Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 11 Tugas Pertama


__ADS_3

Malam hari, di Padepokan Cemara Seribu, Ki Gading Putih makan malam bersama dengan ketiga muridnya. Setelah Ki Gading Putih melihat latihan Batari Mahadewi, sejak itu pula ia berfikir dan menimbang berkali-kali tentang suatu hal untuk perkembangan murid-muridnya.


Ki Gading Putih berencana mengirimkan mereka bertiga dalam suatu tugas. Tentunya, yang terpenting dari tugas itu bukanlah keberhasilan mereka mengerjakan dalam tugas, melainkan pengalaman hidup ketika murid-muridnya menempuh perjalanan ke luar melihat kenyataan-kenyataan di dunia persilatan.


Maka seusai makan malam sederhana itu, Ki Gading Putih menyampaikan maksudnya, “Murid-muridku, kurasa sudah saatnya aku akan memberi tugas untuk kalian bertiga.” Niken dan Jalu tak bisa menyembunyikan semangat antusias mereka karena itulah yang mereka tunggu.


Dengan adanya Batari Mahadewi, ketiganya akan menjadi sebuah tim yang tangguh. Ki Gading Putih tak perlu khawatir akan keselamatan mereka, karena jika ketiganya digabungkan, maka pendekar legendaris sekelas Ki Gading Putih pun belum tentu sanggup menghadapinya.


“Kalian bertiga akan bekerja sama dalam satu tim. Kuharap kalian bisa saling menjaga, terutama kalian berdua, Niken dan Jalu, jagalah adikmu ini.” Lanjut Ki Gading Putih.


“Baik guru.” Kata Niken dan Jalu bersamaan. Dalam benak mereka masing-masing, Batari Mahadewi memiliki kekuatan yang mengerikan sehingga sebenanya tak ada yang perlu dikhawatirkan soal keselamatannya.


“Jadi, apa tugas kami guru?” tanya Jalu penasaran.


“Kalian bertiga akan aku tugaskan untuk mengantarkan kitab ini ke Perguruan Lentera Langit di wilayah barat. Katakan kalau kalian adalah muridku. Aku kenal baik dengan Ki Cakra Jagad, guru utama dari perguruan itu.” Kata Ki Gading Putih.


“Kapan kami akan berangkat guru?” tanya Niken.


“Setelah ini kalian harus berkemas dan besok pagi kalian akan berangkat. Mungkin butuh waktu sekitar tiga bulan untuk sampai ke sana jika kalian tidak ada hambatan sama sekali dalam perjalanan. Tapi jangan khawatir, kalian tak harus buru-buru untuk sampai di sana. Jadikan perjalanan kalian sebagai pengalaman berharga.” Lanjut Ki Gading Putih.


“Baik guru.” Kata mereka betiga. Setelah itu, ketiga murid Ki Gading Putih masuk ke pondok mereka masing-masing untuk berkemas, kemudian beristirahat menyiapkan tenaga untuk menempuh perjalanan esok hari.


Keesokan harinya, mereka bertiga telah bersiap untuk berangkat. Ki Gading Putih mengantar keberangkatan mereka hingga ke pintu gerbang. Memandang mereka pergi dan berharap tidak terjadi hal buruk pada mereka, mengingat ketiganya sudah ia anggap sebagai anak sendiri.


Setelah ketiganya tak lagi terlihat, Ki Gading Putih melakukan semedi di dalam goa air terjun Hati Suci. Dalam semedi itulah, biasanya Ki Gading Putih melakukan perjalanan jauh. Raganya akan tetap tinggal di dalam goa, namun jiwanya akan dapat dengan cepat melesat ke tempat-tempat yang ia kehendaki.

__ADS_1


Kegelisahan hatinya mendorongnya untuk segera bertemu dengan sahabat lamanya, pendekar Raja Naga Selatan, seorang pendekar sakti perwujudan setengah siluman dan setengah manusia. Ia jauh lebih tua usianya dibandingkan dengan Ki Gading Putih. Keduanya bertemu untuk pertama kalinya dalam peperangan antara pendekar hitam dan pendekar putih 250 tahun yang lalu.


Golongan hitam yang merupakan gabungan dari berbagai perguruan ilmu hitam mengalami kekalahan telak dan kehilangan banyak anggota. Mereka bersumpah akan melakukan pembalasan suatu hari nanti; memusnahkan golongan putih.


Melalui perjalanan astral, roh Ki Gading Putih dapat melesat cepat menembus dimensi lain hingga sampai di kediaman Raja Naga Selatan. Tentu hanya pendekar tinggi saja yang bisa melihat kehadiran roh Ki Gading Putih yang sama seperti roh hantu. Bukan hal sulit bagi Raja Naga Selatan untuk mengetahui kehadiran Ki Gading Putih karena ia sendiri adalah manusia setengah siluman.


“Hahahaha!!! Sudah kuduga akhirnya kau akan datang ke sini setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Apa kabarmu tua Bangka, kenapa kau tak mati-mati?” sambut Raja Naga Selatan yang khas dengan guyonan kasar.


“Hahaha!!! Aku selalu sehat sahabatku, mungkin aku akan mati setelah kau mati. Aku ingin menemanimu di neraka, hahaha!”balas Ki Gading Putih tak kalah kasar.


