
Pembicaraan dengan Zotha telah selesai, tak ada hal penting yang dibicarakan selain cerita masa lalu dari Batari Mahadewi dan Nala sebelum keduanya berada di dunia tiga rembulan.
Batari Mahadewi merenung dalam ruangannya. Diam-diam gadis yang telah tumbuh menjadi sosok remaja itu bersedih hati. Apapun dan dari manapun asal-usulnya, ia tetap memiliki pikiran dan perasaan seorang manusia, dan seorang perempuan, yang tentu saja akan bersedih hati jika bentuk fisiknya mengalami perubahan.
Sekilas taring kecilnya itu tak terlihat, namun ia bisa merasakan dengan lidahnya jika taringnya berubah sedikit lebih panjang. Kedua tanduk kecil yang tumbuh di siku tangannya juga semakin membuatnya yakin bahwa ia bukanlah seorang manusia.
O…betapa kejamnya dewata
Mencipta aku demikian adanya
Tanpa pernah aku memintanya…
Jika ia bisa memilih, maka Batari Mahadewi hanya berharap ia menjadi manusia biasa saja, tanpa kesaktian dan tanpa merasa harus bertanggung jawab untuk menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Meski, orang-orang biasa tentu akan berharap sebaliknya, ingin menjadi manusia nomor satu dalam segala hal.
Batari Mahadewi melepas semua pakaiannya untuk memastikan apa saja yang berubah pada dirinya. Ia masih merasa lega bahwa terbukanya segel ke tujuh dalam tubuhnya tak terlalu banyak menimbulkan perubahan fisik yang tak pernah ia harapkan itu. Ia merasa sangat buruk meski ia tak benar-benar tahu bagaimana orang lain menilai dirinya. Ia tak sadar, bahwa bentuk tubuh yang ia miliki justru membuat iri perempuan lain yang melihatnya, dan membuat para lelaki selalu penasaran, tak terkecuali Nala.
Ketika malam telah larut, akhirnya Batari Mahadewi memejamkan mata. Sudah hampir setahun selama di dalam goa, ia dan Nala tak pernah merasakan yang namanya tidur. Keduanya juga tak makan apapun, kecuali mendapatkan asupan energi dan semua mineral dari kristal sumber energi utama pulau Api. Keduanya tumbuh layaknya orang yang makan dengan nutrisi yang tepat.
Berbeda dengan Batari Mahadewi, Nala malahan tak bisa memejamkan mata. Ia lupa caranya tidur, lebih tepatnya, ia ingin melupakan satu kebutuhan yang bernama tidur, sebab dalam tidurnya, ia lebih sering diganggu oleh makhluk yang tersegel dalam dirinya, yang berusaha merenggut tubuh dan kesadarannya.
Nala hanya duduk bersila di dalam ruangannya, mengingat-ingat kembali semua proses yang ia tempuh bersama Batari Mahadewi. Meski bentuk tubuhnya tak berubah ketika ia dalam kondisi normal, namun dalam pertarungan, ia jauh lebih terlihat sebagau monster jika dibandingkan dengan Batari Mahadewi. Bahkan, perubahan wujudnyapun akan ditakuti oleh semua pendekar aliran hitam yang memiliki tubuh setengah siluman.
__ADS_1
Betapa tidak, Nala bahkan bisa berubah wujud menjadi apapun yang ia mau. Tak hanya itu, ia bisa membelah dirinya menjadi beberapa bagian atau melebur dengan tanah dan menciptakan dirinya sebanyak yang ia mau. Misalkan ia menciptakan seratus kembarannya, itu bukanlah ilusi. Nala tak memiliki banyak jurus seperti Batari Mahadewi dengan jurus-jurus legendarisnya, namun perubahan wujudnya dan kekuatannya itu merupakan jurus yang selalu ia andalkan untuk menghancurkan lawan-lawannya. Bertarung pada jarak yang sangat dekat adalah keahliannya.
Dua hari setelah Varak berbuat kekacauan, akhirnya pusat kota pulau Api kembali rapi seperti sedia kala. Nala dan Batari Mahadewi memenuhi undangan sang raja pulau Api untuk datang ke istana. Tak ada hal yang menarik di sana. Seperti biasa, suasana di dalam istana selalu kaku dan formal. Raja yang tak begitu mengenal Batari Mahadewi dan Nala itu berusaha merayu keduanya agar mau tinggal di sana selamanya dengan jabatan yang tinggi.
Sudah pasti, jabatan seperti apapun, kehormatan seperti apapun tak akan bisa mengubah keinginan Nala dan Batari Mahadewi untuk pulang ke dunia satu rembulan, sebuah rumah yang selalu mereka rindukan, meski di sana keduanya tak benar-benar memiliki rumah. Seusai memenuhi undangan yang formal itu, dan menolak dengan halus tawaran sang raja, Batari Mahadewi dan Nala sekali lagi mengunjungi Zotha untuk berpamitan.
“Nona Tari, seharusnya dengan kekuatanmu saat ini, dan dengan kemampuanmu untuk berpindah tempat dalam sekali kedipan mata, kau dan Nala bisa sampai di pulau Es dengan cepat. Bahkan seharusnya kalian bisa keluar dari dalam goa hanya dengan sekali kedipan mata. Bukankah Rapapu sudah mengajarkan semua jurus itu kepadamu?” tanya Zotha.
