
Mahkluk yang menjerat kaki Batari Mahadewi itu terlihat seperti cumi-cumi namun hidup di dalam tanah. Makhluk itu pandai menyembunyikan dirinya dan menyamarkan kekuatannya sehingga tak terlacak oleh Batari Mahadewi. Pencapaian Batari Mahadewi yang di dunianya seolah sulit di tandingi, namun di dunia baru itu seolah bukan apa-apa bagi sebagian besar makhluk yang tinggal di dalamnya.
Batari mahadewi mengerahkan berbagai pukulan energi yang menyapu kepala makhluk itu hingga berasap, namun bagian tubuhnya yang menyerupai tentakel itu belum mau melepaskan kaki gadis kecil itu.
Nala berusaha menggerakkan tanah tempat makhluk itu bersarang dan mencoba mengangkat makhluk itu keluar ke permukaan. Usahanya membuahkan hasil. Dengan begitu, Batari Mahadewi bisa membawa makhluk besar itu terbang ke atas dan dengan sendirinya makhluk itu melepaskan jeratan kaki Batari Mahadewi. Makhluk itu meluncur ke bawah dan menimbulkan dentuman besar dan Nala langsung memberikan serangan sebelum makhluk itu sempat bergerak.
Nala membelit makhluk itu dengan tanah lalu memadatkan tanah itu hingga sekeras batu. Batari Mahadewi mendekati batu itu, lalu memancarkan energi panas dari kedua tangannya sehingga membuat batu itu membara, dan makhluk yang terkunci di dalamnya menjadi matang sempurna.
“Makhluk apa itu?!” kata Nala.
“Entahlah, kurasa makhluk itu memang sejenis hewan. Kita harus berhati-hati. Banyak hal baru yang tak kita ketahui di sini.” Kata Batari Mahadewi.
“Jika di dunia kita, tentu makhluk semacam itu adalah siluman. Kita bisa mengambil mustikanya untuk menambah kekuatan.” Kata Nala.
“Apakah menurutmu di dalam tubuh makhluk ini terdapat suatu mustika energi?” Batari Mahadewi meminta pendapat Nala.
“Kita lihat saja.” Nala menguraikan gumpalan batu menjadi serpihan tanah. Makhluk itu telah mati dengan aroma khas daging panggang. Tanpa Jijik, Nala membedah tubuh bagian dalam makhluk itu dan menemukan Kristal hitam sebesar buah mangga yang berbentuk oval dengan ujung yang runcing.
“Benda ini memiliki energi yang cukup besar. Setara dengan mustika alam berkualitas tinggi yang ada di dunia kita.” Kata Nala.
“Kita bawa saja. Mungkin ada gunanya.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, dengan benda-benda semacam ini, tak ada salahnya kita mengumpulkan energi dan meningkatkan kemampuan kita. Jika makhluk di dunia ini semacam ini semua, tentu aku tak akan mau tinggal lama di sini.” Kata Nala.
“Kau benar. Aku tak mau tinggal lama di sini, dan memang harus segera kembali ke dunia kita. Aku tak mau terlambat.” Kata Batari Mahadewi.
“Terlambat soal apa?” tanya Nala.
“Aku pernah melihat gambaran masa depan dari dalam kolam suci di kota Dhyana. Bangsa raksasa akan menyerang dunia manusia.” Kata Batari Mahadewi.
“Terdengar seperti dongeng.” Nala menanggapi seolah Batari Mahadewi tak sungguh-sungguh.
“Kau belum pernah mendengar hal ini? Bahwa bangsa raksasa memang ada?” tanya Batari Mahadewi.
“Kakakku tak pernah menceritakan hal itu.” kata Nala.
__ADS_1
“Guruku dan guru kelanaku, kakek Agrapana, sang penjaga altar suci kota Dhyana yang menceritakannya. Usianya kurang lebih seribu tahun dan ia tahu bahwa keberadaan bangsa raksasa itu benar adanya.” Kata Batari Mahadewi.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Nala.
“Berbuat terbaik yang bisa aku lakukan untuk melindungi orang-orang yang aku cintai.” Kata Batari Mahadewi.
“Jika orang-orang yang kau cintai adalah saudara seperguruanmu, atau gurumu, bukankah mereka bisa menyelamatkan diri tanpa bantuanmu?” tanya Nala.
“Apakah kau tak merasa kasihan dengan semua orang yang akan sengsara jika bangsa raksasa itu datang?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku sungguh tak peduli.” Kata Nala.
“Apa tujuanmu hidup?” tanya Batari Mahadewi.
“Bertarung dan mati dalam pertarungan. Kau jangan lupa bahwa kita akan bertarung lagi setelah berhasil keluar dari dunia ini.” Kata Nala.
“Sayang sekali. Hidupmu akan lebih ada artinya jika kau gunakan untuk menolong sesama.” Kata Batari Mahadewi.
