuan pendekar.” Kata Girimaya. Jawaban itu membuat Pradipa tersenyum. Setidaknya Pradipa tahu bahwa Girimaya memiliki keinginan untuk menjadi pemimpin.


“Tak ada waktu yang tepat. Saat ini tak ada kabar dari Mahapatih Hamapadayana. Beliau juga tak meminta kiriman bantuan apapun. Sepertinya perjalanan sangat lancar dan kemenangan sudah di depan mata. Maka, sebagian bahan yang ada disini sebenarnya bisa dialih-fungsikan untuk membangun kembali kota ini. Apakah senopati tahu kenapa aku mengatakan hal ini?” tanya Pradipa.


“Kenapa, tuan pendekar?” tanya Girimaya.


“Kota ini dengan susah payah bisa kita taklukkan. Bahkan dengan kekuatan yang luar biasa besar untuk sekedar menaklukkan satu buah kota. Bukankah ini sedikit memalukan? Maka, jangan sampai kota ini kembali direbut oleh Swargadwipa. Kita tak tahu apa yang sedang direncanakan Swargadwipa, tapi bisa saja mereka merebut kembali kota ini, lalu menutup segala jalur bantuan untuk mahapatih Hamapadayana.” Kata Pradipa.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Girimaya mulai tertarik dengan pemikiran Pradipa.


Pradipa berfikir sejenak. Ia tahu bahwa Girimaya mulai tertarik dengan pemikirannya. Maka, Pradipa ingin mengatakan sesuatu yang masuk akal sehingga Girimaya menuruti nasehatnya.


“Senopati memiliki tiga puluh ribu prajurit di kota ini. Tak ada pekerjaan yang utama selain berjaga-jaga, bersih-bersih, angkat-angkat barang, dan sisanya makan dan tidur. Itu sungguh merupakan pemborosan. Setidaknya senopati bisa mengkaryakan mereka dalam berbagai macam hal, yakni membangun benteng besar dan tinggi mengelilingi kota ini, latihan keprajuritan, dan memproduksi senjata.


Manfaatkan aliran dana dari kerajaan sebaik mungkin. Selagi Mahapatih Hamapadayana tak meminta kiriman semua kebutuhan para pasukan, artinya sang patih bisa mendapatkan segala yang dibutuhkan di sepanjang perjalanan.


Benteng besar mengelilingi kota ini ada banyak gunanya. Andaikan jika pasukan kita kalah berperang, tempat ini akan menjadi tempat berlindung sementara yang aman. Pikirkan juga untuk menarik warga kota penghuni asli kota ini untuk kembali ke sini. Mereka akan sangat berguna untuk menggerakkan kembali roda perekonomian, dengan begitu senopati bisa mendapatkan pemasukan dari pajak.


Lagi pula, jika warga kota yang mengungsi itu kembali ke sini, pasukan Swargadwipa akan kesulitan untuk menyerang kota ini karena warga mereka ada di dalam. Kita gunakan mereka sebagai sandera tanpa mereka sadari.” Pradipa menutup kata-katanya, membiarkan Girimaya mulai mencerna apa yang baru saja ia katakan.

__ADS_1


__ADS_2