Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 216 Para Prajurit Hitam Yang Congkak #2


__ADS_3

Ketiga pendekar yang baru datang itu menjadi waspada. Keringat dingin menetes dari dahi mereka. Tiga pendekar kerajaan hitam Tirayamani itu tak habis pikir, bagaimana bisa perempuan yang tak memiliki pancaran tenaga itu bisa menghempaskan batu kecil hingga menembus paha rekannya yang bernasib sial itu.


Batari Mahadewi masih bersikap tenang dan berjalan dengan santai seolah apa yang baru saja ia lakukan terhadap pendekar berambut panjang itu bukanlah apa-apa. Gadis jelmaan pusaka dewa itu sama sekali tak berniat memancarkan energinya untuk melawan ketiga pendekar hitam yang tampak bingung itu.


“Bisa kita mulai sekarang?” tanya Batari Mahadewi kepada para pendekar congkak yang ada di depannya itu.


Salah satu dari pendekar hitam itu melesat mengayunkan pukulan ke arah batari mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu membiarkan sebuah tinju mendarat di kepalanya. Namun pendekar yang memberikan tinju itu tiba-tiba menjerit kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang telah retak tulang ruas jari-jarinya.


“K…kau…bagaimana bisa…” rintih pendekar hitam itu. Dua rekannya yang belum melakukan apa-apa itu hanya bisa terbelalak tak percaya sekaligus tak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.


“Sayang sekali kalian menggunakan kekuatan yang kalian miliki untuk melakukan kejahatan. Maafkan, tapi aku harus menghilangkan kekuatanmu.” Kata Batari Mahadewi.


Pendekar yang sedang kesakitan itu melompat mundur ketika Batari Mahadewi mencoba menyentuhkan ujung kukunya yang runcing ke arah dahinya. Ia lalu menyuruh kedua rekannya untuk segera bertindak.


Kedua pendekar lainnya itu berubah wujud menjadi manusia setengah siluman. Dengan buas dan ganas, keduanya menyerang Batari Mahadewi bersama-sama. Ketika salah satu dari kedua pendekar itu sudah cukup dekat, Batari Mahadewi menghadiahkan sebuah tinju di perut yang membuat pendekar setengah siluman itu mengeluarkan semua isi perutnya yang berbau busuk.


Sementara, satu pendekar lagi yang tersisa tak jadi menyerang. Ia melarikan diri bersama dengan satu pendekar yang telah remuk tangan kanannya.


“Baiklah, hanya kalian berdua sekarang,” kata Batari Mahadewi kepada pendekar berambut panjang yang pahanya berlubang, dan pendekar yang tergeletak lemas setelah isi perutnya terkuras keluar, “Semoga kalian merasa damai pada kesempatan kedua yang aku berikan.”


Batari mahadewi menyentuh kening masing-masing pendekar hitam itu dan seketika ilmu hitam serta ingatan yang mereka miliki hilang. Keduanya tampak linglung dan tak mengenali diri mereka lagi.


“Mari kakak, kita tinggalkan tempat ini. Sepertinya masih banyak dari para pedekar hitam yang berceceran di desa-desa. Kita tak bisa membiarkan mereka berbuat sesuka hati,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, adik benar. Kita tak boleh membiarkan mereka berbuat semena-mena. Lagipula, tak ada hal lain yang harus kita lakukan selain menolong orang-orang desa yang tertindas ini,” kata Niken.

__ADS_1


Ketiga murid ki Gading Putih itu melanjutkan perjalanan. Mereka menyusuri desa-desa dan kota-kota di Catrawana. Beberapa kali mereka bertiga memergoki pasukan kerajaan Tirayamani yang sedang berbuat onar. Tanpa kesulitan yang berarti, Batari Mahadewi berhasil membuat linglung para pendekar aliran hitam yang ia temui.


Sebelum ketiga pendekar muda Swargadwipa itu tiba di kota kerajaan Catrawana, para prajurit kerajaan Tirayamani yang melarikan diri dari Swargawana telah sampai di sana terlebih dahulu dan menyampaikan kabar buruk yang telah dialami oleh panglima Kera Api dan puluhan ribu pasukan lainnya di medan pertempuran.


Tentu saja kabar itu begitu mengagetkan. Namun mereka masih ragu. Mereka seolah tak rela meninggalkan kenyamanan selama tinggal di Catrawana. Dan oleh karenanya, mereka tak segera beranjak pergi menuju Catrabhumi, lalu meninggalkan Mahabhumi. Mereka tetap tinggal di kerajaan itu dan berharap sang ratu kegelapan akan segera sampai di Mahabhumi.


