Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 211 Pertempuran Di Swargawana #1


__ADS_3

Wilayah kota kerajaan Swargawana bagian barat tampak kacau balau. Setiap pasukan kerajaan hitam Tirayamani dikeroyok oleh empat hingga delapan pendekar serta puluhan prajurit yang justru bantuan yang mereka berikan malah menjadi gangguan.


Sungguh tak mudah untuk membunuh satu prajurit pendekar dari kerajaan hitam Tirayamani. Mereka memiliki wujud monster yang beraneka ragam, tergantung dasar energi siluman yang mereka miliki. Yang pasti, keberadaan mereka di tengah lautan manusia tidaklah sulit. Mereka berwujud aneh, memancarkan aura hitam yang pekat, dan tubuh mereka mengeluarkan aroma busuk; pertanda bahwa mereka memiliki racun yang mematikan di dalam tubuh.


Batari Mahadewi, Niken dan Jalu melayang di udara. Beberapa pendekar tingkat tinggi sesekali juga melesat di udara dan saling menyerang, lalu kemudian mereka turun lagi ke daratan. Kehadiran ketiga murid Ki Gading Putih itu belum menarik perhatian siapapun yang ada di sana yang masih sangat sibuk dengan pertarungan mereka masing-masing.


“Apakah kita langsung saja menyerang mereka?” tanya Jalu.


“Sebaiknya begitu.” Kata Niken.


“Ayo kita lakukan, jangan buang-buang waktu lagi. Para pendekar dan prajurit kerajaan barat sudah banyak yang mati.” Kata Batari Mahadewi. Ketiganya memancarkan energi mereka. Jalu mengerahkan hawa panas dari sekujur tubuhny, Niken mengeluarkan hawa dingin yang siap mencabut nyawa, sementara tubuh Batari Mahadewi diselimuti oleh cahaya keemasan. Meski gadis jelmaan pusaka dewa itu belum sepenuhnya mengeluarkan kekuatannya, namun ia sudah mencuri perhatian beberapa orang sakti yang merasakan pancaran energi Batari Mahadewi.


Jalu, Niken dan Batari Mahadewi melesat dan langsung menyerang para pasukan kerajaan hitam itu tanpa basa-basi. Jalu merubah wujudnya menjadi manusia api sehingga penampilannya menjadi cukup mencolok di sana; hanya ia yang tampak mirip dengan panglima Kera Api yang berwujud api pada pertempuran itu. Sehingga, tak jarang pasukan kerajaan Tirayamani terkecoh oleh penampilan Jalu dalam tubuh Apinya itu.


Jalu melesat ke arah salah satu pendekar kerajaan Tirayamani yang bertubuh besar dan dipenuhi bulu-bulu hitam dengan wajah yang mirip beruang. Pendekar siluman yang sedang dikeroyok oleh lima pendekar wilayah barat itu adalah korban serangan api pertama Jalu. Pendekar berwajah beruang itu tak mengira bahwa sosok bertubuh api yang mendekat ke arahnya adalah Jalu, bukan panglima Kera Api yang bertubuh sama dengan Jalu.

__ADS_1


“Panglima…” belum selesai pendekar berwajah beruang itu berkata-kata, Jalu menghujamkan pukulan matahari di dadanya hingga terciptalah sebuah lubang seukuran telapak tangan Jalu di sana. Aksi yang dilakukan Jalu tak hanya mengagetkan pendekar bermuka beruang yang kini telah tewas itu, namun juga para pendekar yang sebelumnya kesulitan menghadapi pendekar kerajaan hitam itu.


“Aku berada di pihak kalian.” Kata Jalu singkat.


“Terimakasih, pendekar, siapakah…” belum selesai orang itu berbicara, Jalu telah melesat mengincar lawan yang lainnya.


Jalu mendapat keuntungan, ia bisa memberikan pukulan telak mematikan kepada lawan-lawannya yang tak menyadari bahwa ia bukan Panglima Kera Api. Dalam situasi yang serba kacau dan riuh itu, para pendekar hitam tak sempat memperhatikan dengan seksama. Lagipula, hanya Jalu satu-satunya lawan yang bertubuh Api. Jika ia tak menyerang para pasukan kerajaan hitam, mungkin para pendekar wilayah barat juga mengira bahwa Jalu adalah panglima Kera Api.