“Hmm…tiba-tiba kau datang ke sini, pasti ada sesuatu. Coba katakan padaku. Tak mungkin kau ke sini dengan cara ini hanya untuk berkunjung dan menanyakan kabarku, bukan?!” tanya Raja Naga Selatan


“Ya, tentu saja! Aku sudah lama tak keluar dari kediamanku sejak aku memutuskan untuk keluar dari dunia persilatan. Hanya saja, belakangan ini aku menangkap isyarat yang tak aku pahami. Hanya kau yang bisa kutanyai soal ini.” Jawab Ki Gading Putih


“Apakah kau menyembunyikan sesuatu yang besar dariku sahabatku? Aku tahu ada yang tidak beres saat ini, dan mungkin sebentar lagi akan ada bencana. Tapi aku tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.” Ujar Ki Gading Putih.


“Bangsa raksasa telah menguasai khayangan. Jika ini berita yang kau harapkan, aku akan menceritakan yang aku tahu.” Jawab Raja Naga Selatan.


“Sejak kapan?” tanya Ki Gading Putih.


“Mungkin tujuh tahun yang lalu, setelah raja raksasa Kalapati menyelesaikan pertapaannya.” Jawab Raja Naga Selatan.


“Kenapa kau tak memberitahu berita sepenting ini padaku?” Tanya Ki Gading Putih.


“Apa yang bisa kita perbuat. Lagi pula aku tak ingin mengganggu masa tuamu yang damai di kampung itu, kau sendiri yang berkehendak untuk tak lagi terlibat dalam dunia persilatan bukan?” Kata Raja Naga Selatan

__ADS_1


“Ya, kau benar. Tapi, masalah ini lebih dari sekedar masalah dunia persilatan. Cepat atau lambat, para raksasa itu akan kembali ke dunia manusia dan akan memangsa kita semua, dan bila ini terjadi, apakah kita bisa mati dengan tenang di usia tua kita?” kata Ki Gading Putih.


“Aku tahu itu. Raja Dewapun tak sanggup mengalahkan Kalapati, lalu apa yang bisa kita andalkan selain berharap mati saja sebelum melihat kehancuran bangsa manusia.” Kata Raja Naga Selatan


“Apakah kau tak mendapatkan bocoran kabar dari para dewa? Apakah tidak ada solusi untuk ini?” tanya Ki Gading Putih.


“Tak satupun dewa yang bercerita padaku. Mereka menganggap aku ini siluman murahan, padahal aku juga manusia. Bahkan aku bisa saja mengalahkan beberapa dewa kalau aku mau. Ya, sejujurya aku sedikit senang akhirnya para dewa itu mendapatkan pelajaran atas kesombongannya. Namun di sisi lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa sebentar lagi dunia ini akan hancur. Kata Raja Naga Selatan


“Baiklah kalau begitu. Lalu kau sendiri, apa yang akan kau lakukan?” tanya Ki Gading Putih.


“Aku akan tetap di sini. Akan kubunuh tiap raksasa yang datang menggangguku. Apa gunanya bersusah payah? Kau sendiri juga sudah pensiun bukan?”


“Kalau seperti ini keadaannya, tentu aku tak akan tinggal diam. Aku tahu mungkin jika semua pendekar bersatu sekalipun, tak akan bisa mengalahkan Kalapati. Tapi sebetulnya, aku bosan juga berdiam diri di kediamanku. Aku rasa ada baiknya aku menghabiskan sisa umurku untuk hal yang terhormat.” Jawab Ki Gading Putih.


“Hahahaha, kau mau kembali ke dunia persilatan? Baguslah kalau begitu.” Kata Raja Naga Selatan.


“Hanya itu saja?” tanya Ki Gading Putih.


“Aku sempat berfikir untuk mengumpulkan para pendekar dari semua golongan dan menyampaikan kabar ini, tapi kau tahu kan, hubunganku dengan pendekar raja naga lain yang bahkan adalah saudaraku sendiri pun tidaklah baik. Aku juga tak kenal baik dengan pendekar-pendekar tua lainnya, dan aku bahkan sama sekali tak kenal lagi dengan pendekar muda. Sudah 100 tahun ini tak ada yang datang dan menantangku.” Kata Raja Naga Selatan.


“Mungkin kita masih punya sedikit harapan. Apabila kita tak bisa membunuh Kalapati, mungkin kita bisa memenjarakannya atau entahlah apa itu namanya. Aku tak yakin, meski kita semua dari golongan hitam dan putih bergabung sekalipun.” Kata Ki Gading Putih.


“Kita tunggu saja perkembangannya. Lagipula, percuma memberitahu kepada siapa-siapa soal ini. Mereka hanya akan menganggap ini dongeng belaka. Jadi, tunggu sampai para raksasa mulai menjajah manusia, dan waktu itu terjadi, semua pihak akan lebih bisa untuk diajak kerjasama, meski mungkin tak ada hasilnya. Tak ada salahnya mencoba.” Kata Raja Naga Selatan.


“Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali ke kediamanku. Aku tunggu berita apa saja darimu.” Kata Ki Gading Putih. Lalu ia menghilang dari hadapan Raja Naga Selatan.

__ADS_1


__ADS_2