
Di tempat yang lain, setelah Batari Mahadewi, Jalu dan Niken berangkan menjalankan tugasnya, Ki Gading Putih telah melakukan perjalanan astral ke berbagai penjuru wilayah untuk menemui sahabat-sahabat lamanya, para pendekar legendaris yang sudah tak pernah lagi menampakkan diri di dunia persilatan.
Meski ia mendengar kabar mengenai kebangkitan dan pergerakan para pendekar ilmu hitam untuk membalas dendam, namun hal itu bukanla hal yang ia risaukan. Cerita yang ia dapat dari pendekar Raja Naga Selatan tentang bangsa raksasa yang menguasai khayangan lebih mendebarkan hatinya. Ia tak lagi bisa tenang menikmati masa tuanya, pensiun sebagai pendekar dan berdiam diri saja di Padepokan Cemara Seribu.
Berita itu membuatnya berniat kembali lagi ke dunia parsilatan, bukan untuk bertarung melawan sesama pendekar, melainkan untuk menghimpun kekuatan dan rencana untuk menangkal bencana apabila kelak bangsa raksasa akan turun ke dunia manusia.
Setelah bertemu dengan Raja Naga Selatan, Ki Gading Putih juga menemui ketiga pendekar Raja Naga lainnya, yaitu Raja Naga Utara, Raja Naga Timur, dan Raja Naga Barat. Ia juga menemui Agrapana beberapa hari kemudian setelah Batari Mahadewi dan Jalu berkunjung ke sana.
Melalui Agrapana, Ki Gading Putih mengetahui perkembangan murid bungsunya itu. Sedikit banyak ia menaruh harapan pada gadis kecil itu apabila benar cerita Agrapana bahwa Batari Mahadewi masih memiliki 7 segel energi dalam tubuhnya yang belum terbuka.
“Berarti kabar yang disampaikan oleh Raja Naga Selatan itu benar apabila kolam suci memperlihatkan hal yang sama, yakni gambaran kehancuran masa depan.” Kata Ki Gading Putih.
“Aku juga tak menyangka hal ini akan terjadi. Tetapi muridmu yang paling muda itu berhasil melihatnya. Sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan padamu soal muridmu itu.” kata Agrapana.
__ADS_1
“Silahkan, paman” Kata Ki Gading Putih.
“Bagaimana kau bisa menemukan gadis itu?” tanya Agrapana.
“Seseorang di desaku menemukannya ketika ia masih bayi. Keesokan harinya aku menengoknya dan aku melihat hal yang berbeda dari bayi itu. Hal yang belum pernah aku lihat sebelumnya.” Jawab Ki Gading Putih.
“Apa kau yakin dia itu manusia?” tanya Agrapana.
“Kenapa paman menanyakan hal itu?” Ki Gading Putih menjawabnya dengan pertanyaan.
“Aku belum melihat perkembangan gadis kecil itu. Jadi aku tak bisa membayangkannya. Tapi memang benar, soal kemampuannya membaca kitab-kitab rahasia dan kemampuannya menyerap energi itu di luar nalar. Di hari pertama ia datang ke padepokan, ia sudah bisa mempelajari Ilmu Raga Membelah Bumi. Tak ada manusia biasa yang sanggup melakukannya.” Kata Ki Gading Putih.
“Kau akan lebih terkejut kalau tahu bahwa muridmu itu sudah menguasai Ilmu Matahari dan Tapak Petir. Itu sudah membuatnya sulit dikalahkan. Semoga saja dia membawa hal baik. Jika segel ke 12 miliknya bisa terbuka, maka ia bukanlah tandingan siapapun. Namun, bagaimana jika ia membawa malapetaka? Aku yakin jika semua segel itu terbuka, wujudnya bukan lagi manusia.” Kata Agrapana.
__ADS_1
“Aku juga sempat mengkhawatirkan hal itu, tapi aku yakin satu hal bahwa ia merupakan petanda baik. Mungkin satu-satunya harapan kita jika para raksasa datang ke dunia. Tapi, itupun kalau dia berhasil membuka seluruh segelnya. Mungkin saja ia bukan manusia. Tapi, apakah menurut paman, ia titisan dewa?” tanya Ki Gading Putih.
“Itu satu-satunya jawaban yang paling mungkin, meski belum pernah kudengar kisah tentang titisan dewa dengan kemampuan seperti itu. Jika semua segelnya terbuka, dewapun tak mampu menandinginya. Inilah yang membuatku bingung tentang siapa dirinya. Yang pasti, kita harus membantu mengarahkan jalannya agar ia bisa lekas membuka semua segel energi dalam tubuhnya dan ketika saatnya tiba bangsa raksasa itu turun kedunia, maka kita punya harapan. Namun jika bangsa raksasa menyerang selagi gadis itu masih lemah, aku tak tahu lagi.” Kata Agrapana.
“Apakah paman sudah menyampaikan kabar ini kepada tokoh-tokoh pendekar lainnya?” tanya Ki Gading Putih.
“Soal muridmu, aku merahasiakannya. Tapi soal bangsa raksasa itu, hanya satu orang saja yang sudah kukabari, yakni Lokatara, penjaga altar suci Gerbang Surga.” Kata Agrapana.
“Aku belum pernah bertemu dengannya. Bukankah ia setua paman?” kata Ki Gading Putih.
“Ya, dia sama sepertiku. Tak bisa meninggalkan altar suci. Kami tak akan terkalahkan selama berada di altar suci. Namun seperti yang kau tahu, jika aku meninggalkan altar suci ini, aku hanya memiliki separuh dari kekuatanku. Jadi, kau tak bisa sepenuhnya mengandalkanku ataupun Lokatara. Tapi jika keadaan sangat mendesak, altar suci ini ataupun altar suci Gerbang Surga, bisa menjadi benteng terakhir untuk menyelamatkan diri. Untuk urusan duniawi, aku mempercayakan sepenuhnya kepada pendekar-pendekar sepertimu.” Kata Agrapana.
Ki Gading Putih bisa memahami hal itu. tujuannya menemui Agrapana memang bukan untuk meminta bantuan, namun meminta petunjuk karena bagaimanapun juga, Agrapana adalah sedikit dari manusia yang berumur panjang, yang menjadi saksi atas perubahan peradaban dari masa lalu hingga masa kini.
__ADS_1
Ki Gading Putih pamit untuk melanjutkan perjalanannya. Ia berencana untuk menemui beberapa pendekar yang telah menghilang dari dunia persilatan.