
Sejak sebulan lebih Jalu dan Batari Mahadewi meninggalkan perguruan pedang Suci, dan melewati beberapa hutan dan desa, akhirnya mereka sampai di suatu lembah yang merupakan sebuah kota kuno yang telah ada sejak sebelum kerajaan Swargadwipa berdiri. Kota itu bernama kota Dhyana, sebuah kota yang menyimpan peradaban kuno yang masih terawat dengan baik.
Apabila dibandingkan dengan kota lainnya, kota Dhyana itu terlihat sepi layaknya desa yang terpencil. Namun kota itu tidak bisa disebut sebagai desa, karena wilayahnya yang luas dan dipadati oleh bangunan kuno, kuil, dan altar pemujaan. Banyak bangunan yang kosong di sana.
Hampir sebagian besar dari warga kota Dhyana adalah kaum pertapa. Mereka itulah yang menjaga tradisi dan budaya kota itu secara turun temurun. Oleh karenanya, bisa dibilang warga kota itu sedikit tertutup, dalam artian sukar menerima budaya lain. Maka, tak banyak pendatang yang berkunjung ke sana dan tak banyak pedagang di kota itu. Adapun jenis barang yang laku diperjual-belikan hanyalah makanan.
Kota semacam itu sebagaimana desa Atas Awan, selalu menjadi hal yang menarik perhatian Batari Mahadewi. Dinding-dinding kota itu merekam sejarah melalui pertanda-pertanda kecil yang ia baca. Batari Mahadewi dan jalu menyusuri kota itu. Mula-mula, mereka hanya ingin lewat saja dan meninggalkan kota itu, namun karena daya tariknya yang kuat, mereka memutuskan untuk jalan-jalan dan menginap barang semalam.
“Adik tertarik untuk menginap di sini?” tanya Jalu.
“Iya, kak Jalu. Kota ini menyimpan banyak pengetahuan, dan ada satu sumber energi bumi yang tak pernah habis meski kita menyerapnya. Aku bisa merasakannya. Mungkin letaknya di tengah kota.” Jawab Batari Mahadewi.
“Tapi semestinya, sumber itu menjadi tempat suci dan tidak sembarangan orang diperbolehkan ke sana.” Kata Jalu.
“Iya, seharusnya begitu.” Kata Batari Mahadewi. Mereka melanjutkan jalan-jalan melihat sudut-sudut kota itu. Beberapa orang menatap kehadiran mereka dengan tatapan aneh, sebagian lainnya dengan senyuman.
Sebelum sampai di kota itu, Jalu dan Batari Mahadewi telah melewati beberapa desa dan berjumpa dengan beberapa perampok, beberapa perguruan aliran putih, serta pendekar aliran hitam. Di kota Dhyana itu, Batari Mahadewi sama sekali tak menangkap kehadiran pendekar aliran putih, ataupun aliran hitam, namun ia tahu, banyak orang dengan kemampuan beladiri tinggi yang tinggal di kota itu.
Sebagian besar penduduk kota Dhyana belajar kanuragan. Mereka memiliki pencapaian yang tinggi. Namun, mereka bukanlah pendekar. Ya, mereka hanya manusia-manusia yang tidak mengejar reputasi, gelar pendekar, atau sejenisnya. Mereka berlatih kanuragan dengan satu tujuan, yakni selalu berusaha melampaui batas-batasnya sebagai manusia.
Oleh karena itu, pancaran energi dari orang-orang sakti di kota Dhyana berbeda dengan pendekar aliran putih dan hitam. Mereka memilih mengurung diri di salah satu bangunan tua di kota untuk bertapa selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun dengan menyerap energi bumi untuk bertahan hidup.
Cara mereka bertapapun bermacam-macam, ada yang berdiri, ada yang bersila, ada yang berbaring, ada yang menggantungkan kakinnya di atap seperti kelelawar, dan ada yang bepijak hanya dengan satu kaki atau bahkan satu jari tangan saja.
Itulah sebabnya kota ini sepi, seolah tak memiliki nafsu untuk berkembang sebagaimana kota-kota lainnya yang berpacu untuk meningkatkan perekonomian dan hal-hal duniawi lainnya.
__ADS_1
Batari Mahadewi dan Jalu sampai pada sebuah altar besar yang terletak di tengah kota. Halaman altar itu sangat luas dan beberapa orang pertapa tampak duduk bersila di sana. Tubuh mereka terlihat kurus dan penuh debu, seperti telah berada di sana dalam waktu yang lama.
Batari Mahadewi dan Jalu ragu untuk masuk pelataran altar itu karena mereka tak mau mengganggu para pertapa yang sedang berada di sana.
Beberapa saat mereka berada di sana, seorang kakek-kakek berjalan dengan pelan kea rah mereka. Kakek-kakek itu berambut panjang, berjalan membungkuk dan hanya mengenakan cawat. Tubuhnya kurus dan keriput.
