
Batari Mahadewi, Niken dan Jalu sangat bersemangat dengan tugas dari gurunya. Inilah pertama kalinya mereka menjajaki dunia persilatan dan memperkenalkan diri mereka pada dunia. Bagi Batari Mahadewi, bukan sesuatu yang penting apabila ia dikenal orang. Namun bagi Niken dan Jalu yang telah mengasah ilmunya beberapa tahun ini di Padepokan Cemara Seribu, mereka menginginkan pengakuan.
Setidaknya, mereka ingin mencoba sejauh mana ilmu yang telah mereka kuasai saat ini. Mereka baru saja meninggalkan desa Maharani untuk menuju desa selanjutnya yang belum pernah mereka ketahui. Memang tak banyak yang mereka tahu tentang dunia ini sebab sejak kanak-kanak, mereka hanya tinggal di Padepokan Cemara Seribu.
Hal yang paling menyenangkan adalah pertemuannya dengan orang-orang atau pendekar-pendekar ketika mereka singgah di kedai atau penginapan sepanjang perjalanan mereka.
Dari sanalah mereka tahu arah yang harus mereka tuju, dan mendengarkan berita-berita menarik di dunia persilatan. Tentu saja sebagian dari mereka hanya membual, dan sebagian berkata jujur. Tapi setidaknya, cerita-cerita itu menambah semangat mereka bertiga untuk mengetahui dunia.
Untuk menuju desa selanjutnya, mereka harus melewati suatu lembah. Beberapa orang yang mereka temui di penginapan mengatakan bahwa sebaiknya tidak usah saja meneruskan perjalanan melewati lembah itu jika tak ingin hal-hal buruk terjadi. Namun jalan itu merupakan jalan yang paling singkat.
Tanpa jalan itu, artinya mereka harus mengitari pegunungan untuk mencapai desa yang mereka tuju dan hal itu bisa memakan waktu lebih dari dua hari lamanya.
Tentu mereka juga mempertimbangkan jumlah bekal yang mereka terima dari Ki Gading Putih untuk menginap. Semakin lama mereka berjalan, semakin jauh jalan yang dipilih, maka bekal itu akan habis sebelum mereka selesai menuntaskan tugas. Setidaknya itulah yang ada di dalam benak mereka.
“Kita harus melewati lembah ini sebelum gelap.” Kata Niken
“Ya, aku setuju.” Jawab Jalu. Lalu mereka segera bergegas untuk melewati lembah yang kata orang-orang merupakan Lembah Kematian. Lembah itu bukan hanya penuh dengan binatang buas, namun juga sarang siluman.
Jalan setapak yang mereka lalui kemudian bercabang. “Kita harus lewat yang mana?” kata Jalu kepada Niken.
“Tidak ada yang memberi tahu soal ini.” Jawab Niken.
“Tentu saja, diantara orang-orang yang kita temui, mungkin tak ada yang pernah lewat sini.” Jawab Jalu. Lalu mereka berdiam diri sesaat. Menimbang jalan mana yang sebaiknya mereka pilih.
Batari Mahadewi mampu merasakan percabangan jalan itu memiliki energi yang berbeda. Jalan sebelah kiri memiliki energi hitam yang sangat pekat, sementara jalan kanan tidak memiliki energi hitam sepekat jalan yang kiri. Lalu ia mendekati sebuah pohon besar yang memisahkan percabangan jalan itu. Ia mencoba membaca tanda yang terekam dalam pohon itu.
“Sebaiknya kita lewat jalur kanan, kakak-kakakku.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Jalu dan Niken berpandangan. Bagaimanapun juga, keputusan ada di tangan Jalu sebagai pemimpin kelompok mereka.
“Lihat di depan sana, pepohonan di jalur kiri tidak selebat di jalur kanan. Kurasa kita lebih baik melewati jalur yang kiri.”
Kata Jalu. Niken membenarkan pendapat Jalu. Batari Mahadewi hanya menuruti saja pendapat kakak-kakaknya. Ia merasa lebih tegang kali ini. Jauh lebih tegang daripada berhadapan dengan lusinan perampok.
