Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 207 Kedatangan Ki Prapanca


__ADS_3

Ki Prapanca tahu bahwa orang-orang yang ia cari sedang berkumpul di kediaman Ki Cakra Jagad di padepokan Lentera Langit. Dengan kemampuan yang ia miliki, bukan hal sulit untuk menemukan keberadaan para pendekar hebat yang sedang berkumpul di sana, dan bukan hal yang sulit untuk datang ke sana tanpa ketahuan oleh para pendekar lainnya yang ada di kota Mutiara Biru.


Ki Prapanca langsung menuju ke halaman kediaman Ki Cakra Jagad. Sudah bertahun-tahun ia tak mengunjungi kawan lamanya itu, dan tak bertemu dengan para pendekar lainnya yang ada di sana.


Ki Cakra Jagad membuka pintu dan menyambut kedatangan sahabat lamanya itu. Di luar kepentingan politik, keduanya tetap sahabat.


“Prapanca, tak kusangka kau akan datang kemari. Ayo, masuklah, kawan-kawan kita lainnya sudah ada di dalam.” Kata Ki Cakra Jagad.


“Sungguh beruntung aku karena semua telah berkumpul di sini.” Kata Ki Prapanca. Keduanya masuk dan semua pendekar yang ada di sana memberikan sambutan yang tak kalah hangat dari sambutan sang tuan rumah.


“Kita semua beruntung hari ini telah kedatangan kawan lama kita, Ki Prapanca, pendekar Rajawali Emas.” Kata Ki Gading Putih.


“Benar, kedatanganmu sungguh tepat waktu. Kami di sini sedang membicarakan cara untuk menangkal serangan para pasukan kerajaan Tirayamani. Namun kami tak tahu pasti seberapa besar kekuatan mereka saat ini dan sejauh mana mereka telah bergerak. Apakah kau tahu tentang itu, sahabatku?” kata Ki Ranuwangi.


“Janganlah kita tanyakan tentang hal itu dulu, sahabat kita ini baru saja datang. Biar dia dulu yang menyampaikan hal mendesak yang ingin dia sampaikan.” Kata Ki Suro.


“Ah, tidak apa-apa, pendekar Matahari. Semua yang akan aku sampaikan berhubungan pula dengan hal itu. Saat ini, kondisi di wilayah barat sangat mengkhawatirkan. Sebelumnya, aku meminta maaf atas apa yang terjadi belakangan ini antara wilayah timur dan barat. Aku sungguh malu, tapi aku tak bisa mencegah hal itu terjadi.” Kata ki Prapanca merasa sungguh tak enak hati atas perang yang dikobarkan kerajaan-kerajaan barat kepada wilayah timur.


“Tak perlu kau merasa bersalah seperti itu. Hal yang telah terjadi tentu saja bukan salahmu, bukan pula salah para pendekar di wilayah barat. Aku cukup senang kita semua yang sudah tua-tua ini tidak terlibat dengan urusan semacam itu.” kata Ki Gading Putih.

__ADS_1


“Mungkin kalian telah mendengar bahwa dua kerajaan di wilayah paling barat telah dikuasai oleh musuh. Kekuatan berpusat di Swargawana. Beberapa hari yang lalu, para pasukan kerajaan hitam telah mencoba melakukan serangan. Namun mereka mundur setelah berhasil memporak-porandakan sebagian dari kekuatan yang ada di sana. Aku yakin, ia sedang mencari cara lain untuk menaklukkan Swargawana dan menghancurkan kekuatan yang ada di sana tanpa harus kehilangan banyak korban dari pihak mereka.” Kata Ki Prapanca.


“Ya, kami telah mendengar tentang hal itu. Oleh karena itulah, kami mencoba memikirkan cara lain, yakni menghadapi mereka tanpa melibatkan banyak pasukan kerajaan karena kami rasa hal itu malah kurang berguna dan terlalu banyak makan korban serta biaya.” Kata Ki Cakra Jagad.


“Kami tak tahu pasti, tapi jika aku mengamati jumlah kekuatan yang mereka miliki, saat ini mereka berjumlah kurang dari tujuh puluh ribu pasukan yang semuanya merupakan pendekar berilmu tinggi. Mereka semua pendekar setengah siluman yang sangat sulit dihadapi. Kurasa kalian benar bahwa tak perlu mengerahkan prajurit dalam jumlah besar. Mereka akan mati sia-sia dengan serangan racun dari para pendekar hitam itu.” kata Ki Prapanca.


“Sejauh ini, cara apa yang menurutmu paling berhasil untuk melawan pasukan itu? tanya Nyi Lohita.