“Salam, selamat datang tuan dan nona. Saya Agrapana, penjaga kuil suci di sini. Bolehkah saya tahu siapa tuan dan nona muda ini?” Tanya kakek tua itu.
“Kami dari padepokan Cemara Seribu, kakek. Nama saya Jalu dan ini adik seperguruan saya, Batari Mahadewi. Kami kebetulan lewat di kota yang mengagumkan ini, lalu kami berjalan-jalan dan sampai di sini.” Jawab Jalu.
Kakek tua itu menatap kedua pendekar muda di hadapannya itu, lalu tersenyum. “Berarti kalian telah melewati perjalanan yang jauh. Apakah aku boleh tahu ada berita apa di luar sana?” Tanya Kakek itu.
“Tak banyak yang kami ketahui, kakek, namun saat ini para pendekar aliran hitam sedang berniat melakukan serangan terhadap beberapa perguruan aliran putih.” Jawab Jalu.
“Bagaimana caranya, kakek?” tanya Batari Mahadewi.
“Mudah saja, kalian hanya tinggal melakukan meditasi selama dua atau tiga hari di pelataran suci itu.” kakek tua tu menunjuk pelataran dengan beberapa orang yang telah ada di sana untuk bertapa. Jika kalian telah mendapatkan sesuatu dari meditasi, dan merasa cukup, maka kalian boleh masuk ke altar.” Jawab kakek tua itu. Ia tersenyum ramah, lalu pamit meninggalkan Jalu dan Batari Mahadewi di sana.
“Bagaimana menurut kakak?” Tanya Batari Mahadewi.
“Jika kau berminat, maka akan aku temani meditasi di sini. Sudah lama juga aku tak melakukan meditasi.” Jawab Jalu.
“Baiklah kalau begitu, mungkin kita memang harus beberapa hari di sini. Aku yakin kita akan menemukan sesuatu yang berharga.” Kata Batari Mahadewi.
Keduanya kemudian memasuki pelataran altar suci, lalu mulai melakukan meditasi.
__ADS_1
Sementara itu, di tempat yang lain, Niken baru saja usai melewati sebuah hutan setelah ia meninggalkan desa yang baru saja ia kunjungi. Melakukan perjalanan sendirian membuatnya merasa was-was. Meski ia berilmu tinggi dan tak mudah menyentuhnya, namun banyak tatapan laki-laki yang terarah padanya setiap kali ia berpapasan dengan orang lewat selalu membuatnya tak nyaman.
Niken memandangi sungai berbatu yang ada di depannya itu. Di seberang sungai masih ada hutan yang harus ia lewati agar sampai di desa berikutnya. Namun hutan yang baru saja ia lewati dan yang akan ia lewati itu bukanlah hutan belantara liar, melainkan hutan dengan jalan setapak yang sering dilewati warga desa ataupun pedagang.
Dari jauh tampak seorang pendekar melaju menapak air sungai. Niken menangkap pancaran energi hitam yang kuat dari sosok itu yang kian mendekat ke arah Niken. Dalam waktu singkat, pendekar itu telah menampakkan wajahnya di hadapan Niken. Ia adalah seorang pendekar wanita dari aliran hitam. Wajahnya pucat dan tirus, seolah ia adalah perpaduan antara siluman dan manusia.
“Apakah kau tersesat, nona cantik. Kau sendirian saja di sungai ini, sudah pasti kau seorang pendekar pengelana. Apakah kau bersedia bertarung denganku?” kata pendekar perempuan itu.
“Aku tak ingin bertarung sebenarnya, tapi bibi pendekar pasti tak akan melepaskanku begitu saja bukan?” Jawab Niken.
“Jangan panggil aku bibi! Aku masih muda” Kata pendekar perempuan ini sedikit tersinggung.
“Oh…baiklah, siapa nama nona pendekar? Aku Niken Sekar Purnama, murid Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu dan murid kelana dari pendekar Syair Kematian. Apakah kau masih ingin bertarung denganku?” Tanya Niken.
“Jangan membual. Oh, baiklah, coba tunjukkan bualanmu itu.” Pendekar perempuan itu memancarkan energinya dengan tiba-tiba, cahaya hitam menyelimuti tubuhnya. Niken tak mau kalah, ia mengerahkan aura dingin dari tubuhnya. Keduanya siap menikam kapanpun mereka mau.
Sampai sini dulu kawan. Baterai habis…Terimakasih banyak sudah sejauh ini mengikuti perjalanan Batari menjadi jati diri. Terimakasih banyak atas segala bentuk dukungan, semangat dan doanya. Semoga selalu diberi rejeki, kesehatan, perlindungan dan kebahagiaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Salam.
__ADS_1