Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 246 Melawan Raja Siwandawala #2


__ADS_3

Sang raja Siwandawala terus menerus mengejar dan menyerang Batari Mahadewi yang bergerak lincah dari atap ke atap, menyelinap ke dalam istana, melenting ke tembok benteng, hingga berbagai tempat di wilayah istana itu hancur berantakan oleh pukulan-pukulan energi sang raja.


“Jangan diam saja dasar bodoh, ayo kepung gadis itu!” teriak sang raja kepada anak buahnya yang sedari tadi malah terlalu asik menonton junjungan mereka bertarung dengan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Setelah mendengar perintah raja yang marah itu, para pendekar sakti yang berada di sana secara bergantian memberikan serangan kepada Batari Mahadewi.


Tak hanya itu, para prajurit yang berada di luar benteng istana yang semula sedang berlatih perang pada akhirnya penasaran dengan suara keributan di dalam benteng. Antara penasaran dan terpanggil untuk membela sang raja, mereka berbondong-bondong masuk ke dalam wilayah istana. Akibatnya, wilayah itu menjadi penuh orang.


Keriuhan itu membuat Batari Mahadewi tidak semakin terdesak, justru malah semakin lincah bergerak ke berbagai arah, melumpuhkan tiap-tiap pendekar yang mencoba menyerangnya dengan satu tepukan tangan.


Sang raja menjadi semakin gusar. Istana kebanggaannya rusak parah gara-gara satu orang yang datang ke sana. Seharusnya mereka mulai menyadari bahwa mereka sungguh terlihat lemah dan bodoh.


Bagaimanapun, pada akhirnya mereka tak bisa menganggap remeh gadis cantik yang seorang diri datang menantang itu. Dalam waktu singkat, puluhan pendekar sakti telah jatuh pingsan dengan cara yang sulit dipahami, dan sepanjang waktu itu, pukulan sang raja sama sekali belum pernah mengenai sasaran.


Suasana yang riuh membuat sang raja menjadi semakin marah. Masalahnya, para pendekar dan prajurit yang berdatangan itu sama sekali tak berguna. Tapi sang raja tak menyuruh mereka bubar. Pemimpin Siwandawala itu punya pemikiran licik jika nanti ia terdesak.


“Hei, mau sampai kapan kau terus menghindar?! Bukankah kau datang untuk membunuhku?! Ayo serang aku sekarang!” bentak sang raja kepada Batari Mahadewi yang saat itu sedang melayang diantara pepohonan istana. Sejenak kemudian, gadis itu turun beberapa langkah dari hadapan sang raja.


“Maaf, aku hanya penasaran saja dengan kekuatan mustika-mustika siluman yang kau miliki itu. Apakah hanya seperti itu saja kekuatannya? Jangan-jangan kau terlalu lemah sehingga tak bisa menggunakannya dengan baik!” ucap Batari Mahadewi.


“Aku belum menggunakan seluruh kemampuanku!” bantah sang Raja.

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu. Semoga benar ucapanmu. Kau ingin aku menyerangmu?” tanya Batari Mahadewi.


“Jika ingin bertarung, jangan hanya menghindar seperti itu!” kata sang raja.


“Jika kau benar-benar hebat, seharusnya kau sudah bisa melumpuhkanku sejak tadi. Baiklah, tahan ini kalau bisa!” Batari Mahadewi. Gadis itu melontarkan serangan kecil berupa pijaran listrik ke arah sang raja. Namun salah satu mustika siluman dalam bentuk cincin pusaka yang dikenakan sang raja itu menyerap energi dari serangan itu.


“Hahaha, inikah serangan yang kau sombongkan itu, nona manis?” ejek sang raja. Cincin mustika itu menarik perhatian Batari Mahadewi. Ia ingin mengujinya sekali lagi dengan melontarkan pukulan energi yang lebih besar dari sebelumnya. Pijaran listrik menyembur dari telapak tangan kanannya dan melesat cepat ke arah sang raja. Lagi dan lagi, cincin sang raja itu menyerap energi dari serangan Gadis jelmaan pusaka dewa itu.


“Tanganmu terlihat gemetar, paduka. Mungkin sudah waktunya kau mengembalikan kekuatan yang terserap itu dalam bentuk serangan. Apakah kau bisa melakukannya untuk menyerangku?” tantang Batari Mahadewi.


