
Batari Mahadewi dan Nala tak menemukan seorang manusia pun di pulau yang mereka datangi. Namun mereka menemukan bekas pemukiman yang telah lama ditinggalkan. Entah karena sebab apa. Hal itu sedikit ganjil mengingat pulau itu merupakan pulau yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah.
“Jika kita tak menemukan siapapun untuk di tanyai, artinya kita harus pindah ke pulau lainnya. Menurut peta yang kita miliki, pulau besar lainnya selain pulau ini hanya terpisahkan oleh selat yang pendek. Baiklah, Nala, kita lanjutkan saja perjalanan kita ke arah utara.” Kata Batari Mahadewi.
“Kita terbang saja, Tari, tak ada gunanya kita berlama-lama dan menghabiskan waktu dengan berjalan kaki.” Kata Nala. Kedua pendekar muda itu kemudian melesat ke angkasa, lalu meluncur ke arah utara.
Setelah meninggalkan pulau es, kulit Batari Mahadewi dan Nala kembali seperti semula. Keduanya juga menyadari, setelah meninggalkan pulau es, energi es yang ada di dalam tubuh mereka juga tak sekuat sebelumnya, namun energi api yang mereka miliki menjadi kembali dominan.
Ketika malam tiba, atau keduanya sedang berada di angkasa, atau di dekat dengan perairan, energi es mereka kembali menguat. Tubuh mereka berdua bereaksi dengan perubahan suhu yang ada di sekitar mereka, dan dengan sendirinya, tubuh Batari Mahadewi dan Nala akan memanfaatkan sumber energi terdekat untuk diserap, misalnya adalah cahaya matahari atau permukaan bumi.
Dari kejauhan, keduanya melihat sebuah pulau lagi yang lebih besar dari sebelumnya. Pulau itu banyak memiliki pegunungan yang tinggi. Mungkin tak sepenuhnya gunung, karena yang mereka lihat adalah puluhan atau mungkin ratusan tiang batu berukuran raksasa yang menjulang ke langit. Puncak dari tiang-tiang batu itu juga tak terlalu luas, dengan sedikit tanaman pendek yang berbatang unik dan meliuk-liuk.
“Apakah kau ingin mampir sebentar di pulau ini?” tanya Batari Mahadewi.
“Jika kita tak menemukan pemukiman, sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita ke pulau lainnya. Aku rasa, pulau utama dari kepulauan ini pasti memiliki peradaban besar.” kata Nala.
Batari Mahadewi sekali lagi melihat peta pemberian guru Rapapu yang ia bawa. “Lihat ini, Nala, setelah pulau ini ada lagi pulau yang terlihat paling besar di antara yang lainnya dan pulau ini terletak di tengah pulau-pulau lainnya. Jika kita benar bahwa saat ini kita ada di pulau yang ini, maka setelah pulau ini kita akan menjumpai pulau besar itu.” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Kita langsung saja ke sana. Ayo!” Nala melesat dengan cepat ke arah utara. Batari Mahadewi mengikutinya. Tak butuh waktu lama, keduanya telah melewati selat kecil dan dari jauh tampak pulau yang terlihat berbeda dari pulau sebelumnya. Pulau itu memiliki banyak gunung kecil yang tingginya bahkan melampaui langit dengan puncak yang tak terlihat karena tertutup awan.
“Nah, lihat ke sana. Ahirnya kita menemukan pemukiman. Ayo kita ke sana.” Ajak Nala. Keduanya turun di hutan yang tak jauh dari pemukiman warga. Setelah itu, keduanya berjalan mendekati pemukiman manusia pulau Halilintar.
“Apakah itu manusia penghuni pulau Halilintar? Lihatlah, rambut mereka terlihat aneh, seperti bulu landak, dan muka mereka sangat tirus seperti musang.” Kata Batari Mahadewi. Nala juga berfikir hal yang sama sewaktu ia melihat penampakan manusia penghuni pulau Halilintar yang tinggal di pemukiman itu.
