Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 263 Pamit Meninggalkan Perguruan Tongkat Langit


__ADS_3

Di Siwarkatantra, guru Udhata mengajak Batari Mahadewi untuk mencari bahan terbaik untuk menciptakan senjata pusaka. Kakek tua itu turun ke dalam kawah sebuah gunung api di Siwandacara demi logam-logam terkeras yang tercipta secara alami dari proses kimiawi dari api perut bumi.


“Ini sedikit berbahaya, nona, jadi berhati-hatilah nanti jika melakukannya,” guru Udhata mengingatkan.


“Tenang saja, kakek guru, saya pernah mengalami yang lebih buruk dari ini,” kata Batari Mahadewi. Ia teringat pengalamannya menelusuri sungai api di dunia tiga rembulan bersama Nala.


“Lihat caraku melakukannya terlebih dahulu sebelum kau mencobanya nanti,” kata guru Udhata. Ia melesat ke tepi lahar gunung, lalu mengambil beberapa bongkahan logam yang ada di dinding kawah itu. Guru Udhata melakukannya dengan cepat karena tenaganya tak bisa menahan panas kawah itu terlalu lama. Setelah mendapatkan beberapa bongkah logam berukuran besar, kakek tua itu melesat ke puncak.


“Inilah bahan-bahan yang kumaksudkan nona,” kata guru Udhata sembari menunjukkan hasil perburuannya. Nafas kakek itu nampak tak teratur setelah mengeluarkan banyak tenaga menahan panasnya kawah gunung api itu.


Batari Mahadewi teringat, dulu ketika ia berada di perut bumi dunia tiga rembulan, ia melihat banyak sekali berbagai sumber energi dan juga logam keras. Ia berfikir, seharusnya di dunianyapun, ia juga bisa menemukan hal yang mirip meski kualitasnya mungkin berbeda.


Batari Mahadewi mengamati berbagai logam yang dibawa guru Udhata dengan seksama dan menghafalkannya. Ia bisa saja turun lebih jauh, mencelupkan dirinya ke dalam kawah dan menelusuri sungai api. Namun ia tak ingin memperlihatkannya di hadapan kakek tua itu. Lagipula, tujuannya menemui guru itu hanyalah belajar dan mendapatkan pengetahuan sebatas yang diketahui sang kakek tua itu.


“Sekarang saya akan mencobanya kakek guru, mencari bahan-bahan yang sama dengan yang kakek guru bawakan,” kata Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat meluncur ke bawah di tempat yang sama dengan tempat sang guru udhata mendapatkan berbagai bahan pusaka itu.


Sesampainya di bawah, Batari Mahadewi mengamati dinding dan lantai logam di sekelilingnya. Suhu di sana sangat panas. Pantas saja sang guru tak sanggup bertahan lama dan memperhatikan dengan lebih seksama untuk memilih bahan yang lebih bagus kualitasnya.


‘Ternyata ada juga kristal api di sini, aku akan mengambilnya beberapa,’ batin Batari Mahadewi. Ia menemukan beberapa kristal api berukuran kecil. Jauh lebih kecil dari yang bisa ia lihat di dinding-dinding goa pulau Api di dunia tiga rembulan. Meski begitu, kristal kecil itu jauh lebih besar kekuatannya dibandingkan dengan mustika alam atau mustika siluman.


Dengan kuku-kukunya yang tajam, Batari Mahadewi melubangi dinding gunung di tepi kawah itu. Ia mencongkel beberapa kristal api dan membawa beberapa bongkah logam berwarna abu-abu-perak itu. Setelah dirasa cukup, gadis itu melesat ke puncak gunung.

__ADS_1


“Kau bisa bertahan sangat lama di bawa sana, nona. Sungguh kemampuanmu luar biasa,” puji kakek Udhata.


“Saya menemukan benda ini, kakek,” kata Batari Mahadewi sembari memperlihatkan beberapa keping kristal api. “Apakah kakek guru pernah melihatnya?”


“Ya, aku pernah menemukan itu juga. Kristal itu adalah bahan yang sangat bagus. Kau menemukannya di sana?” tanya sang kakek Udhata.


“Benar, di tempat yang sama dengan tempat guru tadi mencari logam,” jawab Batari Mahadewi.


“Hah? Kenapa aku tadi tak melihatnya?” gumam sang kakek. Tentu saja kakek itu tak bisa melihatnya. Batari Mahadewi mengenali benda itu dari sorot cahaya yang dipancarkannya. Benda itu tersembunyi di celah material dinding gunung.


“Mungkin saya sedang beruntung saja guru. Tetapi, bagaimana memanafaatkan benda ini sebagai bahan baku senjata pusaka?” tanya Batari Mahadewi.