“Tentu saja, terimalah ini!” ucap sang raja yang selalu kesal mendengar kata-kata gadis jelmaan pusaka dewa itu. Pukulan berkekuatan listrik tersorot dari cincin sang raja itu dan melesat cepat ke arah Batari Mahadewi sebesar kekuatan yang sebelumnya telah dikerahkan oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu.


“Lumayan juga ternyata cincinmu. Sungguh sayang jika aku menghancurkannya,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu tahu, jika ia menyerang dengan kekuatan besar, cincin itu akan menyerap energinya. Namun pada batasannya, cincin itu akan hancur karena kelebihan beban energi.


“Kau masih menyombongkan diri!” kata sang raja.


“Tentu saja, karena cincinmu tak akan berguna untuk menahan serangan semacam ini!” Batari Mahadewi menciptakan pusaran angin yang mengepung sang raja dan sejenak kemudian tubuh pemimpin Siwandawala itu terpelanting jauh menabrak benteng hingga dinding benteng itu hancur berantakan.


Raja itu mengumpat kesal. Beruntunglah ia karena serangan yang dilontarkan Batari Mahadewi masihlah serangan ringan yang tak akan membunuhnya dengan cepat.

__ADS_1


Raja itu tahu, ia tak akan pernah bisa menang. Maka satu-satunya jalan yang harus ia lakukan adalah menyerap semua energi mustika miliknya ke dalam tubuhnya. Ia tahu konsekuensinya, yakni energinya akan berubah menjadi energi hitam, lalu ia akan menjadi manusia setengah siluman.


Namun hal itu jauh lebih baik daripada ia harus mati tanpa perlawanan berarti.


“Tunggu sebentar, nona manis. Aku akan menunjukkan kekuatanku yang sesungguhnya!” kata raja itu.


“Dengan senang hati,” jawab Batari Mahadewi.


Sang raja itu memasukkan mustika miliknya ke dalam tubuhnya. Itu adalah cara instan untuk menyerap kekuatan dari mustika siluman yang menjadi senjata pusakanya itu.


Setelah semua mustika siluman terbenam dalam tubuh sang raja, perlahan tubuh pemimpin Siwandawala itu berubah drastis. Energinya menjadi energi hitam yang kental dengan aura kematian. Kekuatan sang raja itu naik puluhan kali lipat dari sebelumnya. Tak hanya itu, tubuhnya mekar hingga dua kali lipat dan warna kulitnya berubah menjadi merah darah.


Wajah sang raja itu berubah menjadi sangat menyeramkan dengan bola mata berwarna hitam seluruhnya dan semua giginya berubah menjadi runcing seperti taring gigi ikan hiu. Kekuatan beberapa siluman berusia ratusan tahun itu dalam sekejap telah menyatu dengan tubuhnya.


Para prajurit dan pendekar Siwandawala mundur perlahan melihat raja mereka berubah menjadi monster menyeramkan. Mereka sadar, pertarunga selanjutnya akan lebih mengerikan. Bisa-bisa mereka mati jika terkena percikan serangan sang raja dan Batari Mahadewi.


Kali ini, Batari Mahadewi tak bisa bermain-main lagi. Ia memasang kewaspadaan tinggi. ‘Apakah tubuhnya bisa menyerap energi? Kalau begitu, aku harus memikirkan cara lain untuk melumpuhkan raja itu. Ah, sial, semua pusaka saktinya telah lenyap. Jika tahu begitu, seharusnya sejak tadi aku membunuhnya!’ batin Batari Mahadewi.


Hanya benda-benda pusaka sang raja itulah yang membuat Batari Mahadewi bermain-main sejenak. Selain ingin mengambil pusaka itu, Batari Mahadewi juga ingin tahu seberapa besar manfaatnya jika digunakan untuk berperang melawan para pasukan iblis.

__ADS_1


Raja yang telah berubah menjadi monster itu melesat dengan cepat dan mengerahkan pukulan dahsyat ke arah Batari Mahadewi. Gadis jelmaan pusaka dewa itu menahan serangan besar dari lawannya itu dengan menyilangkan tangan logamnya. Seketika, ledakan besar terjadi ketika pukulan energi sang raja menghantam pertahanan Batari Mahadewi. Ratusan pendekar dan prajurit yang terlalu dekat dengan Batari Mahadewi seketika terpental jauh dan entah bagaimana nasib mereka selanjutnya.


__ADS_2