Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 171 Menyusun Rencana Sementara


__ADS_3

Dalam waktu empat hari perjalanan dengan ilmu meringankan tubuh, Mahapatih Siung Macan Kumbang dan senopati Welang akhirnya sampai juga di kota kerajaan Swargadwipa. Keduanya melesat secepat angin menempuh jalur terpendek untuk menghemat sebanyak mungkin waktu.


Kira-kira, dalam waktu satu bulan, paling cepat, rombongan pasukan Swargabhumi akan sampai di kota kerajaan Swargadwipa. Masih ada cukup waktu untuk menyusun berbagai rencana dan mempersiapkan segalanya.


Setibanya di kerajaan, Mahapatih Siung Macan Kumbang langsung menghadap kepada Maharaja Srengenge Ireng untuk melaporkan segala yang telah terjadi. Keduanya berbicara dalam sebuah ruang rahasia di dalam kerajaan.


“Jadi Mutiara Biru telah jatuh?” sang raja membuka percakapan.


“Benar, gusti. Seperti yang telah kita perkirakan sebelumnya. Hanya saja, jumlah tambahan prajurit yang datang dari Swargabhumi jauh lebih besar dari yang saya perkirakan, yaitu satu juta lima ratus ribu prajurit yang saat ini telah berangkat dari Mutiara Biru dan mungkin akan sampai di sini satu bulan ke depan.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Seharusnya Swargabhumi tak memiliki jumlah pasukan sebesar itu, meski jika seluruh pasukan tersebut adalah pasukan gabungan dari wilayah barat. Tak mungkin kerajaan sekutu akan memberikan bantuan prajurit lebih dari setengah yang mereka miliki. Itu artinya, seluruh jumlah prajurit itu tak semuanya adalah prajurit yang terlatih dengan baik. Mungkin banyak prajurit baru dalam rombongan itu.” kata sang raja Swargadwipa.


“Hamba juga berfikir demikian, gusti. Akan tetapi kita tidak bisa berpijak pada salah satu kemungkinan tersebut. Ada baiknya kita menganggap bahwa semua prajurit Swargabhumi itu adalah prajurit yang telah terlatih dengan baik.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Tentu saja, paman patih. Apakah paman tahu berapa besar kekuatan kita saat ini yang terpusat di kerajaan?” tanya Raja.


“Jumlah seluruh pasukan gabungan yang kita miliki sekitar lima ratus ribu prajurit, gusti. Dan akan bertambah apabila gusti mengajukan permintaan tambahan prajurit kepada kerajaan sekutu kita.


“Lalu bagaimana dengan jumlah prajurit yang berada di kota-kota lain di wilayah Swargadwipa?” tanya sang raja.

__ADS_1


“Dari seluruh kota yang ada di wilayah Swargadwipa kurang lebih hanya dua ratus ribu prajurit, baginda.” Jawab Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Lalu apa rencanamu, paman patih?” tanya sang raja.


“Hamba akan memerintahkan semua prajurit yang kita siagakan untuk menjaga kota-kota di wilayah Swargadwipa kembali ke pusat kota begitu rombongan pasukan kerajaan Swargabhumi telah dekat. Para prajurit itu akan menyerang dari belakang ketika semua pasukan Swargabhumi telah memasuki kota kerajaan. Jika baginda berhasil mendapatkan bala bantuan tambahan dari pasukan sekutu kita, maka seluruh pasukan itu juga akan menyerang dari belakang.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Jadi kita akan menggempur pasukan Swargadwipa dari arah depan dan belakang?” tanya sang raja.


“Benar gusti, dan hal ini membutuhkan perencanaan yang sangat matang dan tak boleh salah sedikitpun pada hari penentuan itu.” kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Apakah paman tahu siasat yang akan dipergunakan musuh untuk menyerang kerajaan?” tanya sang raja.


Sang raja terdiam. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berfikir keras. Dalam situasi seperti itu, Mahapatih Siung Macan Kumbang hanya bisa diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh junjungannya.


