
Saat subuh, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken kembali ke penginapan. Mereka tidur dan baru bangun ketika hari telah siang dan perut mereka mulai lapar. Tinggal di desa dengan masyarakatnya itu membuat perut mereka mudah lapar. Banyak godaan, banyak penjual makanan enak yang tak akan mungkin mereka temui saat tinggal di padepokan Cemara Seribu dimana mereka harus lebih mengutamakan menyerap energi dari alam daripada dari makanan.
“Kita tak bisa begitu saja menghentikan hal ini yang sebetulnya mudah saja.” Kata Jalu.
“Ya, sepertinya kita butuh bantuan informasi dari orang lain. Kudengar dari pemilik penginapan, tetua desa Air Kehidupan adalah seorang pendekar sakti yang di segani di sini.” Kata Niken. “Apa tak sebaiknya kita membicarakan dulu apa yang kita tahu dengan tetua tersebut?”
“Sebaiknya begitu.” Jalu menyetujui. “Kita cari makan terlebih dahulu, lalu nanti kita akan mengunjungi tetua desa.” Ketiganya akhirnya berangkat mencari rumah makan di pusat desa.
“Lihat kedai itu, dari kemarin kita lihat, kedai itu tak pernah sepi. Apakah kalian tidak penasaran?” Kata Niken.
“Kedai itu hanya menyediakan satu jenis menu, sup kura-kura jamur merah. Kedengarannya aneh, tapi tak ada salahnya kita coba.” Kata Jalu yang ternyata juga tetarik untuk mencoba makan di kedai itu. Ketiganya lalu bergegas ke sana.
Mereka memasuki kedai itu dan mencari meja yang kosong. Ketiganya beruntung karena masih ada satu meja saja yang tersisa. Pelayan mendekati mereka, “Apa yang bisa kami bantu tuan muda dan nona-nona?”
“Kami pesan tiga porsi.” Kata Jalu
“Baik Tuan muda, tunggu sebentar kami akan menyiapkan sup hangat buat tuan muda dan nona-nona.” Kata pelayan itu.
Seperti biasa Batari Mahadewi lebih suka meneliti orang-orang disekitarnya. Sebagian besar pengunjung kedai ini adalah para pendekar. Mereka memesan sup kura-kura jamur merah karena makanan ini bisa meningkatkan energi dan sangat baik untuk memulihkan kesehatan.
Batari Mahadewi melihat sekelompok pendekar yang berpakaian serba hitam yang duduk agak jauh dari meja mereka bertiga. Yang menarik adalah di pakaian orang-orang itu, Batari Mahadewi melihat sebuah lambang kekelawar kecil.
‘Apakah lelaki berjubah panjang itu pimpinan mereka? Jika benar, berarti ia adala ketua Kelelawar Hitam. Pancaran energinya tidak tampak dan hanya orang-orang berkemampuan tinggi yang bisa menyembunyikan energinya agar calon lawannya tak bisa memprediksi sejauh apa kemampuannya.’ Batin Batari Mahadewi.
Pelayan datang membawakan pesanan Jalu. Sup itu mengeluarkan aroma rempah-rempah yang kuat dan mengundang selera makan. “Apakah ada lagi yang bisa saya bantu tuan?” kata pelayan itu kepada Jalu.
“Bolehkan saya bertanya sesuatu?” tanya Jalu.
“Silahkan tuan.” Kata pelayan itu.
“Di manakah letak rumah tetua desa?” kata Jalu.
“Ah, tetua desa baru saja makan di sini tuan, ketika beliau pulang, tuan dan nona-nona ini baru datang. Bila ingin mencari beliau, nanti tuan ikuti jalan itu. Terus saja sampai menemukan rumah yang dihalamanya ada pendopo besar. Di sanalah beliau tinggal.” Kata pelayan itu.
“Terimakasih banyak.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Sama-sama tuan. Selamat menikmati masakan kami.” Pelayan itu meninggalkan meja mereka dan kembali bekerja.
