
Seharian penuh Batari Mahadewi belajar menempa dan membuat bentuk pedang sederhana tanpa istirahat. Jika saja palu yang ia gunakan bukanlah palu buatan guru Udhata, sudah pasti palu itu telah hancur dalam dua atau tiga kali hentakan.
Palu-palu di bengkel perguruan Tongkat langit merupakan palu yang dibuat dengan logam keras, berat dan tahan panas. Bahkan jikalau ingin mencairkan atau sekedar mengubah bentuk palu itu, tak cukup hanya dengan menggunakan api tungku. Butuh tenaga dalam yang bersifat panas. Lebih panas dari api.
Menurut kakek Tagama, guru Udhata adalah pendekar yang bisa merubah sebagian tubuhnya menjadi bara api sebagaimana Jalu, Nala, dan Batari Mahadewi itu sendiri. Oleh karena itulah, berbeda dengan guru Udhata, kakek Tagama kesulitan untuk membuat senjata dengan bahan logam yang sangat keras.
Meski kakek Tagama memiliki semua ilmu penciptaan senjata pusaka dari guru Udhata, namun ia memiliki keterbatasan. Ia memiliki kemampuan beladiri yang jauh di bawah kakek Sada atau murid-murid lain guru Udhata yang menekuni jalan pertarungan. Tubuhnya tidak sekuat itu untuk bertarung. Oleh karenanya, sebagai pembuat senjata, ia juga terbentur pada masalah bahan baku.
Untuk membuat sebuah pusaka sakti, diperlukan bahan baku yang berkualitas. Misalnya adalah logam-logam yang terdapat di sekitar sungai api dalam perut bumi, atau mustika siluman yang berumur ribuan tahun. Bahan-bahan langka itu membutuhkan kesaktian tinggi untuk bisa mendapatkannya.
Sejauh ini, semua bahan langka yang ada di bengkel merupakan bahan-bahan yang dikumpulkan oleh guru Udhata, entah bagaimana guru Udhata bisa mendapatkannya. Mungkin ia masuk ke dalam kawah gunung api, mengejar bintang jatuh, hingga bertarung secara langsung dengan siluman berumur ribuan tahun.
Kakek Tagama cukup takjub melihat tenaga dan ketahanan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Umumnya, seorang pembuat senjata tak akan tahan terus menerus menempa dan sangat dekat dengan bara api panas dalam waktu yang sangat lama.
Kakek Tagama berfikir bahwa gadis yang sedang belajar padanya itu bukanlah manusia biasa. Di bengkel itulah, kakek tua itu akhirnya menyadari bahwa kedua lengan Batari Mahadewi berbeda, yakni lengan yang terlihat seperti logam berwarna keemasan.
Kakek tua itu tak mau bertanya soal keanehan yang terlihat dari Batari Mahadewi. Ia tak mau menyinggung perasaan gadis muda yang sangat gigih belajar itu. Maka, ia memilih untuk diam dan mencari tahu jawaban atas rasa penasaran dalam kepalanya dengan cara mengamati perilaku gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Kau tak mau berhenti dahulu, nona Tari?” tanya kakek Tagama.
__ADS_1
“Sebentar lagi kakek,” jawab Batari Mahadewi yang perhatiannya masih sepenuhnya berada di sebilah logam berwarna merah membara. Ia menaburkan serbuk logam berwarna perak dan seketika asap mengepul dari pedang yang belum jadi itu. Kemudian, Batari Mahadewi memasukkan logam panas itu ke dalam tungku api, menempa kembali puluhan kali dengan kecepatan tinggi, lalu ia mencelupkan besi panas itu ke dalam air.
“Sepertinya kau menyukai hal ini ya?!” ujar sang kakek.
“Saya belum pernah melakukannya. Ternyata menyenangkan juga. Rasanya seperti sedang bermain,” kata Batari Mahadewi.
“Tempaanmu sudah sempurna sebagai pemula. Kau memiliki tenaga, kecepatan serta kecermatan yang bagus. Hanya satu saja yang kurang.” Kata kakek Tagama.
“Hah? Apa itu kakek?” tanya Batari Mahadewi penasaran.
“Seleramu akan keindahan bentuk masih buruk. Lihat itu, pedangmu terlihat polos. Sepolos dirimu yang baru pertama kali berkenalan dengan bahan senjata,” kata kakek itu sembari berkelakar.