“Kita gunakan tenaga dalam dan melewati jalan ini secepatnya.” Kata Jalu. Kedua adiknya sepakat. Lalu mereka melenting dengan cepat meyusuri jalan itu.
Mula-mula, tak ada kendala apapun untuk melewati jalur itu. Sesampainya di tengah lembah, mereka menemukan kejutan yang tak terduga. Seekor laba-laba sebesar sapi menghalangi jalan mereka. Laba-laba itu menciptakan jaring yang sangat besar tepat di tengah jalan. Benang-benang jaring itu sebesar tali tampar yang berwarna putih kecoklatan, cukup kuat untuk menjerat seekor gajah dewasa.
“Bagaimana kalau kita menghindar, melewati samping pepohonan itu?” kata Niken. “Sejujurnya aku sedikit jijik dengan laba-laba.”
“Jika laba-laba ini adalah binatang sungguhan, tentu tak ada masalah. Tapi ini siluman. Mau lewat mana saja ia akan mengejar kita.” Kata Jalu. “Kita akan melawannya. Lagipula, kita belum pernah menggunakan kekuatan kita untuk hal-hal seperti ini bukan?” kata Jalu kepada adik-adiknya sambil tersenyum.
Tiba-tiba laba-laba besar itu mulai bergerak menuruni jaringnya. Mulutnya dengan taring-taring hitam besar dan berlendir itu menyeringai, lalu menyemburkan cairan hitam ke arah mereka bertiga. Jalu, Niken dan Batari Mahadewi segera melompat menghindari serangan itu.
Dengan tangkas Jalu membuat bola-bola api dan mengarahkannya ke tubuh laba-laba itu. Bola-bola api kecil itu tidak mempan sama sekali dan hanya menghanguskan bulu-bulu di tubuh laba-laba yang kini mulai marah itu.
Laba-laba itu membuka mulutnya kembali, namun bukan lendir hitam yang keluar melainkan puluhan laba-laba kecil seukuran buah kelapa melesat menyerang Jalu, Niken dan Batari Mahadewi.
Kini ketiganya disibukkan oleh binatang-binatang menjijikkan itu. Jalu menciptakan bola-bola api lebih banyak
lagi dan mengarahkannya ke laba-laba kecil yang menyerangnya. Nikenpun melakukan hal yang sama dengan sebelumnya. Sementara itu, Batari Mahadewi memukul dan menendang laba-laba yang datang ke arahnya hingga puluhan laba-laba itu terpental jauh lalu hancur menabrak pepohonan.
Saat ketiganya sibuk dengan puluhan laba-laba kecil, laba-laba besar menyemburkan jaring ke arah mereka bertiga. Jalu dan Niken tidak siap dengan kedatangan jaring laba-laba itu. Mereka terperangkap seperti kempompong sambil terus bergerak mencoba melepaskan diri dari jeratan yang lengket itu.
Batari Mahadewi yang bisa menangkap kehadiran energi itu bisa menghindari dengan cepat dari mana arah tenaga itu datang. Ia lolos dari jaring laba-laba. Melihat Niken dan Jalu bersusah payah berusaha keluar dari gumpalan jaring yang membungkus mereka seperti kempompong, maka Batari Mahadewi harus bertindak cepat.
__ADS_1
Ia berlari ke arah laba-laba besar itu sembari menyahut sebatang ranting pohon. Ia mengalirkan energinya ke ranting itu sehingga terciptalah cahaya biru yang seolah tampak menyala dari ranting pohon itu.
Laba-laba besar yang berat dan kuat itu tak bisa mengimbangi kecepatan dan kelincahan Batari Mahadewi. Maka laba-laba itu tak bisa menghindari ujung ranting pohon yang melesat cepat ke arah tubuhnya. Ranting itu tak hanya menembus perut laba-laba, namun juga meledakkan tubuhnya.
Batari Mahadewi baru saja menggunakan jurus pertama dari Ilmu Raga Membelah Bumi, yaitu Cahaya Menembus Batu. Sebelum ia berangkat, ia menyempatkan diri melatih beberapa jurus dasar dari Ilmu Raga Membelah Bumi. Ia dapat melakukannya tanpa kesulitan sebab energinya sudah memenuhi syarat untuk bisa menggunakan jurus tersebut.
