Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 132 Rombongan Tamu Kerajaan Swargadwipa


__ADS_3

Anjani dan Pradipa akhirnya bisa mengejar pendekar Harimau Merah yang mencoba melarikan diri. Anjani menyergap kaki pendekar itu dengan sulur-sulur air yang ia ciptakan, lalu membanting pendekar setengah harimau itu hingga wajahnya yang berbulu merah itu membentur tanah dengan keras.


Pradipa melompat tinggi dan menghununuskan pedangnya ke salah satu kaki pendekar aliran hitam itu. Seketika, kaki kanan pendekar Harimau Merah itu putus. Pendekar itu tak akan pernah bisa melarikan diri lagi.


“Di sinilah kau akan berakhir, Harimau Merah!” kata Pradipa.


“Hahahaha, baiklah, bunuh aku!” Kata pendekar Harimau Merah sambil tertawa sekaligus meraung kesakitan.


“Tidak akan secepat itu. Katakan apa rencanamu!” kata Pradipa.


“Kau pikir aku akan mengatakannya padamu!” bentak Harimau Merah.


“Kupikir iya, kalau aku melakukan hal ini!” Pradipa memotong jari kelingking pendekar Harimau Merah yang sudah tak beradaya itu. pendekar itu menjerit kesakitan. Namun dengan sisa tenaganya, ia masih menyerang Pradipa dengan serangan racun miliknya. Dengan cepat Pradipa melompat mundur ke belakang.


“Sayang sekali meleset.” Kata Pradipa sembari menebaskan pedangnya ke lengan pendekar yang sedang sial itu. Pradipa tahu, sekeras apapun ia menyiksa pendekar Harimau Merah, ia akan tetap tutup mulut. Namun ia masih tetap mencoba untuk menggali informasi.


“Cepat katakan, siapa yang menyuruhmu! Atau, kau akan mati dalam keadaan terpotong-potong. Kau tahu aku pasti akan membunuhmu, tapi kau harus tahu, aku memiliki banyak cara menyakitkan untuk membunuh seseorang sepertimu!” ancam Pradipa. Anjani merasa miris. Ia memilih untuk tak melihat pemandangan buruk di dekatnya itu.


“Sudahlah anak muda. Aku rela mati dengan cara apapun. Aku tak akan membuka mulut. Inilah kekalahanku, akhir dari kehidupanku.” Kata Harimau Merah lirih. Matanya sembab karena menahan sakit.


“Baiklah. Aku hargai kegigihanmu, pendekar tua. Sayang sekali kau harus mati dengan tidak terhormat seperti ini.” Pradipa menghunuskan pedangnya ke Jantung pendekar Harimau Merah. Pendekar itu seketika mati.

__ADS_1


“Ayo Pradipa, kita harus cepat kembali. Aku punya firasat buruk dengan pertarungan di sana.” Kata Anjani.


“Ayo!” kata Pradipa. Keduanya langsung melesat cepat menuju pertarungan yang masih berlangsung. Pendekar Laba-laba itu telah membuat para pendekar pengawal rombongan kalang kabut dengan serangan-serangan beracun yang ia miliki.


Anjani langsung mengerahkan serangan air yang ia bentuk menjadi ribuan sulur air yang bergerak cepat ke arah tubuh pendekar laba-laba yang sat itu telah berubah bentuk menjadi seekor laba-laba besar yang kebal dengan berbagai serangan.


Anjani mengerahkan seluruh energinya untuk mengikat monster laba-laba itu dengan sulur air yang ia ciptakan. Sekali lagi, Pradipa  mencoba peruntungannya untuk menebaskan pedangnya ke arah laba-laba besar itu. Ia tak mau setengah-setengah untuk mengerahkan seluruh energinya, ia mengalirkan seluruh energinya ke pedang Bintang Timur, lalu ia membelah binatang beracun itu.


Tebasan pedang Bintang Timur itu menimbulkan ledakan besar yang membuat para pendekar lainnya ternganga. Pusaka sakti itu memang pantas menjadi salah satu pedang yang dikenal di dunia persilatan, khususnya di wilayah Swargadwipa. Dengan tebasan pedang sakti yang dipadukan dengan tenaga dalam tinggi, tubuh laba-laba raksasa itu hancur berhamburan, menyisakan asap dan bau busuk yang menyengat.


Pertarungan selesai. Semua pendekar yang terlibat dalam pertarungan itu telah kehilangan banyak tenaga dan tak sedikit yang terluka. Untungnya, senopati Welang membawa banyak perbekalan yang salah satunya adalah sekantong mustika alam yang akan sangat berguna untuk memulihkan kondisi semua orang yang ada di sana.


Sayang sekali, salah satu pendekar dari Lentera Langit telah gugur sewaktu menerima serangan-serangan dari Harimau Merah. Nyawanya tak tertolong meski Ki Wiraguna berusaha untuk memulihkan energinya dan mengeluarkan sebagian racun yang bersarang ditubuhnya.