“Hahaha, kakek kan belum memberikan penjelasan dan contoh membuatnya,” kata Batari Mahadewi.
Perpaduan warna dan bentuk dari segala hal alami di dunia ini pada dasarnya indah. Alam lah yang pertama kali mengajarkan kita soal keindahan, soal kesenian. Banyak sekali lukisan, tarian, atau bahkan jurus-jurus beladiri yang diciptakan dengan cara mengamati kehidupan dan keindahan alam beserta isinya.
Namun manusia tak akan puas sampai di sana. Ia akan menciptakan sesuatu yang baru. Mula-mula berpijak dari yang alami, menirukan yang ada di sekelilingnya, barulah kemudian ia menciptakan hal lain dari rasa tidak puasnya itu. Tujuannya untuk memenuhi rasa tak puas yang ada dalam benaknya.
Beruntunglah, manusia tak pernah bisa puas. Dengan demikian, manusia akan selalu terus berusaha mencari cara untuk memenuhi hal yang kurang pada dirinya. Manusia akan terus menerus menciptakan hal baru atas segala yang terasa kurang dari hal yang telah terwujud. Dengan cara inilah, kebudayaan berkembang, nona.” Kata kakek Tagama.
__ADS_1
“Kakek benar sekali, rasa-rasanya dalam menjalani hidup selalu saja ada yang kurang, selalu ada yang tak terpuaskan,” kata Batari Mahadewi.
“Kita tak akan mungkin terpuaskan, nona. Hidup yang nyata ini semu. Mana mungkin kita puas dengan hal yang semu? Jika kita puas, maka kita telah selesai,” kata sang kakek.
Kakek Tagama bangkit berdiri, lalu mengambil sesuatu dari dalam kotak di sudut bengkel itu. Diangkatnya sebilah pedang besar yang penuh dengan hiasan ukiran. “Silahkan nona mencermati pedang ini,” kata sang kakek.
“Pedang yang cantik,” kata Batari Mahadewi.
“Kau harus bisa membuat pedang semacam ini,” kata sang kakek.
“Tapi, untuk membuat hiasan seindah ini, apakah bisa menggunakan palu?” tanya Batari Mahadewi.
“Ini yang akan aku tunjukkan sebagai cara yang tidak lagi sederhana, tapi sebelum itu, kau harus berlatih menggambar. Hari ini sudah petang, kita akan lanjutkan besok pagi,” kata kakek itu.
Batari Mahadewi mendapatkan satu kamar murid yang berada di lantai yang sama dengan murid-murid lainnya. Pada akhirnya, ia juga berkenalan dengan para murid itu yang seharian berlatih bersama guru Sata.
Mereka bertujuh datang di waktu yang berbeda-beda. Awalnya, mereka juga tak saling kenal. Mereka semua merupakan pendekar kelana yang telah mengembara ke berbagai wilayah di Siwarkatantra. Rupa-rupanya, guru Udhata adalah pendekar yang sangat terkenal, sehingga bagi beberapa pendekar tertentu, rasanya tak lengkap mencari ilmu jika belum belajar kepada sang guru Udhata. Namun, selama mereka berada di perguruan Tongkat Langit, mereka hanya beberapa kali saja bertemu dengan sang guru. Sebagian besar waktu mereka lewatkan bersama kakek Sada.
Satu hal yang sama-sama diajarkan oleh kakek Sada dan kakek Tagama adalah soal kesenian. Hanya saja, kakek Sada lebih ahli dalam mempertautkan ilmu seni dengan ilmu beladiri, sementara kakek Tagama menghubungkan ilmu seni dengan ketrampilan menempa senjata pusaka.
__ADS_1
Meski kedua kakek itu mengajarkan ilmu seni untuk hal yang berbeda, namun mereka akan sampai pada suatu titik yang sama, yakni mengajarkan seni berkehidupan, seninya menghidupi kehidupan dengan keindahan, sebab keyakinan dan pengetahuan tak akan cukup.
Malam itu, Batari Mahadewi bisa menikmati lagi damainya tidur di dalam kamar. Seharian tadi, ia serasa seperti tanah kering yang dibasahi oleh hujan. Ia melupakan bahwa keindahan adalah sebuah hal yang selama ini menjadi alasan bagi dirinya untuk terus bergerak. Hanya karena keindahan, ia memiliki alasan untuk mencintai kehidupan.