“Tapi ada yang Janggal, Tari. Lihatlah, mereka semua tampak membenahi rumah-rumah mereka. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu di daerah ini.” Kata Nala.
“Mari kita bertanya kepada salah satu dari mereka.” Kata Nala. Keduanya bergegas menemui seseorang yang sedang memperbaiki rumahnya. Rumah-rumah di pemukiman itu semuanya berbahan batu, berbentuk persegi enam, dengan atap yang semakin ke atas semakin runcing dan menjulan tinggi ke langit.
“Permisi, mohon maaf kami mengganggu, tapi kami ingin bertanya sesuatu.” kata Nala. Orang yang di tanyai Nala itu menoleh. Ekspresi heran pada wajahnya yang sedikit mirip musang itu menambah kesan aneh, terlebih ketika duri-duri landak di kepalanya tiba-tiba berdiri ke atas.
“Kalian tadi mau bertanya sesuatu kan?! Kenapa malah pergi!” kata orang itu masih sambil melakukan pekerjaannya, menambal tembok rumahnya yang berlubang.
“Kami takut mengganggu paman, jadi kami hendak pergi tadi.” Kata Batari Mahadewi.
“Bertanyalah, kalau aku tahu akan aku jawab. Tapi kalau kalian hendak bertamu, maafkan, aku sedang tidak bisa menerima tamu. Dan kalian adalah orang asing disini. Apakah kalian dari pulau Api?” tanya orang itu sambil bekerja.
__ADS_1
“Kami bukan orang pulau Api. Tapi sebelum kami tiba di sini, kami telah berada di pulau Api dan pulau Es. Kadatangan kami ke sini untuk mengunjungi kuil suci pulau Halilintar.” Kata Batari Mahadewi.
Mendengar ucapan Batari Mahadewi itu, akhirnya orang itu menghentikan pekerjaannya, lalu ia menatap Batari Mahadewi dan Nala, memperhatikan keduanya dengan lebih seksama.
“Kalian datang di saat yang tidak tepat. Tapi temuilah seseorang yang menjadi tetua di pulau Halilintar bawah. Namanya adalah tetua Hannam. Ia tinggal di pusat kota bawah. Tanya saja di sana, semua orang tahu siapa dia. Ia akan memberikan petunjuk yang jauh lebih baik dari yang bisa kusampaikan.” Kata orang itu.
“Pulau Halilintar bawah?” tanya Nala.
“Ya, ada dua wilayah di sini. Di atas dan di bawah. Tempat yang kalian cari ada di dunia atas. Tapi sebelum ke sana, sebaiknya kau minta petunjuk tetua Hannam.” Kata orang itu. lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
“Terimakasih paman.” Kata Batari Mahadewi. Ia dan Nala kemudian berjalan menuju ke arah pusat kota yang baru saja ditunjukkan oleh orang yang baru saja mereka temui. Batari Mahadewi dan Nala tidak berminat untuk bertanya lagi kepada orang lain yang ada di sana yang semua tampak sibuk dan tegang.
“Orang tadi mengatakan kalau kita datang di saat yang tidak tepat.” Kata Nala.
“Iya, mungkin telah terjadi sesuatu. Semacam serangan. Sepanjang jalan tadi kita melihat banyak rumah yang rusak. Tak mungkin kalau rumah batu dengan bentuk semacam itu bira rusak gara-gara hujan badai atau gempa bumi.” Kata Batari Mahadewi.
“Orang tadi juga enggan bercerita. Mungkin kita memang harus bertemu dengan tetua Hannam untuk mendapatkan gambaran atas situasi yang terjadi di sini.” Ujar Nala.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki, keduanya akhirnya sampai di pinggir kota. Pemandangan yang ada di sana jauh berbeda dengan di pemukiman pinggiran yang mereka singgahi sebelumnya. Di kota itu, selain bentuk bangunan pemukiman warga yang berbeda, juga ada sesuatu yang menarik perhatian. Yaitu, ada sebuah kapal besar yang tak digunakan untuk mengapung di perairan, melainkan melayang di udara.