“Apa artinya?” tanya Nala.
“Kau sudah tahu apa artinya. Setidaknya kau baru saja menolongku dari serangan makhluk aneh tadi. Apa artinya buatmu?” tanya Batari Mahadewi. Nala diam, tak mau menjawab. Hidupnya dengan kakaknya yang sunyi dan jarang bersetuhan dengan orang lain membuatnya susah mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain.
Di Padepokan Cemara Seribu, Buyung dan Cendana telah tiba. Keduanya menceritakan semua kejadian hingga penyerangan di istana kepada gurunya, Ki Gading Putih, termasuk berita lenyapnya Batari Mahadewi sewaktu bertarung dengan pendekar kecil seusianya.
“Lubang di langit dan keduanya lenyap tiba-tiba?” tanya Ki Gading Putih.
“Benar, guru. Baru malam itu kami melihat hal semacam itu.” kata Buyung.
“Aku juga belum pernah melihatnya sendiri. Tapi aku pernah mendengar cerita tentang pintu langit menuju ke dunia lain. Pintu itu akan terbuka hanya dengan kekuatan yang sangat tinggi. Hanya para dewa yang bisa melakukannya, dan melakukan perjalanan ke dunia lain.” Kata Ki Gading Putih.
__ADS_1
“Saya tak menyangka adik Batari memiliki energi sebesar itu.” kata Cendana.
“Dia adalah misteri. Dia tak sepenuhnya manusia. Aku justru tak terlalu mencemaskan hal itu. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Yang aku khawatirkan, justru setelah serangan pada malam hari itu, aku yakin pasti ada kelanjutannya. Terlebih, kalian bilang bahwa Harimau Merah telah melarikan diri. Jika ia adalah otak dari semua ini, maka kemungkinan ia akan menyusun rencana lain di kemudian hari.” Kata Ki Gading Putih.
“Soal itu, saya justru tak terlalu yakin, guru. Memang benar ia adalah otak dari semua ini. Namun ia telah kehilangan kepercayaan dari banyak pihak. Tentu ia tak akan berani untuk menampakkan diri. Menurut pemikiran saya, Harimau Merah hanyalah perpanjangan tangan dari pihak lain yang ingin menguasai Swargadwipa.” Kata Buyung.
“Hmm…begitu ya menurutmu, coba lanjutkan.” Kata Ki Gading Putih. Ia tahu bahwa Buyung, murid pertamanya itu memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dalam hal siasat perang. Bakatnya itu telah muncul sejak ia masih kecil. Sayangnya, Buyung memang tak terlalu kuat dalam pertempuran. Namun ia memiliki jurus menguasai pikiran lawan, sehingga dalam situasi terdesak, ia bisa membuat lawan-lawannya tak berkutik.
“Harimau Merah, sejauh yang saya tahu, hanyalah seorang pemimpin kelompok aliran hitam yang tak terlalu menonjol. Artinya, ia tak memiliki dana besar untuk bisa membiayai serangan itu, dan seluruh kekacauan ketika mereka menghancurkan beberapa perguruan aliran putih. Jika kita ingin tahu siapa dibalik kekacauan ini, maka kita harus menangkap Harimau Merah hidup-hidup, lalu memaksanya bicara.” Kata Buyung.
“Kau benar, Buyung. Apakah kau sudah pernah membahas hal ini dengan mahapatih?” kata Ki Gading Putih.
“Sudah guru, sebelum kami berangkat kemari.” Kata Buyung.
“Hal ini adalah tantangan bagi kalian yang masih muda. Jadi aku memberikan izin kepada kalian untuk melakukan apa saja yang kalian yakini sebagai jalan yang tepat. Tak perlu mengkhawatirkan aku. Selama ini, aku selalu bepergian. Ada hal yang kuurus bersama dengan para pendekar yang tak pernah lagi menampakkan diri.” Kata Ki Gading Putih.
“Apakah ada hal penting yang boleh kami ketahui, guru?” tanya Buyung.
“Ya, tapi aku tak tahu kapan hal ini akan terjadi. Awalnya, aku ingin menghimpun kekuatan dari semua pihak untuk menanggulangi bencana yang akan terjadi ketika nanti bangsa raksasa akan tiba di dunia manusia dan membuat kekacauan.” Kata Ki Gading Putih.
“Benarkah itu, guru?” kata Cendana
“Ya, bahkan adikmu, Tari, telah melihatnya di kolam suci kota Dhyana. Aku yakin hal itu benar-benar akan terjadi. Hanya saja, saat ini sepertinya hal lain yang lebih mendesak juga mulai terlihat. Kabarnya, kerajaan Tira Yamani mulai bergerak menghancurkan kerajaan-kerajaan di sebelahnya. Jika hal ini terjadi, seluruh kerajaan Swargadwipa akan mendapatkan masalah.” Kata Ki Gading Putih.
__ADS_1