####


Sepuluh hari kemudian, rombongan itu akhirnya sampai di kota Swargadwipa. Senopati Welang menambah bala tentara bantuan di setiap kota yang ia singgahi untuk berjaga-jaga jika ada serangan susulan. Untungnya, setelah kejadian itu, perjalanan mereka berjalan mulus.


Mahapati Siung Macan Kumbang dan beberapa prajurit istana menjemput kedatangan rombongan itu di gerbang ke tujuh kota Swargadwipa. Sang patih bisa bernafas lega karena rombongan itu datang dengan selamat. Selanjutnya, rombongan itu dikawal hingga menuju ke istana. Di sana telah menunggu sebuah sambutan yang meriah.


Namun begitu pangeran keenam dan para pengawal pribadinya keluar dari kereta kuda, Mahapati Siung Macan Kumbang merasa ada yang tidak beres. Ia mengenal salah satu dari pengawal pribadi pangeran Swargabhumi itu, seseorang yang dulunya hampir ia bunuh ketika keduanya masih menjadi pendekar kelana.

__ADS_1


Mahapati Siung Macan Kumbang ingat betul akan wajah itu meski kejadian itu telah berpuluh tahun berlalu. Wajah itu adalah milik pengawal pribadi pangeran yang tertua, yang sebelumnya telah menolong kedua pendekar dari Lentera Langit. Meski demikian, keduanya tetap bertukar salam, dan berpura-pura tak mengingat kejadian di masa lalu.


Prosesi penyambutan berjalan lancar, dan saatnya bagi para tamu untuk memasuki wisma tamu istana dan beristirahat. Mahapati Siung Macan Kumbang yang sedang dilanda pikiran itu menyampaikan apa yang ia fikirkan kepada sang raja. Ia memohon agar pangeran ke enam Swargabhumi diberi ruangan khusus yang akan dijaga oleh pasukan khusus istana demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Sang raja setuju, dan ia memerintahkan agar pangeran ke enam itu pindah ruangan yang terpisah dengan para pengawal pribadinya.


Mahapati Siung Macan Kumbang datang untuk menjemput pangeran itu dan terjadilah sedikit perdebatan.


“Terimakasih banyak, paman patih. Namun saya merasa aman bersama dengan pengawal pribadi saya.” Kata pangeran itu.


“Mohon beribu maaf, pangeran. Bukan berarti kami dari kerajaan Swargadwipa menyingging perasaan pangeran dan pengawal pribadi pangeran. Namun saat ini, situasi Swargadwipa sedikit rawan, sehingga kami harus memastikan keselamatan pangeran. Kiranya pangeran berkenan untuk pindah ruangan ke dalam istana yang akan dijaga ketat oleh pasukan pengawal khusus baginda raja.” Kata Mahapati Siung Macan Kumbang.


“Baiklah kalau begitu. Saya harus menaati peraturan kerajaan. Demi rasa nyaman bersama, saya akan pindah ke ruangan dalam.” Kata pangeran itu.


Mahapati Siung Macan Kumbang dan pangeran ke enam Swargabhumi berjalan menuju ruangan dalam istana. Sementara, para pengawal pribadi pangeran ke enam sedikit tersinggung dengan kebijakan istana, terlebih pengawal tertua yang tampak kesal. Kedua matanya menyorotkan rasa dendam di masa lalu, namun ia tak bisa berbuat banyak dalam situasi seperti itu.


####


Sampai di sini dulu teman-teman. Beberapa kali aku baca kolom komentar, ada beberapa dari teman-teman yang tidak bisa membuka update PBM yang terbaru. Aku belum tahu pasti apa sebabnya, namun dugaanku, selain sinyal yang buruk, kemungkinan besar aplikasi Noveltoon teman-teman belum di update.


Aku sangat berterimakasih banyak kepada teman-teman semua yang sampai hari ini masih melanjutkan membaca PBM. Dari waktu ke waktu, jumlah like dan komen juga semakin bertambah. Hal ini sangat berharga bagiku karena satu-satunya cara untuk menaikkan performa/popularitas karya ini dihitung berdasarkan jumlah like, komen, dan favorite.


Semakin besar popularitas PBM, maka peluang novel ini akan dibaca orang banyak juga akan semakin besar. Tentu saja, bagi semua author, hal paling berharga adalah ketika karyanya bisa dibaca oleh banyak orang. Aku tak menyangka sejauh ini, tepatnya pada malam hari ini, PBM sudah dilihat sebanyak lebih dari 120 ribu views dan 850 akun yang telah memfavoritkan.

__ADS_1


Terimakasih banyak ya teman-teman. Semoga dalam menjalani situasi global yang serba sulit seperti sekarang ini, kita senantiasa mendapatkan keselamatan, kesehatan, kedamaian, kebahagiaan, terhindat dari segala musibah dan berlimpah rejeki dari Tuhan. Amin. Sampai jumpa besok lagi teman-teman.


__ADS_2