Batari Mahadewi membenarkan ucapan Zotha. Hanya saja waktu itu, ia tak yakin dan terlalu tegang dengan kekuatan dalam dirinya serta perubahan yang ia alami sehingga ia dan Nala harus bersusah payah keluar goa melalui jalur lahar gunung api. Nala melirik Batari Mahadewi dengan tatapan kesal, gadis itu hanya terkekeh melihat reaksi rekan seperjalanannya itu setelah mendengar perkataan Zotha.
“Aku belum terbiasa untuk berpindah dengan jarak yang sangat jauh, kakek. Namun aku akan mencobanya. Tapi untuk menuju ke pulau Es, aku belum tahu caranya. Aku tidak mengenal pancaran energi dari pulau itu.” kata Batari Mahadewi.
“Kau belum bisa merasakan pancaran energi pulau itu dari sini?” tanya Zotha. Batari Mahadewi mencoba memusatkan pikirannya dan menangkap pancaran energi dari tempat-tempat jauh yang bisa ia jangkau.
Setelah cukup bercakap-cakap. Batari Mahadewi dan Nala beranjak dari pulau Api. Keduanya terbang ke arah selatan dengan kecepatan tinggi untuk menemukan letak dari pulau Es. Menurut peta yang diberikan guru Rapapu, pulau Es dan pulau Api terpaut jarak yang sangat jauh, yang tak hanya dipisahkan oleh lautan, namun juga beberapa pulau besar lainnya.
Setelah dua hari menempuh perjalanan melalui jalur udara, Batari Mahadewi dan Nala mendarat di sebuah pulau yang dari atas hanya terlihat hutan belantara, tanpa adanya tanda suatu peradaban budaya tinggi.
“Kita beristirahat dulu di pulau ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Sepertinya tak jauh dari sini ada air terjun. Aku bisa mendengar suaranya.” Kata Nala.
__ADS_1
“Aku mau ke sana.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya lantas bergegas menuju ke sebuah air terjun yang tak jauh dari tempat mereka mendarat. Air terjun itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi, namun menjadi sebuah tempat yang terasa istimewa selain di sana terasa sejuk dan damai. Burung-burung beraneka warna beterbangan, melompat dari satu dahan pohon ke dahan lainnya, lalu bernyanyi dengan suara indah yang tak putus-putusnya.
Satu hal yang membuat Nala dan Batari Mahadewi selalu takjub dengan dunia tiga rembulan, yakni bahwa setiap pulau memiliki jenis penghuni yang berbeda-beda, baik manusianya, tumbuhannya, dan hewan-hewan penghuni di setiap pulau.
“Tempat yang sangat meyenangkan.” Kata Nala.
“Ya, aku menyukainya. Dan aku merasa lapar.” Kata Batari mahadewi.
“Seharusnya kau sudah tak membutuhkan makanan lagi.” Kata Nala.
“Seperti yang pernah kubilang, aku tak butuh makanan, tapi aku suka makanan.” Balas batari Mahadewi.
“Kau menyuruhku mencari makanan?” kata Nala.
“Jika kau tak keberatan, hahaha, lagi pula aku akan memintamu untuk pergi agak jauh. Aku ingin mandi di air terjun ini.” Kata Batari Mahadewi. “Jadi, selagi kau mencari sesuatu untuk dimakan, aku akan mandi di sini. Jangan ke sini sebelum aku selesai.”
“Tenang saja, aku bukan orang yang suka mengintip.” Kata Nala. Mukanya memerah, lalu ia melesat pergi meninggalkan Batari Mahadewi. Apa yang ia katakana tentu saja berbeda dengan yang ia pikirkan. Bagi Nala, perubahan bentuk fisik Batari Mahadewi justru membuat gadis itu terlihat sangat menarik.
Setelah Nala tak tampak, dan pancaran energinya telah menjauh, Batari Mahadewi melepaskan semua pakaiannya, lalu ia mandi di bawah air terjun itu. Ia menyelam cukup lama untuk menghilangkan rasa penat dalam pikirannya, dan merasakan dinginnya air yang mendekap tubuhnya.
Setelah Nala mendapatkan banyak buah-buahan aneh dari dalam hutan, ia kembali ke air terjun. Ia berfikir bahwa semestinya Batari Mahadewi sudah selesai mandi dan sedang menunggunya kedatangannya. Namun ketika ia tiba di air terjun itu, ia tak menemukan gadis itu. Ia hanya melihat pakaian Batari di atas batu.
__ADS_1
“Tariiii…” Nala memanggil. Tak ada sahutan, tapi Nala merasakan pancaran energi tipis mikik Batari Mahadewi dari dalam air meski tubuh gadis itu tak terlihat karena dalamnya dasar sungai itu. ‘Jangan-jangan, Tari terjebak dengan sesuatu di dasar sungai ini.’ Batin Nala.
Tanpa berfikir panjang, Nala yang sedikit cemas itu terjun ke dalam air, menyelam hingga ke dasar sungai untuk menemukan Batari Mahadewi. Lelaki itu melihat gadis yang ia cari sedang berenang-renang layaknya ikan di dalam air itu. Jantung Nala berdegub kencang melihat tubuh Batari Mahadewi yang tak terbalut sehelai kain itu. Dan Nala menjadi lebih panik lagi ketika Batari Mahadewi menatap wajahnya.