
Di Swargadwipa, bantuan dari kerajaan-kerajaan timur sudah tiba. Dua kerjaan sekutu Swargadwipa, yakni kerajaan Swargaloka dan Madyabhumi masing-masing telah mengirimkan bantuan dua ratus lima puluh ribu prajurit. Berkat melambatnya perjalanan pasukan Swargabhumi, maka bantuan pasukan itu telah sampai lebih dahulu di Swargadwipa.
Kini jumlah pasukan yang ada di Swargadwipa sebanyak satu juta prajurit dan sepuluh ribu pendekar dari berbagai perguruan di Swargadwipa, Swargaloka dan Madyabhumi. Mahapatih Siung Macan Kumbang bisa bernafas lega karena jumlah kekuatan yang ia miliki lebih dari cukup untuk menyingkirkan pasukan Swargabhumi.
Mahapatih Siung Macan Kumbang juga merasa lebih bersemangat lagi setelah mendapatkan kabar terbaru dari pergerakan pasukan Swargabhumi. Mahapatih itu diam-diam merasa kagum dengan sepak terjang Pradipa dan para pendekar yang dipimpin olehnya. Usaha yang dilakukan oleh Pradipa dan timnya banyak membuahkan hasil yang tak hanya memperlambat perjalanan pasukan musuh, namun juga banyak mengurangi jumlah pasukan serta mental dari seluruh pasukan Swargabhumi.
Mahapatih Siung Macan Kumbang juga mendapatkan kabar bahwa Mahapatih Hamapadayana mengirimkan seratus ribu pasukan ke Mutiara Biru untuk menghukum salah satu senopatinya yang ia anggap telah lancang karena membangun kembali kota itu menjadi lebih megah lagi dari sebelumnya. Dengan begitu, Mahapatih Siung Macan Kumbang memiliki rencana lain. Ia tak akan menunggu pasukan Swargabhumi datang ke kota kerajaan Swargadwipa, namun mahapatih itu ingin meluluh lantakkan rombongan itu sebelum mereka sampai di kota kerajaan Swargadwipa.
Hal pertama yang dilakukan oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang adalah mengirimkan pesan kepada Jalu untuk menyiapkan pasukannya menuju Mutiara Biru. Setelah pasukan Swargabhumi itu saling menyerang dan salah satu kelompok telah kalah, maka Jalu dan pasukannya akan menyelesaikan sisanya dengan tujuan menguasai kembali kota Mutiara Biru tanpa kehilangan banyak prajurit.
Selanjutnya, Mahapatih Siung Macan Kumbang mengirimkan utusan ke berbagai kota di Swargadwipa untuk mulai menggerakkan pasukan menuju ke kota Kayu Wangi yang menjadi tempat persinggahan sementara rombongan pasukan Swargabhumi.
Hal ketiga yang harus dilakukan adalah menyiapkan seluruh pasukan gabungan, semua peralatan perang dan semua kebutuhan untuk menyerang pasukan Swargabhumi. Mahapatih Siung Macan Kumbang sangat yakin kali ini merupakan waktu yang tepat untuk memenangkan pertarungan.
Sementara itu, di kota Mutiara Biru, senopati Girimaya sungguh gelisah dengan berita yang ia dengarkan. Pradipa mencoba untuk menenangkannya.
__ADS_1
“Senopati, sudah pasti keberhasilanmu akan menimbulkan rasa iri bagi orang lain. Aku yakin Aryasakti telah mengatakan sesuatu yang membuat Mahapatih Hamapadayana salah menafsirkan usahamu untuk membangun kota ini. Jangan khawatir, masih ada waktu beberapa hari lagi untuk menyiapkan pasukan. Percayalah, di dalam benteng ini kita tak akan bisa ditumbangkan oleh pasukan Aryasakti yang konon berjumlah seratus ribu prajurit.” Kata Pradipa.
“Tapi tuan pendekar, bukan ini yang sebenarnya aku harapkan.” Kata Girimaya.
“Jika Mahapatih Hamapadayana melihat sendiri karja keras dan maksud dari usaha senopati, tentu ia akan memberikan dukungan. Hanya saja, beliau tahu dari Aryasakti. Siapapun akan iri dengan posisi senopati saat ini dan pasti ada keinginan untuk menjatuhkan senopati. Maka, senopati harus yakin bahwa usaha ini adalah untuk kebaikan Swargabhumi. Senopati harus mempertahankannya. Kita lawan Aryasakti bersama-sama. Ia hanya membawa prajurit dan peralatan perang seadanya yang tak akan mampu menembus benteng ini. Aku akan memberikan arahan untuk bertahan.” Kata Pradipa.