Jurus Cahaya Menembus Batu pada dasarnya merupakan jurus yang mengandalkan tenaga dalam yang sangat besar dan mengalirkannya pada media apapun seperti pedang, tombak, atau bahkan benda-benda kecil seperti kerikil. Jurus ini sangat ampuh untuk menumbangkan lawan dengan pertahanan kuat hanya dengan sekali serangan.
Begitu laba-laba besar itu hancur, maka laba-laba kecil yang tersisa melarikan diri ke dalam hutan. Jalu dan Niken yang telah lolos dari jaring lengket menjijikkan itu hanya sempat melihat laba-laba besar itu hancur. Mereka tak sempat melihat jurus apa yang digunakan oleh Batari Mahadewi. Namun mereka berdua tak mengira bahwa adik seperguruannya itulah yang menyelamatkan nyawa mereka untuk pertama kalinya di tugas yang pertama itu dari gurunya.
“Kak Jalu, Kak Niken, kalian tidak apa-apa?” tanya Batari Mahadewi
“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Jalu. Ia merasa kagum atas kekuatan adiknya itu. “Bagaimana kau menghancurkan laba-laba itu, adik?”
“Sejak aku melihat kak Jalu dan kak Niken menyerang laba-laba dengan enegi kecil itu, ternyata tubuh laba-laba itu kebal. Artinya mungkin tubuh itu bisa ditembus dengan tenaga yang lebih besar lagi. Jika kak Jalu tadi menggunakan energi besar untuk menciptakan api, mungkin laba-laba itu langsung mati dalam sekali serangan.” Jawab Batari Mahadewi berusaha mengangkat lagi semangat saudara dan saudarinya itu. Namun yang dikatakan Batari Mahadewi benar.
“Aku memang tak ingin menggunakan tenaga yang besar tadi, berharap bisa membunuh laba-laba itu tanpa menghancurkannya. Dengan begitu kita bisa mengambil mustikanya.” Kata Jalu.
“Mustika?” tanya Batari Mahadewi.
“Iya. Benda itu biasanya berbentuk bulat seperti bola kristal, dan bercahaya.” Niken menjelaskan. Batari Mahadewi lantas teringat dengan bola Kristal biru yang ia peroleh dari sosok di dalam sungai waktu itu.
“Lalu apa gunanya mustika itu?” tanya Batari Mahadewi mencoba mencocokkan dengan pengalamannya di waktu itu.
“Para pendekar mengumpulkan mustika itu untuk meningkatkan kemampuannya. Mustika itu juga bisa dipasang pada senjata untuk menambah kekuatan mistis pada senjata itu. Tak hanya itu, mustika siluman memiliki khasiat penyembuh yang luar biasa. Benda itu bisa memulihkan luka-luka kita setelah bertarung dalam waktu singkat.” Jalu menjelaskan.
“Oleh karenanya banyak pendekar yang berburu mustika siluman itu. Kalaupun mereka tak mau menggunakannya, mereka bisa menjualnya dengan harga yang sangat tinggi.” Niken menambahkan.
__ADS_1
Batari Mahadewi mengngguk-angguk tanda paham. Ia membenarkan ucapan kakak-kakaknya. Hanya saja, Batari Mahadewi tidak tahu bahwa bola kristalnya itu merupakan mustika dewa, yang jauh lebih kuat energinya. Bola itu lenyap menjadi cahaya biru dan merasuk dalam tubuhnya setelah Batari Mahadewi selesai menyerap energinya.
“Baiklah, kita lanjutkan perjalanan.” Kata Jalu. Ketiganya kemudian mulai melesat menyusuri jalan kecil di tengah hutan itu dengan kecepatan tinggi. Batari Mahadewi masih bisa merasakan energi hitam yang sangat pekat menanti di depan. Ia tahu bahwa laba-laba itu adalah hal kecil. Sementara ada masalah besar yang menanti mereka bertiga.