
Empat belas hari setelah Jalu dan Niken memberikan serangan kejutan untuk Hamapadayana dan para prajuritnya, bantuan dari kerajaan Swargabhumi akhirnya tiba. Bantuan kekuatan itu berupa tambahan satu juta prajurit, seratus ribu ekor kuda, seribu ekor gajah, bahan makanan, serta perlengkapan perang dalam jumlah banyak yang salah satunya adalah kereta pelontar batu model paling baru yang bisa melontarkan batu sebesar dua kali ukuran buah semangka dengan jarak lontaran seratus pohon kelapa.
Dengan kereta pelontar batu yang berkekuatan sedemikian rupa, maka pasukan Swargabhumi bisa menghancurkan benteng musuh dari jarak yang sangat jauh dan aman dari serangan panah musuh. Hamapadayana sangat senang dengan datangnya bantuan tersebut karena dengan demikian ia bisa bergerak menuju kerajaan swargadwipa secepatnya. Namun di sisi lain, Hamapadayana juga pusing untuk menempatkan jumlah pasukan yang demikian besar itu di kota Mutiara Biru.
Seluruh bangunan kota sudah pasti tak cukup untuk menampung semua prajurit yang baru saja tiba itu. Bahkan, gedung-gedung dan bangunan atau rumah penduduk di pinggiran kota juga tak ada yang tak terjamah. Sisa prajurit yang tak mendapatkan bangunan untuk beristirahat akan mendirikan tenda di tanah terbuka. Dalam waktu singkat, kota cantik itu berubah menjadi kota kumuh yang menyedihkan.
Semua warga kota Mutiara Biru telah diungsikan di desa-desa yang dekat dengan kota Mutiara Biru sebelum peperangan terjadi. Namun begitu kota itu jatuh ke tangan musuh, banyak warga desa di sekitarnya yang memilih mengungsi secara mandiri. Meski warga desa akan tetap dibiarkan hidup, namun pasukan musuh tetap akan memeras mereka. Tak jarang para prajurit itu berbuat semena-mena seperti misalnya mengambil paksa binatang ternak, hasil bumi, atau bahkan mengambil paksa perempuan-perempuan desa untuk dijadikan pemuas nafsu. Begitulah kelakuan prajurit penjajah di negri manapun.
Satu-satunya tempat yang tak berani di jamah oleh pasukan Swargabhumi adalah perguruan lentera Langit. Meski sebagian besar murid dan anggota perguruan itu telah ikut pasukan Mahapatih Siung Macan Kumbang, namun Ki Cakra Jagad dan beberapa murid seniornya masih tinggal di sana.
Pada hari kedua setelah bantuan pasukan itu datang, beberapa senopati Swargabhumi yang tak tahu menahu dan memang tak bertanya dahulu kepada mahapatih Hamapadayana tiba-tiba mendatangi perguruan itu bersama rombongan prajurit yang ada di bawah komando mereka. Tentu saja kedatangan mereka adalah dengan maksud merebut gedung perguruan yang ada di sana yang setidaknya bisa menampung empat ribu orang.
Sepuluh senopati dan lima ribu prajurit Swargabhumi itu dengan lancang menjebol pintu gerbang perguruan dan masuk ke pelataran perguruan tersebut. Apa yang mereka lakukan tentu saja berhasil membuat Ki Cakra Jagad murka. Ia yang termasuk dalam jajaran senior pendekar aliran putih yang dikenal dengan kesabarannya itu pada akhirnya sangat muak dengan perilaku para prajurit Swargabhumi.
Imbasnya, dalam sekali serangan, sepuluh senopati Swargabhumi yang bodoh sekaligus ceroboh itu mati. Dua ribu prajurit yang mereka bawa juga ikut mati. Sementara sisanya diberi kesempatan hidup dan harus membawa pergi semua mayat yang ada di perguruan itu.
__ADS_1
Tentu saja, jabatan senopati tak akan disematkan kepada sembarang orang. Para senopati selalu jauh lebih sakti dari para prajuritnya. Senopati itu pada dasarnya memiliki kemampuan sekelas pendekar dan memiliki kesaktian tertentu. Hanya saja yang mereka hadapi adalah jagoan kelas berat yang bahkan akan membuat dua puluh pendekar aliran hitam bergelar dengan kesaktian setengah siluman lebih memilih untuk tak menghadapinya.
Kejadian itu sudah pasti membuat Mahapatih Hamapadayana murka, namun ia tak mau mengambil resiko untuk menuntut Ki Cakra Jagad atas kematian anak buahnya yang ceroboh itu. Sehingga, ia menganggap peristiwa itu tak pernah terjadi. Untungnya, Ki Cakra Jagad masih memegang teguh kesepakatan para pendekar senior sekelasnya baik yang berada di wilayah timur dan barat untuk tak akan ikut campur dalam masalah perang, namun para pendekar itu berhak memberikan perlawanan apabila apa yang menjadi haknya ikut tersentuh.