Tentu saja Pradipa sangat senang dengan perkembangan yang tengah terjadi saat ini. Terlebih ia telah mendapatkan kabar rahasia bahwa Jalu ditugaskan untuk menguasai kembali kota Mutiara Biru. Pradipa berencana untuk membuat Aryasakti ataupun Girimaya sama-sama kehilangan banyak prajurit.
Selama menunggu kedatangan pasukan Swargabhumi yang dipimpin oleh Aryasakti, Pradipa dan Girimaya menyiapkan pasukan serta segala persenjataan jarak jauh yang mereka miliki. Meski Girimaya kalah dalam jumlah prajurit, namun ia memiliki benteng yang kokoh, persenjataan yang lebih banyak, serta pendekar sakti yang lebih banyak dari yang dimiliki oleh Aryasakti.
Pradipa sekali lagi memberikan pemikiran yang membuat Girimaya menyetujuinya.
“Jika senopati menyerah tanpa perlawanan, sudah pasti Mahapatih Hamapadayana akan memberikan hukuman mati. Jika aku menjadi senopati, meski sama-sama akan mati, namun aku akan memilih mati mempertahankan kota ini. Kedua, jika senopati bertahan di kota ini, maka kemungkinan menang masih ada.” Kata Pradipa.
“Tapi jika hari ini kita bisa menang, bukankah Mahapatih akan mengirimkan pasukan lagi kemari?” tanya Girimaya.
__ADS_1
“Tidak mungkin Mahapatih akan melakukannya lagi. Ia harus berhemat untuk menghadapi pasukan Swargadwipa. Beberapa hari yang lalu sebenarnya aku pergi mencari tahu segala hal tentang Swargadwipa. Aku berhasil menangkap salah satu mata-mata Swargadwipa lalu aku berhasil membuatnya menceritakan banyak hal tentang situasi yang ada di sana. Aku tak yakin yang ia katakan adalah sesuatu yang benar. Tapi aku memilih untuk menganggapnya benar. Bahwa saat ini, Swargadwipa memiliki satu juta pasukan ditambah puluhan ribu pendekar sakti.” Kata Pradipa.
“Berarti, Mahapatih Hamapadayana menghadapi hal yang sulit.” Kata Girimaya.
“Benar sekali. Meski Mahapatih memiliki pasukan yang lebih banyak, namun secara kualitas kekuatan pasukan Swargabhumi lebih kecil dari yang dimiliki Swargadwipa. Aku menduga, Mahapatih Hamapadayana akan mundur ke kota Mutiara Biru dan ia akan sangat berterimakasih karena senopati telah membuat pertahanan di kota ini sangat kuat.” Kata Pradipa.
“Aku mengerti, tuan pendekar. Baiklah, kita pertahankan kota ini sebaik-baiknya demi Swargabhumi.” Kata Girimaya.
Girimaya menolak perintah Aryasakti. Maka perang tak bisa dihindari lagi. Pasukan Aryasakti bergerak mendekati benteng yang sangat tinggi dan kokoh itu. Dengan berbekal beberapa kereta pelontar batu saja, pasukan Aryasakti berusaha menjebol salah satu titik di benteng itu. Kereta pelontar batu itu merupakan yang terbaik yang dimiliki oleh Swargabhumi yang semuanya telah dibawa oleh Mahapatih Hamapadayana dan beberapa dipinjamkan untuk pasukan Aryasakti.
Sementara, pelontar batu yang dibuat di Mutiara Biru tak sekuat yang digunakan oleh Aryasakti. Sehingga, Aryasakti bisa melakukan tembakan jarak jauh dan Girimaya tak bisa membalasnya. Imbasnya, salah satu titik di benteng Mutiara Biru bisa dihancurkan dan titik itu menjadi pintu masuk bagi pasukan aryasakti.
Begitu pasukan Aryasakti dengan gelap mata bergerak maju untuk memasuki kota Mutiara Biru. Ratusan kereta pelontar batu yang dimiliki Girimaya mulai dimanfaatkan. Tak hanya itu, Girimaya menyisihkan sepuluh ribu pasukannya sebagai pasukan pemanah. Akibatnya, ratusan ribu anak panah dan ribuan batu besar yang dilontarkan dari balik benteng telah menewaskan banyak sekali pasukan Aryasakti bahkan sebelum mereka berhasil memasuki kota. Lalu sisa prajurit Aryasakti berhasil masuk ke dalam benteng dan saling bantai dengan saudara mereka sendiri.
Pradipa dan beberapa rekan pendekar yang ia pimpin telah menjauh dari kota itu diam-diam. Mereka memantau peperangan dari jarak yang cukup jauh. Pradipa sangat puas. Kemenangan sudah di depan mata. Ia mengirimkan dua pendekar rekannya untuk memberikan kabar kepada Jalu dan pasukannya yang telah bersembunyi di sebuah hutan tak jauh dari kota Mutiara Biru.
__ADS_1