Niken pun demikian, ia tak mau bermain-main. Setiap jurus yang ia lontarkan adalah jurus–jurus maut yang membuat lawan-lawannya cukup terkejut dan tak menyangka mereka berhadapan dengan pendekar muda yang sangat berbakat sekaligus memiliki kekuatan dahsyat.


Batari Mahadewi masih memiliki cara lama untuk menaklukkan lawan-lawannya. Ia tak berubah wujud menjadi manusia api ataupun es karena perubahan wujud semacam itu justru akan menguras energi jika tempat pertarungan itu tidak bisa menjadi sumber energi yang tepat. Lagipula, lawan-lawannya itu hanya lawan-lawan yang enteng dan tak sebanding dengan kekuatannya yang besar itu.


Batari Mahadewi melenting keberbagai arah, menaklukkan para musuhnya hanya dengan sekali serangan untuk membuat musuh-musuhnya itu kehilangan seluruh kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki. Batari Mahadewi tak membunuh lawan-lawannya, namun sayang, para prajurit wilayah barat yang marah itu tak bisa mengampuni para pendekar yang telah dilumpuhkan oleh Batari Mahadewi.


Tentunya, Batari Mahadewi tak ingin ada banyak korban dari pihak manapun. Ia masih merasa bahwa suatu hari, nyawa-nyawa yang selamat itu akan berguna. Gadis jelmaan pusaka dewa itu tak bisa berbuat banyak selain membiarkan saja para prajurit membantai lawannya yang tak berdaya.

__ADS_1


Kehadiran Batari Mahadewi jelas menjadi perhatian bagi semua orang di sana. Ia terlihat seperti kupu-kupu yang dengan lincahnya terbang ke berbagai arah, menjatuhkan satu per satu lawan-lawannya. Mula-mula hanya puluhan pendekar yang ia taklukkan dengan mudah. Lambat laun menjadi ratusan dan ribuan pendekar kerajaan hitam yang tumbang dalam waktu singkat.


Panglima Kera Api ataupun para tetua pendekar wilayah barat yang ada di sana tidak bisa untuk tak melihat aksi dari pendekar jelmaan pusaka dewa yang memancarkan energi luar biasa itu. Batari Mahadewi belum menggunakan semua kekuatannya, namun itu saja sudah membuat para pendekar di sana melongo; bukan hanya karena kecantikannya atau penampilannya, namun kekuatannya yang sanggup mencuri perhatian semua pihak.


Panglima Kera Api menyadari ancaman dari kehadiran Batari Mahadewi. Rencananya untuk menaklukkan Swargawana pada hari itu telah berantakan. Ia tak punya pilihan lain selain memerintahkan seluruh anak buahnya untuk berkumpul dan membuat formasi bertahan; tiga puluh ribu prajurit yang tersisa itu berjejer membentuk barisan dengan pola tertentu. Gas beracun yang keluar dari tubuh mereka membuat siapapun tak mau mendekat.


Dua belah pihak itu kini sama-sama terdiam pada posisi mereka masing-masing. Panglima Kera Api tampak geram. Matanya menatap tajam kea rah Batari Mahadewi yang saat ini merupakan ancaman bagi dirinya dan para pasukannya. Ia tak menyangka bahwa di Swargawana ada pendekar semacam itu, yang bisa melumpukan pendekar hitam dalam satu tepukan tangan seperti yang dilakukan oleh ratu Ogha.


Meski tampak terpojok, namun sebenarnya pasukan kerajaan hitam itu telah membantai begitu banyak pendekar dan prajurit wilayah barat hingga seluruh daratan di kota kerajaan bagian barat itu dipenuhi dengan mayat. Ketika perang berlangsung, tak sedikit juga dari prajurit kerajaan-kerajaan barat yang melarikan diri dan mencari selamat. Hanya para pemberani, atau yang siap mati saja yang saat itu ada di sana.


Batari Mahadewi berjalan mendekat ke arah barisan pasukan kerajaan hitam Tirayamani. Sosok yang ingin ia ajak bicara adalah panglima Kera Api yang masih berdiri dengan tubuh apinya di depan para prajuritnya. Beberapa pendekar wilayah barat yang masih ada di sana merasakan ketegangan saat Batari Mahadewi seorang diri maju perlahan ke depan para musuh-musuhnya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2