“Tugasmu akan sangat berat, paman patih. Hari ini juga paman kirimkan pasukan rahasia untuk mengirimkan surat kepada kerjaan sekutu kita supaya mereka mempersiapkan apa yang kita minta. Aku akan menuliskan suratnya.” Kata sang raja.


“Baik, baginda.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Tolong paman perintahkan bawahan paman untuk menyiapkan daerah pengungsian bagi seluruh warga kota kerajaan. Dalam waktu tujuh hari sebelum pasukan musuh datang, semua warga kota kerajaan harus sudah pindah. Seluruh wilayah kota kerajaan akan menjadi arena untuk gladi perang.” Kata sang raja.

__ADS_1


“Baik, paduka. Untuk wilayah pengungsian sebenarnya sudah siap, paduka, lengkap dengan semua hunian sementara dan segala fasilitas untuk semua warga kota kerajaan yang mengungsi. Menurut catatan kependudukan tahun lalu, jumlah seluruh warga kota kerajaan adalah sekitar satu juta jiwa.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Terimakasih, paman. Selanjutnya, aku ingin membicarakan hal ini.” Kata sang raja. Ia mengambil gulungan kain yang merupakan denah seluruh wilayah kota kerajaan Swargadwipa.


“Paman ingat siasat rumah kosong untuk menghadapi serangan pasukan dalam jumlah besar?” tanya sang raja.


“Tentu saja, baginda. Untungnya tata kota seluruh wilayah kota kerajaan dibuat untuk luwes dengan berbagai siasat perang di dalam rumah. Dengan siasat itu, artinya kita akan mengorbankan sejumlah pasukan untuk menghadang kedatangan rombongan pasukan Swargadwipa sebelum mereka sampai di wilayah kota kerajaan.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Paman benar, nantinya, kita akan sebar seluruh prajurit kita di semua bangunan kota, terutama pada sisi barat diantara jalan utama menuju gerbang kerajaan. Jika kita membuka seluruh gerbang, kecuali gerbang kerajaan, dan membuat prajurit kita tak terlihat, tentunya pasukan musuh tak akan menggunakan kereta lontar untuk menghancurkan benteng dan bagunan di sekitar benteng. Mereka akan masuk dengan leluasa.” Kata sang raja.


“Tapi baginda, kendala kita untuk menjalankan siasat ini adalah mata-mata yang ada dalam tubuh pasukan kita.” Kata sang patih.


“Paman benar, oleh karenanya, setelah semua warga diungsikan, dan prajurit yang menghadang pasukan musuh telah diberangkatkan, selanjutnya kita tak akan membiarkan satupun prajurit keluar dari benteng kota sehingga siasat ini tidak akan diketahui oleh musuh. Kita akan membuka gerbang pada saat musuh sudah dekat. Tak akan ada waktu bagi mata-mata musuh untuk menyampaikan siasat kita.” Kata sang raja.


“Baik, baginda. Saya akan atur ulang siasat ini dan menyusun semua rencana untuk penempatan prajurit dan semua perlengkapannya.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Kita buat seolah-olah seluruh pasukan Swargadwipa akan menyambut musuh di wilayah pemukiman prajurit. Memang sangat beresiko untuk memecah semua pasukan yang kita miliki. Namun untuk pertarungan di ruang sempit, pajurit yang bergerombol tidak akan leluasa untuk bertarung. Bagaimanapun juga, kita menang dalam satu hal, yakni medan perang adalah rumah kita yang kita kenal baik seluruh seluk beluknya.” Kata sang Raja.


“Baginda benar. Untuk rincian rencananya akan hamba sampaikan lagi secepat mungkin kepada baginda.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.

__ADS_1


Seusai pertemuannya dengan Maharaja Srengenge Ireng, Mahapatih Siung Macan Kumbang bergegas untuk menemui Buyung dan kepala prajurit mata-mata untuk menyampaikan rencana sementara dan gambaran situasi yang akan dihadapi oleh kerajaan Swargadwipa.


__ADS_2