Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 54 Nyanyian Pengantar Mimpi


__ADS_3

Sebulan telah berlalu sejak hilangnya Niken diantara Jalu dan Batari Mahadewi. Niken hampir selesai mempelajari seluruh dasar-dasar jurus Syair Kematian. Ia menguasai jurus tu dengan cara yang berbeda, yakni dengan menggunakan energi putih sebagaimana ia adalah pendekar aliran putih.


Dalam sebulan itu, pendekar Syair Kematian selalu ada di dekat Niken. Sesekali ia pergi untuk mencari binatang buruan dan buah-buahan untuk makanannya dan Niken. Ia sama sekali tak tampak menakutkan, sebaliknya, ia tampak seperti kakek-kakek yang penuh perhatian kepada cucunya.


Tentu saja, setelah Niken menguasai jurus itu, ia tak yakin akan tega untuk membunuh Pendekar Syair Kematian sebagaimana pendekar itu menginginkannya. Setidaknya, Niken tak hanya mempelajari jurus Syair Kematian, namun ia juga belajar dari kisah hidup pendekar Syair Kematian yang pahit serta penuh dengan duka.


“Sekarang, coba kau gunakan jurus Syair Kematian untuk menyerangku. Aku ingin tahu bagaimana hasil dari yang kau pelajari selama ini.” Kata pendekar Syair Kematian setelah Niken selesai dalam meditasinya untuk mengendapkan seluruh pemahaman dalam tubuhnya dan alam bawah sadarnya.


“Baik kakek guru.” Jawab Niken singkat. Niken memancarkan energinya, lalu menciptakan hawa dingin yang pekat. Energinya telah bertambah pesat sejak ia mempelajari dasar-dasar jurus Syair Kematian untuk memperkuat energinya. Kini ketika ia memancarkan energinya, tak hanya hawa dingin saja yang dihasilkan, namun juga butiran embun beku yang mengkristal.


Niken mulai menyanyikan lagu lirih yang ia aliri dengan tenaga dalam. Energi itu merambat pelan ke arah pendekar Syair Kematian. Lagu yang dinyanyikan Niken itu memiliki cara kerja yang sama dengan syair yang diucapkan oleh pendekar Syair Kematian, yakni menguasai alam bawah sadar.


Jika pendekar Syair Kematian menghadirkan ketakutan yang teramat sangat, sebaliknya, nyanyian Niken memberikan kedamaian, seperti bius yang akan dinikmati oleh siapapun yang diserangnya, lalu membuainya dalam mimpi indah, seakan-akan ia sedang berada di surga. Pada momen itulah, Niken akan mencabut nyawa lawan-lawannya. Jika ia tak melakukannya, maka lawan-lawannya akan kehilangan kesadarannya selama beberapa hari.


Pendekar Syair Kematian menahan serangan niken dengan jurus yang sama, namun berbeda bentuknya. Dua energi yang tak kasat mata itu saling berbenturan, saling melilit dan menguasai untuk merambah ruang ketaksadaran.


Namun energi pendekar Syair Kematian jauh lebih besar dari yang Niken miliki. Lantunan syair kematian mulai mendesak dan merenggut ruang ketaksadaran Niken, dan mengantarkannya pada sebuah dunia yang menakutkan, sebuah lubang neraka dengan puncak kengeriannya.


Niken mampu bertahan dalam waktu yang cukup lama sebab ia mengetahui jurus yang menyerangnya itu. Sebelum kematian menjemputnya, pendekar Syair Kematian menghentikan serangannya. Wajah Niken pucat pasi. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Belum pernah ia mengalami suasana yang sangat menakutkan itu. sejenak kemudian ia baru tersadar, bahwa yang ia alami hanyalah ilusi.


Dari latihan itu, Niken akhirnya merasakan sendiri betapa mengerikannya ilmu Syair Kematian yang jika digunakan dengan energi hitam, maka lawan-lawannya akan mati dengan cara yang sangat buruk. Sebaliknya, jika digunakan dengan energi putih, maka lawan-lawannya akan mati terbuai dalam mimpi indah.


“Kau telah menguasainya sekarang. Maka hari ini, kau bisa pergi menyusul kedua saudaramu.” Kata Pendekar Syair Kematian. “Jika aku masih hidup, maka 10 tahun lagi kita akan bertemu. Saat itulah kau harus bisa membunuhku atau akulah yang akan membunuhmu.” Ucap pendekar Syair Kematian dengan nada dingin, seperti ketika pertama kali Niken bertemu dengannya.

__ADS_1


Pendekar Syair Kematian melesat jauh ke cakrawala, lalu menghilang dari pandangan mata. ‘Sungguh mengerikan pendekar itu, bahkan energinya sulit dirasakan ketika ia terbang ke langit.’ Batin Niken.


Kini Niken bingung harus berbuat apa. Ia tak tahu dimana dirinya berada, dan ia tak tahu keberadaan saudara seperguruannya, Jalu dan Batari Mahadewi.


Pendekar Syair Kematian masih berbaik hati meninggalkan seekor ayam panggang di atas bara api yang masih menyala. Ayam itu sedikit gosong dan mengingatkannya pada Jalu. ‘Kak Jalu, tunggu aku…’ batin Niken. Ia memakan ayam itu, lalu turun dari bukit, melewati hutan yang gelap seorang diri ke arah barat. Ia hanya berfikir untuk menemukan suatu desa dan bertanya sesuatu kepada warga yang tinggal di sana.


