
Siluman neraka itu mengerang kesakitan ketika tangan kanan Batari Mahadewi berhasil melukai dada kirinya. Dada siluman Neraka itu berlubang. Wajah siluman berwujud monster aneh itu meringis, namun dalam waktu singkat, luka dari pukulan Batari Mahadewi perlahan menutup.
Dalam ruang yang lebih sempit karena dibatasi oleh dinding air yang diciptakan oleh siluman naga air itu memudahkan Batari Mahadewi untuk menyerap gas beracun yang dikeluarkan dari tubuh siluman neraka. Dua tangan logam gadis jelmaan pusaka dewa itu terus menerus memancarkan cahaya keemasan, menyerap dan menetralkan selubung gas beracun yang diciptakan oleh siluman neraka.
Siluman naga air mengunci dinding air yang ia ciptakan dengan selubung energi sehingga sulit bagi siluman neraka dan Batari Mahadewi untuk keluar dari sana. Dinding air itu juga bekerja menetralkan gas beracun dari tubuh siluman neraka sehingga Batari Mahadewi bisa lebih leluasa untuk bertarung dengan monster berlendir racun yang ada di hadapannya itu.
Siluman neraka semakin marah. Ia menambahkan pancaran energinya untuk menekan dinding air yang mengurungnya bersama dengan Batari Mahadewi. Pancaran energi siluman neraka itu juga membuat Batari Mahadewi sehingga ia kesulitan untuk bernafas sekaligus bergerak. Maka, gadis kecil murid ke enam Ki Gading Putih itu melakukan hal yang sama, ia memancarkan energinya sebesar yang ia mampu. Tubuhnya memancarkan cahaya emas yang menyilaukan. Pijaran listrik dari tubuhnya terlihat semakin membesar dan bercabang-cabang, siap untuk menyambar korban-korbannya.
“Jurus Tapak Petir-Pukulan Matarhari.” Batari Mahadewi menghujamkan dua jurus mautnya sekaligus. Tangan kanannya ia gunakan untuk melontarkan jurus tapak petir, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk menghujamkan pukulan matahari.
Batari Mahadewi sempat terkejut ketika tubuh siluman neraka itu tiba-tiba melunak layaknya gumpalan lendir. Kedua tangan Batari Mahadewi melesak masuk ke dalam tubuh siluman neraka dan tubuh yang lunak dan berlendir itu meredam kekuatan pukulan Batari Mahadewi. Belum sempat gadis kecil itu mencabut kedua tangannya yang melesak masuk ke dalam tubuh monster di depannya itu, dengan cepat siluman neraka memadatkan kembali tubuhnya. Kedua tangan Batari Mahadewi terkunci dalam tubuh siluman neraka dan belum bisa ia lepaskan.
Siluman Neraka itu dengan leluasa menghujamkan pukulan-pukulan dari kedua tangannya di kepala Batari Mahadewi. Bagian kepala dan wajah Batari Mahadewi bagaikan dihujani pukulan dahsyat. Andaikan gadis itu sudah kehilangan energinya untuk melindungi tubuhnya, satu pukulan saja dari siluman neraka sudah membuat kepalanya hancur berhamburan di udara.
__ADS_1
Siluman neraka it uterus menerus menghujamkan pukulannya tanpa henti. Batari Mahadewi hanya bisa bertahan dan meringis kesakitan. Namun, lambat laun pukulan siluman neraka itu mulai melemah. Siluman neraka itu baru menyadari kalau tangan gadis kecil yang terperangkap dalam tubuhnya telah menyerap energinya serta seluruh racun di dalam tubuhnya.
Kini siluman neraka itu mulai panik. Ia menarik dan mendorong tubuh Batari Mahadewi agar kedua tangan gadis itu terlepas dari tubuhnya. Sayang sekali, usahanya tak membuahkan hasil. Batari Mahadewi semakin menguatkan cengkeraman tangannya dan terus menerus menyerap energi siluman neraka itu.
Warna tubuh siluman neraka itu semakin memucat dan mendekati warna keabu-abuan. Tak hanya itu, tubuhnya juga semakin menyusut. Ketika Batari Mahadewi telah memiliki kekuatan penuh setelah menyerap energi siluman neraka itu, ia mengeluarkan jurus terakhirnya, jurus Raga Membelah Bumi. Seluruh energi yang ia serap dari tubuh siluman neraka itu ia kembalikan melalui kedua tangannya yang masih tertancap di tubuh siluman neraka itu. Dorongan energi penuh yang ia lontarkan membuat tubuh siluman neraka itu hancur berhamburan.
Yang tersisa adalah sebuah mustika siluman berwarna merah darah sebesar buah semangka melayang-layang di udara. Batari Mahadewi menghancurkan mustika siluman itu dengan pijaran cahaya yang merupakan lontaran energi dari telapak tangannya. Mustika siluman itu hancur menjadi tepung dan berhamburan di udara.
Ketika pancaran energi siluman neraka itu telah sirna, dan yang tersisa adalah panacaran energi Batari Mahadewi, siluman naga air itu melepaskan energinya dan menguraikan dinding air yang ia ciptakan itu. dinding air itu turun layaknya air terjun dari langit dan membuat sungai di bawahnya kembali terisi air.
“Terimakasih sudah membantuku, gadis kecil. Kau sungguh luar biasa, selama ribuan tahun aku ada di bumi ini, baru pertama kali melihat makhluk sepertimu. Siapapun kamu, semoga kau membawa takdir yang baik. Aku menghadiahkan ini kepadamu.” Kata siluman naga air itu sambil menyerahkan sebutir mutiara yang memancarkan cahaya biru keperakan.
“Apa ini, nenek?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Simpanlah mutiara ini ditubuhmu seperti ini.” Siluman naga air itu menanamkan mutiara pemberiannya di kepala Batari Mahadewi. Mula-mula ia hanya menempelkan benda itu di kening Batari Mahadewi. Dalam sekejab, benda itu telah hilang dan menyatu di kening gadis sakti itu.
“Kau tak perlu khawatir. Mutiara itu tak akan mempengaruhi dirimu. Suatu hari kau mungkin akan memerlukannya. Kau hanya perlu melakukan seperti ini untuk bisa mengeluarkan mutiara itu dari keningmu.” Lalu siluman naga air itu mengajarkan kepada Batari Mahadewi cara mengeluarkan mutiara itu dari keningnya, lalu mengembalikannya lagi.
“Terimakasih, nenek.” Kata batari mahadewi.
“Aku yang berterimakasih. Baiklah, aku akan kembali lagi pada tugasku.” Sluman naga air itu kemudian terbang ke arah gunung. Tubuhnya telah kembali dalam wujud seekor naga, lalu ia menghilang bersama dengan derasnya air terjun Berkah Langit yang tiba-tiba memancar kembali.
__ADS_1