Mahapatih Hamapadayana akan bergerak menuju kota kerajaan Swargabhumi dalam beberapa hari lagi. Jumlah pasukan sebesar itu justru akan membuat perjalanan lebih banyak memakan waktu. Mahapatih Hamapadayana lebih memilih untuk tak melewati kota-kota lainnya yang masing-masing telah menyiapkan prajurit siap mati untuk tak membiarkan kota yang mereka jaga jatuh tanpa perlawanan.
Mahapatih Hamapadayana berfikir bahwa sangat rugi untuk menyerang tiap-tiap kota yang ada di wilayah Swargadwipa, sebab begitu mereka berhasil menguasai kerajaan Swargadwipa, otomatis kota-kota yang dinaungi kerajaan itu akan jatuh ke dalam kekuasaan Swargabhumi.
####
Menjelang hari keberangkatan para prajurit Swargabhumi menuju swargadwipa, dua mata-mata kepercayaan Mahapatih Siung Macan Kumbang telah sampai di kota Dhyana untuk memberikan kabar terbaru dari kekuatan dan pergerakan lawan.
“Benar, gusti patih. Mereka akan bergerak langsung menempuh jalur hutan, tanpa melewati kota-kota yang ada sebelum kota kerajaan.” Jawab prajurit mata-mata itu. Prajurit itu kemudian memberikan berbagai penjelasan yang rinci tekait dengan peralatan dan rencana sementara pergerakan prajurit Swargabhumi.
“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak atas laporanmu. Sekarang kembalilah ke posisimu dan kabarkan jika ada suatu hal yang penting padaku. Setelah ini, aku akan berangkat ke Swargadwipa, jadi kau atau yang lain bisa mencariku di sana.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
__ADS_1
Seusai pertemuan singkat dengan prajurit mata-mata kepercayaannya, Mahapatih Siung Macan Kumbang segera menemui Jalu dan Niken serta memanggil beberapa senopati yang bertugas di kota Dhyana. Mereka mengadakan rapat darurat. Sang Patih membuka percakapan setelah semua orang yang ia panggil telah datang.
“Aku mengundang kalian untuk memberi tahu bahwa hari ini juga aku akan berangkat ke kerajaan Swargadwipa. Pasukan musuh sudah bergerak dan jumlahnya lebih besar dari yang kuperkirakan. Maka, semua prajurit yang ada di kota ini akan dipimpin kembali oleh Jalu.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Berapa banyak jumlah pasukan musuh, paman?” tanya Jalu.
“Sekitar satu juta lima ratus ribu prajurit yang dilengkapi dengan peralatan tempur terbaik yang mereka miliki. Aku harus mengabarkan hal ini langsung kepada Maharaja Srengenge Ireng dan menyusun rencana lain untuk menggagalkan serangan itu. Jumlah sebesar itu sudah pasti akan mudah menguasai Swargadwipa jika kita salah menyusun siasat perang. Terlebih, jika pemikiranku benar, akan ada pasukan gelombang ketiga yang datang memberikan bantuan jika pasukan mereka kali ini belum berhasil menguasai Swargadwipa. Perang akan berlangsung sangat lama.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Oh, dewata, sebanyak itukah kekuatan musuh?” kata Jalu.
“Jangan kecil hati. Jumlah yang banyak justru bisa menjadi kelemahan. Lagipula, jumlah pendekar sakti yang mendukung Swargadwipa masih berimbang dengan yang dimiliki Swargabhumi. Kita hanya kalah jumlah prajurit dan peralatan tempur. Itu saja. Jangan khawatir, aku masih punya segudang rencana untuk memberikan kejutan pada mereka.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang sambil tersenyum menenangkan hati para bawahannya itu, meski ia sendiri belum tahu apa rencana yang akan ia perbuat.
“Baiklah, paman. Aku akan memegang kendali kekuatan di sini. Lalu kapan kami akan bergerak menyerang musuh dari belakang?” tanya Jalu.
“Aku akan mengirimkan mata-mata kepadamu, Jalu. Begitu aku mengirimkan kabar, kau bisa bergerak dan menjaga jarak dengan pasukan musuh. Kau hanya akan menyerang jika mereka telah menembus benteng ke tujuh.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
__ADS_1
Setelah pertemuan singkat itu, Mahapatih Siung Macan Kumbang yang hanya ditemani oleh senopati Welang langsung berangkat ke kota kerajaan Swargadwipa. Keduanya pergi meninggalkan kota Dhyana tanpa diketahui banyak orang, yang artinya kepergian sang patih bersifat rahasia, meski rahasia itu tak akan bertahan lama.
Mahapatih Siung Macan Kumbang dan senopati Welang melakukan perjalanan tanpa kuda. Justru dengan mengandalkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki, keduanya bisa jauh lebih cepat dari kuda tercepat yang berlari tanpa henti dari kota Dhyana ke kota kerajaan Swargadwipa.