“Tidak ada cara selain bertarung dengan cara pendekar. Peperangan ini bukanlah perang antar prajurit. Kita tak bisa mengandalkan siasat-siasat biasa untuk melawan para pendekar dengan kekuatan seperti itu. Seandainya ada cara untuk menangkal sihir hitam, hal itu akan sangat berguna, sebab diantara para pasukan itu, banyak pula pasukan yang diciptakan dengan kekuatan sihir.” Kata Ki Prapanca.


“Ya, aku mengerti. Meskipun jumlah mereka sedikit saat ini, namun mereka bisa menciptakan pasukan tambahan dalam jumlah besar dengan mengandalkan ilmu sihir yang mereka miliki.” Sahut Ki Elang Langit.


“Bagaimana caranya?” tanya Ki Gading Putih.


“Di Mahabhumi, ada empat pusaka khayangan yang bisa berfungsi untuk menangkal sihir hitam dan melemahkan kekuatan hitam. Yang satu ada di altar suci kota Dhyana, dijaga oleh Agrapana. Yang kedua ada di altar suci Gerbang Surga yang dijaga oleh Lokatara. Sementara yang dua lainnya aku tak tahu. Itulah kenapa Agrapana dan Lokatara tak akan bisa dikalahkan oleh siapapun selama mereka ada di altar yang mereka jaga. Selain bisa menangkal kekuatan jahat, pusaka khayangan yang ditanam di altar suci itu membuat Agrapana memiliki kekuasaan penuh untuk mengendalikan apa yang terjadi di sana.” Kata Raja Naga Selatan.


“Lalu, dimana dua pusaka khayangan yang lainnya?” tanya Ki Gading Putih.


“Itu yang aku tak tahu. Jadi lupakan saja soal hal itu. Sia-sia saja kita mencarinya.” Kata Raja Naga Selatan.

__ADS_1


“Dua pusaka khayangan itu ada di wilayah timur dan menjadi pondasi bagi altar suci kota Dhyana dan altar Gerbang Surga. Semestinya dua pusaka khayangan lainnya ada di wilayah barat. Tak ada altar suci di sana, jadi kita tak tahu dimana benda itu berada.”Kata Ki Prapanca.


“Sebentar, kurasa aku bisa memahami sesuatu dari hal ini. Menurut kitab rahasia yang menceritakan beberapa hal di masa lalu, pusaka khayangan diturunkan para dewa untuk menekan kekuatan iblis. Mahabhumi adalah pusat kekuatan hitam di seluruh dunia ini.” Kata Ki Suro. Ia mengingat-ingat kembali kitab dongeng yang ditulis dengan aksara rahasia yang pernah ia baca. Hanya ialah satu-satunya pendekar legendaris yang suka membaca.


“Lalu?” tanya Ki Gading Putih. Ia juga mencoba mengingat-ingat dongeng-dongeng yang ia baca di perpustakaan miliknya.


“Para dewa menyapu kekuatan hitam dari arah timur sehingga seluruh pasukan iblis pada akhirnya berkumpuk di wilayah barat. Kemudian, para dewa mengunci kekuatan para pasukan iblis itu dengan pusakanya. Jika dongeng itu benar, mungkin dua pusaka khayangan yang tersisa digunakan untuk mengunci kekuatan jahat yang berkumpul di wilayah barat.” Kata Ki Suro moncoba menerka-nerka dan mengaitkan berbagai hal yang sedang dengan dongeng dari masa lalu.


“Ada benarnya. Terlebih, ratu kerajaan hitam itu mendaratkan pasukan pertamanya di wilayah barat. Tentu hal itu bukan semata-mata kebetulan saja. Barangkali ia memiliki maksud tertentu.” Kata Raja Naga Timur. Ia memijit-mijit keningnya yang memiliki dua bilah tanduk naga berwarna merah, tanduk yang berbentu sama dengan yang ada di kepala Raja Naga Selatan.


“Menurut Agrapana, kedatangan ratu kerajaan hitam itu salah satunya memang bertujuan untuk membebaskan para makhluk iblis di masa lalu.” Kata Ki Gading Putih.


“Oh, masalah ini sungguh membuat kepalaku terasa nyeri.” Kata Raja Naga Timur.


“Hmm, kau belum mengutarakan hal lain yang membuatmu datang ke sini, Prapanca.” Kata Ki Cakra Jagad.


“Apakah mungkin jika saat ini kalian membantu wilayah barat?” tanya Ki Prapanca putus asa.


 

__ADS_1


 


__ADS_2