“Sayang sekali kita terlambat datang ke sini.” Kata Jalu.
“Tidak apa-apa kakak, sebaiknya kita memang harus mengunjungi rumahnya untuk membicarakan hal ini.” Kata Batari Mahadewi. Ketiganya kemudian mulai makan.
“Hmmm….makanan yang sungguh lezat. Baru kali ini aku makan makanan semacam ini.” Kata Niken.
“Ya…tapi ini sungguh pedas….dan aku tak bisa berhenti menikmati kuah yang enak ini.” Kata Jalu. “Kau menyukainya, adik?” tanya jalu kepada Batari Mahadewi.
“Ya, masakan ini rasanya seperti masakan ibuku. Kurasa kalian banyak melewatkan masakan enak di Desa Cemara Seribu, di sana banyak jamur enak yang bisa dimasak.” Jawab Batari Mahadewi.
Ketika masih tinggal bersama ibunya, Batari Mahadewi sering mendapatkan makanan enak yang di masak oleh Nyi Kunyit. Itulah sebabnya kenapa di rumah, Batari Mahadewi bisa makan banyak dan lahap. Kini Batari Mahadewi tahu bahwa ibunya memiliki kemampuan memasak sekelas juru masak restoran.
“Benarkah? Kalau begitu, setelah kita menyelesaikan misi ini, aku ingin berkunjung dan mencicipi masakan ibumu.” Kata Niken bersemangat.
Setelah makan, mereka segera bergegas menuju rumah tetua desa. Tidak sulit menemukannya. Rumah itu tampak sederhana, tapi memiliki halaman yang cukup luas dan pendopo yang cukup besar. Di pendopo itulah biasanya para warga mengadakan acara tertentu ada mengadakan rapat tertentu dengan tetua desa.
“Permisi.” Kata Jalu.
Tak lama kemudian, tampak sosok perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah. “Ya, mari silahkan masuk apakah kalian ingin bertemu dengan tetua?” Sambut ibu-ibu itu dengan ramah.
“Kalau begitu silahkan tunggu sebentar, saya akan memanggilnya dan menyiapkan minum untuk kalian.” Kata istri tetua.
“Terimakasih banyak ibu, tak usah repot-repot. Kami hanya mampir.” Kata Jalu.
Ibu itu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian tetua desa muncul dengan wajahnya yang tampak bijaksana. Dalam sekali lihat, Batari Mahadewi tahu bahwa tetua itu bukan pendekar sembarangan.
“Maaf membuat kalian lama menunggu. Saya tetua desa ini, warga desa memanggil saya Ki Buyung.” Sambut tetua itu.
“Kami bertiga berasal dari Padepokan Cemara Seribu, tetua. Murid Ki Gading Putih. Kebetulan kami menjalankan tugas dan melewati desa ini. Nama saya Jalu, dan ini kedua saudari seperguruan saya, Niken dan Batari Mahadewi.” Kata Jalu memperkenalkan diri.
“Oh, suatu kehormatan saya dikunjungi murid sahabat saya itu. Bagaimana kabar guru kalian?” Kata tetua itu sambil tersenyum. Ia tak menyangka bahwa akan dikunjungi oleh murid seseorang yang pernah menyelamatkannya dari maut.
“Guru dalam keadaan baik, tetua.” Jawab Jalu.
__ADS_1
“Pasti ada hal penting yang akan kalian sampaikan padaku sehingga jauh-jauh dari padepokan kalian dan mampir ke sini.” Kata Ki Buyung.
“Sebetulnya, kedatangan kami kali ini merupakan satu kebetulan, tetua. Sewaktu kami menginap di desa ini, kami mendapatkan kabar bahwa ada pencuri mayat yang hingga hari ini belum tertangkap dan masih menjalankan aksinya. Tentu tetua sudah mendengar masalah ini.” Kata Jalu.