Sayangnya, yang lebih dahulu datang buknlah sang ratu kegelapan, melainkan gadis jelmaan pusaka dewa dan kedua kakak seperguruannya. Ketika para pasukan kerajaan hitam itu melihat ketiga murid Ki Gading Putih melayang di angkasa, barulah mereka merasa panik sebab mereka telah mendengar berita yang terdengar menakutkan.


Tetapi apakah para pasukan hitam yang mendiami istana Catrawana itu berniat untuk pergi? Ternyata tidak. Hanya para pasukan dari swargawana yang menyaksikan kehebatan Batari Mahadewi saja yang tanpa di suruh lagi telah melesat ke arah barat menuju ke wilayah Catrabhumi. Sisanya masih diam di sana. Mereka tak merasakan pancaran energi Batari Mahadewi yang menurut laporan, sangat mengerikan.


Sehingga, mereka tak mempercayai kebenaran berita yang baru saja mereka dengarkan. Selebihnya, mereka ingin membantai tiga pendekar putih yang telah lancang memasuki wilayah mereka.


“Benarkah pendekar itu yang menghancurkan seluruh bala tentara kita di Swargawana? Sepertinya tidak mungkin,” Kata salah satu dari sepuluh pendekar tingkat tinggi kerajaan Tirayamani yang dipercaya oleh panglima Kera Api untuk memimpin kekuasaan di Catrawana.


“Ya, aku juga tak percaya jika pendekar semacam itu bisa menaklukkan seluruh pasukan kita. Jangankan seluruh pasukan, mungkin mereka bertiga itu tak akan sanggup melawan panglima kita,” kata salah satu rekannya.


“Bagaimana jika kita bereskan saja secepatnya. Aku tak mau pasukan kita yang ada di sini menganggap bahwa berita yang baru saja kita dengar itu merupakan berita yang benar.”


Sepuluh pendekar hitam tingkat tinggi yang dipercaya panglima Kera Api itu melesat ke angkasa mengepung Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken.


“Berani sekali kalian datang kemari. Tak tahukah kalian bahwa wilayah ini sekarang sudah menjadi kekuasaan kerajaan Tirayamani?”


“Apakah kalian tak mendapatkan kabar dari teman-teman kalian yang sudah melarikan diri dari Swargawana?” gertak Jalu.


“Hahaha, omong kosong macam apa itu! baiklah, kalian datang kemari artinya kalian mau mencari mati. Kami akan mengabulkannya.”

__ADS_1


“Ternyata kalian pengecut juga. Jika kalian tak percaya berita itu, dan kalian merasa hebat, seharusnya kalian malu mengepung kami bertiga ini dengan sepuluh orang,” sindir Niken.


“Tentu tidak. Kami tak perlu mengeroyok kalian. Cukup satu saja dari kami yang akan melawan kalian bertiga. Kami hanya ingin tahu wajah cecurut yang berani datang kemari.”


“Kalau begitu, siapa diantara kalian yang akan melawan kami?” kata Batari Mahadewi.


“Aku yang akan melawan kalian.”


Batari Mahadewi tiba-tiba sudah berada persis di depan orang yang baru saja bicara itu. ia memberikan tepukan pelan di kepala orang itu dan seketika orang itu jatuh dari angkasa. Tubuhnya menimpa atap istana dan tentu saja hal itu tak hanya membuat kaget para pendekar hitam yang ada di bawah, namun juga Sembilan pendekar yang tersisa di angkasa.


“Apakah kalian masih berniat melawanku satu lawan satu?” tanya Batari Mahadewi.


Tak ada jawaban. Sembilan pendekar hitam yang masih tersisa itu tak mau mengalami nasib yang sama. Mereka mengambil jarak yang cukup dan merubah wujud merek menjadi makhluk setengah siluman.


Namun belum sempat mereka menyerang, Batari Mahadewi telah berhasil membuat mereka semua jatuh dari angkasa tanpa mereka sadari kapan gadis jelmaan pusaka dewa itu menyerang mereka.


Ribuan pasukan yang ada di bawah tak benar-benar bisa melihat dengan jelas apa yang telah terjadi di angkasa. Namun mereka menyaksikan dengan jelas bahwa sepuluh pemimpin mereka telah jatuh dari langit bahkan sebelum mereka melakukan sesuatu.


Para pasukan bodoh yang marah itu melesat ke angkasa dan mencoba menyerang ketiga pendekar muda Swargadwipa yang masih melayang di sana itu.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2