“Benda ini bisa digunakan sebagai pengganti mustika. Kekuatannya jauh lebih bagus dari mustika siluman, tapi tetap tak sekuat mustika iblis yang kau dapatkan itu. Bedanya, dengan menggunakan kristal ini, senjata pusaka yang kita ciptakan akan cocok untuk pendekar dengan aliran apapun dan dengan latar belakang kekuatan apapun.


Sementara, senjata pusaka dengan mustika siluman atau mustika iblis selalu memiliki jiwa yang akan terhubung dengan pemiliknya. Kadang jiwa dalam pusaka itu menolak untuk dimiliki pendekar tertentu, terutama yang lebih lemah dari kekuatan pedang itu.


Guru Udhata dan Batari Mahadewi pulang ke perguruan dengan membawa banyak bahan bagus yang bisa digunakan untuk menciptakan lima pedang berukuran besar.


Di hari-hari selanjutnya, gadis jelmaan pusaka dewa itu sibuk menempa beberapa senjata pusaka dengan berbagai bahan yang ia miliki. Ia sengaja tak menciptakan senjata pusaka berukuran besar karena hal itu akan merepotkan dirinya sendiri ketika harus membawanya dalam perjalanan.


Sebagai gantinya, gadis jelmaan pusaka dewa itu membuat pedang dan golok berukuran kecil dengan variasi bentuk yang berbeda-beda. Ia berhasil menciptakan lima buah senjata pusaka baru yang kekuatannya sedikit di bawah pedang tiga jiwa ciptaannya setelah ia selesai menciptakan pedang berlian hitam.


Setelah hampir sebulan Batari Mahadewi menuntut ilmu di perguruan tongkat Langit, akhirnya gadis jelmaan pusaka dewa itu pamit melanjutkan perjalanan. Gadis jelmaan pusaka dewa ini meninggalkan pedang tiga jiwa di sana sebagai kenang-kenangan. Ia yakin, suatu hari pedang itu akan berguna bagi guru Udhata.

__ADS_1


“Terimakasih banyak atas bimbingan yang diberikan kepada saya selama ini, kakek Udhata, kakek Tagama, kakek Sada, dan saudara-saudariku semuanya,” kata Batari Mahadewi memohon pamit. Di gerbang perguruan itu, mereka berpisah.


“Selamat jalan, nona Tari. Jangan lupa mampir jika suatu hari kau ada di wilayah ini lagi,”


“Pasti,” jawab Batari Mahadewi.


Gadis itu melesat terbang menuruni gunung Tiang langit. Ia tak tahu akan pergi kemana, tetapi ia ingat akan janjinya untuk menemui pendekar Angin Utara di Siwandaraka.


Batari Mahadewi membawa lima buah pusaka sakti yang ia gendong di punggungnya. Pusaka itu tetap menarik perhatian banyak orang meski gadis jelmaan pusaka dewa itu telah membungkusnya dengan kain putih untuk menutupi bentuknya. Sementara, pedang berlian hitam terselip manis di pinggangnya. Ia mulai menyayangi senjata pusaka pertama buatannya itu.


Bukan Batari Mahadewi jika ia tak kangen makan. Di suatu tempat yang terlihat sibuk, gadis itu berniat untuk mencari kedai makan. Lidahnya sudah lama protes karena tak pernah mencecap makanan kecuali minuman buatan kakek Sada di perguruan Tongkat Langit.


Begitu gadis luar biasa cantik itu memasuki kedai makan, semua mata tertuju padanya. Bukan hanya karena ia cantik, namun bagaimanapun juga lima buah pusaka di punggungnya itu terlihat sangat mencolok. Siapapun yang ada di kedai, jika mereka adalah pendekar sakti, pasti bisa merasakan pancaran energi dari kelima senjata sakti yang dibawa oleh Batari Mahadewi.


“Selamat datang nona, makanan apa yang ingin nona pesan saat ini?” tanya pelayan kedai itu.


“Apakah ayam panggang masih ada paman?” tanya Batari Mahadewi.


“Masih banyak nona,” jawab pelayan itu.


“Saya pesan tiga ekor utuh yang dipanggang dengan matang, dua porsi nasi, dan tiga buah kelapa muda,” pesan Batari Mahadewi.


“Oh, teman nona masih dalam perjalanan kah?” tanya pelayan itu.

__ADS_1


“Tidak paman, saya sendirian saja,” jawab Batari Mahadewi


“Oh, baiklah, hehehe, apa yang saya pikirkan….hehehehe….akan saya siapkan nona,” kata pelayan itu pergi dengan muka heran. Peduli amat, yang penting dagangan laku.


__ADS_2