Di dalam kegelapan hutan, Niken dihadang oleh 5 orang pendekar aliran hitam yang tak terlalu tinggi ilmunya. Para pendekar itu menangkap pancaran energi Niken, lalu mereka memutuskan untuk menyergapnya.


“Oh, rupanya nona manis ini yang sedari tadi menelusuri hutan ini sendirian. Sungguh beruntungnya kami hari ini, hahahahaha.” Ucap salah seorang dari komplotan itu sambil tertawa mengejek Niken.


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Niken dengan nada dingin.


“Oh, nona galak sekali. Kami hanya akan menawarkan kebahagiaan, nona, sebuah pengalaman indah yang tak akan nona lupakan. Itu jika nona patuh kepada kami, hahahaha.” Ucap lelaki itu. “Bagaimana, nona, apakah kau mau menerima tawaran kami?”


“Dengan senang hati. Aku akan memberikan kalian mimpi indah.” Kata Niken sambil tersenyum dingin. Ia memancarkan energinya. Rerumputan dan pepohonan di sekitar ia berdiri menjadi beku dan tampak memutih terselimuti udara yang telah menjadi es tipis.


“Tt…tunggu…tunggu dulu nona…kami akan pergi jika nona tidak suka dengan tawaran kami…” Kata lelaki itu ketakuan. Ia berharap Niken mau melepaskan mereka semua.


“Kenapa tuan-tuan. Bukankah aku menerima tawaran kalian. Bersiaplah menikmati mimpi paling indah yang belum pernah kalian alami.” Niken lalu mulai menyenandungkan lagu lirih. Suara merdunya dengan cepat merampas kesadaran kelima pendekar aliran hitam yang ada di hadapannya itu. Jumlah itu tak berarti baginya, karena dengan kemampuannya saat itu, ia bisa menaklukkan 20 orang pendekar berilmu tinggi dalam sekali serangan, atau 100 pendekar amatir sekelas 5 orang yang ia hadapi saat itu.


Ke lima pendekar aliran hitam itu menutupkan matanya, tubuh mereka bergerak melakukan suatu tarian aneh seiring dengan nyanyian yang dilantunkan oleh Niken. Mulut mereka tersenyum penuh kebahagiaan. Pada momen itu, Niken dengan sangat mudahnya membekukan tubuh ke lima pendekar itu. Kelimanya mati dalam posisi berdiri dengan tubuh membeku, seolah seperti patung manusia yang sedang menari bahagia.


Niken meninggalkan ke lima pendekar aliran hitam yang menjadi korban pertama jurus barunya itu dan mempercayakan mereka kepada para binatang buas penunggu hutan agar jasadnya tak sia-sia. Niken kembali melanjutkan perjalanannya, melenting dari satu pohon ke pohon lain dengan kecepatan tinggi, hingga ia akhirnya tiba di sebuah desa.

__ADS_1


Niken berjalan kaki mendekati desa itu. Ia masih membawa beberapa keping emas yang diberikan Jalu. Ia mencari sebuah kedai makan untuk beristirahat dan bertanya-tanya kepada pemiliknya. Tak jauh ia melangkah memasuki desa itu, ia menemukan sebuah kedai makan yang tak terlalu ramai. Ia berjalan menuju kedai itu, masuk dan memesan makanan.


“Selamat datang nona, mari silahkan.” Kata ibu-ibu pemilik kedai itu menyambutnya dengan ramah.


“Terimakasih, bibi, saya ingin makan nasi dan sayur saja.” Jawab Niken.


“Baik nona, silahkan ditunggu sebentar.” Pemilik kedai itu menyiapkan pesanan Niken. Beberapa saat kemudian, ia kembali mengantarkan pesanan Niken. “Silahkan, nona, selamat menikmati.” Kata pemilik kedai itu.


“E…bibi, maaf, seberapa jauhkah desa Bunga Cempaka dari sini?” tanya Niken.


“Oh, nona mau ke sana? Desa itu jauh sekali nona. Sangat berbahaya jika nona ke sana seorang diri. Belakangan ini banyak perampok berkeliaran.” Kata pemilik kedai itu.


“Di manakah desa itu, bibi?” Ulang Niken.


“Nona harus menuju ke timur, melewati hutan yang ada di sana. Setalah itu nona akan melewati kota Giring Angin dan setelahnya nona akan sampai di desa Bunga Cempaka. Apakah nona akan ke sana?” Tanya pemilik kedai itu.


“Tidak bibi, hanya ingin tahu saja. Satu lagi, bibi, apakah bibi pernah menjumpai seorang pemuda dan seorang gadis kecil berpakaian aneh melewati desa ini?” Tanya Niken.


“E…kalau tidak salah, tiga minggu yang lalu, ada seorang pemuda dan gadis kecil membantu kami melawan para perampok. Pemuda itu bisa membuat api di tangannya.” Kata pemilik kedai itu.


“Bibi tahu kemana mereka pergi?” tanya Niken.


“Mereka menuju ke arah barat, nona.” Jawab pemilik kedai.

__ADS_1


“Terimakasih banyak bibi.” kata Niken. Pemilik kedai itu meninggalkan Niken menikmati makanannya. Ada rasa heran ketika ia mendengar pertanyaan Niken. Namun ia tak berani bertanya.


Niken merasa lega, setidaknya masih banyak harapan baginya untuk mengejar kakak dan adik seperguruannya. Ia bisa tersenyum kembali setelah beberapa waktu belakangan selalu merasa cemas.


__ADS_2