Wajah ki Buyung berubah ketika mendengarkan ucapan Jalu. Ada sesuatu yang tampak ia sembunyikan. “Ya, betul sekali. Hingga hari ini kami belum bisa menangkap pencuri itu. Bagaimanapun juga, aksinya meresahkan warga meskipun yang dicuri adalah tulang belulang di kuburan.” Kata Ki Buyung.
“Sebetulnya semalam diam-diam kami mengintai di kuburan. Kami menemukan pelakunya dan membuntutinya. Kami bemaksud ingin tahu apa tujuan dari pencurian itu. Ternyata pencurian ini ada hubungannya dengan toko senjata di desa ini, dan kelompok Kelelawar Hitam.” Jalu menjelaskan.
Ki Buyung tak bisa menyembunyikan raut mukanya yang kaget. Ia juga tampak khawatir.
“Apakah tetua tahu tentang kelompok Kelelawar Hitam?” tanya Jalu.
“E…mm..kelompok itu ya…hmm…mereka adalah kelompok golongan hitam yang berbahaya. Jika begitu,
kamipun tak kan sanggup melawan mereka.” Ucap Ki Buyung yang tampak bingung.
“Kami menawarkan bantuan apabila tetua menghendaki. Sejauh ini kami belum bertindak apa-apa selain mengumpulkan informasi. Tentu kami akan meminta izin terlebih dahulu kepada tetua.” Kata Jalu.
“E…iya…terimakasih banyak atas tawarannya. Tapi barangkali kami akan membicarakan dahulu dengan beberapa tokoh desa yang lain. Jika tidak keberatan, tunggulah kabar dari kami terlebih dahulu, mengingat hal ini adalah hal penting, jangan sampai kita gegabah dalam melakukan tindakan.” Kata Ki Buyung.
“Baik tetua. Kami akan tinggal di desa ini untuk sementara waktu sampai masalah ini selesai. Kalau begitu, kami mohon pamit, tetua.” Kata Jalu. Mereka bertiga meninggalkan kediaman rumah tetua itu dan kembali menuju penginapan. Setelah ketiganya pergi, Ki Buyung langsung bergegas dengan terburu-buru menuju suatu tempat.
“Kita tunggu saja kabar dari tetua. Jangan sampai kita melangkahi apa yang sebetulnya bukan urusan kita.” Kata Jalu.
“Iya, kita tunggu saja.” Kata Niken.
Menjelang malam, ketiganya ingin berjalan-jalan lagi mencari kedai makan. Banyak tempat makan yang membuat mereka penasaran selama mereka tinggal di desa itu.
“Ya, kita harus mencoba banyak kedai makanan di tempat ini. Pantas saja desa ini ramai. Ternyata banyak hal menyenangkan yang bisa kita temui, terutama adalah makanan.
“Apakah kakak-kakak tidak tertarik melihat tambang emas di desa ini?” tanya Batari Mahadewi.
“Sepertinya menarik. Tapi tak mungkin malam-malam begini kita akan kesana. Jangankan malam hari siang haripun kita bisa dicurigai. Tentu saja di tambang itu dijaga banyak pendekar.” Kata Jalu.
“Kalau begitu, malam ini kita nikmati saja suasana di desa ini. Mumpung sedang cerah.” Kata Niken.
__ADS_1
Pusat desa itu sudah tampak seperti kota. Meskipun malam hari, banyak kedai yang masih buka, mulai dari kedai makanan, kedai minuman, dan tempat hiburan malam yang selalu diramaikan oleh orang-orang dari berbagai desa lain. Tak jarang di tempat seperti itu terjadi keributan gara-gara masalah judi, perempuan, dan orang-orang yang mabuk.
Ketika Batari Mahadewi dan kakak seperguruannya berjalan-jalan setelah makan malam, mereka bertiga dikejutkan oleh kehadiran bayangan-bayangan yang memancarkan energi hitam.